
Willy berlari menyusuri lorong rumah sakit. Andai saja ia memiliki sayap serupa burung, tentu ia akan terbang supaya bisa tiba dengan cepat ditempat Hanaria akan bersalin.
Degup jantungnya berpacu semakin tidak beraturan memikirkan bagaimana kondisi Hanaria dan bayinya saat ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang berisik tak beraturan, sama seperti halnya nafas Willy yang memburu dan tidak beraturan karena baru saja tiba didepan pintu.
Ceklek.
"Tuan Willy?" seorang perawat bergegas membuka pintu.
"Iya Sus. Bagaimana isteri saya?" tanya Willy panik dan khawatir.
"Masuklah saja Tuan," perawat itu memberi ruang agar Willy bisa melewati dirinya lalu kembali menutup pintu dengan rapat.
"Hana!" Willy semakin panik ketika melihat Hanaria menggeliat-geliat diatas ranjang persalinan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Ia datang mendekat lalu mengusap keringat dingin yang terus membanjiri wajah dan tubuh Hanaria dan tidak lupa menyentuh perut isterinya itu yang terus bergerak. "Hana, ada aku disini," ucap Willy memberi semangat.
"Suster suhu AC-nya masih terlalu panas, ayo turunkan lagi supaya lebih sejuk" titah Willy dengan gaya grasak-grusuknya pada dua orang suster yang sedang membantu dokter Rosalia yang tengah menangani persalinan Hanaria.
"Baik tuan," sahut salah satu dari suster itu, padahal keduanya sudah mulai menggigil.
Hanaria menatap Willy, mencengkram lengan suaminya itu dengan sekuat tenaganya.
"Hana, berteriaklah! Berteriaklah saja! Supaya kau tidak terlalu merasakan rasa sakitmu itu," ucap Willy lagi. Sedari ia masuk, ia tidak mendengar sepatah katapun keluhan keluar dari mulut isterinya itu.
Walau bukan dirinya yang merasakan secara langsung apa yang tengah dirasakan Hanaria saat ini, tapi dari bahasa tubuhnya, Willy dapat merasakan kalau saat ini isterinya itu sedang berjuang dan menahan rasa sakit yang luar bisa untuk melahirkan buah hati mereka.
Hanaria masih menutup mulutnya, walau sebenarnya ia sangat ingin berteriak seperti yang dikatakan suaminya itu padanya, untuk meluapkan rasa sakit yang semakin intens menyerang tanpa memberi ampun.
Sesekali Hanaria harus menahan nafasnya hingga rasa sakit itu mereda sedikit walau tidak bisa hilang sepenuhnya karena bayi yang berada dalam tubuhnya juga sedang berjuang untuk keluar sama halnya seperti dirinya.
"Bagus Nona! Ambil napas dalam-dalam lagi!" ucap dokter Rosalia memberi semangat dan mengulang panduannya pada Hanaria sejak tadi. Keringatpun mulai mengucur dari wajahnya, dan salah seorang suster disebelahnya membantu mengusap keringatnya.
__ADS_1
"Sekarang mulai mengejan Nona--" pandu dokter Rosalia lagi.
"Akhhh!!!"
Semua yang ada disana serempak terkaget mendengar teriakan yang bukan dari mulut Hanaria. Sementara Hanaria sendiri, konsentrasinya seketika buyar karena ikut terkejut.
"Bila mulutmu itu tidak bisa dikondisikan, lebih baik kau keluar saja dari ruang persalinan ini. Dari pada membuyarkan konsentrasi pasien!" kesal Dokter Rosalia menatap tajam pada Willy, karena dirinyalah yang tidak sadar berteriak begitu kencang seolah mengejan.
"M-maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Willy sambil membekap mulutnya. Ia benar-benar tidak sengaja melakukannya, dirinya hanya terbawa emosi melihat Hanaria yang penuh peluh dengan sekuat tenaga berusaha mengejan supaya bayi dalam kandungan bisa segera keluar melihat dunia.
"Baiklah nona Hana, kita mulai lagi. Lakukan bila dirasa sedang terjadi kontraksi," ucap dokter Rosalia lagi memberi arahan.
Begitu kontraksi itu muncul dengan ditandai rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang tanpa ampun, Hanaria buru-buru mengambil nafas lewat mulutnya dan mempersiapkan energinya untuk kembali mengejan sambil mendengarkan aba-aba yang diberikan oleh dokter Rosalia.
"Bagus Nona! Ayo, semangat! Kepalanya sudah mulai terlihat! Ucap dokter Rosalia kembali memberi arahan dengan penuh semangat.
"Akkhhhhh!!!"
Suara teriakan yang lebih kencang dari sebelumnya membuat semua orang kembali kaget bukan kepalang.
"Hana! Hana! Kau kenapa?" raut wajah Willy nampak ketakutan.
"Ini semua gara-gara kau Willy! Sekarang keluar!" usir dokter Rosalia yang tidak bisa membendung emosinya pada sahabatnya itu.
"M-maaf, aku lupa. Aku janji, aku tidak akan berteriak lagi." mohon Willy, supaya dirinya tidak dikeluarkan dari ruang persalinan.
"T-tolong ijinkan Willy disini bersamaku," pinta Hanaria, dengan wajah meringis dan pucat pasi menahan rasa sakit yang masih menderanya.
"Dok! Perutku! Sakit, sakit lagi!" kali ini Hanaria mengeluarkan suaranya lagi, supaya perdebatan antara suaminya dan dokter Rosalia segera berakhir.
"Suster ikat mulut tuan Willy! Bila perlu lakban!" perintah dokter Rosalia bernada kejam.
Kali ini dirinya tidak mau mengambil resiko, khawatir Willy akan berteriak lagi, karena hal itu sangatlah berbahaya, karena menyangkut nyawa ibu dan bayinya.
"Tapi Dok!" kedua suster itu berusaha menolak karena tidak enak pada Willy yang bukan orang biasa seperti mereka.
__ADS_1
"Ini Perintah!" tegas dokter Rosalia lagi.
Kedua suster itu terpaksa patuh. "Maafkan kami tuan Willy," ucap keduanya sungkan, lalu mengikat mulut Willy dengan kain yang ada didekat mereka.
Sementara itu Hanaria kembali mengikuti arahan dokter Rosalia yang memandunya.
"Ya bagus Nona! Teruskan Nona!"
"Ya tahan! Kepalanya sudah keluar, perlahan ambil napas dan keluarkan," suara lantang dokter Rosalia mulai memelan.
Mendengar kepala bayinya sudah keluar, Willy tidak sadar kembali memekik kencang, untung saja mulutnya sudah terbungkus dengan kain hingga tidak bisa mengeluarkan suaranya seperti yang sudah-sudah.
Oekkk! Oekkk! Oekkk!
Dokter Rosalia tersenyum bahagia, begitu seorang bayi meluncur dengan sempurna dikedua belah tangannya disertai tangis kencang yang memekik gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.
"Dia bayi laki-laki yang sehat," ucap dokter Rosalia tersenyum pada Willy dan Hanaria yang terlihat lemas, lalu memberikan bayi ditangannya itu pada suster disebelahnya untuk dibersihkan.
"Tapi Dok, kenapa kontraksinya masih ada?" tanya Hanaria meringis menahan rasa sakit yang masih saja mendera.
"Bersiaplah Nona, adiknya juga sudah mau keluar, kepalanya sudah terlihat dijalan lahir." terang dokter Rosalia memandang kearah jalan lahir.
Willy kembali menegang begitu juga Hanaria, ternyata masih ada bayi kedua mereka yang akan lahir lagi. Rasa haru, khawatir, bahagia, dan tegang, kembali menyelimuti keduanya menyongsong bayi kedua mereka.
"Semangat Hana!" ucap Willy walau ia tahu Hanaria tidak mendengar suaranya yang tengah tersumpal kain. Pucuk hidungnya menyentuh kening Hanaria untuk memberi kekuatan pada isterinya itu.
Hanaria kembali mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Dengan panduan yang diarahkan oleh dokter Rosalia, isteri Willy itu kembali mengejan dengan sekuat tenaga.
Tidak sesulit seperti sebelumnya, kali ini bayi kedua itu kembali meluncur dengan selamat di kedua tangan dokter Rosalia yang menyambutnya dengan senyum terkembang bahagia.
"Dia juga bayi laki-laki yang sehat." ucap dokter Rosalia lagi dengan perasaan haru.
Willy kembali mencium kening Hanaria berkali-kali, ada rasa lega dan haru karena Hanaria telah melahirkan dengan selamat begitu pula dengan kedua bayi laki-laki mereka.
Bersambung...👉
__ADS_1