
Nyonya Mingguana terdiam, apa yang dikatakan Hanaria benar. Andai saja ia terlambat sedikit saja waktu itu, Firlita pasti sudah tidak tertolong. Sementara Mahendra pura-pura tidak mendengar, ia sibuk dengan ponsel ditangannya.
...***...
Sudah tiga hari, Firlita dan bayinya mendapat perawatan dirumah sakit Pemerintah. Dan selama tiga hari itu pula Hanaria rajin menjenguk Firlita untuk membawakannya makanan, walau pihak rumah sakit sebenarnya sudah menyiapkannya.
"Seharusnya kak Hana tidak perlu repot-repot mengantarkan makanan untukku, pihak rumah sakit sudah menyiapkannya kak," ucap Firlita sambil mengunyah makanan yang disuapkan Hanaria kemulutnya.
"Tidak apa Fir, kakak senang saja, sekalian menjenguk baby Elvano, rasanya ada yang kurang kalau tidak melihatnya barang sehari," sahut Hanaria sambil menoel puncak hidung bayi mungil yang tertidur pulas diranjang kecilnya.
"Ayo, habiskan. Tinggal sesuap lagi," Hanaria kembali menyuapkan sup terakhir kemulut Firlita. Ia tersenyum memandang pipi Firlita yang semakin tembem.
"Ingat Firlita, kau harus makan lebih banyak, supaya ASI-mu melimpah. Kau lihat bayimu, dia sudah lebih berisi selama tiga hari ini dibanding pertama dia lahir." ucap Hanaria. Ia dan Firlita sama-sama memandang kearah baby Elvano
"Dan dia tertidur sangat pulas karena asupan ASI yang ia terima cukup dan mengenyangkannya," ucap Hanaria lagi, ia tersenyum memandang bayi Firlita yang sangat menggemaskan itu.
"Kakak pulang dulu ya, mau mengantarkan ini pada Willy," pamit Hanaria sambil menunjukan kotak-kotak makanan yang ada didalam paper bag ditangannya.
"Iya kak, terima kasih banyak, hati-hati dijalan." ucap Firlita dengan senyum cerianya.
"Sama-sama Fir." Sebelum pergi, Hanaria menyempatkan diri untuk mencium bayi mungil itu, aroma minyak telonnya serasa menyegarkan, membuat Hanaria harus menciumnya berkali-kali dengan lembut karena gemesnya. Ia merasa enggan meninggalkan baby Elvano.
Namun saat mengingat kotak-kotak makanan yang dibawanya, Hanaria segera bergegas, jangan sampai suaminya harus menunggunya lama.
Ketika menyusuri lorong rumah sakit, Hanaria berpapasan dengan pak Paris yang sedang mendorong kursi roda. Lania duduk dikursi roda itu, dengan wajah pucatnya, dan terlihat lebih kurus dari terakhir saat Hanaria bertemu dengannya satu bulan yang lalu.
"Lania?" Lirih Hanaria, ia menghentikan langkahnya tepat dihadapan gadis kecil itu, matanya berkaca-kaca memandang kondisi kesehatan Lania yang semakin menurun.
"Tante?" Lania tersenyum, ia terlihat senang bisa bertemu Hanaria lagi.
__ADS_1
"Nona Hana, anda mengenal putri saya Lania?" tanya pak Paris heran.
"Iya pak Paris. Bagaimana kalau kita berbincang sebentar disana? Ada yang mau saya tanyakan pada pak Paris," ucap Hanaria, ia menunjuk kursi taman yang tidak jauh dari lorong dimana mereka berdiri.
"Baiklah Nona," sahut pak Paris setuju. Ia lalu mendorong kursi roda Lania menuju kursi taman yang dimaksud, dikuti oleh Hanaria yang berjalan didekatnya.
"Lania sayang, tante ada bawa buah-buahan segar didalan kotak makanan ini, kau boleh memakannya," ucap Hanaria seraya menyodorkan kotak makanan yang berisi buah-buahan yang sudah dibersihkan dan dipotong rapi.
"Terima kasih banyak tante, Lania memang suka makan buah-buahan segar seperti ini," sahut gadis kecil itu, ia segera menerima kotak makanan yang disodorkan lalu mengambilnya dengan tangan kecilnya dan memasukannya kedalam mulutnya.
Hanaria mengusap lembut rambut kepala Lania dengan rasa iba. Setelah dilihatnya gadis kecil itu asik mengunyah buah-buahannya, ia mengalihkan pandangannya pada pak Paris yang tengah duduk dikursi taman.
"Pak Paris," Hanaria mendekati pria itu, dan turut duduk diujung kursi yang sama, dengan maksud memberi jarak.
"Iya nona," sahut pak Paris dengan wajah tegang, hatinya berdebar. Tidak pernah isteri majikannya itu mengajaknya mengobrol, mungkin ia tahu sesuatu hal yang selama ini ia sembunyikan.
"Apakah pak Paris sudah mendapatkan pendonornya?" tanya Hanaria.
"Iya pendonor, bukankah putrimu harus segera dioperasi karena Leukimia yang dideritanya?" ucap Hanaria mempertegas, ia tahu pak Paris pura-pura tidak mengerti maksudnya.
"Bagaimana nona Hana bisa tahu?" tanya pak Paris dengan roman terkejut.
"Pak Paris tidak perlu tahu, bagaimana saya mendapatkan informasinya. Saya hanya ingin memastikan apakah pak Paris sudah mendapatkan pendonornya?" tanya Hanaria mempertegas.
"Belum nona," sahut pak Paris akhirnya.
"Kenapa? Dan apa kendalanya?" kejar Hanaria dengan pertanyaannya.
"Biaya, dan juga pendonornha Nona. Anda tahu kan Nona, biaya untuk transplantasi sumsum tulang tidaklah kecil, saya harus merogoh kantong saya dengan sangat dalam untuk melakukannya. Dan sekarang saya-pun belum punya cukup dana," ujar pak Paris terus terang. Hanaria terdiam sejenak, apa yang dikatakan pak Paris memang benar.
__ADS_1
"Apakah kinerja pekerjaanmu diperusahaan ada hubungannya dengan sakitnya putrimu Lania?" tanya Hanaria, ia meneliti wajah pria yang duduk disebelahnya. Pak Paris nampak salah tingkah mendapat pertanyaan Hanaria, ia hanya duduk terpaku, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Walau tidak mendapatkan penjelasan, Hanaria yang mengerti kondisi pak Paris hanya bisa mengambil napas dalam dan menghempaskannya kembali.
"Pak Paris, aku hanya bisa memberi masukan pada anda sebelum semuanya terlambat. Bekerjalah dengan baik dan jangan berbuat curang, apapun yang kau sembunyikan, cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Tidak ada kebohongan yang sempurna, semuanya bisa terungkap kapan saja tanpa kau duga." ucap Hanaria penuh teka-teki. Sebenarnya, ia merasa curiga berawal saat dirinya mengalami kecelakaan kerja dilokasi proyek yang menjadi tanggung jawab pak Paris.
"Apa maksud perkataan Nona?" tanya pak Paris dengan wajah tegang, tiba-tiba rasa takut menyerangnya ketika mendengar perkataan Hanaria yang seakan mengetahui apa yang menjadi rahasianya.
"Tidak perlu saya ungkapkan secara jelas, pak Paris pasti sudah tahu apa yang saya maksudkan," sahut Hanaria datar.
"Saya Harap, pak Paris dapat menggunakan waktu yang diberikan oleh perusahaan dengan baik. Bekerjalah dengan jujur, lakukan semua dengan tulus, sebab semua kebaikan yang pak Paris buat pasti terbalaskan, karena Tuhan tidak pernah berhutang kebaikan," ucap Hanaria berusaha memberi pengertian.
"Ingat, ada keluarga pak Paris dirumah yang harus Bapak nafkahi, mereka selalu menantikan kepulangan pak Paris setiap sore dengan senyuman bahagia," ucap Hanaria. Ia berdiri, mendekati Lania lalu menekuk kedua kakinya untuk berjongkok. Tangan Hanaria mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.
"Lania, tante pulang dulu. Kapan-kapan, tante akan datang lagi menjengukmu, tetap semangat ya, kau pasti sembuh," ucap Hanaria sambil tersenyum pada Lania.
"Iya tante, Lania pasti semangat untuk sembuh. Karena Lania masih ingin bertemu dan nelihat tante lagi," ucap gadis itu dengan senyum ceria yang masih menghiasi wajah pucatnya.
Pak Paris yang menyaksikan itu merasa tersentuh hatinya, ia telah melihat wajah ceria putrinya sudah kembali. Lania memang sering terlihat murung akhir-akhir ini, tapi ia sebenarnya adalah anak yang ceria.
"Tante?!" panggil Lania, saat Hanaria berdiri dari posisi jongkoknya.
"Iya, ada apa Lania?" tanya Hanaria menatap gadis kecil yang duduk dikursi rodanya.
"Kotak makannya ketinggalan," ucap Lania, ia menyodorkan kotak makanan berisi buah yang berada dipangkuannya pada Hanaria.
"Isi-nya belum habis sayang. Habiskan saja, khusus untukmu. Tante akan mengambil kotaknya bila tante datang dilain waktu untuk menjengukmu," ucap Hanaria, ia kembali mengusap lembut rambut kepala Lania.
"Terima kasih banyak tante, tante baik sekali," Lania kembali meletakkan kotak buah-buahan itu dipangkuannya dengan tidak henti-hentinya tersenyum.
__ADS_1
Hanaria melambaikan tangannya, dan berlalu pergi. Lania membalas lambaian tangan Hanaria dengan gembira, mulutnya terus mengunyah buah yang ada ditangannya. Sementara pak Paris kembali mendorong kursi roda Lania, dan membawanya keruang rawat inapnya. Perkataan Hanaria kembali terngiang-ngiang ditelinganya.
...***...