
Saat Rosalia kembali, Willy sudah menunggunya, ia terlihat sedang mencari sesuatu dengan wajah paniknya.
"Rosa, apakah kau melihat ponsel dan tabletku, tadi kuletakan diatas meja sini?" Tanya Willy, ia masih mencari dengan merunduk kebawah meja.
"Ini...... ponsel dan tabletmu..... Jangan khawatir, aku sudah mengamankannya didalam tasku." Ucap Rosalie. Ia mengeluarkan ponsel dan tablet Willy dari dalam tasnya.
"Syukurlah....... Terima kasih Rosa....... " Willy langsung menyambar dua benda yang tidak pernah jauh dari dirinya itu sambil menyunggingkan senyumnya.
"Sebenarnya aku mau mengerjaimu tadi..... Tapi aku tidak tega melihat wajahmu yang sudah panik itu." Rosa kembali duduk dikursinya, ia memandang Willy yang memeriksa beberapa pesan masuk diponsel dan tabletnya.
"Sekarang kita pulang, aku sudah kenyang, mau istirahat, tubuhku lelah." Rosalia terlihat menguap, sehabis makan malam bawaannya selalu demikian, ingin cepat tidur.
"Tidak bisa......! Enak saja cepat pulang...... ! Kita belum mengobrol...... Nanti kau menyesal, tidak bisa bertemu denganku untuk beberapa saat lamanya." Gerutu Willy melihat wajah Rosalia yang terlihat lelah.
"Memangnya kau mau kemana Willy? Sampai - sampai aku tidak bisa bertemu dirimu." Tanya Rosalia dengan wajah yang mulai mengantuk.
"Lusa, aku akan kedusun." Sahut Willy sambil memainkan ponselnya diatas meja, memindahkan benda pipih itu secara bergantian ketangan kanan dan kirinya.
"Untuk apa? Apakah urusan pekerjaan?" Tanya Rosalia, masih dengan wajah mengantuknya.
"Bukan...... Menjalankan misi daddy dan mommy......." Sahut Willy lesu.
"Misi daddy dan mommy kembar? Maksudnya??" Tanya Rosalia tidak mengerti.
"Mommy dan Daddy memintaku bertanggung jawab pada gadis itu dengan cara menikahinya. Yah, aku patuh saja, sepertii pesan konyolmu malam itu. Ternyata dia ngelunjak, disuruhnya kami kedusun menemui kedua orang tuannya. Kan bisa saja mereka diminta kemari......" Jelas Willy dengan nada malas.
"Terus mommy dan daddy kembar setuju??" Tanya Rosalia mulai penasaran.
"Iya, itu sebabnya aku disuruh kedusun besok. Karena masih ada yang perlu ku beresin besok dikantor, jadi lusa aku baru bisa berangkat. Aku merasa sangat direpotkan dengan masalah seperti ini......" Keluh Willy.
"Willy....... Pantas mommy dan daddy kembar memarahimu. Masa kau tidak mengerti tata cara meminang anak gadis orang. Pihak laki - lakilah yang harus datang terlebih dahulu kerumah keluarga pihak perempuan untuk melamar, bukan sebaliknya." Rosalia mengibaskan baju dokter yang ia pegang ditangannya kepunggung Willy dengan gemas. Willy hanya acuh menerima perlakuan Rosalia, karena tidak merasa sakit.
__ADS_1
"Maksudku...... Orang tua Hanaria itu datanglah kekota, menginap dirumah anaknya, nona Hanaria. Lalu kami kesana untuk melamar, kan beres, tidak buang - buang waktu." Sahut Willy enteng.
"Itu sama saja Willy...... Sama saja mereka yang mendatangi kalian secara tidak langsung, tidak bisa begitu. Aku juga setuju dengan nona Hanaria..... Kau, dan orang tuamu memang harus datang kerumah orang tuanya yang ada didusun, mereka kan memang tinggal disana. Kalau dikota ini, itu kan rumah nona Hanaria, bukan rumah orang tuannya....... Itu namanya mengambil anak gadis orang, ada aturannya sendiri, tidak seenak palamu Willy, memang tidak mudah." Ujar Rosalia masih dengan nada gemesnya.
"Kau boleh saja bilang setuju dengan cara gadis itu Rosa...... Tapi, kalau kau dengar 10 syarat lagi yang diajukannya, setelah orang tuanya menyetujui pernikahan kami, aku yakin kau akan menyesal telah mengatakan kata - kata bijakmu barusan." Ucap Willy merasa yakin.
"Memang persyaratan apa?" Tanya Rosalia ingin tahu.
"Point 1, satu unit mansion diatas lahan seluas 20 ribu meter persegi, dibangun didusunnya, untuk orang tuannya."
"Point 2, uang tunai 1 triliun, dibawa kerumah orang tuanya." Ucap Willy yang merasa sangat hafal pada dua point pertama itu.
Mata Rosalia langsung membulat dengan mulut terbuka, membuat Willy puas melihat reaksi sahabatnya itu, dari awal ia yakin, sahabatnya itu pasti memiliki respon yang sama seperti dirinya.
"Serius?? Nona Hana mengajukan permintaan seperti itu??" Tanya Rosalia dengan wajah tidak percaya.
"Serius......!! Kaget kan, dia mintanya memang begitu......! Itu perempuan dusun mata duitan juga rupanya...... matre juga! Sok......!. " Timpal Willy berapi - api.
"Rosa.......?!" Panggil Willy sambil menepuk pipi Rosalia yang masih terbengong dengan tatapan menerawang. Ia merasa puas melihat reaksi Rosalia sahabatnya, seperti yang memang ia harapkan, berarti ada pendukungnya, fikirnya.
Rosalia menatap Willy, tapi dirinya masih belum move on dari rasa keterkejutannya. Melihat itu, Willy bersiap menyampaikan 8 point lagi yang masih harus ia katakan.
"Ini 8 point berikutnya......." Willy memperlihatkan ponselnya pada Rosalia, karena ia tidak mampu menghafal urutannya.
Rasa kantuk Rosalia yang menyerangnya tiba - tiba hilang begitu saja. Dengan cepat, ia menatap ponsel Willy yang memperlihathan lembar kertas tulisan tangan Hanaria yang sempat Willy abadikan diponselnya itu.
Mata Rosalia kembali membola, sepatah katapun tidak sanggup keluar dari mulutnya, saat membaca ponit ketiga, keempat, kelima, hingga kesepuluh. Willy tersenyum sinis, ia yakin dirinya tidak sendiri, sahabatnya Rosalia, pasti sepaham dengan dirinya sekarang.
"Mommy dan daddy kembar....... Apakah mereka setuju dengan itu Willy??" Tanya Rosalia memastikan.
"Setuju.....! Itu sebabnya mereka langsung memintaku menjalankan misi itu, berangkat kedusunnya nona Hanaria, menginap dirumah paman Arya ayahnya mas Reymon."
__ADS_1
"Dan lebih kejamnya lagi...... Daddy menyuruhku membiayai semua acara pernikahan itu, juga persyaratan yang diajukan nona Hanaria itu dengan hasil keringatku sendiri, supaya kelak, setelah aku menikah, tidak berani mempermainkan pernikahanku."
"Uang dari mana?? Tabunganku saja tidak sebanyak permintaan nona Hanaria, tidak cukup.....! Kita pulang dari luar negeri juga belum setahun kan, aku baru bekerja beberapa bulan ini, baru bisa menabung sedikit. Kalau aku sih, maunya mundur saja...... Tapi mommy dan daddy tetap bersikeras. Entah apa yang mereka fikirkan, aku tidak mengerti. Atau nona Hana sudah menghifnotis mommy dan daddy, sehingga mengikuti apa saja yang diinginkan dirinya"
"Sepertinya ia sengaja ingin memoroti diriku. Tapi aku yakin, rencana buruk gadis itu, tidak akan berhasil." Willy mulai berspekulasi dengan pemikirannya sendiri.
"Willy......." Lirih Rosalia, Willy langsung menoleh, menatap kearah Rosalia yang memandangnya.
"Menurutku...... Kau salah bila berfikir nona Hana ingin memoroti dirimu." Ucap Rosalia pelan, dan menatap lekat wajah Wily yang duduk santai dihadapannya.
"Aku tidak salah..... Tidak ada mas kawin sebanyak yang ia ajukan itu Rosa, apalagi untuk gadis dusun sekelas dirinya itu, ia menghargai dirinya itu dengan harga SELANGIT. Siapa yang mau??!" Sahut Willy dengan nada mencemooh.
"Itulah dirimu...... Berfikir dangkal Willy...... " Willy terdiam, ia menatap wajah Rosalia yang sedang menatapnya serius, ia merasa ucapan Rosalia sama dengan ibunya.
"Seperti katamu..... nona Hanaria memang menghargai dirinya sendiri dengan harga yang setinggi LANGIT. Dan kau Willy....... Kau sebenarnya sudah dianggap oleh nona Hanaria seorang laki - laki yang TIDAK LAYAK mendapatkan dirinya. Karena dia tahu bahwa kau pasti tidak sanggup memenuhi persyaratannya, lalu mundur teratur, seperti katamu tadi Tapi momy dan daddy kembar mendorongmu bukan?? Supaya kau berupaya mendapatkannya. Karena mereka tidak mau mempunyai anak kebanggaan yang dianggap TIDAK LAYAK mendapatkan gadis itu. Mungkin itu, mommy dan daddy kembar menyuruhmu membiayai semua pernikahanmu dan persyaratan yang diajukan nona Hanaria dengan hasil keringatmu sendiri, yang kau sebut kejam itu."
"Daddy mu bukan orang biasa Willy, permintaan nona Hanaria itu perkara kecil bagi beliau untuk memenuhinya. Tapi Harga diri daddymu itu sebagai ayahmu sedang dipertaruhkan, karena anaknya yang menjadi penerus bisnis keluarga Agatsa dianggap TIDAK LAYAK mendapatkan seorang isteri, yang bahkan pernah disentuh putranya." Tutur Rosalia panjang lebar.
"Maafkan aku, bila ini tidak enak kau dengar Willy, aku berusaha menyampaikan apa yang aku fikirkan" Tambah Rosalia.
Wajah Willy merona mendengar perkataan Rosalia yang seolah menelanjangi keangkuhannya.
"Itu hanya pendapat dan pemikiranmu saja Rosalia, tidak mungkin gadis itu berfikir menghargai dirinya sehebat dan setinggi itu." Willy berusaha menepis perkataan Rosalia yang terlalu tinggi tentang Hanaria, pegawainya itu.
"Besok..... Saat kau kekantor, perhatikan dirinya baik - baik Willy. Bila dia sangat menginginkanmu, dan mau memorotimu, kau bisa lihat, dia akan terlihat gelisah, atau berusaha mencari perhatianmu, karena takut kau atau orang tuamu berubah fikiran."
"Tapi bila kejadiannya sebaliknya...... itu tandanya dia tidak menginginkanmu, karena kau dianggap TIDAK LAYAK untuknya, dan bahkan dia berharap, kau akan mundur teratur."
Willy kembali terdiam, saat mendengar perkataan Rosalia yang tanpa menimbang perasaannya. Kenapa hatinya tiba - tiba merasa sesakit itu, bila memikirkan hal itu benar??
...***...
__ADS_1