
"Terserah kau saja nona, terserah apa katamu.... Yang jelas, benda itu bukan milikku. Kau simpan saja untukmu." Willy segera menekan tombol lift didepannya, dan langsung masuk kedalamnya begitu pintu lift sudah terbuka.
Hanaria yang melihat itu langsung melemparkan sapu tangan yang ada dalam genggamannya kearah Willy bersamaan saat tuannya itu masuk.
"Tuan pikir saya sudi menyimpan barang orang lain!" Ketusnya menatap Willy yang menatap kearahnya datar hingga pintu lift tertutup kembali dihadapannya.
"Perempuan itu..... kenapa semakin hari dia semakin menyebalkan setiap kali aku bertemu dengannya." Gerutu Willy seorang diri didalam lift.
"Apa ini......" Willy melihat benda serupa kain yang terinjak sebagian oleh sepatu kulitnya. Willy berjongkok dan memegang ujung benda itu. Dirinya sedikit merasa jijik saat mengangkat benda itu hingga menggantung keduara.
"Pasti ini pekerjaan cleaning service yang meninggalkan kain lap sembarangan seperti ini." Gumannya lagi seorang diri sambil memperhatikan kain yang menggantung itu.
"Sial.....! Bukankah ini sapu tangan yang dipegang perempuan itu tadi. Pasti dia melemparkannya kearahku saat aku masuk tadi. Dasar.....! Tidak sopan.....! Aku harus memberinya pelajaran berharga. Perempuan itu, dia terlalu berani padaku...." Wajah Willy menjadi kesal. Ia lalu menghempaskan sapu tangan yang sudah kotor itu kembali kelantai lift.
Pintu Lift terbuka. Willy melangkahkan kakinya keluar dari pintu lift. Langkah tegapnya terlihat begitu macho dengan tubuh atletisnya.
"Tunggu, sepertinya aku perlu benda itu sebagai barang bukti." Gumamnya lagi. Willy kembali berbalik menuju pintu lift yang sudah tertutup rapat. Sekretaris Morin yang juga merupakan salah satu pengagum berat sang CEO menatap heran pada tuannya itu, saat melihatnya kembali menekan tombol lift dan masuk kedalamnya.
Hanya dalam hitungan detik, Willy sudah keluar lagi dari lift dengan membawa sapu tangan kotor yang sudah ia lemparkan kelantai lift sebelumnya. Willy memegang ujung sapu tangan itu dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya. Wajah Willy memperlihatkan rasa sangat jijiknya pada sapu tangan yang ia bawa itu.
Cara Willy membawa sapu tangan itu mengundang tanya pada sekretaris Morin yang melihatnya.
"Tuan muda, kotoran apa yang anda bersihkan menggunakan sapu tangan itu?"Tanya sekretaris Morin memberanikan diri.
"Tidak ada..... Didalam lift terinjak sepatu saya, jadi saya membawanya ke ruangan saya untuk dibersihkan." Sahut Willy supaya sekretarisnya itu tidak curiga.
Sekretaris Morin menatap tuannya itu hingga masuk kedalam ruangannya.
...•••...
Tok.... tok.... tok.....
"Masuklah....." Sahut Moranno dari dalam ruangannya.
Willy mendorong kenop pintu ruangan Dirut dengan perlahan. Dari mejanya, Moranno menatap putranya yang memasuki ruangannya dan mendekat kemejanya.
__ADS_1
"Ada apa dad.... Daddy memanggilku?" Tanya Willy saat sudah berada didepan meja kerja ayahnya.
"Duduklah......" Moranno memepersilahkan putranya duduk dikursi yang ada dihadapan mejanya.
"Daddy mendapat laporan dari HRD. Hari ini kau telah memberikan SP1 pada salah satu pegawaimu yang bernama nona Hanaria. Jelaskan pada daddy, kesalahan apa yang telah ia lakukan, yang telah merugikan perusahaan kita?" Moranno menatap wajah putranya itu datar.
"Nona Hanaria memang belum melakukan kerugian pada perusahaan. Tetapi dia sudah melakukan hal yang tidak sopan padaku dad....." Sahut Willy memberanikan diri menatap wajah ayahnya.
"Tidak sopan?" Tanya Moranno menegaskan.
"Iya dad..... nona Hana sudah berlaku tidak sopan padaku, pimpinannya." Tegas Willy dengan percaya diri.
"Ketidak sopanan yang bagaimana yang ia perbuat padamu sebagai pimpinannya? Jelaskan pada daddy....." Pinta Moranno masih menatap lekat wajah putranya dengan tatapan datar.
"Nona Hana melempariku dengan sapu tangan saat aku memasuki lift dad..... ini buktinya....." Willy yang sudah tahu bahwa ayahnya pasti akan memanggil dirinya berkenaan SP1 yang ia layangkan pada Hanaria lewat HRD, sudah mempersiapkan dirinya membawa barang bukti yang menjadi alasan kenapa dirinya sampai memberikan pegawai wanitanya itu SP1.
"Benda apa itu?" Moranno melirik benda berupa kain yang terbungkus plastik transparan ditangan Willy.
"Ini sapu tangan yang dilemparkan nona Hana padaku dad, saat aku memasuki lift tadi pagi.
"Ini sapu tangan?" Tanya Moranno sambil memperhatikan kain yang ia keluarkan dari plastik dan membentangkannya diatas meja kerjanya.
"Iya dad.... itu sapu tangan." Sahut Willy memperjelas pertanyaan sang ayah.
"Kotor sekali??" Moranno masih memperhatikan sapu tangan yang terbentang diatas mejanya.
"Sapu tangan itu.... terinjak oleh sepatuku dad, aku tidak melihatnya saat nona Hana melemparkannya padaku karena aku sedang masuk membelakanginya kedalam lift.
"Kau tidak melihat nona Hana melemparkan sapu tangan ini padamu, tapi kau menuduhnya..... seolah kau melihat bahwa nona Hana yang melemparkannya?" Nada suara Moranno terdengar penuh penekanan, membuat Willy sedikit gugup pada ayahnya itu.
"Sebelumnya.... sapu tangan itu ada ditangannya saat kami berdua sama - sama berada didepan lift. Tidak ada orang lain disana selain kami berdua. Jadi, Willy yakin.... pasti nona Hana yang melemparkannya padaku daddy." Jelas Willy maaih sedikit gugup.
"Asisten Rudi....." Panggil Moranno.
"Iya tuan......." Asisten Rudi datang mendekat menghampiri tuannya itu.
__ADS_1
"Tolong panggil nona Hanaria datang kemari sekarang juga asisten Rudi." Perintah Moranno.pada asistennya.
"Baik tuan....." Asisten Rudi kembali kemeja kerjanya yang berada disudut ruangan Moranno. Ia meraih gagang telepon diatas meja, dan mulai menekan nomor yang ia tuju.
Setelah 6 menit berlalu. Setelah assiten Rudi menelpon, terdengar ketukan pintu beberapa kali.
"Masuklah....." Ucap Moranno menatap kearah pintu. Hanaria muncul didepan pintu saat pintu ruangan itu terbuka lebar. Ia datang mendekati meja Moranno lalu membungkuk hormat.
"Tuan memanggil saya?" Tanya Hanaria masih dengan sikap hormatnya.
"Iya nona Hana. Duduklah disofa tamu itu." Tunjuk Moranno pada Hanaria kearah sofa tamu yang ada diruangannya.
Hanaria segera mematuhi apa yang dikatakan majikannya itu. Ia menuju sofa tamu dan duduk disana dengan sikap sopan.
"Willy kau juga harus duduk disana bersama daddy." Moranno berdiri dari kursinya menuju sofa tamu, dan duduk disofa, berhadapan dengan Hanaria, dan disusul oleh Willy.
"Nona Hanaria..... Apakah kau sudah tahu mengapa kau dipanggil kemari?" Tanya Moranno menatap pegawainya itu datar.
"Tidak tahu tuan....." Sahut Hanaria sopan.
"Apakah kau sudah menerima surat SP1 dari HRD hari ini nona Hanaria?" Tanya Moranno lagi menatap datar pegawai perempuannya itu.
"Sudah tuan." Sahut Hanaria sedikit menunduk.
"Kau tahu apa kesalahanmu nona Hanaria? Kembali Moranno melontarkan pertanyaanya.
"Pada surat itu, saya diperingatkan karena bersalah, telah berlaku tidak sopan pada CEO Agatsa Properti Group tuan muda Willy." Jelas Hanaria sesuai SP1 yang telah ia baca sebelumnya.
"Jelaskan padaku nona Hanaria.... perbuatan tidak sopan apa yang telah kau lakukan pada tuan Muda Willy? Moranno terus bertanya seakan sedang menginterogasi.
...•••...
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡
Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇
__ADS_1