HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
188. Tagihan (Visual Willy)


__ADS_3

Hanaria perlahan membuka matanya, melihat langit-langit kamarnya yang temaram. Ketika ia memiringkan tubuhnya kearah kanan, ia cukup terkejut melihat Willy sudah ada disebelahnya dan sedang tertidur.


Seingatnya, semalam dirinya berada dimeja makan menunggu Willy yang tidak kunjung pulang hingga larut malam. Ia yakin bila suaminya itu yang membawanya kekamar ini ketika ia telah tertidur dimeja makan.


Hati Hanaria menghangat, perasaannya sudah lega karena bisa melihat suaminya lagi yang sempat menghilang tanpa kabar berita.


Hanaria memandangi wajah Willy yang tengah tertidur pulas. Dengan pencahayaan lampu tidur, ia masih bisa melihat dengan jelas wajah suaminya yang terlihat semakin tampan pada pemandangannya, mungkin karena ia merindukannya, sebab sepanjang hari hingga malam ia tidak melihatnya.


Hanaria bangkit dari berbaringnya, mengambil ponsel diatas nakas yang berada disisi ranjang mereka. Ada banyak notifikasi yang masuk selama ia terlelap, dan ia segera membukanya untuk memeriksa semua pesan itu satu persatu.


Mata Hanaria membola ketika melihat tagihan perawatan dari klinik dan salon nyonya Mexan yang bernilai hampir mencapai enam puluh juta rupiah.


Pesan berikutnya masih seputar tagihan dengan nilai hampir tiga jutaan rupiah untuk makan malam satu orang di restoran XX.


Masih ada beberapa tagihan lagi dengan nilai fantastis, Hanaria hanya bisa menggeleng sambil tersenyum ringan melihat tagihan yang harus ia selesaikan.


Berikut ia melihat pesan dari kakak iparnya yang dikirim pukul sebelas lewat dua puluh menit. Ia termenung sejenak karena seingatnya ia menelpon kakak iparnya itu sekitar pukul sepuluh malam, itu artinya ia sudah tertidur dimeja makan saat pesan itu masuk ke ponselnya.


Begitu pesan terbuka, Hanaria langsung tersenyum lebar melihat isi pesan kakak iparnya disertai beberapa foto selama suaminya itu menghilang.


Billy


Sesuai janjiku, aku sudah membawa pulang suamimu adik ipar. Dia hanya melakukan perawatan di Klinik dan Salon langganan keluarga Agatsa seperti biasanya.






"Pantas saja kau tidak mengangkat teleponku dan membalas pesanku, ternyata kau sedang sibuk dengan kegiatan perawatan mahal-mu itu," guman Hanaria dipagi buta sambil mengusap wajah Willy diponselnya.

__ADS_1


"Tenyata kau tampan juga," Hanaria tersenyum-senyum sendiri.


"Hhhhh, kemana saja diriku baru menyadarinya." tukasnya menyesali diri. Setelah puas melihat foto suaminya yang menggemaskan itu, Hanaria lalu menaruh ponselnya kembali diatas nakas.


Ia merangkak mendekati Willy, memperhatikan wajah tampan suaminya yang sama tampan dengan foto yang dikirim oleh Billy kakak iparnya.


"Menghilangnya dirimu membuatku khawatir Willy. Dan saat kau pulang, ternyata kau juga membawa tagihan fantastismu itu," gumam Hanaria dengan senyumannya.


Hanaria mengangkat tangannya ke udara, lalu mendaratkannya pada rambut rapi suaminya, diusapnya perlahan, dihirupnya aroma parfum creambath yang masih menempel disana.


Setelah puas mengusap rambut wangi suaminya, Hanaria penasaran menyentuh pipi bening milik suminya, disentuhnya dengan ujung jemarinya, terasa kenyal dan lembut, membuat jantungnya berdebar-debar.


Tidak cukup sampai disitu, jari Hanaria naik kepucuk hidung mancung suaminya yang menjulang bagaikan menara, diusapnya dengan hati-hati supaya si empunya tidak terbangun sebelum ia selesai mengagumi karya ciftaan Yang Maha Kuasa, yang nyaris hampir sempurna itu.


Pucuk hidung itu terlalu mulus dan bersih untuk ukuran seorang laki-laki, batin Hanaria terus mengagumi, merutuk kebodohannya yang baru menyadari betapa beruntungnya dirinya memiliki suami seperti Willy.


Setelah beberapa detik kemudian, tangan Hanaria beralih ke dagu Willy yang sudah dicukur bersih, sedikit ada rasa keset disana, membuatnya tertawa kecil, merasakan sedikit rasa geli pada jari-jemari dan telapak tangannya.


Tidak mau berlama-lama disana, karena bulu-bulu halus ditengkuknya sudah ikut meremang. Jari-jemari Hanaria kembali berpindah meraba dan menjelajah bibir tebal berwarna sedikit pink, kontras sekali dengan kulit wajahnya yang putih bersih.


Emutan bibir Willy pada jarinya, membuat Hanaria lemas oleh debaran jantungnya yang berpacu kencang.


Dengan sekali sambaran jitu, Willy berhasil memeluk pinggang ramping Hanaria dan membawanya berguling-guling dikasur hingga posisi Hanaria berada dibawahnya. Untuk sesaat lamanya sepasang suami isteri itu saling berpandangan.


******* Willy berubah menjadi gigitan halus pada jari Hanaria yang ada didalam mulutnya, sementara pandangan keduanya terus beradu satu sama lain. Hanaria berusaha keras menahan dirinya supaya tidak mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya akibat kegiatan Willy yang menimbulkan tegangan listrik yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Willy, hhhh" panggil Hanaria, ia mulai terbawa suasana didalam raga dan jiwanya, merasakan gigitan dan tindihan tubuh suaminya itu yang semakin intens. Willy tidak menjawab, ia terus melakukan aksinya, dan semakin memeluk erat tubuh Hanaria dibawahnya.


"Aku lupa mencuci tanganku, karena semalam sempat ketiduran diatas meja makan saat menunggumu pulang," kata Hanaria jujur.


Willy terdiam, ia menghentikan aktifitasnya sejenak, menatap lekat retina mata isterinya itu. Hanaria menjadi salah tingkah dibuatnya, ia merasa sudah salah bicara.


Willy membuka mulutnya dan membiarkan jari Hanaria keluar begitu saja dari antara bibirnya. "Kenapa kau suka sekali merusak suasana hatiku? Apakah kau takut?" tanya Willy, ia lalu bangkit dari tubuh Hanaria.

__ADS_1


"M-Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu Willy. Aku juga tidak takut, ayo kita lanjutkan," kata Hanaria seraya memeluk Willy dari belakang.


"Melanjutkan apa?" tanya Willy


"Itu-," Hanaria nampak ragu melanjutkan kata-katanya.


"Itu apa?" tanya Willy lagi.


"Itu-, membuat, membuat bayi bersama seperti janji kita," sahut Hanaria, ia memejamkan matanya karena rasa malunya telah mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Ia masih memeluk erat tubuh Willy dan menyembunyikan wajahnya dipunggung lebar suaminya itu.


Willy mematung mendengar perkataan Hanaria. Tidak dipungkiri, hatinya berdebar mendengar apa yang terlontar dari mulut isterinya itu, sambil merasakan sandaran kepala Hanaria pada punggung bagian belakangnya.


"Sayangnya, aku sudah tidak berminat membuat bayi lagi," ungkap Willy datar, ia menunggu reaksi Hanaria setelah mendengar ucapannya itu.


Hanaria masih terdiam beberapa detik lamanya, setelah itu, Willy merasakan pelukan isterinya melonggar pada tubuhnya.


"Tidak berminat lagi membuat bayi?" Hanaria mengulang perkataan Willy, seolah ia tidak percaya pada apa yang ia dengar.


"Iya, aku sudah tidak berminat lagi membuat bayi," tegas Willy membuat Hanaria sukses melepaskan pelukannya dari tubuh Willy suaminya.


"Kenapa Willy? Apakah kau masih marah padaku karena hal kemarin? Aku minta maaf, aku salah. Mohon maafkanlah aku Willy," ucap Hanaria bersungguh-sungguh.


"Tidak, aku sama sekali tidak marah, hanya kecewa saja," kata Willy jujur.


"Sekarang bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat berkerja," Willy bergeser ke tepi tempat tidur dan membiarkan kakinya menjuntai kelantai sebelum turun dari tempat tidur.


"Mandilah terlebih dahulu, biarkan aku yang membuat sarapan untuk kita," setelah berkata demikian, tanpa menoleh pada Hanaria, Willy turun dari tempat tidur dan keluar menuju dapur.


Sementara Hanaria hanya bisa menggigit jarinya, tidak tahu harus berbuat apa, memandangi Willy yang pergi meninggalkan kamar tidur mereka.


Didapur, Willy melihat makan malam Hanaria diatas meja yang tidak tersentuh sama sekali. Ia lalu membereskan semuanya dari atas meja, memindahkan semuanya kedalam plastik sampah karena sudah tidak bisa dimakan lagi.


Dalam hatinya, Willy merasa kasihan pada Hanaria isterinya, yang tidak sempat makan malam karena ketiduran menunggu dirinya pulang.

__ADS_1


Ia lalu membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa bahan ikan dan sayuran, ia bertekad membuat sarapan yang istimewa buat isterinya yang sudah menunggunya pulang semalam.


...***...


__ADS_2