
Setelah kepulangan Willy, dokter Mozes memeriksa kondisi luka - luka Hanaria yang terdapat dibeberapa bagian tubuhnya. Luka jahitan yang sempat mengeluarkan darah segera dibersihkan oleh suster Nana dan diobati lalu dipasang perban yang baru.
"Terima kasih banyak dokter dan suster...." Ucap Hanaria saat dokter Mozes dan suster Nana telah menyelesaikan pengobatannya senja itu.
"Sama - sama nona Hana....kami permisi dulu." Ucap dokter Mozes sembari tersenyum tipis.
"Dokter..... boleh kami masuk, kami teman - temannya Hanaria." Ucap Linda, saat dirinya dan tiga temannya yang lain baru saja tiba didepan ruang rawat inap Hanaria.
"Silahkan nona - nona, tapi tolong diingat, jangan membuat nona Hanaria kelelahan, dan jangan terlalu berisik, karena pasien butuh banyak istirahat." Sahut dokter Mozes mengingatkan keempat gadis itu.
"Siaaaapp dokter......" Jawab Linda, Norsa, Laras, dan Shasie secara bersamaan dengan jari tengah tangan kanan mereka menyentuh keningnya masing - masing membuat dokter Mozes hanya bisa tersenyum melihat tingkah keempat gadis itu.
Setelah dokter Mozes berlalu bersama suster Nana, keempat gadis itu segera memasuki ruang rawat inap Hanaria.
"Hana...... kami datang bestieee......!!!" Teriak keempat gadis itu serentak saat memasuki ruangan dengan suara riuh sambil mengembangkan kedua tangan mereka memeluk Hanaria. Hanaria yang baru saja selesai meminum obatnya sedikit terkejut saat mendengar suara gaduh keempat sahabatnya itu menghambur kearahnya. Hampir saja gelas ditangannya terjatuh kelantai.
"Aaww...... Kalian menyentuh lukaku..... !!" Teriak Hanaria kesakitan dengan wajah meringis kesakitan.
"Sorry..... sorry..... kami terlalu merindukanmu Hana.... Jadi kami lupa kalau kau disini karena terluka akibat kecelakaan dilokasi proyek." Ucap Linda sambil melepaskan pelukannya, demikian pula dengan Laras, Norsa, dan Shasie.
"Tolong letakkan gelas kosongku ini disana...." Ucap Hanaria, Laras lalu membantu meletakan gelas air minum Hanaria diatas nakas.
"Kamar rawat inapmu nyaman banget Hana.... kau pasti merogoh kantongmu dalam - dalam kalau dilihat dari semua fasilitasnya..... Biasanya pegawai seperti kita paling tinggi mendapatkan ruang rawat inap kelas satu saja. " Ucap Norsa sambil berjalan dan memeriksa keseluruh sudut ruangan itu.
" Hana tidak perlu merogoh kantongnya dalam - dalam bestie..... Kalian pasti tidak tahu 'kan kalau Hana sekarang dekat dengan tuan muda Willy." Celetuk Laras sambil tersenyum penuh arti melirik kearah Hanaria yang tengah duduk bersandar di ranjang pasiennya.
__ADS_1
"Hana..... apakah benar yang dikatakan Laras??" Tanya Linda serius dan seolah tidak terima menatap kearah Hanaria yang tidak terlalu mau menanggapi ucapan Laras dan pertanyaan Linda padanya.
"Aku CEMBURU Hanaaaa..... " Tambah Linda lagi dengan wajah dibuat semakin serius dan bibir yang dimonyongkan kedepan.
"Lindaaa..... itu tidak benar. Apakah kalian pernah melihatku tertarik pada tuan muda Willy selama ini, tidak 'kan??" Sahut Hanaria berusaha meyakinkan, ia melihat kearah Linda dan teman - temannya yang sedang duduk di sofa dekat ranjang pasiennya.
"Lalu kenapa Laras bisa begitu yakin mengatakan kalau kau dekat dengan tuan Willy??" Linda masih merasa penasaran pada apa yang didengarnya dari mulut Laras.
"Laras apa maksudmu mengatakan seperti tadi kalau Hana dekat dengan tuan muda Willy?? Apa kau sengaja membuatku cemburu.....??" Tanya Linda dengan wajahnya yang nampak cemberut.
"Aku tidak sengaja mendengar tuan Doffy bicara dengan pak Harison tadi pagi, kalau Hana diantar oleh tuan muda Willy." Jelas Laras sambil mengupas buah apel dan pir hasil patungan dirinya, Linda, Norsa, dan Shasie.
"Benar.... Kau diantar tuan muda Willy ??" Linda semakin penasaran menatap wajah Hanaria memeninta penjelasan.
"Duuuhh kapan ya aku bisa berduaan dengan tuan Willy seperti dirimu Hana..... Kau sangat beruntung..... Gimana rasanya Hana, apakah kau merasa berdebar - debar, dag - dug, atau apalah - apalah gituuu....." Shasie yang tengah asik menonton film drakor kesayangannya, ikut berkomentar membuat mata Linda mendelik.
" Terlalu banyak saingan......!!" Linda menggerutu sambil melipat tangan didepan dadanya.
"Kalian kemari mau menengokku atau membahas tentang CEO yang kalian idolakan itu??" Hanaria mulai bosan dengan pembahasan teman - temannya itu.
"Menengok dirimulah Hana, tapi nggak salahkan kalau kita sekalian bahas sang pangeran impian kita." Ucap Linda dengan senyumnya.
Laras membawa dua piring berisi buah yang baru selesai ia kupas dan potong kecil - kecil. Satu piring ia letakan diatas meja sofa dan satu piringnya lagi ia bawa mendekat pada Hanaria. Shasie langsung mencomot buah dan mengunyahnya sambil menatap layar televisi.
"Dimakan buahnya Hana...... enak dan segar.....Apalagi hasil patungan dari kami berempat." Ucap Laras menawarkan dengan wajah jenaka.
__ADS_1
Hanaria terkekeh mendengar kalimat akhir sahabatnya itu. " Iyaa..... rasanya sangat lezat. Hasil keringat para bestie ku." Ucap Hanaria sambil mengunyah, matanya tidak sengaja menangkap adegan romantis film drakor yang sedang ditonton Shasie.
"Ohh.... dia tampan sekaliiii...... Mirip banget dengan wajah tuan muda kita..... aku mau jadi pemeran wanitanya......" Ucap Shasie sambil berkhayal meresapi apa yang sedang ditontonnya.
Laras, Norsa, dan Linda ikut mengarahkan pandangan mereka pada layar televisi yang ada dibelakang mereka saat mendengar ucapan Shasie,
"Kau benar Shasie..... tapi tuan muda Willy masih jauh lebih tampan......" Ucap Linda memuji.
Hanaria menyentuh bibirnya sendiri dengan jari jemarinya. Adegan romantis yang tengah berlangsung di film itu mengingatkan dirinya akan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Willy pada saat makan siang. Pemeran pria pada layar kaca itu memang terlihat sangat mirip dengan tuan mudanya itu. Mendadak hatinya berdebar mengingat kejadian itu.
"Tidak..... aku tidak boleh mengingatnya......" Hanaria berusaha menepis ingatannya, dan menganggap apa yang dilakukan Willy padanya itu karena keisengan pria itu belaka.
"Shasie, apakah kau sedang berhayal kalau itu dirimu dan tuan muda.....?." Laras sengaja menggoda sahabatnya itu, saat dilihatnya wajah Shasie yang begitu menghayati adegan drama yang sedang ditontonya.
"Tentu saja Laras..... kau kan tau kalau aku begitu menggandrungi CEO kita....." Sahut Shasie jujur membuat mata Linda kembali mendelik kearahnya. Shasie langsung terkekeh melihat bola mata Linda yang seolah ingin melompat dari tempatnya.
"Tenang Linda, kitakan sama - sama penggemar, bersaing secara sehat......" Shasie masih terkekeh.
Hanaria hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya itu yang begitu tergila - gila memperebutkan tuan mereka, sedangkan orang yang diperebutkan tidak tahu - menahu.
"Hana.... Kapan kau akan pulang dari rumah sakit ini?" Tanya Laras yang duduk didekat Hanaria sambil memegang piring buah untuk sahabatnya itu.
"Semoga besok Laras. Aku tidak betah beristirahat dirumah sakit ini..... Dirumah rasanya lebih nyaman, tapi tergantung pemeriksaan dokter Mozes besok." Sahut Hanaria.
"Kalau dirumahmu siapa yang bisa membantumu Hana? Jelas Firlita tidak mungkin, tubuhnya jauh lebih kecil darimu, lagi pula dia sedang mengandung. Kurasa dirumah sakit ini adalah pilihan yang terbaik. Coba kau perhatikan baik- baik, ruang rawat inapmu ini sangat mewah untuk ukuran pegawai seperti kita Hana. Menurutku, tuan muda Willy sepertinya sangat baik padamu. Kalau aku sepertimu, aku pasti betah disini." Ucap Laras penuh arti.
__ADS_1