HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
165. Pelajaran Kilat


__ADS_3

Hanaria mengusap wajahnya yang berkeringat menggunakan tissue, setelah mereka ada didalam mobil Willy. Walau ragu, ia tetap mengulurkan tangannya, mengusap wajah Willy yang juga berkeringat setelah mereka berjalan dibawah matahari sore yang masih terasa terik.


"Terima kasih," ucap Willy. Ia menahan tangan Hanaria dan menatap lekat wajah isterinya itu. Hanaria merasa dadanya berdebar menerima tatapan suaminya itu.


"Sama-sama," sahut Hanaria. Wajahnya langsung berpaling menatap kedepan, berusaha menyembunyikan perasaannya yang mulai ditumbuhi benih-benih cintanya.


Hanaria memasukan tissue-tissue kotor itu kedalam plastik dan menyimpannya kedalam dashboard mobil Willy untuk sementara supaya tidak mengotori kabin mobil. Ia tertegun sejenak, saat melihat botol air mineral masih ada didalamnya, mengingatkannya bagaimana suaminya itu memarahi sekretaris Morin saat membuangnya, karena menganggapnya sampah.


"Aku rasa botol air mineral yang sudah kosong ini sangat istimewa bagimu? Buktinya kau menyimpannya sampai sekarang," ucap Hanaria, sambil meneliti benda yang ia pegang ditangannya.


Willy melirik sekilas ke botol air mineral yang dipegang oleh Hanaria sambil memasangkan sabuk pengamannya.


"Menurutmu?" Willy melontarkan pertanyaan balik pada Hanaria.


"Aku melihatmu memarahi sekretaris Morin waktu itu, hanya karena membuangnya ke tong sampah. Bukankah seharusnya botol ini memang sudah disingkirkan dari mobilmu supaya tidak menjadi sampah didalamnya," pancing Hanaria, ia melirik reaksi Willy, apakah suaminya akan bereaksi arogan padanya sama seperti pada sekretaris pribadinya waktu itu.


"Kau boleh membuangnya kalau kau mau," sahut Willy datar. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya perlahan, meninggalkan parkiran.


"Berarti botol ini tidak berarti bagimu," ucap Hanaria heran. Reaksi yang terkesan acuh yang ditunjukan Willy membuatnya semakin tidak memahami jalan fikiran Willy. Ia sangat ingat bagaimana reaksi suaminya itu saat sekretaris pribadinya tanpa permisi membuang benda yang memang seharusnya sudah menjadi penghuni tong sampah itu.


"Botolnya tidak berarti, tapi orang yang memberikannya-lah yang berarti," sahut Willy. Ia menurunkan kaca jendela mobilnya saat akan melintas pos jaga. Security menaikan portal besi, lalu membungkuk hormat pada Willy yang melemparkan senyum tipisnya pada mereka. Setelahnya ia kembali menaikkan kaca jendela mobilnya dan melajukan mobil yang dikemudikannya dengan kecepatan sedang dijalan raya.

__ADS_1


"Apakah dia Lucy?" tebak Hanaria yang entah mengapa merasa cemburu saat mendengar perkataan suaminya itu.


"Apakah ini pertanyaan kecemburuan?" Willy melirik sekilas pada Hanaria yang menatap kearahnya, kemudian ia kembali memfokuskan pandangannya pada jalan dihadapannya.


"Ku dengar, Lucy mencampakanmu, apa itu benar?" Hanaria masih menatap Willy yang fokus pada kemudinya, ia teringat pada obrolannya bersama Edrine seminggu sebelum ia menikah dengan suaminya itu.


Willy tersenyum miring, ia tidak segera menjawab apa yang ditanyakan Hanaria padanya. Ia membiarkan keheningan tercifta diantara mereka membuat Hanaria merasa canggung.


"Apakah aku salah bertanya? Maafkan-lah aku," ucap Hanaria memecahkan keheningan, saat mereka sudah memasuki area Villa. Willy masih tidak berkata apa-apa, ia memarkirkan mobilnya didekat taman samping Villa. Ia membuka sabuk pengamannnya dan keluar di ikuti Hanaria.


"Ayo ikutlah aku, akan kutunjukan sesuatu padamu sesuai janjiku, bagaimana aku bisa memberikan bunga-bunga mawar dengan mudah ditempat seperti ini padamu," ucap Willy, ia meraih tangan Hanaria dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.


Keduanya melintasi taman yang berada disamping Villa sebelah barat. Mereka menyusuri jalan yang ditumbuhi rumput elastis yang menghijau rapi.


"Ini luas sekali," Hanaria nampak takjub. Di dusunnya memang banyak terdapat kebun-kebun sayur milik warga yang ditanam dengan cara tumpang sari. Berbagai jenis sayuran bercampur jadi satu tanpa tersusun rapi, namun tidak seluas kebun sayur yang terhampar dihadapannya sekarang.


Tanaman terong-terongan tertanam rapi sesuai jenisnya masing-masing dengan bedeng-bedeng yang sudah dibuat alurnya.


Sayuran kacang-kacangannya juga tersusun rapi, sesuai jenisnya masing-masing, ada belasan hektar luasannya.


Demikian pula dengan buah labu-labuan kuning yang menghampar diatas permukaan tanah dengan daun-daun hijaunya yang sangat subur dan menyulur kesana-kemari. Masih banyak lagi macam-macam sayuran lainnya yang ditanam dikebun yang sangat luas itu. Sejauh mata memandang hanya terlihat berbagai jenis sayur yang sudah ditanam rapi sesuai alurnya.

__ADS_1


"Sayur-sayuran yang kau nikmati dikantin Agatsa properti Group, itu semua berasal dari kebun ini." ucap Willy disela-sela kekaguman Hanaria memandang tempat itu.


"Daddy sengaja membuat kebun seluas ini untuk membuka lapangan pekerjaan bagi para warga yang tinggal disekitaran Villa ini. Karena di persawahan yang kita kunjungi sebeuhmnya, pekerjaan lebih banyak dikerjalan oleh mesin, jadi bagi warga yang membutuhkan pekerjaan, mereka dipekerjakan dikebun ini."


"Disini lebih banyak menggunakan tangan manusia dibandingan dipersawahan tadi."Jelas Willy.


"Ternyata Daddy memikirkan warga yang hidup disekitar sini juga," Hanaria sedikit berkomentar mendengar penuturan suaminya itu sambil terus berjalan.


"Benar. Menurut Daddy, salah satu tugas kita sebagai warga negara adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi anak-anak negeri ini,itu kalau kita mampu."


"Termasuk membantu negara menyiapkan bahan pangan, supaya tidak selalu mengimpor bahan-bahan makanan yang seharusnya masih bisa kita sediakan di negeri sendiri." jelas Willy.


"Daddy luar biasa, berfikir sampai kearah sana, membantu negara menyediakan lapangan pekerjaan, dan mengadakan bahan pangan," ucap Hanaria kagum.


"Dan aku juga salut padamu Willy, kau sepertinya bukan hanya menguasai ilmu dibidang properti saja, tapi pertanian juga, aku bisa melihatnya dari buku-buku referensi yang kau siapkan untuk kubaca sepanjang tadi pagi." imbuh Hanaria lagi, sambil terus melangkah dan memperhatikan para pekerja yang sibuk menyiangi tanaman sayuran.


"Sebenarnya aku tidak menguasai semuanya Hana, aku hanya menguasai bidangku, manajemen dan pengelolaan perusahaan. Aku dididik dan dilatih Daddy mulai berusia sepuluh tahun, bila Daddy pergi untuk mengurus perusaannya, aku selalu ikut bersamanya saat libur sekolah."


"Itu sebabnya aku mengetahui semua manajemen perusahaan milik keluarga Agatsa yang berjumlah dua puluh empat anak cabang yang berada di sembilan belas kota dinegeri ini."


"Daddy selalu mencekokiku dengan berbagai buku-buku, setidaknya aku mengerti product perusahaan walaupun tidak menguasainya sepenuhnya."Jelas Willy.

__ADS_1


"Dan hari ini, aku sudah memberimu pelajaran kilat mengenai manajemen perusahaan, dan saat diruang meeting tadi, kau telah mempelajarinya langsung dari laporan team audit itu."


"Ini semua ide dari Mommy dan Daddy, supaya kau benar-benar siap menjalani pekerjaan ditempat kerjamu yang baru. Walaupun nantinya tidak akan sama persis, tapi manajemennya akan kurang lebih sama. Dan yang terpenting sebagai seorang marketing, kau harus tahu persis product apa yang dikeluarkan perusahaan tempatmu berkerja, sehingga kau akan mudah memasarkannya," Jelas Willy panjang lebar.


__ADS_2