HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 112 Sengaja


__ADS_3

Rasa lelah begitu mendera, sehingga membuat Firlita berjalan gontai menuju kamarnya dengan perut besarnya yang semakin berat, berniat segera mandi, lalu segera tidur.


Mulai dari pintu masuk, rumah besar milik ibu mertuanya itu, sudah sangat sepi. Pak Aji, si tukang kebun dan bibi Narsih tidak kelihatan batang hidungnya. Rumah dibiarkan terbuka begitu saja, padahal jam di dinding sudah menunjukan pukul 8 malam.


Sejak tinggal dirumah Mahendra, suaminya yang sudah sah secara agama dan negara, Firlita selalu makan malam diluar terlebih dahulu sebelum pulang berkerja, supaya setelah sampai dirumah, ia langsung bisa beristirahat setelah membersihlan dirinya. Itu dilakukan oleh Firlita karena baik nyonya Mingguana ibu mertuanya, maupun Mahendra suaminya, sering pulang larut malam.


Firlita memasukkan anak kuncinya, ia merasa aneh, karena kamarnya tidak terkunci. Seingatnya, ia tidak lupa mengunci kamarnya tadi pagi sebelum berangkat berkerja.


Ia segera mendorong kenop pintu, dan masuk. Begitu akan menutup pintu, Firlita hampir saja terjatuh karena tersandung suatu benda keras dan runcing.


Firlita mengernyitkan keningnya, saat dilihatnya sepatu high heels berwarna merah milik wanita. Dan ia tahu pasti bahwa itu bukan miliknya. Ia segera memungutnya dan menenteng sepatu itu ditangannya agar tidak terinjak oleh dirinya lagi.


"Aakkhh........ "


"Ooooohhhh........."


"Aaaakkkhhh........"


"Owuuuuhhhh........ "


Firlita segera melepaskan sepatu tanpa high heels yang masih ia kenakan dikakinya, dan meninggalkannya begitu saja dilantai, tanpa sempat menaruhnya di rak sepatu miliknya, dan segera masuk lebih dalam menuju tempat tidur yang dilindungi beberapa lemari pakaiannya, saat mendengar suara erangan dan desisan yang mengerikan itu menggema diseluruh ruangan kamarnya.


"Apa yang kalian lakukan......??!!" Pekik Firlita kaget saat melihat seorang wanita berambut ikal bergelombang yang sudah bugil diatas suaminya yang berbaring diranjang miliknya.


Mahendra dan wanita itu menoleh sekilas kearah Firlita, lalu tersenyum jahat menatapnya.


"Teruskan sayang...... kita baru memulainya dan harus menyelesaikannya...... Kami sengaja melakukannya disini agar kau dapat menontonnya secara live, dan ini gratis......" Ujar Mahendra yang berada diposisi bawah, dengan nada mengejek.


Sementara wanita itu kembali melanjutkan aksinya. Kembali suara ******* dan erangan - erangan keluar dari mulut kedua manusia yang berada diatas ranjang dengan sprei yang sudah awut - awutan. Sedikitpun tidak ada rasa malu terpancar dari wajah keduanya.

__ADS_1


"Biadab......!!! Manusia tidak bermoral......!!!" Teriak Firlita kencang sambil melemparkan sepatu ditangannya kearah Mahendra dan pasangan mesumnya itu, lalu berlari keluar dengan perut besarnya.


"Aawww........!!! Teriak wanita berambut ikal bergelombang sambil memegang pelipisnya yang mengeluarkan darah karena terkena ujung heels sepatunya sendiri.


Mahendra yang terkejut akan apa yang telah dilakukan wanita yang sudah menjadi isterinya itu, langsung bangkit dan mengejar Firlita yang sedang berlari menuju pintu kamar, tanpa menggunakan sehelai benangpun.


"Mau kemana kau perempuan sialan.....!! Mau pergi begitu saja setelah mengacaukan acaraku...... huhhhh!!!" Mahendra yang berhasil meringkus Firlita langsung mengunci isterinya itu kedinding kamar dekat pintu keluar dan mencekik lehernya.


Tangan Firlita menggapai - gapai, berusaha berontak untuk melepaskan diri. Namun apa daya, tubuh mungilnya tidak cukup bertenaga melawan Mahendra yang jauh lebih besar dan tinggi dari padanya.


Mahendra tertawa menyeringai, ia terlihat puas saat melihat Firlita sudah mulai mangap - mangap hampir kehilangan nafas. Ia semakin mengencangkan cekikan tangannya. Tangan Firlita yang menggapai - gapai mulai terlihat lemas dan lunglai, matanya sudah berkunang - kunang.


"Mahendra........!!!"


"PlaaĆ aakkkkkkkk" Tamparan keras dengan tenaga penuh bersarang dipipi laki - laki itu, hingga membuat wajahnya berpaling dan tangannya yang mencengkram dan mencekik Firlita seketika terlepas, membuat wanita hamil itu melorot kelantai sambil bersandar pada dinding kamarnya. Firlita terbatuk - batuk dan berusaha bernafas dengan susah payah.


"Pak Aji........!!! Cepat bawa tabung oksigen dan kursi roda kemari.......!!!" Teriak nyonya Mingguana.


Sambil memegangi pipinya yang terasa melepuh akibat tamparan ibunya, Mahendra segera masuk kembali kedalam untuk mengambil pakaiannya yang berada dilantai sisi tempat tidur.


Nyonya Mingguana, memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat kegilaan putranya yang benar - benar tidak punya rasa malu tanpa mengenakan satu helai benangpun ditubuhnya.


Amarahnya masih belum pupus, ingin rasanya ia menghajar putra semata wayangnya itu. Namun kekhawatirannya pada Firlita mengalihkan suasana hatinya yang masih terasa panas.


"Ini nyonya......" Pak Aji membawa tabung oksigen dan kursi roda sesuai yang dipesankan nyonyanya itu. Nyonya Mingguana segera memasang selang oksigen kehidung Firlita yang sudah terlihat lemas tidak berdaya.


"Cepat...... Bantu saya untuk mengangkat Firlita keatas kursi roda ini." Pinta nyonya Mingguana. Pak Aji dengan sigap membantu Firlita yang terduduk lemas dilantai.


"Cepat bawa kemobil.......! Kita harus membawanya segera kerumah sakit sebelum terlambat. Aku akan menghubungi pihak rumah sakit sekarang supaya bersiap.....!" Tukas nyonya Mingguana seraya menelpon.

__ADS_1


Dengan langkah cepat pak Aji mendorong kursi roda Firlita dan membawanya masuk kemobil yang sudah disiapkan sopir pribadi nyonya Mingguana dihalaman rumah, lalu melarikan Firlita kerumah sakit Pemerintah.


Selesai menelpon, nyonya Mingguana, kembali masuk kedalam kamar Firlita untuk menemui putranya Mahendra.


"Bawa wanita jalangmu itu keluar dari rumah mama sekarang juga....!" Usir nyonya Mingguana, sambil menunjuk kearah pintu. Perempuan yang bersembunyi didalam selimut itu segera turun dari tempat tidur, dan berlindung dibalik punggung Mahendra. Wajahnya terlihat sangat takut.


"Mahendra.....! Tunggu....!" Tahan nyonya Mingguana.


"Kau perempuan ****** !! Keluar dari kamar ini.....!!" Perempuan itu tergopoh - gopoh keluar sambil membawa tas dan menenteng sepatunya yang telah melukai pelipisnya.


"Sudah berpuluh - puluh kali mama memperingatkanmu Mahendra! Untuk tidak membawa wanita - wanita jalangmu itu masuk kerumah mama! Kenapa kau tidak mau mendengarkan mama??!"


"Kau sadar apa yang telah kau lakukan pada Firlita Mahendra!" Ucap nyonya Mingguana geram, setelah dilihatnya wanita berambut ikal bergelombang itu telah keluar dari kamar Firlita.


Mahendra tidak menjawab, ia hanya berdiri ditempatnya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, dengan wajah acuh tanpa merasa bersalah.


"Perbuatanmu itu bisa menjebloskanmu kedalam penjara! Mama bisa saja melepaskanmu dari jeratan hukum saat kau menganiayanya dicafe waktu itu. Andai saja mama terlambat datang tadi, kau pasti sudah membunuhnya! Kau fikir dengan membunuhnya, semuanya akan selesai! Tidak Mahendra! Kau salah besar! Kau bahkan akan menambah masalah baru!" Geram nyonya Mingguana sambil menatap tajam wajah putranya.


"Semuanya ini salah mama!! Kenapa menerima semua persyaratan yang diajukan oleh nona Hanaria !! Sehingga membuat perempuan hamil itu tingal disini!! Aku benci melihatnya!! Aku benci satu atap dengannya!!" Sengit Mahendra yang sudah tidak tahan lagi dengan semua tindakan ibunya yang mengatur seluruh hidupnya.


"Plaakkkk!!!" Tamparan keras kembali mendarat dipipi Mahendra, yang sebelumnya sudah mendapat tamparan. Wajah Mahendra kembali berpaling. Ia mengusap pipinya yang memanas, namun tidak berani beranjak dari tempat dirinya berdiri.


Ia tidak berani melawan, karena ia mengenal kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki ibunya yang arogan itu. Terakhir saat ia berontak, ia hampir mati disekap dan dihajar oleh para algojo suruhan ibunya.


"Baiklah!! Kalau kau tidak mau tinggal satu atap dengan Firlita, mama mempersilahkanmu angkat kaki dari rumah ini. Kau boleh tinggal diapartemen mama secara gratis, sampai akhir bulan ini. Dibulan berikutnya, kau harus membayar semua fasilitas yang kau pakai didalamnya. Semua rekening, dan kartu kreditmu, detik ini juga akan mama bekukan."


"Mengenai cafe atas namamu itu, kau hanya mendapat gaji harian setiap kau turun berkerja, sama seperti para karyawanmu yang lain. Mama mau lihat apa kau bisa hidup dengan hasil keringatmu sendiri."


"Sekarang, mama mau kerumah sakit, menyusul Firlita. Saat mama kembali, mama sudah tidak mau melihat kau ada dirumah ini!" Selesai bicara, nyonya Mingguana bergegas meninggalkan kamar Firlita. Sementara Mahendra dengan wajah galaunya, mengacak - acak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2