HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 51 Suara Langkah Kaki


__ADS_3

"Maksudmu apa Laras? Aku tidak mengerti....." Ucap Hanaria, matanya masih ia arahkan kelayar televisi yang sedang ditonton Linda, Norsa dan Shasie.


"Lihat mataku Hana......" Hanaria segera memperhatikan wajah sahabatnya itu seraya menaikan kedua alisnya.


"Apa kau tidak mengerti kalau tuan muda Willy punya perhatian lebih padamu Hana.... Aku saja bisa merasakannya. Coba kau pikir Hana, tuan muda itu banyak tanggung jawabnya, banyak pekerjaannya, ngapain coba, harus buang - buang waktu mengantarkanmu kerumah sakit ini, kan masih banyak pegawai yang bisa ia perintahkan mengantarkanmu kemari, nggak perlu tuan muda sendiri 'kan??" Ungkap Laras dengan suara pelan, nyaris berbisik supaya tidak didengar oleh ketiga sahabat mereka yang sedang asik menonton televisi.


"Lalu ruang inap ini. Kita sering membesuk teman - teman pegawai kita Hana, dan kau juga tahu, paling tinggi hanya dikelas 1, tapi lihat ruang inapmu, ruang VVIP. Isteri tuan Doffy saja diberi ruang VIP. Kau lihat, ada ruang tamunya, kamar tidur terpisah dan ada kamar mandi didalamnya, dan ada ruang makan khusus." Sambung Laras lagi sambil memperhatikan semua fasilitas yang lengkap didalam ruangan itu.


"Apa kau sudah mengerti maksudku Hana??" Tanya Laras membuat Hanaria sedikit tergagap.


"Maksud apa?" Wajah Hanaria sedikit merona walau kulitnya termasuk sawo matang.


"Iiiih kau pura - pura polos atau gimana sih?? Kau itu sudah jadi wanita dewasa Hanaaa..... masa nggak tahu sih maksudku..... Sini, aku lebih perjelas. Tuan Willy sepertinya ada hati padamu Hana." Laras merasa sangat gemes pada sahabatnya itu. Ucapan terakhir Laras membuat Hanaria menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Sekarang kau mengertikan Hana??" Ucap Laras masih setengah berbisik, ia memperhatikan wajah Hana yang berusaha membantah perkataannya itu.


"Laras..... Maafkan aku, kau sepertinya salah menilai kebaikan tuan Willy. Tuan kita itu.... aku sudah dua kali pulang satu mobil dengannya, dia pemarah dan setiap perkataannya sering kasar padaku....." Ungkap Hanaria sambil mengingat beberapa peristiwa yang sering membuat dirinya harus menerima perkataan yang membuatnya ikut tersulut emosi.


"Jadi apa yang kau katakan itu mustahil. Bila tuan Willy mengantarkanku kerumah sakit ini, itu hanya karena disana pada saat itu...... hanya ada tuan muda Willy, tuan Doffy dan pak Paris. Mau tidak mau tuan muda Willy yang mengantarkanku karena tuan Doffy dan pak Paris harus mengurus reruntuhan dinding beton akibat ulah yang kulakukan dilokasi proyek itu. Dan mengenai ruang inap ini, aku sadar memang sangatlah mewah, itu sebabnya aku tidak mau berlama - lama disini. Tuan muda pasti akan menyuruhku membayar lebihnya dari biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tempat kita berkerja. Kau tidak tahu saja Laras, pria yang kalian kagumi itu, dia tidak sebaik apa yang kalian pikirkan, aku sering berdebat dengannya, aku bahkan pernah menerima SP1 darinya." Jelas Hanaria panjang lebar. Laras yang mendengar semua perkataan Hanaria hanya bisa mengangguk - anggukan kepalanya, namun dirinya tidak bisa menerima sepenuhnya perkataan sahabatnya itu, karena sikap yang ditunjukan Willy pada Hanaria seolah adalah suatu perhatian khusus dari pria itu menurutnya.


"Terserah kau sajalah Hana, aku sudah mengatakan apa yang menjadi penilaianku, tapi bila kau tidak mempercayainya, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Kau harus ingat Hana, tuan muda kita itu sangatlah tampan, banyak gadis yang mengharapkannya, contohnya Shasie dan Linda, itu baru sahabat kita belum lagi para wanita diluar sana, yang kau sebut berkelas seperti tuan muda kita. Aku sarankan, kau harus ingat kata - kataku ini dan cepat bertindak sebelum dia menjadi milik orang lain, sekarang tuan muda sedang perhatian padamu Hana, jangan sia - siakan. Kalau Shasie dan Linda, merekalah yang mengejar, jadi kecil kemungkinan mereka dapat memilikinya, tapi kau.... kau punya kesempatan lebih dari mereka berdua Hana." Ucap Laras penuh keyakinan.


"Apa yang sedang kalian bahas.....?" Tanya Linda mendekat.

__ADS_1


"Ohh itu.... Luka - luka Hana....." Sahut Laras berbohong.


"Tapi aku mendengar kau menyebut namaku dan Shasie tadi..... ayo kau sedang julidin kami ya, hayoo ngaku....." Ucap Linda sambil mengunci leher Laras dengan satu tangannya.


"Sakit Linda..... jangan asal nuduh..... Uhuk......Uhuk....!!" Teriak Laras sambil terbatuk - batuk.


"Sudah Linda, Laras nggak ngejelekin kalian kok, dia hanya bilang, kalau diluar sana, masih banyak wanita yang juga menyukai tuan muda selain kau dan Shasie, jadi bila kalian ingin mendapatkan tuan muda Willy, kalian harus mampu bersaing dengan gadis - gadis itu." Ucap Hanaria membantu Laras supaya Linda segera melepaskannya.


Laras yang mendengar ucapan Hanaria mencucu bibirnya, ia berharap Hanaria yang dekat dengan tuan muda mereka, bukan Shasie ataupun Linda.


"Maafkan aku Laras, aku salah faham..... " Ucap Linda sambil tertawa kecil. Laras mengusap - usap lehernya yang masih terasa sedikit sakit akibat ulah Linda yang hampir saja mencekik lehernya.


"Udah yuk..... kita pulang, udah pukul 9 malam nih....." Norsa beranjak dari duduknya sambil berdiri mendekati Laras dan Linda yang tengah berbincang dengan Hanaria yang masih setia bersandar di sandaran ranjang pasiennya.


"Yang benar saja Hana, nungguin episodenya tamat bisa berbulan - bulan kita nongkrong disini, sempat kau sembuh dan duluan pulang dari sini." Ucap Norsa sambil membayangkan bila hal itu terjadi.


"Yuk kita pulang.... ingat kata dokter tadi, Hana butuh istrirahat supaya kondisinya lekas pulih." Ucap Shasie ikut mendekat.


"Kau tidak apa - apakan Hana kalau kami meninggalkanmu sendiri disini?" Tanya Linda sambil memperhatikan beberapa luka lecet ditangan dan kaki Hanaria.


"Iya Linda, nanti ada suster yang akan datang menemani dan membantuku, jangan khawatir." Sahut Hanaria mengulas senyum pada keempat sahabatnya itu.


Keempat sahabatnya saling cipika dan cipiki pada dirinya lalu berpamitan karena malam semakin beranjak larut. Tinggal Hanaria seorang diri diruang rawat inapnya.

__ADS_1


Hanaria menekan tombol ranjang pasiennya untuk menurunkan sandarannya. Ia menyelimuti dirinya sendiri dan berbaring menghadap dinding.


Kelopak mata Hanaria sudah terasa begitu berat karena kantuk yang mulai menyerangnya. Samar - samar ia mendengar langkah kaki seseorang diruang tamu dalam ruang rawat inapnya.


Tenggorokan Hanaria terasa kering. " Suster Nana..... suster Nana..... kau kah itu??" Panggil Hanaria untuk memastikan. Tidak ada jawaban. Ia berusaha duduk diranjangnya, walau susah payah ia berhasil duduk dengan bantuan satu tangannya yang tidak terluka.


"Suster Nana...... Bila kau yang datang, tolong ambilkan aku segelas air minum, aku haus." Panggil Hanaria lagi saat tidak terdengar ada jawaban dari suster Nana.


Hanaria kembali menekan tombol pada ranjang pasiennya untuk menaikan kepala ranjang supaya dirinya bisa bersandar.


Langkah kaki itu terdengar mendekati pintu kamar tidurnya. Hanaria menatap kearah pintu dan mengulas senyumnya. Senyum Hanaria langsung berhenti seketika saat ia melihat siapa yang datang memasuki kamar dan mendekati ranjang pasiennya. Kegugupan langsung menguasai dirinya. Hanaria memeluk selimut tebalnya dengan erat.


"Untuk..... untuk apa tuan muda datang kemari....??" Hanaria tiba - tiba merasa takut.


"Membawakanmu minuman, bukankah kau mengatakan kalau dirimu haus??" Willy semakin mendekat, sedangkan wajah Hanaria terlihat sedikit memucat.


"Wajahmu memucat.... apakah kau demam karena luka - lukamu itu??" Willy menyentuh dahi Hanaria dengan punggung tangannya.


"Jangan menyentuhku......!! Teriak Hanaria menepis tangan Willy untuk menjauhkan tangan laki - laki itu darinya.


Prraaannngggg......!!!


Gelas berisi air putih terlepas dari tangan Willy dan terjatuh kelantai hingga pecah berhamburan.

__ADS_1


__ADS_2