HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
159. Kelopak-Kelopak Mawar


__ADS_3

"Apa benar suamiku itu mencintaiku?" gumam Hanaria tersenyum-senyum seorang diri. Ia terus menghirup aroma wangi kelopak-kelopak mawar segar itu sambil berputar-putar disisi tempat tidur dan menghamburkan kelopak-kelopak mawar itu ke udara dari tangannya.


Jujur saja, belum pernah ia diperlakukan seorang pria semanis dan seistimewa ini, membuat perasaan hatinya berbunga-bunga. Semanis itukah cinta? Yang membuat riak-riak dihatinya semakin dikuasai euforia.


"Ah Willy, kenapa tidak ada wajah lain di kepalaku sekarang selain wajah tampanmu itu," desah Hanaria, ia masih tersenyum membayangkan wajah suaminya yang kini selalu terbayang itu.


"Ini memalukan, bagaimana kalau dia sampai tahu kalau aku tanpa henti memikirkan dirinya? Oh tidak, mau taruh dimana wajahku ini," ucap Hanaria tersipu sendiri dan bermonolog pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya dengan kedua tangannya, berusaha menyadarkan dirinya dari perasaan aneh yang mulai menghanyutkan imajinasinya itu.


Hanaria meninggalkan ranjang yang penuh mawar-mawar cinta itu dengan senyum yang masih terus merekah diwajahnya, menuju kamar mandi yang tertutup rapat.


Saat ini ia harus segera mandi fikirnya, demi menghilangkan perasaan-perasaan aneh dihatinya yang terus menjalar mengikuti aliran-aliran darahnya. Mungkin perasaan-perasaan aneh yang mendera hatinya itu akan kembali normal bila sudah tersiram air dingin dari kran shower kamar mandi, fikirnya lagi.


Tangan Hanaria menyentuh knop pintu kamar mandi, ia mendorongnya perlahan. Begitu pintu terbuka, matanya disuguhkan dengan pemandangan sepasang angsa putih dengan paruh yang saling bersentuhan hingga terlihat membentuk gambar hati diletakan sangat rapi diatas meja wastafel, yang langsung berhadapan dengan pintu kamar mandi.


Sementara seluruh bagian kamar mandi itu hingga ke bak mandi, seperti sengaja ditabur ribuan kelopak-kelopak mawar putih.


Hanaria memajukan langkahnya mendekati wastafel, dengan sedikit berjongkok ia menyentuh kreasi handuk yang dibentuk menjadi sepasang angsa putih itu dengan jarinya.


Hatinya kembali dipenuhi euforia, bagaimana tidak, niat hati masuk kekamar mandi untuk menghilangkan getar-getar hati yang tidak ia fahami, tapi malah membuat getarannya semakin bertambah menjadi-jadi.


Setelah puas menyentuh sepasang angsa putih yang terlihat manis itu, Hanaria melangkah menuju bak mandi yang dibatasi dinding kaca, sambil melepaskan pakaian ditubuhnya, dan membiarkannya tercecer begitu saja dilantai menimpa kelopak-kelopak mawar putih yang bertebaran disana.


Hanaria menenggelamkan tubuhnya disana, dibawah kelopak-kelopak mawar yang mengambang dipermukaan air bak mandinya. Sensasi berendam sambil memainkan kelopak-kelopak mawar yang menebarkan aroma wanginya membuat Hanaria sangat menikmati aktifitas mandinya disore itu.


Setelah dirasa tubuhnya kedinginan karena terlalu lama berendam, Hanaria naik kepermukaan, menyudahi kegiatan mandinya yang istimewa baginya. Tubuhnya terasa lebih nyaman dan segar dari sebelumnya.


Hanaria merasa sayang merusak sepasang angsa putihnya, tapi apa boleh buat, hanya itu handuk yang ada dikamar mandi. Setelah mengenakan handuknya, ia segera keluar dari kamar mandi dan mulai berdandan didepan meja riasnya.


Merasa sudah cukup memoles wajahnya, Hanaria segera menuju lemari pakaiannya, memilih gaun yang cocok untuk dikenakannya senja itu.


Walau sempat bingung, karena semua pakaian yang ada didalam lemari pakaian itu adalah hasil pilihan sang ibu mertua yang mempersiapkan bulan madu dirinya dan Wily, akhirnya ia memilih satu gaun berwarna silver mengkilap berbahan sutera lembut.


"Gaun ini indah sekali," gumam Hanaria sambil membolak-balik, dan memperhatikan keseluruhan tampilan gaun itu.

__ADS_1


"Tapi sayang sekali, kenapa model gaun-gaun ini seperti ini?" keluh Hanaria.


Hanaria mengenakan gaunnya. Ia mematut dirinya didepan cermin, melihat tampilannya seperti wanita penggoda membuatnya hampir menangis.


"Seharusnya aku memeriksa dulu hasil belanjaan mommy? Sepertinya mommy tidak tahu selera berpakaianku," sesal Hanaria yang memepercayakan sepenuhnya pada ibu mertuanya itu untuk menyiapkan barang-barang keperluannya selama di Villa.


Hanaria keluar dari kamarnya, ia terpaksa membiarkan rambutnya tergerai hingga menutupi punggungnya yang terbuka. Dengan hati-hati ia menuruni anak- anak tangga dengan sepatu yang ia kenakan senada dengan gaun seksinya.


Aroma masakan Willy sudah tercium memenuhi ruang makan yang Hanaria masuki, membuat dirinya langsung merasa lapar.


Willy masih sibuk menata meja dihadapannya lengkap dengan celemek masak yang masih terpasang ditubuh bagian depannya. Ia tidak menyadari kehadiran Hanaria yang sudah berdiri dibelakangnya memperhatikan gerak-geriknya seperti seorang koki profesional.


Hanaria melirik sajian diatas meja, membuat perutnya langsung berbunyi minta segera diisi.



Steak daging saos asam manis




Ikan Kakap Panggang



Sambel Belimbing



Fuyunghai Asam Manis


"Kau sudah ada disini?" tanya Willy yang baru saja membalikkan tubuhnya, mendapati Hanaria berdiri mematung dibelakangnya menatap meja makan.

__ADS_1


Ia menatap sejenak penampilan Hanaria, membuat isterinya itu merasa kikuk menerima tatapannya.


"Ayo duduk," Willy langsung menarik kursi untuk Hanaria duduk.


"Terima kasih" ucap Hanaria lirih. Ia mendudukan dirinya pada kursi yang telah disediakan oleh Willy untuknya.


"Ayo kita makan, kau pasti sudah lapar kan karena lama berendam di bak mandi," ucap Willy sambil mengulas senyum tipisnya dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Hanaria.


"Makanannya banyak sekali," ucap Hanaria memandangi sajian diatas meja.


"Aku sengaja masak sebanyak ini, bukankah kita memerlukan energi yang banyak malam ini?" ucap Willy, tangannya sambil memasukan nasi kedalam piring.


"E-energi?" ucap Hanaria tergagap mendengar perkataan Willy yang mencurigakan.


"Iya, energi. Kenapa? Kau sepertinya merasa aneh dengan kosakata itu?" Willy sengaja melontarkan pertanyaannya untuk melihat reaksi Hanaria.


"T-tidak, biasa saja," sahut Hanaria pura-pura acuh, namun menyembunyikan rasa was-wasnya, ia berusaha tenang, tapi hatinya bergejolak.


"Aku ingat kau suka ikan, jadi aku memasakanmu ikan kakap panggang," Ucap Willy sambil menggeser piring saji berisi ikan kakap panggang yang utuh, dan sepiring nasi putih kehadapan Hanaria.


"Terima kasih," lirih Hanaria.


"Sebelum kau memakan ikan-mu itu, coba cicipi ini dulu," Willy menyodorkan steak daging kecap kemulut Hanaria mengunakan garpu ditangannya yang telah ia potong kecil.


Hanaria membuka mulutnya dan menarik daging dari garpu yang masuk kemulutnya. Willy menatap wajah Hanaria yang sedang mengunyah makanannya.


"Bagaimana? Apakah tidak enak?" tanya Willy dengan wajah penuh tanya.


"Eum, ini enak, tekstur dagingnya lembut dan cita rasanya sangat pas dilidah," ucap Hanaria masih terus mengunyah, menikmati steak daging kecap hasil olahan suaminya itu.


"Syukurlah, kalau menurutmu enak," Willy tersenyum lega, dan kembali memotong daging dari piring saji yang satunya lagi.


"Sekarang coba cicipi ini lagi steak daging asam manis buatanku," Willy kembali menyodorkan daging yang sudah ia potong kecil kemulut Hanaria. Wanita itu kembali menerima potongan daging yang diberikan Willy padanya, menggigit dan mengunyahnya perlahan.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Willy penasaran, ia menatap wajah Hanaria yang tidak langsung menjawab pertanyaannya.


__ADS_2