
Hanaria baru saja menyelesaikan pekerjaan dapurnya siang itu, saat suara tangis bayi Randi terdengar dari dalam kamarnya. Ia buru- buru masuk kekamarnya, untuk melihat mengapa bayi itu menangis.
"Kau sudah kembali?" Tanya Hanaria yang kaget melihat Willy sudah berada didalam kamarnya, dan mengambil bayi Randi dari dalam kereta, lalu menimangnya dalam gendongannya.
"Sudah hampir satu jam yang lalu. Aku melihatmu sibuk didapur, jadi aku berinisiatif menemani keponakan-keponakan kita yang sedang tidur sendiri dikamar." Sahut Willy sambil terus menimang bayi Randi dalam gendongannya.
"Sepetinya dia buang air besar." Ucap Willy sambil menurunkan bayi Randi yang masih menangis dan meletakannya dengan hati-hati diranjang Hanaria.
"Biar aku yang mengganti popoknya.' Ucap Hanaria seraya mendekati Willy.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu, biar aku yang melakukannya," Ucap Willy.
"Apakah kau pernah melakukanya?" Tanya Hanaria yang nampak ragu, bila suaminya itu bisa membersihkan popok bayi.
"Tidak pernah. Tapi aku mau belajar, supaya saat kita punya bayi nanti, aku juga bisa membantumu mengurus bayi kita." Ujar Willy tanpa melihat ekspresi Hanaria yang menjadi salah tingkah karena ucapannya.
"Tolong ambilkan peralatan ganti popoknya." Pinta Willy sambil melepaskan celana bayi Randi dengan tubuh sedikit membungkuk ditepi tempat tidur.
Hanaria segera mengambil popok baru, tissue basah, celana bayi, dan bedak dari dalam tas bayi lalu meletakkannya disamping bayi Randi yang sudah tidak menangis lagi.
Dengan telaten, Willy mulai membersihkan popok bayi Randi dan mengganti dengan popok yang baru. Memang terlihat masih sangat canggung karena untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu, tapi dirinya tidak terlihat jijik, tidak seperti saat ia meminum jamu buatan Hanaria semalam.
"Kau sepertinya sudah siap jadi seorang ayah," ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Hanaria yang merasa kagum pada ketelatenan suaminya itu mengurus bayi Randi.
"Tentu saja, tergantung induknya saja," sahut Willy, ia masih fokus pada kegiatannya selanjutnya, menggantikan celana yang bersih untuk bayi Randi.
Wajah Hanaria kembali bersemu merah mendengar ucapan Willy. "Apakah maksudmu induk ayam?" ucap Hanaria pura-pura tidak mengerti.
Willy menatap wajah Hanaria, ia merasa isterinya itu mau bermain- main dengannya disiang bolong begini.
"Sepertinya kau sengaja ingin menggodaku disiang hari yang panas ini, hmm?" Willy menegakan tubuhnya, mendekati Hanaria yang berdiri tidak jauh darinya.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" Hanaria nampak gelagapan, ia memundurkan tubuhnya kebelakang hingga menempel pada lemari pakaiannya.
"Ingin membuat bayi kembar dengan induk ayamku," sahut Willy, ia terus merapatkan tubuhnya pada isterinya itu.
"A-apakah hasilnya selalu kembar?" Tanya Hanaria yang merasa ngeri membayangkannya.
__ADS_1
"Tentu saja, getah potongan kayu bulat yang kau sebut semalam bisa menghadirkan bayi kembar dalam perut ratamu ini." bisik Willy sambil menyentuh perut Hanaria lembut dengan tangannya, sambil mengunci tubuh isterinya itu kedinding lemari pakaian dibelakangnya.
"A-apakah harus sekarang?" Hanaria terlihat gugup, nafas panas Willy begitu terasa menyapu diwajahnya hingga menggetarkan hatinya.
"Tergantung kesiapanmu, induk ayamku," tantang Willy dengan tatapan saling beradu.
"T-tapi aku, aku takut," kata Hanaria semakin gugup, ia mengalihkan pandangannya, melihat hidung mancung Willy yang menyentuh hidungnya.
"Apa yang kau takutkan?" Bisik Willy hampir tidak terdengar.
"Aku takut pada kayu bulatmu, juga takut hamil dalam waktu dekat," jawab Hanaria jujur dengan suara setengah berbisik.
Willy menatap mata Hanaria yang tidak berani membalas tatapannya, isterinya itu bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya sedikit-pun.
Beberapa detik kemudian Willy segera melepaskan kunciannya dari tubuh Hanaria lalu meninggalkannya begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Hanaria bernafas lega, ia melihat Willy kembali mendekati bayi Randi yang menggerak-gerakan kaki dan tangannya keudara, sambil berceloteh dengan suara- suara yang terdengar begitu menggemaskan.
"Apakah kau marah padaku?" Walaupun hatinya merasa lega, namun tetap saja ia merasa tidak nyaman karena telah menolak suaminya itu.
"Maafkan aku?" ucap Hanaria yang merasa masih tak nyaman pada suaminya itu. Ia berdiri dengan sikap canggung dibelakang Willy.
"Maaf untuk apa?" Tanya Willy masih dengan nada datarnya. Ia mengambil botol dot ASI berukuran mini dari tas bayi, lalu memberikan pucuknya pada bayi Randi yang langsung menyedotnya dengan lahap.
"Yang tadi,-" Hanaria menggantung ucapannya, ia tidak berani meneruskannya takut salah bicara.
"Tidak masalah bagiku. Aku bukan suami yang suka memaksakan kehendak," ucap Willy.
Hanaria hanya bisa membisu mendengar ucapan Willy. Sekalipun suaminya itu tidak menunjukan rasa marahnya, namun tetap saja Hanaria bisa merasakan kekecewaan dari bahasa tubuh Willy yang langsung melepaskan tubuhnya tanpa mengatakan apapun, saat dirinya mengatakan takut pada suaminya itu.
Tapi mau bagaimana lagi, dirinya memang masih belum siap, apa lagi cinta belum tumbuh dihatinya untuk suaminya itu.
Willy masih menyibukan dirinya mengurus bayi Randi yang sudah mulai mengantuk. Bayi mungil itu terus menyedot botol ASI-nya yang sedang dipegang oleh Willy.
Sementara jari kelingking kanan Willy mengusap- usap pucuk hidung bayi itu hingga kepangkalnya yang berada diantara dua alisnya yang berwarna cokelat kemerahan.
Bayi Randi akhirnya tertidur pulas karena kekenyangan minum ASI dan usapan lembut jari Willy yang membuat dirinya terbuai masuk kedalam dunia mimpinya.
__ADS_1
Hanaria hanya memperhatikan apa yang dilakukan Willy, ia kembali merasa kagum pada suaminya itu, dapat melakukannya dengan mudah.
Ia saja sangat kerepotan, sepanjang pagi mengurus Mizha dan Randi hingga hampir-hampir tidak bisa memasak untuk makan siang.
Willy menggeser tubuh bayi Randi lebih ketengah tempat tidur, lalu meletakan dua guling Hanaria disamping kiri dan kanannya.
Sejenak ia memperhatikan betapa pulasnya bayi itu tertidur hingga mulutnya terbuka membuat Willy menyunggingkan senyumnya. Ia berjongkok, mendekatkan wajahnya pada bayi mungil itu, lalu mencium kedua pipinya yang masih berwarna sedikit kemerahan dengan sangat hati-hati supaya jangan sampai terbangun.
"Aku lapar," ucap Willy yang memundurkan tubuhnya dari bayi Randi dan membalikan tubuhnya menghadap Hanaria yang ada dibelakangnya.
"Ayo kita kedapur," Ajak Hanaria. Keduanya lalu menuju dapur.
Hanaria memasukan nasi, ayam panggang pesanan suaminya itu kedalam piring lengkap dengan sambelnya. Saat tangannya akan mengambil sayur, ia menatap sejenak pada Willy untuk meminta persetujuannya, Willy langsung menggeleng, ia memang tidak menyukai sayuran.
"Bagaimana caramu mendapatkan serat?" tanya Hanaria, sambil meletakan piring yang sudah ia isi dihadapan Willy.
"Aku konsumsi suplemen sayuran dan multi vitamin." sahut Willy sambil memindahkan makanan dari dalam piringnya kedalam mulutnya.
Hanaria memperhatikan wajah Willy yang sedang mengunyah makanannya. Ia sedikit deg-deg-an apa pendapat suaminya itu mengenai cita rasa masakannya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Hanaria penasaran.
"Lumayan enak," sahut Willy masih mengunyah.
Hanaria tersenyum mendengar pendapat suaminya itu, ia sedikit lega, walau hanya jawaban 'lumayan enak' yang ia dapatkan, ia masih bersyukur, itu artinya jerih lelahnya dalam memasak sambil mengasuh dua bayi kakaknya tidaklah sia- sia.
"Terima kasih suamiku, aku akan belajar memasak lagi supaya levelnya bisa jadi enak, bahkan sangat enak dilidahmu." ucap Hanaria masih mengembangkan senyumnya pada Willy yang duduk makan dihadapannya.
Willy menghentikan sejenak aktifitas mengunyahnya, panggilan Hanaria pada dirinya barusan sama persis dengan panggilan mommy-nya pada daddy-nya.
Beberapa detik kemudian, Willy kembali melanjutkan kunyahannya yang masih ada dalam mulutnya sebelum ditelannya.
Kenapa rasa makanannya berbeda, lebih nikmat dari sebelumnya, padahal masih makanan yang sama. Sedahsyat itu-kah bila disertai rasa cinta.
"Tunggu, apakah aku sudah jatuh cinta pada Hanaria yang sudah menjadi isteriku?" gumam Willy dalam hatinya, sambil melihat Hanaria yang sedang makan dihadapannya.
*
__ADS_1