HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
137. Jamu


__ADS_3

"Kau sepertinya betah sekali menempel padaku." Ujar Willy, setelah dirinya dan Hanaria sudah berada didepan pagar rumah mertuanya. Mendengar ucapan Willy Hanaria langsung keluar dari dalam sprei yang menyelimuti kepalanya.


"Bukannya tuan muda yang mendekapku dan menyuruhku diam?" Kilah Hanaria, walaupun sebenarnya dirinya memang betah mencium aroma tubuh Willy yang baru menjadi suaminya itu.


"Ah, Kau benar juga.Sekarang kau bebas, kita sudah jauh dari kerumunan para warga. Lagi pula kita juga sudah sampai didepan rumahmu." Ucap Willy lagi, sambil merapikan dan membenarkan sprei ketubuhnya yang terasa dingin terkena angin malam.


"Ayo!" Ajak Hanaria sambil mendahului Willy membuka pagar kayu, ia lalu mengambil anak kunci ditempat penyimpanan rahasia orang tuanya.


Willy melirik sekilas, ia lalu tersenyum sendiri saat memperhatikan apa yang dilakukan Hanaria. Wanita itu meraba - raba dengan tangannya kedalam pot bunga.


Sebelumnya, ia pernah melihat ayah mertuanya melakukan hal yang sama saat akan masuk kepondok mereka yang ada dipinggiran sawah, lalu pak guru Arta, ayah Reymon-pun melakukan hal yang sama pula.


Sepertinya, begitulah kebiasaan orang - orang yang ada didusun itu menyimpan kunci rumah mereka, fikir Willy didalam hati.


"Apa yang tuan muda fikirkan? Kenapa tersenyum sendiri disana?" Tanya Hanaria yang sudah berhasil menemukan anak kunci rumah, lalu membawanya menuju teras rumahnya.


"Apakah kau tidak merasa takut? Saat tanganmu meraba - raba didalam pot bunga seperti tadi dimalam gelap begini, tanganmu bisa saja menangkap ular yang sedang melingkar didalamnya." Ujar Willy tanpa maksud menakut - nakuti.


Hanaria menatap wajah Willy, ia langsung bergidik ngeri bila apa yang dikatakan Willy itu mungkin saja terjadi.


"Biasanya, hewan melata itu suka berada ditempat - tempat yang rimbun dan dingin bukan? Jadi sebaiknya, anak kuncinya dibuat duplikat saja, jadi bisa dibawa masing - masing, supaya aman. Kalau siang hari tidak masalah, tapi kalau malam seperti ini, suasana gelap, kita tidak bisa melihat bila ada hewan berbisa." Imbuh Willy lagi.


"Iya, tuan muda benar. Nanti saya akan sampaikan pada ayah dan ibu." Ucap Hanaria. Ia lalu memutar anak kunci ditangannya hingga daun pintu terbuka.


"Tuan muda bisa langsung kekamar, saya akan membuatkan minuman jamu dulu didapur." Ucap Hanaria lagi sambil berjalan masuk hingga kedapur. Sementara Willy mengekornya dari belakang, ikut hingga kedapur.


"Kenapa tuan mengikuti saya?" Tanya Hanaria yang merasa diikuti.


"Saya tidak tahu dimana kamarnya? Nanti salah masuk. Selain itu, saya juga harus membersihkan tangan, kaki dan wajah setelah datang dari luar. Kalau tidak bersih, saya tidak bisa tertidur malam ini." Sahut Willy memberi alasan.


"Itu kamar mandinya, dan disebelah kamar mandi itu adalah kamarku. Tuan muda boleh masuk kesana setelah dari kamar mandi nanti." Tunjuk Hanaria.


Setelah Willy pergi kekamar mandi, Hanaria segera meracik jamu dengan bahan - bahan yang sudah ada didapur.


Tidak memakan waktu lama, Hanaria sudah selesai dengan kegiatannya itu, ia segera membawanya kekamarnya dengan nampan ditangannya.


Hanaria mendekati Willy yang duduk dimeja belajar miliknya, sambil meletakan nampan dihadapan suaminya itu.


"Kenapa tuan tidak segera mengenakan baju, malah masih mengenakan sprei itu lagi." Ucap Hanaria melihat sprei yang masih membalut tubuh suaminya itu.

__ADS_1


"Semua pakaian saya ada dirumah pak Arta, yang ada didekat Lamin." Ucap Willy masih duduk diam dikursinya.


Hanaria segera menuju lemari pakaiannya, ia memilih beberapa baju kaos miliknya dan membawa pada Willy.


"Tuan muda bisa menggunakan ini untuk sementara waktu bila tidak keberatan. Tidak mungkin kita ke rumah pak Arta, ini sudah menjelang subuh." Ucap Hanaria.


Hanaria langsung membalikkan tubuhnya, saat melihat Willy melepaskan sprei dari tubunya, sekilas ia melihat beberapa noda biru dibagian pinggang dan punggung suaminya itu, namun ia enggan bertanya.


"Ini minuman untuk tuan muda." Hanaria menggeser satu gelas tepat didepan Willy, saat suaminya itu sudah mengenakan kaosnya yang nampak ketat ditubuhnya yang atletis.


"Bau-nya sangat tidak sedap, amis!" Ucap Willy dengan wajah meringis, saat ia mengangkat gelas dan mendekatkannya dihidung mancungnya.


"Ini jamu pegal- linu tuan muda, dan sudah saya tambahkan sebutir telur ayam kampung juga." Jelas Hanaria. Willy langsung merasa mual mendengar ucap Hanaria.


"Saya tidak suka minum jamu, saya jijik, apalagi dimasukan telur ayamnya. Biasanya saya hanya minum vitamin atau suplemen saja." Willy langsung menjauhkan gelas itu agak ketengah meja.


"Tidak ada jamu yang bau-nya enak seperti sirup. Begini cara minum jamunya tuan muda." Hanaria lalu mengambil gelas minuman jamu miliknya, lalu meneguknya beberapa kali hingga habis, setelahnya ia mengambil gelas minuman madu jahe hangat dan meneguknya lagi hingga habis.


Willy memperhatikan bagaimana Hanaria melakukannya dengan mudah sambil menahan nafasnya sendiri.


"Nah sekarang giliran tuan muda, ikuti saja seperti cara saya tadi." Ucap Hanaria sambil mendekatkan lagi gelas jamu milik Willy yang sempat suaminya itu jauhkan.


"Tapi-." Ucap Willy dengan wajah ragunya.


"Saya takut memuntahkannya." Sahut Willy lagi.


"Kalau tidak sanggup menghabiskan satu gelas, setengahnya saja. Setelah itu, langsung minum jahe madu hangatnya ini untuk menghilangkan rasa anyir atau amisnya tuan muda."


Willy akhirnya menuruti kata - kata Hanaria. Walau sedikit ragu dan nampak takut, ia meminum jamu itu setengahnya saja sambil menahan napasnya, lalu cepat - cepat meminum gelas madu jahe hangat yang Hanaria sodorkan.


"Tidak enak!" Ucap Willy sambil menjulurkan lidahnya membuat Hanaria tersenyum melihatnya.


"Ini, saya tambah lagi jahe madu hangatnya tuan muda." Hanaria kembali menuangkan isi tekonya kedalam gelas Willy, pria itu buru - buru meminumnya lagi untuk mengurangi rasa anyir didalam mulutnya.


"Apa aku boleh tidur disitu?" Tanya Willy meminta ijin, sambil menunjuk pembaringan Hanaria yang tidak terlalu luas.


"Silahkan tuan muda. Saya bisa tidur dimana saja." Sahut Hanaria sambil membereskan gelas - gelas kotor yang telah mereka pergunakan.


"Kau tidak boleh tidur dimana saja. Kau harus tidur satu tempat tidur denganku. Kita sudah jadi suami isteri." Tegas Willy. Ia naik ke ranjang Hanaria dan berbaring disana.

__ADS_1


"Tapi-." Hanaria berusaha mengungkapkan penolakannya namun segera disanggah oleh Willy.


"Kau tahu 'kan, aku sangat tidak suka mengulangi ucapanku dua kali. Atau aku akan memaksamu lagi seperti yang sudah - sudah, sampai ranjang kayumu ini juga rubuh." Ancam Willy.


"Baiklah, aku akan mengantarkan gelas - gelas kotor ini kedapur dulu." Ucap Hanaria mengalah, sambil memegang nampan dikedua tangannya.


"Pergilah, jangan lama - lama. Jangan sampai aku menyusulmu kedapur." Ucap Willy sambil melirik datar kearah Hanaria dari tempat ia berbaring.


Hanaria beranjak dari tempatnya berdiri, walaupun ia merasa tidak suka pada Willy yang terkadang bersikap memaksa, tapi ia tidak berniat untuk membantahnya, ia sudah diwanti - wanti oleh kedua orang tuanya selama beberapa hari sebelum pernikahannya.


Hanaria menutup pintu kamarnya rapat, setelah kembali dari dapur. Ia mendekati tempat tidur dengan hati - hati dan sedikit ragu berdiri didekat ranjangnya sambil memandang Willy yang sudah memejamkan matanya.


"Kenapa tidak cepat naik? Apakah kau menungguku untuk menggendongmu? Hmm?" Hanaria langsung melompat ketempat tidurnya dan berbaring disisi Willy, saat mendengar suara suaminya itu mengagetkannya. Willy hanya tersenyum didalam hati. Ada rasa puas, saat melihat Hanaria yang merasa takut atau panik mendengar ucapannya.


"Tuan muda belum tidur?" Tanya Hanaria sambil memiringkan sedikit kepalanya, memandang kearah Willy yang masih setia memejamkan matanya.


"Kenapa? Apakah kau mau melanjutkan malam pertama kita yang sempat tertunda beberapa jam yang lalu, saat di bilik pengantin itu?" Sahut Willy. Matanya masih terpejam sambil menengadah keatas.


"Bukan itu. Apakah tuan muda sengaja mempermalukan saya didepan ayah dan daddy tuan muda? Juga para orang tua lainnya saat dibilik pengantin tadi." Ucap Hanaria, saat ia mengingat kembali kejadian di Lamin beberapa jam yang lalu.


"Tidak...... Aku hanya berfikir tidak ingin tubuhmu sakit, jadi begitu kurasa ranjang kayu itu akan rubuh, aku segera membalikkan tubuhmu keatasku." Sahut Willy apa adanya.


Hanaria menatap Willy sejenak. Lalu mengingat beberapa noda biru dibelakang tubuh suaminya itu, tentu itu akibat benturan saat Willy berada dibawah tubuhnya.


"Terima kasih...... Maafkan saya sudah salah faham pada tuan muda. Apakah tuan mau, kalau saya mengobati memar yang ada ditubuh bagian belakang tuan itu?" Ucap Hanaria hampir tidak terdengar.


"Tidak perlu.Kau istirahatlah, kita berdua sama - sama lelah." Ucap Willy dengan suara lemahnya karena sangat mengantuk.


Hanaria menaikan selimutnya. Walau tidak ada AC, namun udara didusun itu cukup dingin hingga menusuk tulang saat dimalam hari, karena pepohonanya masih sangat terjaga alami.


Hanaria baru saja memejamkan matanya, saat ia merasakan ranjang tidurnya sedikit bergoyang. Dengan cepat ia membuka matanya dan melihat Willy memiringkan tubuhnya menghadap dan menatap kearahnya.


"Kenapa tuan muda melihatku seperti itu?" Tanya Hanaria was-was, hatinya langsung berdebar-debar. Apa lagi dirumah ini hanya ada dirinya dan suaminya itu saja.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu sebagai isteriku?" Willy balik bertanya dengan tatapan datar.


"M-minta apa?" Sahut Hanaria tergagap. Hatinya semakin berdebar.


"Besok, aku mau makan ayam panggang, aku bosan dengan menu daging beberapa hari ini, selama acara pernikahan kita." Ucap Willy penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah tuan muda, saya akan membuatkannya besok." Sahut Hanaria. Ia langsung bernafas lega, ternyata bukan permintaan sulit dan aneh fikirnya didalam hati.


"Satu lagi. Panggil saja aku Willy. Aku bukan bosmu, tapi suamimu." Setelah berkata demikian Willy membalikan tubuhnya kembali seperti semula dan memejamkan matanya.


__ADS_2