HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 71 Naik Jabatan


__ADS_3

Hanaria, akhirnya sampai diatas panggung, ia berdiri kaku disana, disamping podium menatap lurus kedepan, ia dapat melihat, semua pasang mata sedang memusatkan perhatiannya pada dirinya. Ia tidak mengerti, mengapa tuan Doffy memintanya untuk tampil didepan, dihadapan semua rekan - rekan kerjanya.


Tidak lama, terdengar suara tuan Doffy mempersilahkan Moranno, sebagai Dirut dari perusahaan Agatsa Properti Group juga tampil kedepan, diatas podium.


Hanaria memundurkan dirinya dua langkah kebelakang, lalu membungkuk hormat saat Moranno, sang pemilik perusahaan itu, akan melintas dihadapannya menuju podium.


Kharisma seorang pemimpin yang dimiliki Moranno, membuat Hanaria tidak berani mengangkat wajahnya, demikian juga semua orang yang hadir dalam ruangan itu, berdiri sambil membungkuk hormat didepan kursinya masing - masing, sampai Moranno tiba dipodiumnya.


Semua pegawai Divisi Arsitekture yang hadir diruangan itu, kembali duduk dengan hati - hati dikursinya masing - masing. Mereka mendengarkan semua yang disampaikan Moranno dengan penuh perhatian.


Sementara Hanaria masih berdiri disisi podium, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya, yang masih belum bisa melupakan, semua yang ia alami dipagi itu. Hanaria mendengarkan semua yang dituturkan sang Direktur Utama, namun pikirannya tidak pokus pada apa yang disampaikan.


"Pihak Divisi Arsitekture, telah mengajukan beberapa nama sejak enam bulan yang lalu secara rahasia, untuk calon wakil kepala Divisi Arsitecture, yang masih kosong selama satu tahun ini." Ucap Moranno.


"Dengan didasari banyaknya penilaian dan berbagai pertimbangan, tanpa diketahui oleh nama - nama yang sudah diajukan, maka pada hari ini, sesuai dari keputusan para petinggi DIvisi, saya atas nama pemilik perusahaan, Agatsa Properti Group, mengangkat dan menetapkan...... Nona HANARIA sebagai wakil kepala Divisi Arsitekture......!!!"


"Tok.......!!!"


"Tok.......!!!"


"Tok.......!!!"


Moranno Agatsa mengetok palu tiga kali, lalu disambut tepuk tangan dari seluruh orang yang hadir dalam ruang pertemuan itu. Hanaria semakin terpaku ditempatnya, dirinya tidak menyangka, bila posisi sebagai wakil kepala Divisi Arsticture sekarang diberikan padanya. Belum sempat ia selesai berfikir, Moranno Agatsa turun dari podium dan menghampirinya bersama tuan Doffy.


"Nona Hanaria, selamat......! Atas terpilihnya anda, menjadi wakil Kepala Divisi..... Anda layak menerimanya." Ucap Moranno Agatsa, pemilik perusahaan yang bergerak dibidang properti itu, mengulurkankan tangannya pada Hanaria. Gadis itu, hampir - hampir tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyambut jabatan tangan sang majikannya itu.

__ADS_1


Seharusnya, pengangkatan dirinya sebagai wakil Kepala Divisi Arsitecture itu, membuat dirinya merasa bahagia, namun rasa sedih tiba - tiba bergelayut direlung hatinya. Bukannya Hanaria tidak bersyukur, ia pun memimpikan jabatan itu, karena semua pegawai dalam Divisinya, berlomba - lomba menapaki jenjang karier step by step, berbeda dengan dirinya, dalam usia baru 26 tahun, sudah langsung melejit ketitik yang tidak ia duga.


"Nona Hana...... apakah tangan anda telah diolesi lem?" Tanya Moranno Agatsa, sambil melihat heran pada pegawai wanitanya itu yang masih memegang erat tangannya.


"Ahh..... ehh..... mmm...... Maafkan saya tuan..... saya kurang fokus......" Sahut Hanaria merasa gugup, yang baru menyadari, bila tangannya masih menggenggam erat tangan sang majikannya, wajahnya langsung bersemu merah menahan rasa malu.


"Saya mengerti nona Hanaria..... Saya berharap, kinerjamu akan semakin baik di jabatanmu yang baru nona Hana......" Ucap Moranno Agatsa menambahkan. Wajahnya yang masih terlihat tampan diusia yang hampir setengah abad itu mengulas senyumnya. Tuan Doffy yang menyaksikan tingkah Hanaria pun, ikut tersenyum.


"Selanjutnya, tuan muda Willy, CEO Agatsa Properti Group, akan menyerahkan surat pengangkatan jabatan pada nona Hanaria.......!" Ucap tuan Doffy dengan pengeras suara, Wlly yang entah kapan sudah berada disamping Hanaria.


Willy menghadapkan tubuhnya pada Hanaria, ia menatap wajah Hanaria sejenak. Pancaran kebencian terlihat dari sorot mata wanita didepannya. Willy besikap acuh, ia tidak ambil pusing, baginya sudahlah biasa dan lumrah sikap Hanaria selalu demikian padanya, mulai awal mereka bertemu, hanya saja dirinya sering merasa gemas akan sikap bawahannya itu, hingga kini, ia belum menemukan bagaimana caranya bisa menundukan wanita itu.


Willy lalu menyerahkan surat yang ada ditangannya, pada Hanaria dengan wajah dinginnya, tidak ada senyum, apalagi ucapan selamat yang keluar dari mulutnya, begitupun dengan Hanaria yang sudah sangat ilfil pada tuan mudanya itu. Tepuk tangan kembali terdengar riuh, memenuhi seluruh ruangan.


"Nona Hana, mulai sekarang, anda akan lebih sering berhubungan dengan tuan muda Willy, karena pekerjaan. Dahulunya, anda hanya melewati saya, tapi sekarang tidak lagi. Saya harap, nona Hana dan tuan muda Willy bisa menjalin kerjasama yang baik." Ucap tuan Doffy, mengakhiri acara pengangkatan jabatan Hanaria dihari itu.


"Hallo.......?" Hanaria baru saja keluar dari ruang pertemuan, saat nomor tidak dikenal menelponnya.


"Hana...... ini Reymon.......mas minta nomormu dari kakakmu Jonly......." Terdengar suara pria yang begitu akrab ditelinganya.


"Mas Rey......?! Apa kabar??" Wajah Hanaria nampak berseri, mendengar suara pria itu, ia menepikan langkahnya kepinggir, lalu memasuki toilet, supaya tidak mengganggu pegawai lainnya yang turut keluar ruangan pertemuan.


"Mas...... baik - baik saja Hana...... Bolehkah mas mentraktirmu makan siang?" Tanya pria itu dari seberang sambungan telepon.


"Memangnya mas Rey ada dimana? Mas tidak mengajar?" Tanya Hanaria heran. Setahunya pria itu tidak mungkin ada dikota karena sedang mengajar disekolah yang ada didusunnya.

__ADS_1


"Mas tidak mengajar hari ini. Mas turun kekota kemarin siang. Ada sedikit urusan. Mumpung ada disini, sebaiknya kita makan siang bersama. Bagaimana??" Tanya Reymon lagi dengan suara lembutnya.


"Baiklah mas...... aku mau......! Sharelock ya mas Rey? Aku akan segera meluncur kesana." Ucap Hanaria bersemangat. Ia tiba - tiba merasa rindu pada pria itu, mungkin setelah apa yang telah ia alami dipagi itu.


"Hana....... mas Rey belum mengerti caranya sharelock, maklum.....mas orang dusun......" Ucap Reymon terkekeh. Hanaria ikut terkekeh mendengar kepolosan pria lembut itu.


"Kalau begitu, mas kirim alamatnya saja, Hana akan segera kesana ya......" Ucap Hanaria masih terkekah.


"Oke..... baiklah......" Sahut Reymon. Setelah sambungan telepon terputus, Hanaria tersenyum, lalu menyimpan ponselnya didalam sakunya, perasaannya cukup terhibur setelah mendapat telepon dari Reymon, guru sekolah dasar didusunnya, yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Uughhh Hana...... dicari kemana - mana....... Ternyata ngumpet disini......!" Ujar Norsa, yang baru saja menemukan temannya itu didalam toilet wanita.


"Ayo, kita makan siang......! Linda, Shasie dan Laras udah nunggu ditraktirin sama yang naik jabatan.....!" Tambah Laras lagi, sambil menarik - narik tangan Hanaria tidak sabar, untuk keluar dari toilet wanita.


"Brughhh......!!!" Norsa hampir saja terpental, saat tubuhnya menabrak seseorang, kalau saja dirinya tidak segera berpegangan erat pada tubuh orang yang ia tabrak barusan.


"Norsa.......!! Sepertinya kau sengaja menabrak pak Horison, supaya bisa memeluknya...... iya khan.....???" Goda Shasie, dengan tawa terbahak didepan toilet. Norsa segera mengembalikan keseimbangan tubuhnya, ia lalu berdiri dengan posisi tegak, menatap pria muda berkaca mata minus, yang menjadi atasan dirinya. Dengan perasaan malu, ia langsung melepaskan pegangannya dengan wajah bersemu merah.


Norsa mendelikkan matanya menatap Shasie jengkel, ledekan Shasie sukses membuat dirinya jadi salah tingkah, "Awas ya kau Shasie" Gerutu Norsa didalam hatinya.


"Ma..... Maafkan saya pak Harison, saya tidak sengaja. Itu semua gara - gara Hanaria ......" Ucap Norsa asal.


"Kok jadi aku sih Norsa??" Ujar Hanaria tidak terima, saat tiba - tiba namanya disebut begitu saja oleh Norsa temannya itu.


...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....

__ADS_1


...Author sangat menghargainya, sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...


__ADS_2