HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
287. Ada Apa Dengan Para Wanita Di Rumah Ini?


__ADS_3

"Daddy, apa benar kak Billy akan menikah setelah pulang dari tugasnya di perbatasan?" Willy sangat penasaran mengetahui kebenarannya cerita itu saat mendengar obrolan neneknya tadi bersama Hartawan.


"Entahlah Willy, Daddy juga kaget dan baru mendengarnya tadi. Kau tanyakan saja pada Oma-mu yang paling berkuasa menentukan semuanya di rumah ini. Bahkan Daddy yang adalah laki-laki yang menyebabkan kalian hadir didunia ini tidak dimintai pendapat," Moranno melipat kedua tangannya didada, melirik raut ibunya dengan tatapan ingin memprotes.


Nyonya Agatsa yang masih menatap kearah mobil Hartawan, Rosalia, dan mobil Rosalie yang berjejer rapi meninggalkan halaman rumah mereka perlahan berbalik ketika mendengar namanya disebut-sebut.


"Daddy-mu benar Willy, dirumah ini Oma-mu ini yang berkuasa untuk memutuskan apapun termasuk pernikahan cucu-cucu Oma," nyonya Agatsa menatap Willy yang masih menunjukan rasa penasarannya.


"Tanyakan saja apa yang ingin kau tahu Willy, mumpung malam ini cerah bertaburan bintang-bintang dengan udaranya yang sejuk," nyonya Agatsa menengadahkan wajahnya keatas, memperhatikan sejenak segala apa yang ada diatas sana.


"Oma, kak Billy itu sukanya dan cintanya hanya sama Rosa, kenapa harus dijodoh-jodohin sama gadis lain? Willy yakin kak Billy pasti bakalan menolaknya," Willy melepaskan tautan tangannya dari Hanaria lalu mendekati nyonya Agatsa yang sedang duduk dikursi taman dengan ibunya.


"Oma tahu itu Willy. Tapi bagaimana kalau tuan Hartawan tidak merestui? Apa kau pikir selama ini Oma tidak tahu bagaimana jendral keras kepala itu memperlakukan kakakmu bagai seorang pengemis cinta? Ketika datang selalu ditolak, dihukum, dan diusir!"


Willy mematung, ia tahu neneknya itu sedang marah tapi berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


"Oma tidak perduli bila dia melakukan itu dalam jam kerja, itu memang suatu keharusan dan tidak dapat diganggu gugat. Tapi bila dalam urusan pribadi ia masih bersikap dan bertindak sebagai seorang atasan pada bawahannya, maaf--, Oma tidak akan membiarkannya berlaku semena-mena pada anggota keluarga Agatsa. Kalau Oma mau, sekali tiupan napas Oma saja, dia sudah bukan siapa-siapa lagi dilingkungan kerjanya."


Baik Moranno, Yurina, Willy, dan juga Hanaria, hanya bisa terdiam mendengarnya.


"Dan untuk Billy, belum tentu kakakmu itu menolak pilihan Oma. Dia itu orang yang paling penurut dan patuh didalam keluarga Agatsa, tidak seperti dirimu dulu Willy, mau dinikahkan terlalu banyak alasan," nyonya Agatsa melirik dengan ekor matanya kearah cucunya itu.


"Jangan mengingatkan pada masa lalu Oma," Willy merasa malu dan melirik kearah Hanaria yang pura-pura tidak mendengar ucapan sang Oma.


"Lagi pula ini adalah ide anak mantu dan cucu mantu Oma," lanjut nyonya Agatsa lagi.


"Maksud Mommy?"


"Maksud Oma?"


Tanya keduanya hampir bersamaan.

__ADS_1


"Iya itu ide isteri kalian berdua. Ide Yurina dan Hanaria. Tugas Oma hanya mengeksekusinya," tunjuk nyonya Agatsa pada kedua menantu rumah itu.


"Stefhany, dia gadis cantik berdarah indo yang punya dada dan pinggul yang besar diatas rata-rata. Menurut Hanaria, bila ingin membuat hati Billy beralih dari Rosalia, harus mencari gadis seperti itu, yang lebih cantik, lebih menggoda dan lebih banyak unggulnya dari Rosalia," ungkap nyonya Agatsa lagi.


Willy dan Moranno kembali saling berpandangan, ayah dan anak itu menelan salivanya dengan susah payah.


"Daddy, ada apa dengan para wanita dirumah ini?" Willy masih menatap wajah ayahnya, mungkin saja ayahnya tahu sesuatu.


"Entahlah Willy, sebaiknya kita berdua harus bergegas pergi dari sini secepatnya," Moranno menggerakan ujung dagunya, memberi isyarat pada putranya untuk segera menyingkir dari sana.


"Ingat! Di keluarga ini para isterilah yang memegang kendali! Bila kalian para suami berani menentang keputusan kami, Oma pastikan kalian hanya mendapatkan ongkos bahan bakar saja untuk berangkat dan pulang berkerja!" nyonya Agatsa menyaringkan suaranya supaya Moranno dan Willy yang akan memasuki pintu rumah tetap bisa mendengar suaranya.


Dua laki-laki dewasa itu mendengarnya tapi tidak menoleh, selama ini mereka juga telah diperlakukan secara demikian, jadi itu bukan sesuatu hal yang baru, mengenaskan memang.


Setelah Moranno dan Willy sudah tidak terlihat, ketiga wanita beda generasi itu terbahak bersama. Hanya mereka bertiga saja yang tahu apa yang membuat hati mereka merasa senang saat itu.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2