HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
228. Menjahili


__ADS_3

"Apa tidak ada jalan lain Dad?" tanya Hanaria sekali lagi dengan wajah gundahnya. "Aku memang sayang dengan bayi Elvano, tapi aku juga tidak berani menyanggupi persyaratan nyonya Mingguana, itu terlampau berat bagiku," ucap Hanaria jujur.


"Daddy juga belum menemukan jalan keluar yang lain Hana. Sebaiknya kau fikir baik-baik, karena keputusanmu yang kau ambil akan sama-sama menuntut pengorbanan besarmu Hana," ucap moranno pada menantunya.


"Bila kau mundur, tidak jadi mengadopsi bayi itu, kemungkinan bayi itu akan tetap hidup, tapi tidak mendapatkan kasih sayang yang ia butuhkan sebagai seorang anak pada umumnya,"


"Dan bila kau melanjutkan adopsi bayi itu, itu artinya kau harus menerima syarat dari nyonya Mingguana. Dan kau harus ingat Hana, seorang wanita yang sedang mengandung tidak boleh lelah, stress berlebihan, kurang istirahat, dan kurang asupan gizi." ucap Moranno memberi pamandangan.


"Daddy-mu benar Hana, fikirkanlah sebaik-baiknya. Kita boleh menolong, tapi jangan sampai mengorbankan diri sendiri dan keluarga yang menyayangimu," kata Yurina ikut berbicara.


"Mommy tahu, kau sangat sayang pada putra mendiang Firlita, tapi bayi dalam kandunganmu juga butuh kasih sayang dan perhatian lebih darimu Hana," lanjut Yurina sambil mengusap lembut punggung menantunya yang terlihat sangat bimbang dalam mengambil keputusan berat itu.


"Willy, ajak isterimu beristirahat sekarang, malam sudah mulai larut. Besok kita lanjutkan perbincangan ini," kata Yurina pada putranya.


"Iya Mom." sahut Willy cepat.


"Ayo, kita tidur ratu-ku" ucap Willy dengan nada dibuat seromantis mungkin, dengan tubuhnya yang sengaja digesek-gesekan pada tubuh isterinya, membuat wajah Hanaria seketika bersemu merah, merasa malu dilihat oleh kedua mertuanya, sementara Willy tidak perduli pada sekitarnya.


"Hana, ikutlah dengan Willy untuk beristirahat, jangan terlalu banyak memikirkan masalah yang ada, kau butuh banyak istirahat," ucap Yurina yang memahami ekspresi wajah malu menantunya.


"Iya Mom, aku dan Willy pamit dulu," Hanaria berdiri, mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian lalu mengikuti langkah Willy yang menggandengnya.


Moranno mendelikkan matanya, ketika Willy yang sengaja melirik kearahnya sambil mengedipkan mata dan mulai beraksi melakukan kekonyolannya saat tahu pasti ayahnya sedang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Sayang, kau lihat putramu yang bandel itu, apa maksudnya dia melakukan itu dihadapan kita, 'kan ada lift. Dia sengaja pamer kemesraan, supaya kita iri," ujar Moranno sambil menunjuk Willy dengan wajahnya, yang tengah menggendong Hanaria menaiki anak-anak tangga menuju kelantai atas.


"Dia tidak tahu, kalau masih muda dulu juga aku sering melakukannya bukan?" ujar Moranno lagi.


Yurina tertawa melihat suaminya terprovokasi oleh putra mereka, ia juga heran hal-hal kecil dan remeh yang dilakukan Willy selalu menyita perhatian suaminya itu, berbeda dengan ketiga anak mereka yang lain, tidak terlalu dipermasalahkan oleh suaminya itu.


Mungkin itulah yang membuat Wilky jadi suka menggoda ayahnya secara berlebihan.


"Tapi aku melihat sepertinya kau memang iri pada Willy suamiku. Bukankah kau sudah mulai tua? Jadi kau tidak bisa melakukannya lagi seperti kau masih muda," ucap Yurina memandang Willy yang sengaja berjalan pelan, manapaki anak-anak tangga keatas sana, sambil melirik ekspresi suaminya yang masam saat dirinya dikatakan sudah mulai tua.


"Walau aku sudah mulai tua, aku juga masih sanggup menggendongmu menapaki anak-anak tangga itu," sahut Moranno merasa tertantang menatap isterinya.


"Jangan memaksakan diri, nanti kau encok lagi seperti direstoran waktu itu. Jangan cari masalah," ucap Yurina tanpa sengaja mengingatkan kejadian saat dirinya sedang mengandung Billy dan Willy.


"Agghh! Apa yang kau lakukan," pekik Yurina tertahan, ia segera melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya yang tanpa permisi sudah menggendongnya, meniru kelakuan putra mereka.


Willy berhenti sebentar ditengah-tengah anak tangga, ia dan Hanaria sama-sama menoleh untuk melihat apa yang tengah terjadi saat mendengar suara pekikan sang Mommy.


"Kau bisa lihat 'kan, Daddy tidak bisa dipanas-panasin," ucap Willy sambil terkekeh saat melihat apa yang dilakukan ayahnya pada ibunya.


"Sudahlah Willy, jangan bicara seperti itu, nanti kau dihukum lagi bila Daddy mendengarnya," kata Hanaria semakin memeluk erat leher Willy yang tengah menggendongnya, sebenarnya sedari tadi dirinya sudah minta diturunkan, tapi Willy tidak mau mengindahkannya.


"Willy! Buruan! Kaya tidak bertenaga aja!" pekik Moranno yang sudah berada dibelakang Willy.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja Dad, jangan buru-buru, dinikmati," goda Willy pada ayahnya yang wajahnya sudah memerah menahan bobot tubuh ibunya.


"Willy! Buruan!" pekik Moranno lagi dengan wajah semakin memerah, antara amarah dan menahan bobot tubuh sang isteri, belum lagi ia harus mengatur irama pernapasannya yang mulai kembang kempis sementara perjalanan menaiki anak-anak tangga masih belum setengah perjalanan.


Yurina dalam gendongan suaminya hanya bisa membisu dan pasrah, berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, takut apa yang keluar dari mulutnya akan menyinggung perasaan suaminya. Ia tahu suaminya sudah tidak sanggup lagi, tenaga mulai uyuh dimakan usia.


"Willy! Buruan!" kali ini pekikan Moranno disertai tendangan kakinya pada Willy yang ada didepannya, untung saja pijakan kakinya sangat kuat hingga tubuhnya tetap seimbang.


"Willy, cepatlah, jangan sampai kau menjatuhkanku dan bayi kita," bisik Hanaria, tapi tetap dapat didengar oleh kedua mertuanya.


Kali ini Willy segera bergegas, ia memang sedang ingin mengganggu ayahnya, tapi dirinya juga tidak mau membahayakan isterinya, bayinya, apalagi ibu yang sangat ia sayangi. Dan bukan berarti ia tidak sayang ayahnya, ia terlalu hobby melihat reaksi ayahnya, terlihat lucu dan nenyenangkan, dan itulah bentuk rasa sayangnya pada sang ayah, sedikit berbeda dari orang kebanyakan, dan terlihat kurang ajar.


Willy memasuki kamar lamanya dirumah besar itu, dan membaringkan Hanaria dengan hati-hati diranjang besar mereka. Entahlah apa yang terjadi pada kedua orang tuanya yang masih berada jauh dibelakang mereka, yang jelas mereka baik dan selamat, namun Willy tidak menjamin bila ayahnya bisa cepat bangun besok pagi.🤔


"Willy, sikapmu sangat keterlaluan pada Daddy-mu," protes Hanaria, saat suaminya itu merebahkan tubuhnya disisinya.


"Itu belum apa-apa Hana, bahkan ada yang lebih dari itu," bukannya merasa risih diprotes oleh isterinya, Willy malah membanggakan beberapa kejadian dirinya menjahili ayahnya.


Hanaria hanya melongo, tidak percaya suaminya memiliki hobby menjahili ayahnya sendiri, ya hanya ayahnya, tidak dengan yang lain atau siapapun, kecuali dengan Hanaria apa bila mereka sedang bercinta.😊


Malam itu, Hanaria benar-benar tidak bisa tidur. Ia kembali memikirkan tentang pengadopsian bayi Elvano dan persyaratan berat yang menyertainya.


Menjelang pagi, barulah Hanaria bisa memejamkan matanya dan akhirnya terlelap, setelah menulis beberapa hal yang ada dikepalanya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2