HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
195. Pengajaran


__ADS_3

"Willy, apa-apa'an sih, ini sudah larut malam," hardik Moranno dengan hati kesal berdiri diambang pintu kamarnya, karena terbangun oleh kebisingan yang dilakukan putra keduanya itu.


"Aku mau lihat didalam, bisa saja kan Daddy dan Mommy sengaja menyembunyikan isteriku didalam kamar sini," kata Willy sambil melongokkan kepalanya kedalam, namun ia hanya melihat wajah Yurina, ibunya yang berdiri dibelakang ayahnya.


"Astaga Willy, kau itu bukan anak kecil lagi, mana mungkin Daddy dan Mommy-mu menyembunyikan isterimu didalam kamar kami, kurang kerajaan saja," gerutu Moranno geram bercampur kesal.


"Minggir!" Willy langsung menerobos masuk disela-sela tubuh kedua orang tuanya yang berdiri diambang pintu.


"Anak ini sungguh keterlaluan, tidak sopan," ujar Moranno kesal karena tersenggol tubuh Willy, ia berbalik bertujuan menyusul putranya yang sudah berada didalam kamar.


Yurina segera menahan suaminya dan memegang lengannya erat sambil menggelengkan kepalanya pelan memberi isyarat," biarkan saja suamiku." gumannya pelan.


Didalam kamar, Willy menatap keseluruh sudut kamar kedua orang tuanya. Tubuhnya kini merasa lemas, Hanaria yang ia cari juga tidak ada disana. Ia berjalan lesu menuju sofa yang berada didekat pintu menuju balkon, dan duduk disana sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Yurina menarik lengan Moranno untuk mendekati putra mereka, suasana nampak hening sejenak, Yurina yang duduk bersama suaminya disamping Willy hanya memperhatikan wajah kusut bercampur lelah dari putranya itu.


"Mom," guman Willy merebahkan kepalanya dan menyandarkannya pada pundak Yurina yang duduk disampingnya.


Yurina tidak berkata apa-apa, ia hanya mengusap lembut rambut putranya dengan sayang.


"Mungkin aku bukan suami yang baik," kembali suara gumamam lirih keluar dari mulut Willy dengan tatapan hampa memandang lurus kedepan.


"Hanaria, dia menghilang. Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuannya nanti bila mereka menelponku lagi?" kata Willy cemas.


"Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi aku tidak menemukan dirinya dimanapun Mom, aku sangat bingung," ucap Willy lemah dan putus asa.

__ADS_1


Yurina masih setia mendengar keluhan dan curhatan putranya, sesekali ia menghembuskan napas beratnya dan terus mengusap lembut kepala Willy yang masih bersikap manja padanya. Sementara Moranno tidak mau kalah, ia memeluk lengan isterinya sambil menyandarkan punggung disandaran sofa.


"Katakan padaku Mom, apa yang harus aku lakukan, aku harus segera menemukannya, aku tidak mau Hanaria mengalami hal yang buruk diluar sana," sambung Willy dengan isi hatinya yang terus mengalir keluar lewat ucapannya.


"Willy," Yurina membuka mulutnya, setelah dirasanya putranya itu sudah cukup banyak menyampaikan isi hatinya.


"Hmm," Willy hanya menjawab dengan gumaman.


"Biarkan saja Hanaria pergi, bukankah kau tidak mencintainya juga?" kata Yurina hati-hati sambil memperhatikan respon putranya itu.


"Kenapa Mommy berkata seperti itu?" kata Willy menengadahkan wajahnya menatap ibunya yang juga sedang menatapnya.


"Bukankah kami yang memintamu menikahi Hanaria hingga ia menjadi isterimu? Bila tidak, dia sekarang tidak menjadi isterimu. Biarkan saja dia menghilang, mungkin Hanaria bosan menjalani rumah tangga bersamamu. Bukankah kalian berdua sama-sama tidak saling mencintai?" kata Yurina datar namun masih terdengar suara kelembutannya.


Perkataan Yurina langsung membuat Willy menjauhkan kepalanya dari pundak ibunya, ia duduk tegak dengan tatapan tidak percaya bila ibunya bisa berkata seperti itu tentang pernikahannya.


"Tidak bisa begitu Mommy, Hanaria itu sudah menjadi isteriku. Sampai kapanpun ia harus ada disisiku, dan tetap menjadi isteriku," tegas Willy dengan suara lantangnya.


"Tapi kau kan tidak mencintainya Willy, biarkan saja Hanaria pergi, tidak perlu mencarinya lagi," kembali Yurina membuat Willy memandang dirinya dengan tatapan tak percaya.


"Kata siapa aku tidak mencintai isteriku, itu sebabnya aku menerima pernikahan itu Mommy, aku menyukainya sebelum kami menikah," ungkap Willy tanpa sadar membuat Yurina menggerakkan tangan kanannya yang sedang dipeluk oleh suaminya, untuk memberi suatu kode.


"Tapi Mommy tidak melihat itu. Bila kau mencintai Hanaria isterimu, mengapa kau menghilang malam kemarin? Hmm?" kata Yurina sengaja melanjutkan kata-kata pancingannya.


"Bagaimana Mommy bisa tahu kalau kemarin malam aku menghilang? Apa ada yang Mommy sembunyikan dariku? Atau mungkin Hanaria memang ada disini?" cecar Willy mencurigai ibunya, ia berdiri berniat mencari keberadaan isterinya dirumah besar orang tuanya. Dirinya merasa yakin bila Hanaria-lah yang mengatakan semuanya hingga ibunya tahu.

__ADS_1


Yurina serta-merta mencengkram lengan putranya kuat," Mommy belum selesai bicara. Duduk!" perintah Yurina, suaranya mendadak meninggi, terlihat sekali ia menahan emosi dalan dadanya. Willy yang melihat hal itu segera mengurungkan niatnya. Terus terang ia takut bila sampai membuat ibunya marah.


"Hanaria menelpon Mommy kemarin malam, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menanyakan kabar Mommy dan berjanji datang kemari bersamamu malam ini untuk berakhir pekan, bila kau tidak sibuk katanya," jelas Yurina menatap putranya datar.


"Satu jam kemudian, Billy menelpon Mommy, menceritakan semuanya pada Mommy tentang kelakuan kekanak-kanakanmu yang menghilang tanpa kabar satu katapun pada isterimu," imbuh Yurina masih bernada datar.


"Sekarang, kau sudah merasakan bagaimana khawatir dan kalutnya isterimu pada saat kau menghilang tidak ada kabar beritanya bukan?" Willy hanya bisa terdiam mendengar perkataan ibunya.


"Sama seperti dirimu yang sekarang bingung mencari keberadaan isterimu, demikian juga isterimu itu kemarin, dia sangat bingung sampai meminta bantuan pada kakakmu Billy," Yurina menatap Willy yang kini mulai menundukkan kepalanya dalam.


"Dan dikantor hari ini, kau juga sangat tidak sopan," kata Yurina menjedah ucapannya.


"Tapi itu bukan salah Willy Mommy, Hanaria yang datang dan menyerang-," potong Willy berusaha membela dirinya.


"Cukup! Bukan masalah serang-menyerang, tapi Daddy-mu sudah menceritakan semua kekonyolanmu yang memamerkan cap percintaanmu pada semua petinggi di Perusahaan kita, dan menjadikan ruang meeting penting layaknya taman kanak-kanak bagi para petinggi itu," tutur Hanaria geram namun tetap berusaha tidak meninggikan suaranya.


"Tidak cukup sampai disitu, kau bahkan masih melanjutkan kekonyolanmu itu saat Daddy-mu ikut makan siang bersama dirimu dan isterimu."


"Apakah kau tidak mengerti Willy? Seorang menantu perempuan sangat sungkan pada ayah mertuanya. Dan kau tanpa perasaan menyalurkan bakat guyonanmu itu dihadapan isterimu dan Daddy-mu sebagai bahan candaan," kata Yurina memberi serangan tanpa ampun pada putranya itu, ia terlalu gemes mengingat penuturan suaminya padanya sepulang berkerja.


Willy masih menunduk, semua perkataan ibunya yang ia dengar membuatnya tersadar betapa memalukan dirinya sudah menjadikan apa yang dirinya lakukan bersama Hanaria menjadi bahan candaan, walau sebenarnya ia tidak bermaksud demikian.


Ia pun ingat bagaimana merahnya wajah isterinya menahan malu saat ia melontarkan guyonan itu dihadapan ayahnya saat makan siang. Dengan perasaan cemas, takut, khawatir yang campur aduk, Willy merasa perbuatannya ini tidak termaafkan hingga menyebabkan Hanaria pergi meninggalkannya.


"Mommy rasa-, lebih baik kau tidak perlu mencari Hanaria lagi. Untuk apa kalian bersama, kalau sikap kanak-kanakmu itu tidak bisa kau hilangkan. Kejadian ini pasti akan terus terulang dan terjadi lagi, membuat kami mau tidak mau ikut memikirkannya," kata Yurina mengakhiri perkataannya.

__ADS_1


Willy cepat menegakkan kepalanya menatap ibunya, dan menggelengkan kepalanya rusuh mendengar kalimat terakhir Yurina dengan wajah takut kehilangan isterinya itu.


__ADS_2