HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
202. Ambulance


__ADS_3

Hanaria memasuki kantin perkantoran kepolisian negara, ia berdiri sejenak menyapu pandangannya keseluruh meja dan kursi yang telah berpenghuni.


Sesaat kemudian, Hanaria menyunggingkan senyumnya, tidak terlampau sulit baginya menemukan keberadaan Willy ditengah-tengah pengunjung kantin.


Penampilan Willy yang selalu rapi, dengan gaya rambutnya dan tata berpakaiannya, tidak kalah rapi dengan para abdi negara yang bertubuh atletis itu. Bahkan suaminya itu terlihat lebih mencolok dengan kulit bening terawatnya. Kalau sudah demikian, bagaimana mungkin Hanaria bisa berpaling ke lain hati.


Sambil tersenyum-senyum sendiri, Hanaria melangkah masuk mendekati dimana Willy tengah pokus pada laptop yang ada dihadapannya.


Willy menoleh dengan wajah kaget, saat pundak kirinya disentuh seseorang dengan lembut. Baginya, hanya ibu dan ayahnya, juga kakak kembarnya Billy, yang berani berlaku serupa itu padanya.


"Hana, rupanya kau," kata Willy, setelah melihat Hana berdiri dibelakangnya dan mengurai senyum hangatnya.


"Ayo duduk dulu," Willy menarik satu kursi disampingnya dan mempersilahkan isterinya itu duduk disebelahnya.


"Kau sepertinya sangat sibuk," ujar Hanaria, setelah ia mendudukkan dirinya dengan nyaman disamping Willy suaminya sambil melirik laptop suaminya.


"Iya, tentu saja. Dan demi dirimu aku rela meninggalkan kantor dan tetap melakukan pekerjaanku disini," ujar Willy dengan nada menggoda sambil mengerlingkan matanya.


"Tentu saja aku pecaya suamiku, kau telah membuktikannya karena mau berlama-lama berada disini menungguku, hingga menghabiskan enam gelas jus itu," ucap Hanaria membalas godaan sang suami, sambil menunjuk gelas-gelas kosong yang menyisakan sedikit jus didasarnya.


Perkataan Hanaria membuat Willy semakin tersenyum lebar, ia kembali teringat apa alasannya meminum bergelas-gelas jus dikantin itu seorang diri.


"Tuan Margolius Ondes dimana? Aku tidak melihat dia datang bersamamu kemari?" tanya Willy yang tiba-tiba teringat pada sang lawyer isterinya itu, sambil memandang kesana-kemari.


"Tuan Margolius Ondes sedang menemui kliennya yang lain sekarang, jadi beliau menitipkan salam untukmu," jelas Hanaria.


"Baiklah, sebenarnya aku ingin mengobrol sedikit dengannya, tapi tidak apa-apa, nanti aku akan menghubunginya dan membuat janji untuk bertemu," kata Willy dengan wajah terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kau mau makan disini saja atau kita cari tempat lain?" tanya Willy memberi penawaran.


"Disini saja, aku sudah lapar," sahut Hanaria.


"Baiklah kalau begitu. Ini, kau boleh memilih menu-nya dari daftar yang ada," Willy lalu menyodorkan daftar menu makanan disertai kertas dan pulpen.


Konsentrasi Hanaria terganggu saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia meletakan pulpen yang ia pegang diatas kertas yang baru saja ia tulis satu kata.


"Siapa yang menelpon?" tanya Willy penasaran, melihat wajah Hanaria yang tengah menatap layar ponselnya yang menyala.


"Telepon dari rumah nyonya Mingguana," sahut Hanaria balas menatap Willy. Seribu pertanyaan terlintas dibenaknya, tidak biasanya Firlita menelpon menggunakan telepon rumah ibu mertuanya batinya.

__ADS_1


"Hallo Fir," sapa Hanaria, sambil memegang erat ponsel yang menempel pada daun telinganya.


"Hallo nona Hanaria, saya bi Narsih," terdengar suara bibi Narsih dari seberang sambungan telepon dengan nafas memburu.


"Iya bi Narsih, ada apa?" tanya Hanaria berusaha berfikkr positif.


"Maafkan saya Nona Hana, sebenarnya tadi saya menelpon nyonya Mingguana, tapi beliau tidak mengangkatnya, mungkin sedang sibuk. Jadi saya-, saya terpaksa menelpon Nona saja," ucap bibi Narsih menggantung ucapannya, ia merasa ragu untuk menyampaikan berita yang ia bawa. Tapi ini sangat darurat, ia tidak mungkin menundanya.


"Katakanlah Bibi, ada apa? Nanti saya akan menyampaikannya pada nyonya Mingguana saat saya sudah berada di kantor," ucap Hanaria tenang.


"I-itu Nona, nona Firlita-," kata-kata bibi Narsih kembali terputus, nada suaranya kini terdengar bergetar, kerongkongannya terasa tercekat saat ingin melanjutkan kalimatnya.


"Cepat katakan Bibi! Jangan membuatku takut!" Suara Hanaria langsung meninggi, ia semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dirumah nyonya Mingguana saat pelayan rumah itu menhebut nama adik angkatnya.


Wajah tegang Hanaria tidak luput dari perhatian Willy yang sejak tadi memperhatikannya. Entah kabar apa yang didengar isterinya itu, hingga ekspresi wajahnya terlihat tidak enak dipandang mata.


"N-nona Firlita baru saja terjatuh dari lantai atas. C-cepatlah kemari Nona, s-saya takut nona Firlita tidak tertolong." jelas bibi Narsih tersendat-sendat, rasa takut masih menyelimutinya.


Lutut Hanaria langsung terasa lemas, ponselnya yang menempel pada daun telinganya terjatuh begitu saja ke lantai, karena tenaganya yang mendadak hilang.


"Apa yang terjadi Hana?" tanya Willy khawatir sambil merangkul punggung isterinya supaya tidak terjatuh dari duduknya.


"Firlita, dia-, dia jatuh dari lantai atas rumah nyonya Mingguana Willy," ungkap Hanaria dengan suaranya yang hampir menangis.


"Tapi kau belum makan Hana," Cegah Willy yang khawatir pada kondisi isterinya itu.


"Aku sudah tidak lapar. Bagaimana aku bisa makan kalau adikku sedang sekarat Willy?" Kata Hanaria menahan tangisnya dengan sekuat tenaga.


"Kita pesan ambulance saja Hana, tidak mungkin kita bisa membawa Firlita kerumah sakit dengan cepat dengan mobil milik kita," tanpa menunggu jawaban isterinya, Willy segera menelpon pihak rumah sakit milik keluarganya.


Setelah selesai menelpon, Willy berjongkok untuk mengambil ponsel Hanaria yang sempat terjatuh bebas dilantai kantin. Ia segera menekan nomor pada panggilan masuk diponsel Hanaria.


"Hallo, rumah kediaman keluarga nyonya Mingguana Alhandra Liem," terdengar sapaan seorang wanita dari seberang sambungan telepon.


"Bibi, ini saya, Willy. Sebentar lagi akan datang satu unit ambulance kesana untuk mengantarkan Firlita kerumah sakit," kata Willy memberitahukan.


"Dan satu lagi, berusahalah menelpon nyonya Mingguana, supaya beliau bisa menyusul menantunya ke rumah sakit Agatsa Hospital," imbuh Willy.


"Baik tuan Willy, terima kasih." sahut bibi Narsih dari seberang sambungan telepon.

__ADS_1


Setelah menutup sambungan telepon, Willy segera menghampiri Hanaria yang tengah membayar tagihan dirinya dikasir.


"Kau sudah selesai?" tanya Willy pada isterinya.


"Iya." sahut Hanaria.


"Baiklah, kita langsung kerumah sakit sekarang," Willy menyerahkan ponsel Hanaria yang dipegangnya, setelahnya keduanya bergegas meninggalkan kantin menuju parkiran.


Didalam mobil, tidak sepatah katapun keluar dari mulut Hanaria. Sesekali Willy melirik kearah isterinya yang duduk membisu dan menatap kosong kedepan. Willy dapat merasakan kekhawatiran yang tengah dirasakan oleh Hanaria, itu sebabnya ia ikut berdiam diri, berusaha berkonsentrasi penuh pada kemudinya supaya dapat segera tiba dirumah sakit mendahului ambulance yang membawa Firlita.


Wiuuu! Wiuuu! Wiuuu!


Baru saja Willy memarkirkan mobilnya, suara sirene ambulance terdengar lantang memasuki area rumah sakit.


Hanaria keluar dengan tergesa-gesa dari dalam mobil, dengan berlari cepat ia menghampiri ambulance. Para perawat dengan sigap segera mengeluarkan Firlita yang tengah terbaring tidak berdaya diatas kereta pasien. Sementara Willy ikut berlari menyusul Hanaria.


"Mohon maaf Nona Hana, kami harus segera membawanya ke ruang tindakan," ujar salah seorang perawat.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya," kata Hanaria yang mulai berurai air mata. Ia menatap Firlita yang mengalami pendarahan di area kepalanya, sementara alat oksigen sudah terpasang dihidungnya untuk membantu pernapasannya.


"Baik Nona," sahut sang perawat itu. Dengan gerakan cepat, para perawat itu mendorong kereta pasien Firlita sambil berlari.


Hanaria turut mengejarnya dikuti Willy disampingnya. Firlita membuka sedikit matamya, tatapan sayunya membuat tangis Hanaria meledak, tidak tahan menahan gejolak kesedihan didalam dadanya yang bercampur rasa khawatir dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada adik angkatnya itu.


Tepat didepan pintu ruang tindakan, tangan lemah Firlita melambai, memberi isyarat untuk berhenti sambil terus menatap wajah Hanaria yang mengejar dirinya yang dibawa para perawat.


"Ka-kak," panggil Firlita dengan suara lemahnya.


"Nona, Anda dipanggil," kata seorang perawat memberi kesempatan Firlita untuk bicara.


"Katakan, kenapa ini bisa terjadi padamu Filita?" tanya Hanaria berusaha menghentikan tangisnya supaya suaranya terdengar jelas oleh Firlita.


"Ma-he-n-dra-, dia ya-ng men-do-rong-ku kak," kata Firlita tersendat-sendat.


Hanaria berusaha menahan amarah didalam dadanya ketika mendengan nama Mahendra disebut, ia menyentuh pelipis Firlita yang juga berdarah, sambil tetap mendengarkan kata-kata Firlita dengan baik.


"Di-a ma-rah, sa-at ta-hu a-ku me-ng-am-bil ram-but-nya di-am di-am," Sàmbung Firlita lagi masih dengan suara lemahnya yang tersendat-sendat.


"Filita!!" teriak Hanaria, tatkala melihat kepala adiknya itu terkulai lemah setelah selesai bicara, bola matanya terbaik, dan terlihat putih.

__ADS_1


"Maaf Nona, kami harus segera membawanya untuk melakukan tindakan," kata seorang perawat. Dan seorang dokter yang baru tiba pun segara ikut masuk ke ruang tindakan bersama para perawat yang membawa Firlita.


...***...


__ADS_2