
Laju mobil Hanaria melambat, ketika tidak sengaja melihat asisten rumah tangga nyonya Mingguana baru saja turun dari taksi didepan panti sosial lansia, ia segera menepikan mobilnya.
"Bibi Narsih!" panggil Hanaria setengah berteriak begitu turun dari mobilnya.
Wanita paruh baya yang dipanggil namanya itu serta merta menghentikan langkahnya yang akan memasuki gerbang panti, dan menoleh ke arah datangnya suara.
"Nona Hana? Bagaimana Nona bisa ada disini?" tanya wanita tua itu heran, setelah memastikan dengan benar bahwa wanita yang memanggilnya itu adalah Hanaria dengan mengulas senyum tipisnya.
Maklumlah, mata bibi Narsih mulai rabun ditelan usianya yang sudah semakin senja, ditambah lagi tubuh bagian depan Hanaria yang membusung kedepan sangat besar karena kehamilannya yang tinggal menunggu waktu saja untuk melahirkan buah hatinya.
"Tadi saya lewat dan tidak sengaja melihat Bibi turun dari taksi. Apa yang Bibi lakukan ditempat ini?" sahut Hanaria balik bertanya sembari memperhatikan beberapa bangunan yang akan dikunjungi wanita tua itu.
"Saya ke sini untuk menjenguk ibu Maria, isteri pak Aji Nona, kabarnya beliau sakit," jelas bibi Narsih.
"Kalau isterinya sakit, kenapa pak Aji tidak datang untuk menjenguknya kemari," tanya Hanaria heran.
"Pak Aji juga sedang sakit Nona, sudah 4 hari ini tidak bisa bangun dari pembaringannya." jelas bibi Narsih lagi. Hanaria mengangguk-angukan kepalanya tanda mengerti, ia ingat bila tukang kebun nyonya Mingguana itu memang sudah tua renta.
"Saya boleh ikut untuk menjenguk isteri pak Aji itu Bi? Ya, hitung-hitung sekalian berkenalan," ucap Hanaria meminta ijin.
"Boleh Nona. Tapi Nona sedang hamil besar, takut Nona kelelahan," ucap bibi Narsih dengan raut khawatir.
"Tidak apa-apa Bi," sahut Hanaria mengulas senyumnya sembari mengusap perut besarnya.
"Kalau begitu ayo," ucap bibi Narsih, keduanya lalu memasuki gerbang dan menghampiri pos jaga untuk mengisi buku tamu.
Hanaria kembali mengikuti langkah bibi Narsih menuju satu bangunan yang cukup tua namun terlihat bersih dan terawat. Pada bangunan itu nampak banyak kamar bangsalan yang tengah tertutup rapat.
Pada kamar nomor 21 bibi Narsih menghentikan langkahnya, dan kebetulan pintu kamar itu sedang terbuka lebar.
"Disini kamar ibu Maria Nona," ucap bibi Narsih lalu memberi salam, dan terdengar dua warna suara yang berbeda dari dalam kamar itu menyahut salam bibi Narsih.
__ADS_1
Seorang perawat yang sedang memeriksa kondisi kesehatan ibu Maria mempersilahkan masuk dan melanjutkan pemeriksaannya yang belum selesai.
Hanaria ikut masuk, ia berdiri disalah satu sudut kamar karena tidak ada kursi disana untuk duduk. Ia memperhatikan keadaan kamar yang cukup sempit itu, disana hanya ada 1 tempat tidur, satu lemari pakaian berbahan kayu, 1 meja kecil dan diatasnya terdapat 1 pigura usang dengan selembar foto yang sudah memudar terpampang didalam pigura itu, tapi masih bisa terlihat jelas bahwa itu adalah foto seorang wanita dan pak Aji.
"Bagaimana kondisi ibu Maria, Sus?" tanya bibi Narsih begitu dilihatnya perawat itu sudah menyelesaikan pemeriksaannya.
"Ibu Maria hanya demam saja Bu, beliau juga tidak mau makan beberapa hari ini. Sepertinya sangat merindukan suaminya," terang perawat muda itu sembari memasukan peralatan pemeriksaan kedalam box medisnya.
"Saya pamit dulu, karena harus memeriksa kesehatan para lansia yang lain lagi, ada beberapa orang yang sedang sakit juga. Bila ingin bertanya keadaan ibu Maria lebih lanjut, boleh menemui saya dikantor bila saya sudah selesai memeriksa semua pasien lansia." ucap perawat itu sopan.
"Baik Sus, terima kasih," ucap bibi Narsih sembari tersenyum.
"Sama-sama Bu," Suster itu sedikit membungkuk pada bibi Narsih dan Hanaria lalu pergi.
Hanaria kembali memusatkan perhatiannya pada seorang wanita tua dengan kulit keriputnya yang kentara terlihat karena terlalu kurus.
"Ibu Maria," panggil bibi Narsih, ia mendekat begitu juga dengan Hanaria. Wanita tua itu menoleh dengan raut lesu, tatapannya seolah kehilangan cahaya.
"Bu Nar-sih," ucap ibu Maria lemah, tanpa menjawab pertanyaan bibi Narsih. "Ma-na mas A-ji?" tanyanya dengan terputus-putus seperti ada sesuatu yang menekan didadanya. Hanaria mendadak merasa sesak melihat kondisi wanita tua yang tidak berdaya itu.
"Pak Aji ada di rumah Bu, ada pekerjaan dari nyonya Mingguana yang tidak bisa ditinggal."
Hanaria menatap bibi Narsih saat wanita itu tidak berterus terang bila pak Aji pun sakit, namun ia tidak mau mencelanya, ia yakin bila bibi Narsih melakukan itu karena khawatir akan memperburuk kesehatan ibu Maria.
"A-ku me-rin-dukan mas A-ji, bo-leh-kah bu Nar-sih me-min-ta ijin pada nyo-nya Ming-guana su-pa-ya mas Aji bi-sa ke-mari," ucap ibu Maria masih terputus-putus memegang dadanya yang nampak sakit dengan wajah meringis.
Sebelum menjawab, bibi Narsih memandang kearah Hanaria sesaat. Wanita tua itupun ikut pula menatap ke arah Hanaria yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
"S-siapa dia?" tanya ibu Maria masih menatap Hanaria.
"Dia nona Hanaria, kakak dari mendiang nona Firlita, isteri tuan Mahendra," terang bibi Narsih, beralih menatap ibu Maria yang tengah memindai wajah Hanaria yang baru saja ia lihat sesaat lamanya.
__ADS_1
Hanaria yang ditatap mengulas senyum hangatnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"No-na, bisa-kah An-da menolongku?" ucap ibu Maria lemah.
Hanaria menoleh terlebih dahulu pada bibi Narsih, "Tentu saja Bu, semampu saya," sembari mengangguk menatap ibu Maria lagi.
"Saya dengar dari mas A-ji, suara Nona mau didengar Nyo-nya Ming-guana. Jadi, to-long minta-kan i-jin supaya saya bi-sa bertemu mas A-ji," ungkapnya dengan raut memohon penuh harap.
"Baiklah, saya akan usahakan. Tapi ada syaratnya bu Maria." ucap Hanaria.
"Apa?" tanya ibu Maria menatap lekat wajah Hanaria dengan raut sedikit tegang, khawatir bila syarat yang diajukan wanita hamil tua yang berdiri didekatnya itu tidak mampu ia penuhi.
"Harus bahagia, makan yang banyak, jangan berfikir yang rumit, dan berusaha cepat sembuh. Karena pak Aji akan sedih bila melihat ibu Maria sakit," ucap Hanaria dengan senyum tetap mengembang diwajahnya.
Wajah tegang ibu Maria lalu memudar, kedua ujung bibirnya saling menarik membentuk senyuman samar diwajah keriputnya.
"Ha-nya itu?" tanya ibu Maria lagi.
Hanaria mengangguk. "Apa bisa?" tanyanya masih dengan senyum terkembang.
Ibu Maria ikut mengangguk lemah masih dengan senyum samarnya.
"Beri aku waktu 2 hari," Hanaria mengembangkan dua jarinya membentuk huruf V, "kami akan membawa pak Aji kemari untuk menemui ibu Maria."
Wanita tua yang terbaring itu kembali mengangguk pelan dan masih tersenyum.
"Nah sekarang, ibu Maria harus makan dulu, seperti kata nona Hanaria tadi," kata bibi Narsih yang baru menerima semangkuk bubur dari seorang perawat lain yang mengantar didepan pintu kamar ibu Maria.
Hanaria memandang iba dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat suapan demi suapan yang diberikan bibi Narsih ditelan dengan semangat oleh ibu Maria, ia dapat merasakan kerinduan wanita itu pada suaminya dengan mematuhi apa yang dirinya katakan.
Bersambung...👉
__ADS_1