HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 39 Perdebatan


__ADS_3

"Memangnya.... apa yang membuatmu melaporkan pria itu?" Ucap Wiily yang tidak menggubris sindiran pegawainya itu.


Hanaria kembali menoleh kearah Willy sejenak, ia memperhatikan wajah tuannya itu dari samping. Willy yang merasa diperhatikan juga ikut menoleh melihat kearah Hanaria.


"Kenapa menatapku seperti itu, apakah pertanyaanku salah lagi?? Atau kau suka melihat wajah tampanku, hmm? Bukankah kau dan teman - teman gank-mu itu paling suka memperhatikanku?" Ucap Willy kembali beralih menatap jalan didepannya.


Hanaria yang mendengar perkataan tuannya itu, juga ikut memalingkan wajahnya dengan cepat. Hatinya bergemuruh, pria itu ternyata sangat menyebalkan. Walaupun perkataannya itu benar, tapi Hanaria tidak bisa terima mendengarnya, karena dirinya sama sekali tidak terpesona oleh ketampanannya, itu hanya berlaku untuk teman - temannya saja.


" Kenapa diam? Apakah kau malu, kebiasaan buruk kalian itu, curi - curi pandang melihatku diketahui olehku, hm?" Ucap Willy masih pokus pada jalan didepannya.


Hanaria sengaja berdiam diri, ia masih tidak mau menjawab apapun. Sangat terlihat dari wajahnya, bahwa dirinya sangat tidak menyukai pertanyaan maupun ucapan pria itu.


Willy menyunggingkan senyumnya, hatinya merasa puas bisa membalas dan membuat pegawainya itu menjadi bad mood. Ia masih pokus pada kemudinya, tikungan - tikungan tajam sering mereka jumpai pada jalan yang mereka lalui membuat Willy tidak boleh melepaskan pandangannya dari jalan itu, bisa - bisa mereka akan membuat jalan baru.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau bisa melaporkan pria itu? Apa kesalahannya padamu?" Tanya Willy lagi, saat jalan didepannya sudah tidak menemui tikungan - tikungan tajam.


Hanaria kembali menoleh, menatap sejenak Willy yang mengemudi disampingnya itu. Pria tampan itu, mengapa dia sangat menyebalkan, bagaimana mungkin dia bisa pura - pura tidak tahu, pikir Hanaria.


"Ternyata kau lebih tertarik memperhatikan wajahku dari pada menjawab pertanyaanku." Ucap Willy yang menyadari Hanaria kembali memperhatilan dirinya.


"Saya hanya merasa heran saja...... tuan muda bertanya tentang kenapa saya melaporkan pria itu, seolah - olah tuan tidak tahu apa - apa yang telah terjadi?" Ucap Hanaria masih menatap wajah Willy yang sok tidak tahu - menahu akan apa yang terjadi, pikirnya.


"Maksudmu apa.nona Hana?? Kau berbicara seolah - olah aku tahu semua tentang apa yang kau lakukan, memangnya aku ini kurang kerjaan apa, selalu menguntitmu?" Willy mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Hanaria.


"Ternyata tuan pandai bersandiwara. Memasang wajah berpura - pura tidak tahu, padahal tuan ada disana, membantu menggendong adik perempuan saya yang telah dianiaya itu sampai masuk kedalam mobil." Jelas Hanaria merasa gemas akan kepura - puraan laki - laki itu.

__ADS_1


"Tunggu.... tunggu..... kau mengatakan adik perempuanmu dianiaya, lalu aku membantu menggendongnya hingga kemobil? Jangan mengada - ada, aku tidak pernah melakukan hal itu nona Hana...... Kau berani sekali mengarang cerita. Ingat ya nona Hana, aku ini bosmu, apakah kau tidak takut bahwa aku bisa melakukan apapun yang tidak kau duga, hmm?!" Ucap Willy berusaha meralat ucapan Hanaria padanya.


"Saya tidak mengada - ada tuan muda..... Atau mungkin tuan muda saja yang merasa malu, bahwa saya mengetahui tuan berada dicafe hingga larut malam dimalam.itu, begitu??" Hanaria tetap bersikeras pada kebenaran ceritanya.


"Saya tidak pernah pergi kecafe manapun selama satu bulan terakhir ini nona HANARIA. Apalagi ada dicafe yang kau sebutkan itu sampai larut malam....." Bantah Willy hingga wajahnya menegang.


Hanaria menarik napas dalam dan kembali mengeluarkannya dengan kasar.


"Hooohhh.... jadi, tuan muda juga akan memungkiri, kalau dimalam itu, tuan muda menabrakku sampai dua kali dibelokan toilet cafe itu??" Hanaria mulai tidak sabar menghadapai tuannya itu, ia mulai mengesampingkan siapa dirinya dan siapa diri tuannya itu.


"Nahh...... Ini cerita apa lagi, menabrakmu? dibelokan toilet cafe hingga dua kali? Kau pasti tengah bermimpi. Pria lain yang kau tabrak, lalu kau membayangkan diriku??" Willy terkekeh, dirinya begitu geli. Sebegitu terpesonanyakah pegawai perempuannya itu padanya, hingga pria lain yang menabraknya, dianggapnya pria itu adalah dirinya, pikir Willy masih merasa geli.


Hanaria yang mendengar tawa Willy menjadi sangat muak pada tingkah tuannya itu, ia memicingkan kedua matanya menatap Willy yang tengah mengemudi disampingnya. Bukannya sadar, Willy malah makin tergelak saat mengetahui Hanaria melihat dirinya dengan wajah marah.


Hanaria yang sudah tidak sabar lagi langsung berusaha merebut kemudi yang sedang dipegang Willy.


Untuk menghindari kecelakaan, Willy menginjal rem dengan tiba - tiba hingga mobilnya berhenti ditengah jalan. Untung saja tidak ada kendaraan lain yang melintas.


Willy menatap tajam pada Hanaria.


"Apa yang kau lakukan nona Hana, apa kau sudah tidak waras huhh.... ?! Yang kau lakukan itu sangat berbahaya, kita bisa celaka.....!" Ucap Willy dengan nada tinggi.


"Tuan muda benar! Saya memang sudah tidak waras! Karena mendengar tuan yang tidak mengakui bahwa tuan ada dicafe itu, tuan pikir saya berbohong! .....dan saya akan tunjukan kegilaan saya lagi, lebih dari yang sebelumnya...." Ucap Hanaria sambil menarik tubuh Willy dengan sekuat tenaga.


Willy terkesiap, ia meronta - ronta dari cengkraman Hanaria. Entah bagaimana caranya, Hanaria mampu memindahkan dirinya kejok ditempat Hanaria duduk sebelumnya, dan Hanaria sudah berada dibelakang kemudi menggantikan dirinya.

__ADS_1


"Cepat.....! Pasang sabuk pengamannya tuan muda....!" Perintah Hanaria tanpa basa - basi.


"Kau tidak sopan pada bosmu.....!" Bentak Willy tidak terima menatap tajam pada pegawai perempuannya itu.


Hanaria langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat tubuh Willy meliuk - liuk kesana kemari karena belum sempat memasang sabuk pengamannya.


"Kau memang benar - benar tidak waras.....! Hentikan mobilnya.....!" Teriak willy.


Hanaria tidak perduli, ia pura - pura tidak mendengar, ia menambahkan lagi kecepatan mobilnya hingga terdengar bunyi ģesekan ban mobil yang ia kemudikan dengan aspal dibawahnya.


Willy tidak mau mati konyol, ia merasa percuma berteriak - teriak pada wanita tidak waras itu. Ia segera memasang sabuk pengamannya, supaya tubuhnya tidak terombang - ambing akibat kecepatan tinggi yang dilakukan Hanaria pada mobil sportnya itu.


Hanaria masih melajukan mobil yang ia kemudikan itu seperti orang kesetanan. Willy yang duduk disampingnya hanya bisa pasrah bila terjadi sesuatu. Terkadang ia terpaksa harus memejamkan mata saat mobilnya itu hampir - hampir menabrak pohon yang berdiri dipinggir jalan atau tembok beton ditepi jalan yang mereka lalui.


Hanaria tersenyum didalam hati, ia melirik tuannya itu dengan ekor matanya. Sebenarnya ia bukan pegawai yang tidak sopan pada pimpinannya. Ia hanya tidak ingin mendengar ucapan - ucapan tuannya itu yang menganggap apa yang ia katakan hanya kebohongan belaka, padahal jelas - jelas dirinya dan tuannya ada dicafe itu bahkan sempat berbicara, tidak mungkkn ia bermimpi dan salah orang, pikirnya.


Dengan begini, dirinya tidak perlu membungkam mulut pria menyebalkan itu, pikir Hanaria didalam hati. Pria itu pasti sibuk berdoa didalam hatinya supaya mereka selamat, kembali Hanaria menahan senyumnya.


Willy akhirnya bernapas lega, saat mobilnya yang dikemudikan Hanaria memasuki lalu lintas kota. Kini Hanaria hanya melajukan mobil miliknya itu dengan kecepatan sedang, bahkan terkadang harus berhenti sejenak untuk mengurai kemacetan kota.


Hanaria dan Willy tidak saling bicara setelah perdebatan yang menyebabkan posisi duduk keduanya berubah. Willy sama sekali tidak habis pikir, kalau pegawai perempuannya yang terlihat biasa itu, berpenampilan tidak feminin, juga tidak terlihat tomboi, memiliki kekuatan sebesar itu.


...•••...


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡

__ADS_1


Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇



__ADS_2