
Sudah berkali-kali Willy bolak-balik masuk-keluar kamar, hatinya sangat gelisah menanti kepulangan Hanaria, isterinya.
Biasanya, pukul enam sore, isterinya sudah berada dirumah menunggunya, namun hingga pukul delapan malam Hanaria tidak kunjung pulang bahkan ponselnya tidak aktif.
Willy menimang-nimang ponsel ditangannya berfikir siapa lagi orang yang bisa dirinya hubungi untuk mengetahui keberadaan isterinya yang raib entah kemana.
Willy buru-buru melihat layar ponselnya yang berbunyi ditangannya, wajahnya nampak gugup saat melihat nama ibu mertuanya yang tertera disana.
"Hallo Bu," sapa Willy pada sang ibu mertuanya. Terus terang ia merasa bingung harus berkata apa bila Ibu mertuanya itu nantinya menanyakan isterinya.
"Hallo nak Willy, maafkan Ibu. Ibu dari tadi mènelpon Hana, tapi ponselnya tidak aktif, apa Hana sekarang sedang bersamamu?" tanya ibu Muri dari sambungan telepon pada menantunya, sesuai dugaannya sebelumnya.
"Tidak apa-apa Bu. Kebetulan Hana sedang dirumah Mommy, mungkin ponselnya kehabisan baterai, nanti bila aku menjemputnya, aku akan memintanya untuk menelpon Ibu," sahut Willy terpaksa berbohong. Bila ia jujur kalau isterinya belum pulang, pasti mertuanya akan panik dan khawatir.
"Baiklah nak Willy, tidak perlu terburu-buru. Ibu hanya merindukan putri Ibu. Bagimana kabarmu nak Willy? Kapan kalian berdua memberikan pada kami cucu?" tanya ibu Muri sambil tersenyum diseberang sana membayangkan cucu-cucu yang akan dilahirkan oleh putrinya, selain kedua cucunya dari Jonly putranya yang sebentar lagi akan bertambah menjadi tiga.
Terdengar suara tawa Willy setelah mertuanya meminta cucu darinya dan Hanaria.
"Masih dalam proses produksi Bu, mungkin satu tahun kedepan atau bahkan tidak sampai menunggu setahun, Ibu sudah melihat cucu-cucu Ibu yang lucu," kata Willy penuh keyakinan.
"Benarkah? Ibu jadi tidak sabar menunggu saat itu," kata ibu Muri dengan suara terdengar senang, percaya pada ucapan menantunya yang asal bicara itu.
"Baiklah Ibu tutup dulu teleponnya ya nak Willy, sepertinya ada tamu yang sedang mengetuk pintu depan, selamat malam," ucap Ibu Muri kemudian.
"Iya Bu, selamat malam," sahut Willy seraya menutup teleponnya.
Sejenak Willy tersenyum mengingat percakapan dirinya dengan sang ibu Mertua ditelepon tentang cucu yang akan dilahirkan Hanaria, pasti menyenangkan bila waktu itu tiba batinnya.
Senyumnya kembali memudar ketika mengingat Hanaria yang entah sedang dimana sekarang. Buru-buru ia mencari nomor kontak kakaknya, hanya itu harapan terakhirnya.
__ADS_1
"Ada apa menelponku, mengganggu saja," terdengar suara berat dan datar dari seberang sambungan telepon.
"Jawabanmu seperti orang yang sedang berkencan saja," ledek Willy pada kakak kembarnya yang jomblo itu.
"Itu benar, apa kau lupa kalau ini malam minggu,. Hmm?" sahut Billy.
"Apa?! Kau serius?! Aku tidak salah dengar?!" cecar Willy kaget dengan wajah penasarannya, jiwa keponya pada sang kakak seakan membuatnya ingin langsung melompat dan tiba disisi kakaknya saat itu juga.
"Tidak perlu kaget dan berteriak seperti itu, aku tidak tuli," sahut Billy kaget mendengar suara Willy yang terlalu nyaring ditelinganya.
"Siapa wanita tidak beruntung itu? Kasihan sekali dia berkencan dengan pria dingin dan tidak romantis sepertimu," kembali willy meledek kakaknya itu sambil tersenyum kecil membayangkan kakaknya akhirnya bisa berkencan dengan seorang gadis.
"Sudahlah, jangan banyak bicara, katakan apa maksudmu menelponku? Kalau tidak penting, aku matikan saja teleponnya," kata Billy yang tidak terpengaruh pada ledekan adiknya itu.
"Jangan, ini sangat penting," sahut Willy buru-buru, takut Billy memutuskan sambungan teleponnya.
"Cepat katakan," ucap Billy tidak sabar.
Bukannya bersimpati mendengar pengaduan Willy padanya, Billy malah tertawa geli diseberang sana, hingga terdengar samar-samar suara seorang wanita bertanya padanya, mungkin gadis yang sedang ia kencani, batin Willy yang sempat merekamnya diotaknya.
"Kau keterlaluan kak Billy, aku sedang kehilangan isteriku, kau malah mentertawaiku, apakah sebahagia itu dirimu mendengar isteriku hilang? Hhhh?" ucap Willy merasa kesal.
"Bukan begitu Willy, malam kemarin dirimu yang menghilang, lalu kenapa malam ini gantian isterimu yang menghilang? Hmm? Kalian pasangan yang menggelikan," sahut Billy seolah mengatai adiknya itu, ia masih menyisakan suara tawanya diseberang sana.
"Sudah, hentikan tawa jelekmu itu, sekarang aku butuh kak Billy membantuku mencari isteriku, aku khawatir dia kenapa-kenapa?" kata Willy serius.
"Coba kau telpon mommy, atau Firlita, mungkin isterimu itu kesana menengok keponakannya," kata Billy memberi ide.
"Sudah, tapi Hanaria tidak ada bersama Mommy, maupun Firlita, aku bingung harus menghubungi siapa lagi,"
__ADS_1
"Kak Billy harapan terakhirku, tolonglah aku kak Billy, bukankah malam kemaren kau bisa dengan mudah menemukanku," ucap Willy penuh harap dalam kebingungannya.
"Kalau dirimu mudah saja, aku sudah banyak tahu kemana saja kau biasa pergi, tapi kalau isterimu, aku tidak tahu Willy,"
"Kau kan suaminya, kau pasti tahu kemana isterimu itu biasanya berpergian," sahut Billy memberi alasan.
"Jadi kau tidak mau membantuku untuk mencari isteriku yang hilang itu?" tanya Willy kesal bercampur khawatir.
"Willy, isterimu itu belum bisa dinyatakan hilang sebelum dua kali dua puluh empat jam," kata Billy tanpa bermaksud menyinggung perasaan adiknya itu. Ia hanya ingin meluruskan perkataan adiknya itu saja.
"Oh, jadi kak Billy menunggu isteriku hilang dulu sampai dua hari dua malam baru mau bertindak?" Willy yang sedari tadi sudah khawatir memikirkan isterinya yang tidak pulang-pulang itu langsung emosi mendengar perkataan Billy kakaknya.
"Yah, memang susah sih ngeladeni orang yang lagi khawatir, banyak tidak nyambungnya," timpal Billy dari seberang sambungan telepon.
"Kau coba cari saja dulu, aku yakin isteri tercintamu itu ada disuatu tempat. Sudah dulu, aku sedang berkencan, kau tidak mau kan kalau aku melajang terus," setelah berkata demikian Billy langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, membuat Willy kesal bukan kepalang pada kakaknya itu.
Willy meraih kontak mobil dan sweaternya lalu buru-buru keluar kamar. Ia memandangi menu makan malam hasil buah tangannya yang belum ia sentuh diatas meja karena menunggui isterinya itu untuk makan malam bersama.
...***...
Setelah lelah kesana-kemari tanpa arah, Willy akhirnya membawa mobil yang ia kendarai menuju rumah kedua orang tuanya.
"Selamat malam tuan muda," sapa bibi Nani, kepala pelayan yang ada dirumah tua keluarga Agatsa itu sambil membungkuk hormat ketika membuka pintu.
"Dimana Mommy dan Daddy Bi?" tanya Willy lesu. Rasa khawatir, takut, cemas karena belum berhasil menemukan Hanaria bercampur jadi satu membuat raut wajahnya nampak kusut pada pemandangan sang kepala pelayan.
"Tuan dan Nyonya sudah tidur dikamarnya Tuan Muda," sahut bibi Nani sambil menunduk dengan kedua tangan saling menyilang dibawah perutnya.
Willy masuk, ia langsung naik kelantai atas menuju kamar kedua orang tuannya.
__ADS_1
Begitu sampai didepan pintu ia menggedor-gedor pintu kamar kedua orang tuanya dengan suara rusuh tanpa memperdulikan bila hari sudah larut malam.