HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 44 Saudara Kembar


__ADS_3

"Saya sengaja melemparkan sapu tangan itu pada tuan muda Willy saat ia masuk kedalam lift tadi pagi, dengan maksud mengembalikannya, karena sapu tangan itu milik tuan muda Willy..... tuan." Jelas Hanaria.


"Apa sapu tangan yang ada diatas meja kerjaku itu yang kau maksud? Coba kau lihat kesana, tidak perlu menyentuhnya lagi, lalu kembali duduk disini lagi setelah kau melihatnya nona Hana." Moranno menunjuk dengan jarinya kearah meja kerjanya.


"Baik tuan....." Hanaria segera berdiri menuju meja kerja Moranno. Ia sempat terkejut, saat melihat sapu tangan yang ia lemparkan tadi pagi terbentang diatas meja kerja majikannya itu dengan kondisi yang cukup menjijikan.


Hanaria segera kembali dan duduk disofà, tempatnya semula.


"Iya benar tuan.... itu sapu tangan yang saya maksudkan tadi." Hanaria nampak sedikit gugup. Ia berpikir keras kenapa sapu tangan itu sekotor itu. Padahal saat dirinya membawanya dari mobil, sapu tangan itu masih bersih, pikir Hanaria didalam hatinya.


"Putraku Willy tidak mungkin memiliki sapu tangan sekotor itu nona Hanaria...." Ucap Moranno datar menatap pegawainya itu. Willy sedikit menegakkan kepalanya, karena akhirnya ayahnya membela dan mendukungnya.


"Tapi tuan. Maafkan saya sebelumnya, apabila lancang menyanggah tuan.... sapu tangan itu memang milik tuan Willy, saya tidak berbohong tuan...... Dan mengenai kenapa sapu tangan itu sampai sekotor itu, saya kurang tahu tuan......Karena saat saya membawanya dari mobil saya, sapu tangan itu masih bersih tuan." Hanaria berusaha mengungkap alasannya, karena ia juga tidak mau majikannya itu berpikir kalau dirinya mengarang cerita.


"Putraku Willy sudah mengatakan kalau sapu tangan itu bukan miliknya. Tapi nona Hana sepertinya sangat yakin kalau barang itu adalah milik putraku Willy? Apa yang membuat nona Hana seyakin itu?" Tanya Moranno, ia berusaha membuktikan kejujuran pegawainya itu, karena selama ia bergabung sebagai arsitek di Perusahaan miliknya, belum pernah kedapatan olehnya, kalau pegawai wanitanya itu melakukan suatu pelanggaran yang berarti.


"Tuan, Kemaren saya sempat meminta ijin pada tuan untuk datang kekantor polisi pada saat kita berada dilokasi proyek......" Moranno menganggukan kepala mengiyakan keterangan pegawainya itu sambil menatap wajah Hanaria yang duduk didepannya.


"Iya kau benar.... aku ingat nona Hana." Sahut Moranno


"Saya dipanggil pihak kepolisian karena telah melaporkan seorang pria yang telah menganiaya adik perempuan saya disalah satu cafe yang ada dikota ini. Pada saat dicafe itu, saya bertemu tuan muda Willy, keadaan memang sudah sangat larut malam saat itu." Moranno langsung menatap wajah Willy yang duduk disebelahnya membuat Hanaria menghentikan sejenak penuturannya. Sementara Willy langsung menyangkal perkataan Hanaria itu dengan menggelengkan kepalanya.


"Lanjutkan ceritamu nona Hana....." Perintah Moranno saat mendengar Hanaria sempat terdiam.


"Saya..... tidak mungkin salah orang tuan. Karena sudah dua kali saya menabrak tuan muda Willy disana, dan dia sempat meminta maaf pada saya. Saat tuan muda Willy melihat dahi adik perempuan saya terluka, ia memberikan sapu tangannya itu untuk membantu menghentikan pendarahan yang terjadi, dan tuan muda juga sempat membantu menggendong adik saya kemobil, setelahnya saya membawa adik saya itu kerumah sakit." Moranno menatap wajah Hanaria selama ia menuturkan kisahnya, ia merasa pegawainya itu tidak berbohong.

__ADS_1


"Benar kau kecafe itu Willy?" Moranno beralih menatap putranya dengan lekat, berusaha mememukan kejujuran diwajah putranya itu. Willy kembali menggelengkan kepalanya.


"Willy berani bersumpah daddy..... Willy belum pernah kecafe selama satu bulan ini. Bukankah Willy selalu belajar bersama daddy tentang beberapa pekerjaan saat malam hari kita berada dirumah." Jelas Willy mempertahankan keterangannya. Moranno juga dapat melihat ada kejujuran dibalik ucapan putranya itu. Walau terkadang sedikit suka membandel, tapi Willy bukan orang yang suka berbohong, pikir Moranno dalam hatinya.


Moranno mendadak teringat sesuatu. "Willy, bawa sapu tangan itu kemari." Perintah Moranno.


Willy segera bangkit menuju meja kerja ayahnya dan membawa sapu tangan kotor itu dengan memegang sedikit pada ujungnya hingga menjuntai diudara.


Willy masih memperlihatkan rasa jijiknya pada sapu tangan itu tanpa sengaja, membuat Hanaria merasa muak melihat gayanya yang sok bersih itu.


"Bentangkan disitu." Perintah Moranno. Ia lalu memotretnya setelah Willy membentangkan sapu tangan itu diatas meja dengan kedua tangannya.


Hanaria nampak bingung apa maksud dari tuannya itu melakukan hal itu. Ia hanya menunggu apa yang akan dilakukan Moranno selanjutnya, tuannya itu masih terlihat sibuk mengoperasikan ponsel miliknya beberapa saat lamanya.


"Hallo...... Apakah kau telah melihat photo yang telah daddy kirim Billy?" Moranno sengaja mengaktifkan loadspeaker diponselnya supaya terdengar oleh Willy dan Hanaria.


"Coba kau ingat, apakah itu sapu tangan milikmu, daddy pernah melihatmu menggunakannya?? Tapi daddy kurang yakin, karena bisa saja ada milik orang lain yang sama dengan sapu tangan milikmu itu." Terdengar senyap sesaat, sepertinya orang yang berbicara dengan Moranno sedang memikirkan sesuatu.


"Sapu tangan itu..... sepertinya mirip dengan sapu tangan milikku walau terlihat kotor dan kumal. Tapi aku sudah memberikannya pada seorang gadis dicafe, saat kulihat dahinya berdarah. Tapi kenapa ada ditangan daddy??" Tanya pria didalam telepon itu merasa aneh.


"Nanti saja daddy ceritakan padamu Billy, yang penting daddy sudah tahu kalau sapu tangan itu milikmu."


Moranno langsung menutup teleponnya sambil menatap Willy lalu beralih pada Hanaria yang terbengong menatap kearahnya.


" Nona Hana..... Nona Hanaria......" Panggil Moranno, namun Hanaria masih terbengong - bengong, membuat Moranno menatap putramya Willy yang duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Nona Hana....." Willy ikut memanggil untuk membantu ayahnya. Namun Hanaria masih setia pada posisinya itu, terbengong karena memikirkan bila seandainya yang didengarnya itu benar, mungkinkah tuan mudanya itu memiliki saudara kembar.


"Ehh nona JANGKUNG.....!!" Willy sengaja mengeraskan suaranya membuat Hanaria tersadar dari lamunanya.


"I.... Iya tuan muda, ada apa?" Hanaria sedikit tergagap.


"Daddy memanggilmu dari tadi malah melamun...." Sungut Willy.


"Maafkan saya tuan......" Hanaria menatap kearah Moranno yang hanya terdiam mendengar celotehan Willy terhadap Hanaria.


"Kau memang tidak berbohong nona mengenai sapu tangan itu, semua ucapanmu benar. Sapu tangan itu memang bukan milik putraku Willy, tapi putraku Billy. Billy kakaknya Willy, mereka putra kembarku. Jadi, pria yang kau sangka Willy saat bertemu dicafe itu adalah putraku yang bernama Billy." Jelas Moranno singkat.


"Dari ceritamu yang begitu merasa yakin telah bertemu putraku Willy, aku sudah menduga kalau yang kau temui dicafe itu pasti putraku Billy, karena wajah mereka memang sangat mirip. Itulah sebabnya aku memastikannya tadi lewat telepon, dan kau sudah mendengar sendiri tadi apa yang dikatakan putraku Billy ditelepon." Sambung Moranno lagi.


"Kalau begitu.... saya mohon tuan, dan pada anda tuan muda Willy..... karena saya bener - benar tidak tahu. Saya pikir pria yang saya temui dicafe itu adalah tuan muda Willy." Ucap Hanaria dengan sungguh - sungguh, sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali dihadapan kedua tuannya itu.


"Tidak apa - apa nona Hana. Putraku itu memang sengaja tidak kuperkenalkan dimuka umum, karena dia adalah seorang abdi negara dinegeri ini. Keberadaannya diluar sana, dia lakukan sebagai pengabdiannya. Dan aku mengijinkan semua putra - putriku untuk memilih jalan mereka masing - masing, yang penting bisa bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri, tapi buat orang lain juga nona Hana." Ucap Moranno sedikit menjelaskan tentang keluarganya.


"Anda luar biasa tuan.... saya kagum pada anda. Seorang pengusaha seperti anda, yang mempunyai kerajaan bisnis dinegeri ini membebaskan putra - putri anda menjadi apapun, seperti yang mereka mau, anda tidak membatasi mereka harus menjadi sama seperti anda tuan." Sikap dan tindakan Moranno membuat Hanaria semakin mengagumi dan menghormati majikannya itu.


...•••...


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡


Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇

__ADS_1



__ADS_2