
"Untuk saat ini, saya belum bisa menjawab atas apa yang anda minta sekretaris Morin. Beri saya waktu beberapa hari untuk memikirkannya, ini tidak mudah buat saya." Ucap Hanaria akhirnya. Ia mengatur nafasnya berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak marah pada sekretaris Morin dihadapan bos besarnya itu.
"Kalau begitu..... pembicaraan ini akan kita lanjutkan kemudian. Dan ingat sekretaris Morin, kau harus lebih berhati - hati lagi dalam lisan dan tindakanmu, apalagi itu berkaitan dengan nona Hanaria, yang sebentar lagi akan resmi menjadi anggota keluarga Agatsa. Apakah kau mengerti sekretaris Morin?" Ucap Moranno.
"Mengerti tuan." Sahut sekretaris Morin yang merasakan semakin sakit didalam dadanya saat mendengar pernyataan sang Direktur Utama yang menekankan perkataannya tentang Hanaria yang sebentar lagi akan menjadi anggota keluarga Agatsa.
"Asisten Rudi, file kan pembicaraan kami yang sudah kau rekam." Perintah Moranno.
"Baik tuan....." Sahut asisten Rudi dengan gaya sigapnya.
Sekretaris Morin kembali terkesiap mendengar perkataan antara Moranno dan Asisten pribadinya itu. Ia hanya bisa menggigit bibirnya pasrah.
"Sekarang..... kau boleh keluar, dan melanjutkan pekerjaanmu sekretaris Morin....." Ucap Moranno lagi pada sekretaris pribadi putranya itu.
"Baik tuan......" Sekretaris Morin segera bangkit dari duduknya, tidak lupa membungkuk hormat, lalu segera pergi dengan hati perih. Segala usahanya ternyata sia - sia belaka, bahkan menyerangnya balik.
"Nona Hana...... Kau tetap ditempat dudukmu, ada yang harus kubicarakan denganmu....." Tahan Moranno, saat Hanaria juga hendak beranjak untuk berpamitan.
Hanaria tidak jadi berdiri, ia memperbaiki posisi duduknya, dirinya tiba - tiba merasa tegang, apa gerangan yang akan dibahas oleh bos besarnya itu lagi.
Perasaannya tiba - tiba menjadi sangat tidak enak dan berdebar - debar, juga gelisah. Nampaknya sesuatu yang sangat penting. Semoga saja hal yang baik, doa Hanaria didalam hati.
"Tuan..... Apakah sebaiknya saya keluar sekarang?" Ungkap asisten Rudi.
__ADS_1
"Tidak perlu..... Kau boleh mendengarnya asisten Rudi, aku mempercayaimu. Lanjutkan saja pekerjaanmu." Sahut Moranno pada asistennya itu, namun matanya menatap Hanaria, membuat gadis itu menjadi semakin gelisah dan salah tingkah.
"Baik tuan." Asisten Rudi kembali kembali duduk dimeja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Apakah kau sudah memikirkan ulang tentang rencanamu untuk resign dari perusahaan ini nona Hana?" Tanya Moranno memulai pembicaraannya, wajahnya datar dan terlihat tenang.
"Mohon maafkan saya tuan...... Saya tidak bisa menarik surat pengunduran diri saya. Saya akan tetap resign dalam satu minggu kedepan." Hanaria menjedah ucapannya sejenak, dari dalam hatinya ia merasa sangat tidak enak atas keputusannya ini. Moranno tetap mendengarkan dengan sikap tenangnya.
"Jujur, saya sayang meninggalkan pekerjaan ini tuan, pekerjaan yang sangat saya dambakan menjadi seorang arsitek, yang sudah begitu menjiwa pada diri saya. Tapi saya tidak bisa mengingkari perjanjian kesepakatan yang telah saya buat bersama nyonya Mingguana dihadapan polisi dua bulan yang lalu."
"Saya selalu berusaha apa yang saya lakukan, sejalan dengan apa yang saya katakan tuan. Mohon maafkan saya, bila keputusan saya tetap resign tidak berkenan dihati tuan." Ucap Hanaria hati - hati, takut menyinggung sang majikannya itu.
Moranno tetap menatap datar pada Hanaria, ia terdiam sejenak. Sebelumnya, ia sudah tahu, bahwa pegawai perempuannya itu tidak akan menarik - ulur apa yang sudah ia lakukan, jadi dirinya sudah menyiapkan semua pembicaraan selanjutnya yang akan ia katakan pada pegawainya itu.
"Apakah nona Hana tahu siapa nyonya Mingguana sebenarnya? Orang...... Yang padanya...... Nona sudah mengadakan kesepakatan besar dan berbahaya?" Tanya Moranno. Nadanya terdengar datar namun mengandung arti yang dalam, membuat Hanaria merinding.
"Saya sedikit tahu tuan......" Sahut Hanaria tenang, melirik sebentar kewajah Moranno, lalu segera beralih menatap vas bunga diatas meja dihadapannya. Ia terlalu sungkan bertatapan langsung dengan Moranno.
"Apa yang kau tahu nona Hana?" Pancing Moranno, ia ingin tahu sejauh mana pegawainya itu mengenal nyonya Mingguana yang sebentar lagi akan menjadi majikannya yang baru.
"Nyonya Mingguana Alhandra Liem, seorang pengusaha sukses dibidang pertambangan batu bara, emas, dan nikel. Salah satu pengusaha wanita yang menjadi inspiratif banyak orang dinegeri ini. Itu sebabnya ia sering diundang menjadi salah satu narasumber pada event - event yang dianggap penting."
"Setelah merasa sukses menjadi pengusaha pertambangan, kini dirinya mulai mencoba peruntungan dibidang otomotif. Baru - baru ini, ia sengaja membeli perusahaan otomotif yang sudah bangkrut, dan berusaha untuk membangun perusahaan itu kembali dengan ambisi supaya namanya semakin bersinar sebagai pengusaha wanita, apabila berhasil membawa perusahaan otomotif itu bangkit kembali."
__ADS_1
"Dan diperusahaan inilah saya akan ditempatkan menjadi seorang marketing. Dan saya tahu itu tidak mudah." Ucap Hanaria.
"Tidak banyak yang tahu, dibalik kegemilangan kariernya, ada banyak kepahitan yang ia alami dalam keluarganya, sehingga kepahitan yang ia simpan itu, menjadi suatu dendam kesumat yang membuatnya berambisi dan mau memenjarakan setiap rupiah didalam genggamannya. Dendam pada suaminya, dendam pada orang tua suaminya, dan orang - orang yang pernah merendahkannya."
"Semua orang menyangka, bila nama belakangnya adalah nama dari suaminya. Ternyata itu adalah namanya sendiri yang ia bangun hingga menjadi besar seiring suksenya kariernya."
"Kesibukan mengatur bisnisnya, membuat nyonya Mingguana melupakan hal yang terpenting dalam mendidik putra tunggalnya, sehingga putra yang seharusnya kelak akan menjadi penerusnya itu, kini menjadi seorang psikopat, seorang casanova, dan suka menghambur - hamburkan uangnya, korban dari keluarga yang broken home. Dan yang saya sebutkan itu hanya garis besarnya saja, untuk lebih detailnya lagi..... Sangat panjang penjabarannya tuan." Ucap Hanaria mengakhiri perkataannya.
Moranno termangu mendengar penuturan Hanaria. Gadis itu, ternyata tahu banyak, bahkan melebihi informasi yang ia dapat. Tidak salah bila selama ini, tuan Doffy selalu mengandalkannya.
"Bagaimana nona Hana bisa mendapatkan informasi sebanyak itu? Saya saja harus mengeluarkan banyak rupiah untuk mendapatkannya." Ujar Moranno dengan tangan bersidekap didepan dadanya memperhatikan Hanaria yang sesekali melihat kearahnya.
"Seorang teman tuan...... Dan dia berkerja disini, diperusahaan tuan. Saya tidak punya banyak uang untuk membayarnya, tapi saya membarter ilmu arsitek saya sebagai bayarannya." Sahut Hanaria, namun ia enggan memberi tahu bahwa orang yang ia maksud adalah Shasie, sahabatnya.
Moranno terlihat takjub. Dia tidak mengangka ada seorang detektif hebat berkerja diperusahaannya.
"Dari apa yang telah kita perbincangkan ini, saya mengambil kesimpulan, bahwa nona Hana sudah banyak tahu tentang nyonya Mingguana, jadi tanpa perlu saya ingatkan, nona Hana akan lebih waspada dan berhati - hati bila nanti sudah menjadi pegawainya."
"Saya pun tidak bisa menahan nona Hana di perusahaan ini, sekalipun saya mau, dan bisa melakukannya. Ini saya lakukan sebagai bentuk menghargai apa yang sudah nona Hana putuskan."
"Namun sebagai ayahnya Willy, saya harus mengatakan ini pada nona Hanaria. Dalam satu minggu ini, haruslah dilangsungkan pernikahan antara nona Hana dan Willy putra saya. Saya akan memanggilnya pulang untuk mempersiapkan segala sesuatunya." Tegas Moranno menatap Hanaria.
Hanaria pun turut menatap wajah Moranno, bagaimana bisa tuanya itu memutuskan secara sepihak pikirnya dengan mulut ternganga.
__ADS_1