
"Kita lihat saja, apa owner bau kencur itu bisa memenuhi ucapannya hari ini," ucap nyonya Miasa Laura sinis, menyela obrolan para pemegang saham yang sedang membahas agenda mereka siang itu.
"Sepertinya Nyonya sangat tidak suka pada nona Hanaria, pemilik perusahaan ini, hingga lupa bagaimana caranya berbicara dengan cara yang sopan sebagai seorang petinggi yang terhormat di perusahaan ini," celetuk nyonya Maigna Orine Sarkas.
Sudah acap kali dirinya mendengar perkataan yang serupa, bila wanita itu tengah membahas tentang sang pemilik perusahaan yang memang paling muda diantara mereka semua yang memang sudah berumur.
"Heum, sepertinya nona Hanaria tidak sendirian, ada pendukungnya," nyonya Miasa Laura melirik dengan senyum sumbangnya.
"Dan bukankah yang kukatakan adalah benar Nyonya, bahwa pemilik perusahaan ini memang anak kemarin sore? Seorang pegawai biasa yang hanya beruntung saja di peristeri oleh seorang anak pengusaha, dan belum berpengalaman dalam dunia bisnis," lanjutnya masih dengan nada meremehkan. Sangat terlihat, bila wanita itu memang memandang sebelah mata pada sang pemilik perusahaan dimana dirinya masih bernaung.
"Kita lihat saja, apakah dirinya sanggup membeli semua saham kita. Bila tidak, kami yang akan membeli saham miliknya, lalu menendangnya dari perusahaan ini dengan tidak hormat! " ucapnya sombong sembari tersenyum sinis, melirik tuan Rudolf Bong disebelahnya.
"Oh! Aku takut sekali!" ucap Hanaria lantang.
Nyonya Miasa Laura terkaget, seketika ia membalikan tubuhnya begitu juga dengan tuan Rudolf Bong yang baru saja akan membuka mulutnya untuk merespon ucapan nyonya Miasa, menemukan eksistensi Hanaria yang berdiri tepat dibelakang mereka bersama asisten David dengan memberikan tatapan datar pada keduanya.
"Heum, Nona besar akhirnya datang juga, dan kesiangan! Dan kami sudah dua jam menunggu disini," ucap nyonya Miasa masih dengan nada mengejeknya, berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya dengan kehadiran Hanaria disana.
Ia memang tidak takut pada Hanaria, namun Kehadiran Hanaria dan asistennya secara tiba-tiba sempat membuatnya sport jantung, apalagi dirinya memang memiliki gangguan kesehatan jantung jauh sebelumnya.
Menyaksikan peristiwa itu, nyonya Maigna Orine tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah kedua petinggi itu yang memang sering memprovokasi situasi. Ia cukup salut, dan memberi apresiasi pada Hanaria, walaupun masih cukup muda tapi sudah berani mengambil sikap.
"Sungguh saya merasa tersanjung, karena para petinggi disini begitu antusias menunggu kehadiran saya," ungkap Hanaria mengedarkan pandangannya, memandang sekilas para petinggi itu yang sudah berkumpul diruang rapat lebih awal. Ada yang tengah duduk pada kursinya masing-masing, ada pula yang masih berdiri bergerombol seperti nyonya Miasa Laura dan tuan Rudolf Bong beserta beberapa antek-anteknya.
"Kita sudah sepakat, bertemu pada pukul 1 siang, bukankah begitu asisten David?" ucap Hanaria beralih pada asisten David di dekatnya.
"Nona benar," sahut asisten David yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Jadi, kami tiba tepat waktu," Hanaria melirik arlojianya yang baru menunjukan pukul 12. 57 siang.
"Mulai pagi hingga jam makan siang, saya telah mengunjungi dua perusahaan tambang nyonya Mingguana yang sudah beralih pada saya. Jadi, saya tidak memiliki waktu untuk dibuang dengan sia-sia," ungkap Hanaria, menatap datar dua manusia dihadapannya itu sembari mengelus perut besarnya, berharap anak yang ada dalam kandungannya tidak memiliki sikap serupa keduanya.
Setelah berkata demikian, Hanaria melangkah ke kursinya diikuti oleh asisten David, meninggalkan keduanya yang nampak gusar mendengar ucapannya.
"Sombong sekali," ucap tuan Rudolf Bong dengan nada geram dan kedua tanganya yang terkepal.
Ia memang sengaja datang 2 jam lebih awal untuk menyaksikan bagaimana Hanaria akan dipermalukan karena tidak punya dana yang cukup untuk membayar semua saham milik para petinggi itu.
Dan ia sudah bermufakat bersama nyonya Miasa Laura menghasut para petinggi itu untuk melawan kebijakan yang telah Hanaria buat.
"Kita lihat saja nanti, apa dia masih bisa berjalan dengan kepala tegak seperti itu, setelah memberi pengakuan tidak bisa membayar saham-saham kita sesuai perkataannya kemarin," sambung nyonya Miasa Laura ikut geram. Mengingat berita yang sampai padanya, bila sampai siang ini kas perusahaan masih minim saldo.
"Sudahlah, ayo kita mengambil tempat duduk pada kursi masing-masing, meeting sebentar lagi akan dimulai. Dan jangan selalu menebarkan aura negatif, supaya ajal jangan cepat datang menjemput," ucap nyonya Maigna Orine seraya berlalu, membuat keduanya semakin kesal dan geram.
"Manusia itu di pegang dari perkataannya, asisten David. Orang akan meremehkan kita, bila kita berkata plin-plan."
"Apa yang kulakukan, sudah ku fikirkan dengan baik sesab-akibatnya. Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu asisten David. Bila kau bertindak, jangan tanggung-tanggung. Kau harus siap basah kuyup bila terjun ke sungai. Dan yang perlu kau ingat, kau harus yakin bila kau tidak salah menentukan langkahmu," sahut Hanaria setengah bergumam pada asistennya itu.
Asiten David mengatupkan bibirnya, mencerna semua perkataan yang dilontarkan oleh nona majikannya. Sejujurnya, ia terlalu was-was dengan keputusan yang diambil oleh Hanaria.
Sejak semalam saja ia tidak bisa tidur dengan tenang, karena segala ketakutan-ketakutannya yang menghantui fikirannya.
Sebagai pegawai, tugasnya hanya menjalankan perintah dari sang majikan. Ia menghela napas dalam sebelum memulai meeting siang itu.
"Sesuai janji nona Hanaria, pada hari ini beliau akan membeli saham para petinggi perusahaan Mega Otomotif yang ingin menarik semua dananya dari perusahaan ini." ucap asisten David, setelah membuka meeting dengan salam pembuka.
__ADS_1
"Dan saya juga telah mendapat laporan nama-nama petinggi yang akan membeli saham-saham itu selain nona Hanaria," asisten David menampilkan pada layar slide daftar nama yang kurang dari 10 orang.
Senyum sinis kembali ditunjukan oleh nyonya Miasa Laura, tuan Rudolf Bong, dan beberapa anteknya yang lain. Mereka yakin, bila Hanaria tidak akan sanggup membayar semua tagihan itu, karena hampir dari tiga ratus orang pemegang saham, hanya 9 orang saja yang turut membeli selain dari Hanaria.
Sementara itu, Willy tengah makan siang bersama ayahnya dan juga asisten Rudy.
"Semalam, kak Billy datang mencari Daddy," ucap Willy membuka obrolan di sela-sela makan siang mereka.
"Lalu?" Morrano memandang sekilas kearah Willy sejenak, lalu beralih pokus pada makanannya lagi.
"Kak Billy datang sekitar jam 2 malam, aku sempat mengobrol sebentar dengannya lalu ia pergi seteleh mendapat telepon darurat.
"Apa yang kalian obrolkan?" selidik Morrano curiga.
"Obrolan biasa Dad," sahut Willy menyembunyikan isi obrolannya. Sang Daddy-nya itu pasti akan mengomelinya habis-habisan bila tahu kalau ia juga meminta bantuan kakaknya itu.
"Pantas saja kakakmu itu tidak datang. Daddy memang sengaja menunggunya di ruang kerja semalam, karena ada hal penting yang ingin ia utarakan." ujar Morrano setelah menelan kunyahan makanannya.
"Hal penting apa itu Dad?" Willy nampak penasaran.
"Kakakmu berencana melamar seorang gadis, katanya uang tabungannya sudah cukup untuk menikah. Itu sebabnya semalam ia datang untuk membicarakan urusan itu," ungkap Morranno.
Willy meneguk salivanya, jakunnya terlihat naik turun menunjukan rasa kagetnya.
"Tadi pagi, kakakmu itu baru mengabari Daddy kalau semalam ia tidak jadi datang, Ya, Daddy maklum, kakakmu itu memang sangat sibuk dengan tugas negara yang ia emban Willy, sampai-sampai urusan pribadinya terabaikan," sambung Morranno lagi.
Ia tidak melihat perubahan wajah yang ditunjukan oleh Willy saat mendengar penuturannya.
__ADS_1
Bersambung...👉