
"Akh!" Hanaria memekik kaget ketika sepasang tangan dibalik pintu menariknya. "Willy, kau mengejutkanku," Hanaria bernapas lega saat mengetahui bila yang melakukan itu adalah suaminya, lututnya sedikit lemas karena kaget.
"Willa-Willy Willa-Wily, terus saja lupa," protes Willy tidak suka sembari mempererat pelukannya pada tubuh Hanaria dari belakang.
"Ah--, maaf Sayang, suamiku," Hanaria segera meralat sambil tertawa kecil, kebiasaan dirinya yang hanya memanggil nama membuatnya sering terlupa.
"Tangan nakalmu Sayang, ini sudah larut, waktunya kita beristirahat," Hanaria mendesah didalam hati merasakan rem*san di ping*ulnya, tak urung ia memejamkan mata, saat rema*an tangan Willy semakin intens terasa.
"Seperti yang kau ajarkan pada Oma, bukankah laki-laki suka ping*ul yang besar, dan da*a yang besar juga, heum?" Willy berbisik dibelakang telinga Hanaria, mengingatkan akan percakapan mereka hampir dua jam yang lalu.
Deru napas panas Willy menyapu tengkuk Hanaria yang terkespos. Tangannya mulai merambat naik keatas menelusup dibalik b*a dan menemukan dua benda kenyal yang ia cari.
"Sayang, Oma sudah suhu, tidak mungkin aku mengajari beliau bagaimana caranya mencari jodoh buat Kakak ipar," elak Hanaria. Ia berusaha keras supaya desa*annya tidak keluar dari mulutnya merasakan ujung-ujung jari Willy yang mulai menekan dan memijat pelan dua gundukannya yang berisi kencang karena belum disusui dua bayi kembarnya.
"Kau bisa bilang begitu disini. Tapi dibawah tadi, kau, Oma, bahkan juga Mommy, terlihat sangat kompak dan sangat bersemangat mencari jodoh buat kak Billy."
Willy merasakan puncak-puncak itu kini mengeras saat ujung-ujung jarinya memainkannya tanpa henti.
"Kak Billy itu suka dan cintanya hanya sama Rosa, dia gak peduli sama bo*ong besar ataupun da*a melimpah." ucapnya sok tahu, seolah ia tahu segalanya tentang kakak kembarnya itu.
"Berbeda denganku--," Willy memberi gigitan ringan pada daun telinga isterinya itu, menciftakan rasa geli yang menjalar kemana-mana.
"Aku bahkan sangat menyukai yang penuh berisi apalagi ibu menyusui seperti ini." jemari itu kembali mere*as disana hingga membuat sang empunya menggeliat-geliat nikmat walau berniat ingin melepaskan diri.
"Agghss," desisan halus Hanaria akhirnya mulai mendominasi, hingga membuatnya tidak mampu mendebat lagi. Willy tersenyun senang mendengarnya dan terus melakukan aksi nakalnya.
__ADS_1
Desiran darah Hanaria memacu lebih cepat, merasakan sesuatu yang menonjol dan sudah mengacung tegak dibelakang sana.
"Aghssss!" desisan Willy turut menggema panjang saat tangan Hanaria tanpa aba-aba meraih dan memijat si adik juniornya.
Hanaria gegas berbalik, sedikit menunduk demi melihat apa yang digenggamnya.
"Pantas saja dia menusuk-nusuk dibelakangku ternyata kau sudah tidak mengenakan bawahanmu." ucap Hanaria yang sempat mentertawai suaminya itu.
"Sayang, kau masih sempat saja mentertawaiku, Tidak tahu kah kalau aku menunggumu sangat-sangat lama kembali kekamar ini dengan tidak sabaran," ucapnya dengan wajah yang sudah berkabut.
Sepasang kaki terhenti sejenak didepan pintu Hanaria dan Willy. Tangan yang akan mengetuk segera ditahannya ketika mendengar keriuhan yang tidak asing didalam sana.
"Heum, sepertinya mereka sedang membuat adik lagi untuk Jo dan El." nyonya Agatsa berguman sendiri didepan pintu sambil tersenyum aneh.
"Mommy ngapain disini?"
"Mommy apaan sih ngintipin Willy sama Hana," Moranno mengusap punggungnya yang terasa panas setelah menerima pukulan dari ibunya,
"Enak saja, memangnya Mommy kurang kerjaan apa ngintipin cucu. Mommy mau menanyakan pada Willy sudah sampai berapa persen pembangunan villa yang dia kerjakan itu. Dan kau ada apa kemari? Bukannya kamarmu dan Yurina diatas sana, kenapa bisa nyasar kemari?" tanya nyonya Agatsa balik.
"Tadi ngeliat Mommy kemari, jadi aku susul, khawatir Mommy lupa kalau kamar Mommy juga diatas dekat kami," terang Moranno menahan tawa, pasalnya ia memang memikirkan itu ketika melihat ibunya menyelinap menuju kamar anak mantunya.
"Mommy memang sudah tua, tapi belum pikun Moranno. Sudah! Pergi sana!" tangan wanita tua itu mendorong punggung Moranno agar segera menjauh, ketika mendengar suara didalam sana terus saja terdengar, malah semakin beringas.
Dirinya juga ikut menjauh. Bahaya memang bila seusia dirinya berlama-lama disana.
__ADS_1
"Mom, Mommy serius nih ngejodohin Billy sama Stefhany?" tanya Moranno lagi, begitu ia dan ibunya sudah menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Kenapa? Ada yang salah?" nyonya Agatsa melirik sekilas putranya yang berjalan menjajari langkahnya.
"Mom, sekalipun Billy belum pernah berbicara serius tentang suatu pernikahan. Sebagai Daddynya aku tahu dia menginginkan Rosalia, bukan gadis lain apalagi Stefhany," Moranno berusaha menyadarkan ibunya itu.
Semenjak obrolan minun teh tadi sore, hingga Hartawan datang menjemput Rosalie dan Rosalia pulang, ada rasa khawatir dihatinya bila ibunya itu tetap nekad melakukan rencananya, apalagi Yurina dan Hanaria ikut mendukung. Ibunya saja yang beraksi sendiri tentu akan membuat Billy yang patuh dan jarang membantah itu bisa mau saja menuruti perkataan neneknya, apalagi ada campur tangan isteri dan menantunya itu.
"Lalu? Mommy harus bagaimana?"
"Biarkan Billy memilih dan menentukan jodohnya sendiri Mom? Dia sudah dewasa." ucap Moranno dengan raut penuh permohonan.
"Putra sulungku itu, pernah ingin bertemu dan berbicara serius untuk melamar seorang gadis, tiba-tiba ia membatalkannya dengan alasan ada panggilan tugas dari atasannya," Moranno menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar nyonya Agatsa, terlihat ia mendesah dengan membuang napasnya pelan.
"Beberapa hari setelah itu, aku baru tahu kalau ia memberikan semua tabungannya untuk membantu adik iparnya gara-gara Willy yang lebih dulu menemuinya sebelum ia sempat bertemu denganku."
"Dan aku yakin gadis yang ingin Billy lamar itu adalah Rosalia, karena gadis itu saja yang kukihat dekat dengannya."
"Jadi aku mohon Mom, biarkan Billy mendapat kebahagiaannya bersama Rosalia. Sejak kecil mereka sudah dekat, hati Billy pasti sangat hancur bila bukan Rosalia yang menjadi pasangannya kelak, walau aku tahu dia tetap akan menurut semua rencana Mommy bersama Yurina dan Hanaria," Moranno mengatupkan kedua tangannya didepan dada, berharap ibunya itu tidak melakukan apa yang telah ia rencanakan.
"Moranno, katakan pada Mommy--, bagaimana caranya engkau menyatukan Billy dengan Rosalia? Sementara ayahnya tidak pernah memberi satu kalipun kesempatan pada Billy untuk menyampaikan isi hatinya pada laki-laki yang akan menjadi calon ayah mertuanya itu?"
"Selama ini, Mommy sudah memerintahkan orang kepercayaan Mommy membuntuti gerak-gerik Billy setiap kali ia akan menemui Rosalia, baik dirumah sakit maupun dikediaman mereka?"
"Ayo, ikuti Momny. Akan Mommy tunjukan padamu bagaimana putra sulungmu diperlakukan seperti seorang pengemis cinta oleh ayah Rosalia, atasannya sendiri."
__ADS_1
Nyonya Agatsa mendorong kenop pintu kamarnya lalu segera masuk diikuti Moranno menuju ruang kerja yang ada dalam kamar pribadinya itu.
Bersambung...👉