HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
143. Perkenalan Keluarga Besar


__ADS_3

Hanaria berputar- putar melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin lemari pakaiannya.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan hanya untuk menghadiri sarapan bersama? ungkap Hanaria sambil memperhatikan gaun mewah yang berwarna senada dengan sepatu high heels yang ia kenakan.


"Menurutmu?" Willy balik bertanya dengan wajah datarnya sambil menunggu Hanaria yang masih sibuk melihat dirinya sendiri didepan cermin.


"Entahlah, apakah aku terlihat pantas?" Hanaria berhenti sejenak dari kegiatanya. Ia menatap kearah Willy yang sedang memperhatikannya dari tempat duduknya. Ini kali pertama ia mengenakan gaun seindah ini setelah pernikahannya beberapa hari yang lalu didusun.


"Tentu saja kau pantas, kau isteriku," sahut Willy. Ia bangkit dari duduknya lalu mendekati Hanaria.


"Sekarang, duduklah disini, dan jangan bergerak." Willy membawa Hanaria dan mendudukannya dikursi meja riasnya.


Diatas meja rias, beberapa alat kosmetik sudah tertata rapi dan siap untuk digunakan pemiliknya.


Hanaria juga memperhatikan deretan lipstik, dengan beberapa pilihan warna, ada Merah gelap, pink rose, cokelat tembaga, peach, magenta, dan nude. Pewarna bibir itu secara khusus memang dipesan sesuai warna kulit Hanaria yang sawo matang, fikir Hanaria didalam hati.


"Aku sudah memoles wajahku,' ungkap Hanaria yang seakan mengerti apa tujuan Willy mendudukannya didepan meja rias itu.


"Aku tahu," sahut Willy. Ia berdiri tepat dibelakang Hanaria sambil memperhatikan wajah isterinya itu dengan bantuan cermin rias dihadapan mereka.


Willy mengulurkan tangannya dan meraih lipstik berwarna pink rose. "Angkat dagumu sedikit, dan buka juga sedikit bibirmu," ucap Willy yang telah berpindah disamping Hanaria.


Walau merasa agak ragu, tapi Hanaria akhirnya menurut, ia berusaha patuh, tidak mau banyak membantah seperti yang biasa ia lakukan dahulu.


Pasrah, itulah yang sedang Hanaria jalani sekarang ini, saat Willy akan menjadikannya kelinci percobaan. Ia hanya ingin menghindari masalah, itu sebabnya dirinya mematuhi suaminya itu, apalagi sekarang ia berada dirumah orang tua Willy, lebih tepatnya dirumah keluarga Agatsa.


Willy mulai memoles bibir Hanaria dengan perlahan. Sementara Hanaria hanya merasakan gerakan- gerakan ujung lipstik pada bibir atas dan bawahnya sambil memperhatikan wajah Willy yang melakukannya dengan serius.


"Selesai," ucap Willy sambil melihat hasil polesan lipstik yang ia tempelkan dibibir isterinya itu.

__ADS_1


"Jangan bergerak, masih belum selesai," kata Willy lagi, saat Hanaria ingin membenarkan posisi duduknya.


Kembali Hanaria menurut, saat Willy menyapu bulu matanya dengan maskara. Ia bisa melihat wajah Willy yang semakin menawan pada jarak yang sangat dekat.


Indera penciuman Hanaria-pun dapat menghirup aroma wangi yang keluar dari tubuh Willy karena jarak mereka yang memang sangat dekat.


Dari awal mengenal Willy, hingga kini telah menjadi suaminya, tidak pernah ia melihat pria itu berpenampilan asal- asalan. Ia selalu terlihat rapi, bersih, dan juga wangi.


"Bulu matamu sudah selesai, sekarang tinggal sedikit polesan blush on dipipimu," ucap Willy lirih, seraya mengambil kosmetik selanjutnya setelah meletakkan maskara diwadahnya.


Hanaria tetap menurut. Apapun hasilnya ia akan tetap pasrah. Sekalipun Willy akan menjadikan dirinya badut ditengah- tengah keluarga dan para pelayannya, Hanaria bertekad tidak akan protes.


"Sudah selesai, sekarang lihat wajahmu dipantulan cermin itu," ujar Willy. Ia membereskan beberapa kosmetik yang sudah ia pakai untuk mendandani isterinya itu dan merapikannya kembali seperti awal sebelum digunakan.


"Bagaimana mungkin?" Hanaria terkesiap saat melihat wajahnya, sama sekali jauh dari bayangannya sebelumnya.


"Kau tidak suka?" tanya Willy. ia ikut memperhatikan wajah Hanaria yang ada didalam cermin dihadapan mereka.


"Bagaimana kau bisa melakukannya, apa kau-," Hanaria menggantung ucapannya, tidak berani meneruskan, karena ia sudah bertekad untuk berusaha tidak membuat masalah lagi dengan suaminya itu.


"Tidak usah berfikir yang bukan-bukan, sejak kecil aku sering melihat mommy dan bibi Margareth berdandan." ucap Willy yang seolah tahu apa yang ada dalam fikiran Hanaria.


"Ayo, kita sudah ditunggu," Willy membantu Hanaria untuk berdiri dari duduknya, secepat kilat ia menyemprotkan parfum yang ia ambil dari atas meja rias ke beberapa bagian tubuh Hanaria.


Dengan sigap, Willy menarik tangan Hanaria untuk menggandeng lengan kirinya. Lalu keduanya berjalan keluar dari kamar itu.


"Ingat, mulai sekarang, kau tidak boleh berpenampilan sesukamu, seperti saat kau belum menikah denganku dulu. Aku ingin kau selalu terlihat rapi, bersih, wangi, dan juga-, cantik mulai hari ini,' kata Willy sambil melirik Hanaria yang berjalan disampingnya, wajah isterinya itu mendadak lesu.


"Tapi aku, aku tidak bisa berdandan," keluh Hanaria, ia merasa apa yang Willy katakan seperti beban baru yang berat baginya.

__ADS_1


Memang selama ini, Hanaria selalu tampil rapi, bersih, dan sedikit wangi, karena menyesuaikan isi kantongnya, dan hanya berdandan ala kadarnya saja.


"Aku akan mencari seorang penata rias untuk mengajarimu," ujar Willy.


Hanaria fokus pada langkahnya saat ia dan Willy mulai menuruni anak-anak tangga menuju lantai dua dibawahnya.


"Selamat pagi tuan muda Willy dan nona Hanaria," sambut bibi Nani, saat dua pengantin baru itu memasuki ruang makan yang cukup luas.


"Selamat pagi juga bibi," Sahut Willy dan Hanaria hampir bersamaan.


Bibi Nani dan beberapa pelayan wanita yang berdiri berjejer bersamanya membungkuk hormat saat Willy dan Hanaria berlalu melewati mereka.


Hanaria mengeratkan pegangan tangannya pada lengan kiri Willy yang ia gandeng saat melihat dimeja makan itu sudah penuh dengan keluarga besar Agatsa yang telah menunggu mereka.


"Willy, Hana kemarilah," Panggil Yurina pada anak dan menantunya itu, yang baru saja tiba.


Willy dan Hanaria langsung mendekati Yurina dan Moranno, lalu keduanya mencium punggung tangan Yurina dan Moranno secara bergantian.


"Hana, perkenalkan, ini bibi Margareth dan paman Harry," kata Yurina, sambil menunjuk sepasang suami isteri disebelahnya.


"Mereka berdua adalah orang tua Edrine dan Edwar." imbuh Yurina.


"Kau pasti sudah mengenal bibi Margareth 'kan Hana? Kemarin ia menyempatkan diri datang pada pernikahan kalian didusun. Sedangkan paman Harry ini, adalah sepupu mommy, ia tidak sempat hadir karena sibuk memburu dolar," Ujar Yurina melirik kakak sepupunya itu sambil tertawa kecil.


"Salam untuk paman dan bibi," ucap Hanaria berusaha tidak gugup, sambil menyatukan sepasang tangannya didada. Willy dan Hanaria lalu mendekati keduanya dan mencium punggung tangan mereka satu persatu.


"Selamat ya buat kalian berdua," ucap Harry ramah sambil tersenyum.


"Terima kasih paman," sahut Hanaria dan Willy hampir bersamaan.

__ADS_1


"Ini, oma Agatsa, pemilik rumah besar ini, kau pasti sudah sangat mengenalnya Hana," Yurina mendekati ibu mertuanya diikuti Willy dan Hanaria. Kembali kedua pengantin baru itu mencium punggung tangan nyonya Agatsa. Wanita tua yang sangat disegani Hanaria itu tersenyum tipis sambil menyentuh kepala Willy dan Hanaria lalu mengucapkan doa untuk keduanya.


"Nah, ini kakek dan nenek Morgan, orang tua mommy," Ucap Yurina, ia kembali memperkenalkan sepasang suami isteri yang usianya terlihat tidak jauh berbeda dengan nyonya Agatsa, nenek Willy.


__ADS_2