
"Hana," panggil nyonya Agatsa saat melihat cucu mantunya itu keluar dari dapur. Dirinya baru saja mengantar Billy diteras depan.
Mendengar ada yang memanggil namanya, Hanaria langsung berbalik ke sumber suara. "Iya Oma," sahutnya sopan dan sedikit membungkukan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini belum tidur?" tanya nyonya Agatsa memandangi menantunya yang matanya masih terlihat segar.
"Makan malam lagi Oma," sahut Hanaria tersenyum malu.
"Wajar, menyusui dua bayi sekaligus memang membuatmu akan sering merasa lapar, tidak masalah." ucap wanita itu turut tersenyum.
"Bisa ikut Oma sebentar kekamar?
"Tentu saja Oma," sahut Hanaria cepat.
"Ayo," ajak nyonya Agatsa lalu berjalan lebih dulu dan diikuti Hanaria.
"Masuklah, tidak perlu sungkan,"
Hanaria mengangguk, ia mengekor dari belakang. Ini kali pertama ia masuk dikamar sang pemilik asli rumah besar keluarga Agatsa ini setelah hampir 2 tahun ia tinggal disana bersama Willy.
Tatapan Hanaria terhenti pada pigura tua antik tapi terawat. Didalamnya ia melihat poto nyonya Agatsa muda yang terlihat sangat cantik, berdiri berdampingan dengan seorang laki-laki muda seusianya dengan gaya mesra mereka pada jamannya. Laki-laki itu lebih mirip dengan wajah Billy dan suaminya Willy, mungkin itu mendiang tuan. Agatsa, batin Hanaria.
"Hana, ayo kemari, jangan berdiri disitu saja," panggil nyonya Agatsa lagi.
__ADS_1
"Iya Oma," Hanaria bergegas mendekat. Ia melihat nyonya Agatsa sedang mengeluarkan satu buku penting dari dalam brankasnya lalu menutupnya kembali.
"Duduk disini," nyonya Agatsa mengajak cucu mantunya itu duduk dikursi sofa yang ada didekatnya.
"Beberapa tahun lalu Oma membeli kurang lebih 2 hektar lahan kosong ini dengan kontur perbukitan yang ada di daerah pinggiran kota." wanita tua itu membuka lembaran-lembaran sertifikat dan menunjukannya pada Hanaria.
"Oma mau kau mendesain 2 hektar lahan kosong ini untuk dijadikan villa. Sebagai gambaran, harus ada bangunan utama bila diadakan pesta disana, lalu satu bangunan khusus untuk sepasang suami isteri. Dan harus dibangun juga beberapa bangunan dengan 30 kamar untuk keluarga yang menginap, perlu juga ada perpustakaan dan satu bangunan untuk klinik supaya warga disekitar sana tidak jauh untuk berobat. Dan untuk bangunan yang lainnya, terserah kau saja bila mau menambahkannya," ujarnya.
"Apa ini sudah cukup jelas, atau ada yang ingin kau tanyakan seputar desain villa yang kuminta ini?" tanya nyonya Agatsa sembari menutup buku sertifikat ditangannya.
"Kalau boleh tau, apa villa ini untuk Oma?" tanya Hanaria.
"Bukan, Oma akan menghadiahkannya pada sepasang suami isteri," sahut nyonya Agatsa gamblang.
"Maaf Oma, bila boleh tau apa profesi sepasang suami isteri itu?" tanya Hanaria lagi.
"Apa pentingnya kau bertanya seperti itu?" ucap nyonya Agatsa datar.
"Maaf Oma, saya hanya ingin mendesain villa ini sesuai karakter dan profesi pemiliknya, sehingga saat mereka ada disana, mereka akan merasa betah," ungkapnya memberi alasan.
"Kau benar juga Hana, aku tidak berfikiran sampai kesana," ucap nyonya Agatsa.
"Suaminya seorang inteligen dan isterinya seorang dokter kandungan. Apa kau tau mereka?" tanyanya.
__ADS_1
Hanaria menggeleng.
Nyonya. Agatsa terseyum, tidak seperti yang ia duga, ternyata Hanaria tidak bisa menebak siapa orang yang akan diberinya hadiah villa itu. Dan ia tahu alasan cucu mantunya itu tidak tahu orang yang dirinya maksud.
"Tentu saja kau tidak tahu, karena keduanya belum menikah," ucap nyonya Agatsa tertawa kecil. "Sebenarnya apa yang aku lakukan ini adalah mendahului takdir. Aku ingin Billy bisa menikah dengan Rosalia," ungkapnya kemudian.
Hanaria menatap wanita yang dia panggil Oma itu. "Semoga keinginan Oma terwujud, dokter Rosalia adalah gadis yang baik, dan dia sangat cocok menjadi isteri kak Billy," dukung Hanaria.
"Kau benar Hana. Aku ingin kau membantuku," ucapnya menatap lekat wajah Hanaria.
"Apa yang bisa aku lakukan Oma?"
"Akan kuberitahu bila aku sudah menjalankan aksiku. Kita akan menghadapi tuan Hartawan yang keras kepala itu dengan sedikit kelicikan," ucapan nenek dari suaminya itu sedikit membuat Hanaria risih dan juga ngeri.
"Semasa kecil, Rosalia kecil malah ingin menikahi Billy dan Willy sekaligus," sambungnya lalu terkekeh geli mengingat celotehan-celotehan Rosalia kala itu.
"Menikahi Billy dan Willy sekaligus?" tanya Hanaria penasaran dan nampak bingung.
"Iya Hana. Rosalia memang berkata seperti itu waktu dia masih balita. Dia sangat menyayangi Billy dan Willy yang usianya hampir terpaut 2 tahun lebih muda dari dirinya. Dan dia selalu berkata akan menikahi 2 bayi itu bila mereka sudah dewasa nanti, dia ingin dirinya menjadi ratu seorang diri, Billy dan Willy yang menjadi 2 rajanya. Tentu saja itu tidak mungkin, menikahi 2 pria sekaligus." nyonya Agatsa masih terkekeh dan memandang kearah pigura tua yang dilihat Hanaria sebelumnya.
"Aku ingin mewujudkan mimpi Rosalia, tapi hanya menikah dengan Billy saja," wanita itu tersenyum tipis lalu memandang kembali pada Hanaria.
"Katakan, berapa biaya desain villa itu Hana, Oma akan membayarmu," ucapnya mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Untuk kak Billy dan dokter Rosalia GRATIS Oma," ucap Hanaria bersemangat. "Ini salah satu bentuk dukunganku supaya mereka benar-bemar bisa bersatu.
Bersambung...👉