
Pagi-pagi sekali Hanaria dan Willy sudah bersiap pergi berbulan madu. Sementara keluarga besar mereka yang lain pun akan bersiap pulang kembali kerumahnya masing-masing.
"Tuan Moranno, nyonya Yurina, kami pamit dulu, terima kasih atas sambutannya selama kami ada disini," ujar pak Muri sambil berjabatan tangan pada kedua besannya itu diikuti oleh isterinya, ibu Muri.
"Sama-sama pak Muri dan ibu Muri, kita sudah menjadi keluarga, sering-seringlah berkunjung kemari dilain waktu," ucap Moranno pada kedua besannya itu.
"Iya tuan Moranno, tentu saja, kapan-kapan kami akan berkunjung lagi kemari." sahut pak Muri dengan senyumnya.
"Nyonya besar, kami pamit dulu," ucap pak Muri, ia dan isterinya lalu bersalaman dengan nyonya Agatsa, ibu dari Moranno.
"Iya pak Muri dan ibu Muri, hati-hati dijalan," sahut nyonya Agatsa ramah.
"Paman dan bibi Morgan kami pamit," Pak Muri dan ibu Muri beralih, menghampiri kedua orang tua Yurina itu untuk berpamitan juga.
"Iya pak Muri dan ibu Muri, hati-hati dijalan, kami juga akan berangkat pulang," sahut tuan dan nyonya Morgan pada kedua orang tua Hanaria itu.
"Willy, ayah titip Hanaria padamu," ucap pak Muri, saat Willy datang menghampiri untuk bersalaman dengan ayah dan ibu mertuanya itu.
"Iya ayah, Willy akan menjaga Hanaria dengan baik, seperti diri Willy sendiri," sahut Willy.
"Terima kasih," ucap pak Muri disela-sela senyumnya.
Hanaria datang mendekat, memeluk ayahnya lalu ibunya secara bergantian.
"Hati-hati dijalan ayah, ibu," ucap Hanaria sambil melepaskan pelukannya dari kedua orang tuanya itu.
"Iya Hana, kau dan Willy juga hati-hati dijalan nanti," ucap ibu Muri pada putrinya itu.
Setelah selesai berpamitan, kedua orang tua Willy segera naik kemobil yang dikemudikan oleh pak Karso yang akan mengantarkan mereka ke dusun.
Sementara tuan dan nyonya Morgan mereka pun naik kemobil bersama nenek buyut Naomi, Edward, Harry dan Margareth, yang akan berangkat ke bandara untuk kembali ke Singapura juga pagi itu, dengan dua mobil bersama barang-barang mereka.
Sementara Edrine dan Stefhany sahabatnya, keduanya masih bertahan untuk melanjutkan magang mereka yang belum selesai.
"Willy, buatlah Hanaria bisa menyukaimu, jangan terlalu memaksanya melakukan hal yang tidak ia suka," pesan Yurina pada putranya itu.
"Kau sudah dengar sendirikan malam itu, saat mommy bicara dengan isterimu dibalkon kamar kalian." ucap Yurina mengingatkan.
"Baik mom, Willy akan ingat pesan-pesan mommy." sahut Willy sambil berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong apa mommy tidak buru-buru mau punya cucu seperti kebanyakan orang tua yang menikahkan anak mereka?" tanya Willy setengah berbisik.
Yurina menatap wajah Willy, ia tahu itu pertanyaan menjebak, ia sudah sangat mengenal bagaimana pribadi putranya itu.
"Willy, jangan fikir mommy tidak tahu apa yang ada diotakmu itu," ujar Yurina sambil menyentil dahi putranya itu.
"Kau mau menjadikan ucapan mommy menjadi senjata untuk menindas Hanaria disana kan?" tuduh Yurina. Willy mengusap dahinya yang telah disentil ibunya, ternyata ibunya sudah bisa membaca jalan fikirannya.
"Awas saja kalau Hanaria sampai mengadu yang bukan-bukan pada mommy, bukan hanya kartu-kartumu saja yang mommy sita, tapi semua fasilitas yang sedang kau gunakan akan mommy sita juga," ancam Yurina dengan nada serius.
"Kak, aku pulang kerumah kakak saja ya?" pinta Firlita pada Hanaria, keduanya sudah tidak jauh dari mobil Willy.
"Kenapa Fir?" tanya Hanaria menatap Firlita.
"Aku merasa tidak enak disini kak," sahut Firlita lirih.
"Siapa yang akan menemanimu dirumah Firlita? Lagi pula pada siapa kau akan minta tolong kalau tiba-tiba kau akan melahirkan?" ucap Hanaria.
"Aku sudah bicara dengan mommy, kau disini saja selama kami pergi, supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Nanti bila kami kembali, kita akan pulang sama-sama kerumah," ucap Yurina.
"Iya Firlita, itu benar, mommy yang akan menemanimu bila kau melahirkan nanti," Yurina ikut bicara saat mendengar percakapan antara Hanaria dan Firlita.
"Willy, Hana, berangkatlah sekarang, supaya kalian tidak kesorean sampai ditujuan," ucap Yurina mengingatkan.
Iring-iringan mobil itu perlahan merayap meninggalkan rumah keluarga Agatsa. Hanya tersisa Moranno, Yurina, Firlita, dan nyonya Agatsa, dan juga para pelayan. Suasana menjadi sepi kembali meninggalkan rasa hampa dihati Firlita.
...***...
"Apa nama tempat yang akan kita kunjungi nanti?" tanya Hanaria pada Willy yang sedang menyetir.
"Villa Keluarga Agatsa," sahut Willy.
"Alamatnya?" tanya Hanaria lagi.
Willy melirik sekilas kearah Hanria, "untuk apa?" tanyanya penasaran.
"Sebutkan saja alamatnya," ucap Hanaria sambil menatap layar ponsel yang ada ditangannya.
Willy lalu menyebutkan alamat Villa yang akan menjadi tujuan mereka, dan dengan cekatan Hanaria mengetik diponselnya.
__ADS_1
"Apakah ini Villa yang akan kita tuju?" tanya Hanaria sambil menunjukan lokasi Villa yang ada diponselnya.
Willy melirik sebentar keponsel Hanaria," iya, itu lokasinya," Sahut Willy, ia kembali fokus pada jalan yang ada didepannya, yang baru saja memasuki jalan pinggiran kota.
"Tepikan mobilmu didepan," pinta Hanaria.
"Untuk apa?" tanya Willy tanpa melihat kearah Hanaria.
"Tepikan saja, nanti kuberi tahu," sahut Hanaria yang belum mau menjawab pertanyaan suaminya itu.
Willy menuruti apa yang diminta Hanaria, apa salahnya, bukankah ibunya sudah berpesan seperti itu sebelum keberangkatan mereka. Ia menepikan mobilnya pada bahu jalan yang lebar dibawah pepohonan dipinggir jalan.
"Tolong keluar sebentar," pinta Hanaria lagi. Kembali Willy menurut, walau sebenarnya dirinya ingin menolak permintaan Hanaria yang tidak jelas itu
Begitu Willy keluar, Hanaria buru-buru melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya dan berpindah dibelakang kemudi menggantikan Willy.
"Ayo naik!" Seru Hanaria pada Willy dari dalam mobil. Willy nampak kebingunan pada apa yang dilakukan isterinya itu.
"Bagaimana aku bisa naik, kau sudah duduk ditempat yang seharusnya aku duduki," ucap Willy dari luar mobil menatap wajah isterinya itu.
"Aku yang menyetir, kau yang duduk manis disampingku," kata Hanaria sekenanya.
"Hana, tidak bisa begitu, perjalanannya sangat jauh, nanti kau lelah," protes Willy.
"Iya, aku tahu, itu sebabnya aku lebih memilih menyetir dari pada duduk manis. Nanti aku mengantuk dan tertidur," sahut Hanaria memberi alasan.
"Kau tahu kan, aku paling susah bangun bila sudah tertidur," imbuh Hanaria lagi.
"Tapi Hana, kau tidak pernah kesana, nanti kita kesasar bagaimana?" ucap Willy lagi.
"Tidak akan, aku akan mengikuti jalur yang sudah tertera diponsel yang kuperlihatkan padamu tadi," sahut Hanaria masih bersikeras.
"Baiklah kalau begitu, jangan salahkan aku bila nanti kita kesasar karena keras kepalamu itu," kata Willy yang agak kesal, tapi ia tetap masuk kedalam mobil ditempat Hanaria duduk sebelumnya.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Hanaria penuh kemenangan saat Willy sudah duduk disampingnya dan memasang sabuk pengamannya.
"Eum," gumam Wlly yang malas menjawab.
"Ingat, jangan menyetir mobil ini seperti orang kesetanan seperti yang pernah kau lakukan terakhir kali waktu itu," ucap Willy memperingatkan.
__ADS_1
"Karena yang ada didalam mobil ini bukan setan," imbuh Willy rada-rada kesal.
Hanaria terkekeh, ia tahu Willy sedang merasa kesal padanya, karena perpindahan posisi tempat duduk mereka, tapi ia tidak tahan menahan tawanya saat dilihatnya wajah Willy yang merengut padanya seperti seorang wanita.