HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
156. Perjalanan Ke Villa


__ADS_3

Untuk beberapa menit berikutnya, keduanya sama-sama terdiam. Hanaria fokus pada kemudi yang sedang disetirnya. Sementara Willy menatap lurus kedepan. Lalu lintas pinggiran kota terbilang sepi, tidak terlalu ada kemacetan yang berarti, hanya saja sesekali Hanaria melambatkan laju mobil yang dikendarainya saat mobil lain yang ada dihadapannya akan berbelok arah dipersimpangan jalan.


"Hana," panggil Willy pelan, ia melirik sekilas kearah Hanaria yang sedang fokus menyetir.


"Iya, ada apa?" sahut Hanaria, ia menoleh sejenak kearah Willy yang duduk disebelahnya, kemudia ia kembali fokus pada jalan didepannya.


"Apakah kau serius akan berkerja diperusahaan otomotif milik nyonya Mingguana," tanya Willy, ia masih melihat pada Hanaria, pandangan fokus pada wajah isterinya.


"Iya, aku serius," sahut Hanaria singkat.


"Kudengar, nyonya Mingguana membeli perusahaan itu. Dan saat ia membelinya, perusahaan itu sudah gulung tikar, jadi ia berusaha untuk membangkitkan perusahaan itu kembali," ucap Willy. Ia mengalihkan pandangannya pada jalan raya dihadapannya.


"Aku dengar juga begitu," sahut Hanaria lagi dengan singkat.


"Nyonya Mingguana merekrutmu sebagai pegawai, posisi apa yang dia percayakan padamu Hana?" tanya Willy.


"Marketing," sahut Hanaria.


"Manager marketing?" tanya Willy.


"Bukan, hanya marketing biasa," sahut Hanaria jujur dan spontan.


Willy menoleh, ia menatap wajah Hanaria yang fokus mengemudi. "Hanya marketing biasa?" tanya Willy memastikan pendengarannya, sambil mengerutkan keningnya seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Iya, hanya marketing biasa," sahut Hanaria santai.


"Hana, apakah kau tidak salah menerima pekerjaan? Maksudku, kenapa posisimu ditempat kerja yang baru lebih rendah dari tempat kerjamu yang lama," ucap Willy dengan wajah berubah serius, dan masih merasa heran.


"Lagi pula keahlianmu itu adalah di bidang arsitek bukan di marketing," Willy melirik Hanaria yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Itu sulit Hana, tidak mudah membangkitkan perusahaan yang bermasalah, apalagi kau belum punya pengalaman pada bidang marketing," imbuh Willy berusaha mengingatkan isterinya itu.


"Iya, aku tahu," sahut Hanaria setengah bergumam.


"Apakah semua yang kau lakukan itu hanya karena Firlita dan bayinya?" tanya Willy memastikan.


"Awalnya seperti itu, tapi saat aku memutuskan untuk menerima pekerjaan itu, aku rasa itu tantangan, dan aku ingin mencoba mengasah kemampuanku dibidang marketing, mengembangkan diri pada bidang yang bukan keahlianku," ucap Hanaria dengan penuh keyakinan.


Willy menatap lekat wajah Hanaria yang nampak dari samping, ia merasa was-was karena beban berat sebentar lagi akan ditanggung oleh isterinya itu.


"Baiklah, itu artinya kau harus siap menerima semua kensekuensinya Hana," ucap Willy akhirnya. Ia menekan tombol jok mobilnya untuk mengatur posisinya supaya bisa lebih nyaman menikmati perjalanan.


"Aku ingin tidur sebentar, bangunkan aku bila kau lelah," ucap Willy. Ia lalu mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Hanaria melirik sekilas kearah Willy yang sudah memejamkan matanya, ia menambah kecepatan mobilnya sambil mengikuti arahan dari ponselnya yang menyuruhnya lurus, berbelok kekiri, ataupun berbelok kekanan.


Mau tidak mau, apa yang telah disampaikan Willy padanya menjadi buah fikiran wanita itu. Sebelumnya, Hanaria pun sudah memikirkannya, bahkan jauh-jauh sebelumnya.


Hanaria mendesah, ia dapat merasakan apa yang akan ia hadapi saat masuk berkerja di perusahaan nyonya Mingguana nanti, itu adalah hal yang sangat berat baginya.


Ia tidak mungkin mundur, ini menyangkut prinsifnya, apa yang ia katakan haruslah sejalan dengan apa yang ia lakukan, gumamnya meyakinkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa saat lamanya, Hanaria menepikan mobil yang ia kemudikan dengan perlahan, ketika melihat ada kedai dipinggir jalan.


"Willy bangun," panggil Hanaria. Ia membuka sabuk pengaman yang meliliti tubuhnya. Namun suaminya itu tidak menjawab, ia masih terlelap dalam tidurnya.


"Willy bangun," Hanaria menepuk-nepuk pipi suaminya itu. Willy mengerjap-ngerjapkan matanya, ia melihat Hanaria yang sedang nenatapnya.


"Ada apa?" tanya Willy.


"Kita makan dulu dikedai itu, aku lapar," ucap Hanaria.


Willy segera melepaskan sabuk pengamannya lalu mengikuti Hanaria keluar dari mobil menuju kedai.


Sang pemilik kedai tersenyum ramah menyambut kedatangan Hanaria dan Willy yang mampir dikedainya.


"Eh, den Willy, lama tidak mampir kemari," ucap ibu pemilik kedai saat meneliti wajah Willy.


"Berdua saja?" tanya ibu kedai, ketika tidak dilihatnya orang lain selain mereka.


"Iya bu," sahut Willy.


"Pacarnya den Willy ya?" tanya ibu kedai sambil melirik Hanaria dengan senyumnya


"Bukan bu, dia isteri saya," sahut Willy tanpa basa basi.


Ibu kedai langsung terbelalak mendengar pengakuan Willy," wah, isterinya ya den, saya kok langsung jadi patah hati ya," canda sang ibu kedai kemudian terkekeh.


"Ibu ada-ada saja," ucap Willy sambil ikut terkekeh mendengar candaan sang pemilik kedai yang sudah sangat mengenalinya itu.


"Kau mau makan apa? Coba pesan pada ibu kedainya," ucap Willy pada Hanaria.


"Ada ikan sungai Bu?" tanya Hanaria yang tidak melihat menu sajian ikan.


"Tidak ada non, hanya ada ayam, sulit cari ikan sungai di daerah sini non," sahut ibu pemilik kedai.


"Kau mau makan apa?" tanya Hanaria pada Willy yang berdiri didekatnya.

__ADS_1


"Ayam bakar saja," Sahut Willy saat melihat Ibu pemilik kedai sedang membakar ayam.


"Ayam bakarnya dua ya bu, sekalian sayur lalapannya." ucap Hanaria.


"Baik non. Minumnya apa non?" tanya ibu kedai itu lagi.


"Dua botol air mineral saja bu," sahut Hanaria.


"Baik, ditunggu sebentar ya non," ucap sang ibu kedai, sambil melanjutkan pekerjaannya.


Hanaria lalu menuju meja dimana Willy sudah duduk lebih dulu sambil menatap lembah yang menghijau di sekitar kedai itu.


"Kau sering lewat sini?" tanya Hanaria yang telah duduk dihadapan Willy.


"Sering. Daddy sering mengajak kami liburan ke Villa sekalian melakukan kunjungan kerja pada bisnis daddy yang ada disekitaran Villa," sahut Willy.


"Apakah Villa-nya masih jauh?" tanya Hanaria.


"Kenapa? Kau merasa lelah?" Willy balik bertanya.


"Tidak, aku hanya ingin tahu saja." sahut Hanaria melihat kearah Willy.


"Sekitar satu jam lagi kita baru akan tiba," ucap Willy sambil melirik arloji ditangan kirinya.


"Kalau begitu, masih jauh dusunku bila dibandingkan dengan Villa yang akan kita tuju?" tanya Hanaria.


"Iya, begitulah," sahut Willy.


"Permisi non, aden, pesanannya sudah siap," ucap sang ibu pemilik kedai menghampiri mereka. Ia lalu menyajikan apa yang ia bawa keatas meja.


"Silahkan disantap makanannya non, aden," ucap ibu pemilik kedai itu ramah.


"Terima kasih ya bu," ucap Hanaria dan Willy hampir bersamaan.


Hanaria menatap sejenak menu yang ada dihadapannya, ia mengambil ayam bakar dipiring sajinya dan menggigitnya sedikit.


"Bagaimana? Enak?" tanya Willy, saat ia memperhatikan Hanaria mengunyah ayam bakarnya.


"Enak," sahut Hanaria. Ia mengambil lagi daging ayam bakarnya, dan mencocolnya pada sambel yang terlihat menggoda, lalu memasukannya kedalam mulutnya.


"Apa enak?" tanya Willy lagi menatap wajah Hanaria yang terlihat sangat menikmati kunyahannya. Ia tahu bila Hanaria tidak terlalu suka daging ayam karena sudah terbiasa makan ikan.


"Sangat, sangat enak, mungkin disaat perutku lapar seperti ini," sahut Hanaria, ia melahap ayam bakar dan lalapannya yang ada dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2