HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 25 Tetap Menunggu


__ADS_3

Suasana tegang masih menghampiri kedua belah pihak keluarga. Hanaria yang duduk diantara kedua orang tuanya tidak berani bergerak sedikitpun, karena semua mata seolah tertuju padanya. Termasuk Reymon yang baru saja menyampaikan maksud tujuan hatinya bertandang kerumah keluarga pak Muri.


"Bagaimana Hana? Apa jawabanmu pada apa yang telah nak Reymon telah kemukakan dihadapan kita semua...." Kata pak Muri setelah sekian lama keheningan meliputi tempat itu. Suasana ruang tamu yang hanya diterangi pelita, membuat Hanaria sedikit terbantu untuk menyembunyikan rasa tegangnya yang semakin menjadi.


Reymon tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Hanaria. Sekalipun tatapan dan sikap pemuda itu terlihat tenang namun bagi Hanaria, itu tetap membuat dirinya merasa gelisah karena jawaban yang harus ia berikan.


"Saya setuju......" Tiba - tiba suara Hanaria tercekat ditenggorokannya, suaranya langsung terdengar parau, sambil terbatuk - batuk kecil.


"Kau setuju Hana??" Wajah Reymon langsung berbinar bahagia, demikian pula dengan kedua orang tua mereka.


"Maafkan saya mas Rey..... maksud saya.... saya setuju bila kita memang bersahabat sampai sekarang. Tapi saya belum bisa menyetujui kalau kita menikah.... Saya merasa mas Rey sangat baik pada saya seperti seorang kakak. Sehingga saya merasa, mas Rey seperti kak Jonly. Maafkan saya mas..... pak guru Arta..... juga bibi......" Ucap Hanaria yang sangat merasa tidak nyaman.


Gara - gara perkataannya yang tidak sengaja terputus akibat tenggorakan gatalnya, membuat semuanya salah memahami. Namun Hanaria tetap mengungkapkan apa yang ada dihatinya.


Suasana yang sempat cair sejenak, kini kembali menegang. Walau hanya diterangi sinar pelita yang nampak samar - samar, dapat terlihat wajah pak Muri dan ibu Muri yang merasa tidak enak mendengar jawaban putri mereka Hanaria.


Hanaria melirik wajah Reymon yang sudah mengungkapkan lamarannya malam itu padannya dihadapan kedua orang tua mereka. Pemuda berlesung pipit itu tertegun lama, seolah sedang memikirkan sesuatu apa yang harus ia sampaikan kemudian.


Sementara pak guru Arta dan isterinya hanya menanti dengan sikap tenang kelanjutan dari pembicaraan putra sulungnya itu.


"Sekali lagi..... saya minta maaf mas Rey, pak guru Arta.... dan juga bibi.... bila apa yang saya sampaikan ini kurang berkenan......" Ucap Hanaria lagi. Hanaria terpaksa membuka mulutnya lagi karena keheningan begitu terasa setelah penolakannya.


"Tidak apa - apa Hana..... mas mengerti, kau pasti sulit membedakan antara sahabat dan calon suami pada diri mas Rey kan? Kita memang bersahabat dan teman main sejak kecil, mas mengerti....." Reymon mengulas senyumnya, lesung pipitnya langsung unjuk diri dikedua pipinya.


"Tapi bila boleh.... mas Rey akan menunggumu, sampai kau bisa membedakan antara sahabat dan calon suami....." Tambah Reymon lagi.


"Jangan menungguku mas Rey, aku tidak bisa berjanji apa - apa....." Ucap Hanaria yang semakin tak enak hati pada pemuda itu.


"Apakah Hana sudah memiliki seseorang yang singgah dihati di kota sana, sehingga berkata seperti itu?" Tanya Reymon menatap lekat wajah gadis pujaannya itu.

__ADS_1


"Tidak ada mas....." Jawab Hanaria disertai gelengan kepalanya yang cepat.


"Kalau begitu, itu merupakan pertanda lampu hijau bagi mas Rey untuk tetap menunggumu Hana.... kecuali bila kau sudah memiliki seseorang dihatimu, mas akan mundur teratur." Ucap Reymon yakin.


Lidah Hanaria serasa kelu, ia dapat melihat kesungguhan pemuda itu untuk dapat memiliki dirinya, sikap dan perkataannya tidak berubah sejak pertama kali ia pernah mengungkapkan hal yang sama pada Hanaria hingga malam ini.


Hanaria menggenggam erat telapak tangan kedua orang tuanya, menggambarkan bahwa dirinya sudah tidak mampu berkata - kata lagi.


"Nak Rey..... maafkan Hanaria putri paman, bila malam ini belum bisa menerima lamaranmu. Paman mengenalmu sebagai pemuda yang baik dikampung ini, pasti banyak orang tua yang mau menjadikan diri nak Rey menantu, termasuk paman. Paman hanya bisa merestui saja bila suatu saat nanti kalian berdua ditakdirkan untuk berjodoh. Namun keputusan tetap paman serahkan pada Hanaria yang memiliki tanggung jawab pada dirinya sendiri dan yang akan menjalani keputusannya itu." Pak Muri akhirnya ikut berbicara setelah mendengar ucapan Reymon dan Hanaria.


"Iya paman, tidak apa - apa.... saya berharap,disuatu hari nanti saya bisa berjodoh dengan Hanaria, putri paman." Ucap Reymon lagi, semakin memastikan maksud hatinya yang bersungguh - sungguh.


"Saya juga.... sebagai ibunya Rey, dapat memahami sikap nak Hana.... Memang sebagai seorang perempuan, sangatlah tidak mudah bagi kita menerima lamaran seorang laki - laki, walaupun kita sudah mengenalnya. Bukan kah begitu bu Muri?" Kata ibu Arta ikut berbicara sambil melemparkan senyumnya.


"Iya bu Arta.....saya dan pak Muri juga dulunya begitu, ia datang berkali - kali bersama keluarganya baru saya bisa menerimanya...." Ucap bu Muri membenarkan, ia lalu tertawa kecil saat mengingat masa - masa itu.


"Iya itu benar pak guru Arta. Waktu itu saya penuh perjuangan untuk mendapatkan ibunya Hanaria, karena bukan saya saja yang menyukainya. Itu sebabnya, walau ditolak berkali - kali, saya tetap getol datang bersama kakak saya yang sekarang tinggal dikecamatan." Kekeh pak Muri, membuat pak Arta dan yang lainnya ikut terkekeh.


"Ternyata pengalaman kita tidak jauh berbeda." Pak Arta menimpali dan semakin terkekeh, ia tiba - tiba teringat masa lalunya saat melamar isterinya.


"Benarkah.....??" Ternyata jaman kita masih muda dulu sama saja ya pak guru Arta, sama - sama mengalami lamaran yang harus dilakukan berulang - ulang kali." Pak Muri semakin terkekeh, ingatan masa lalu membuat ia berasa muda kembali.


"Jadi nak Rey..... Bukan kau saja yang mengalami hal ini, kami sebagai orang tua juga telah lebih dulu mengalamainya saat kami masih muda dulu." Ucap pak Muri kembali terkekeh pada Reymon yang ikut tertawa mendengar ucapan mereka, hanya Hanaria yang terlihat masih sulit ikut tertawa, ia hanya bisa melemparkan senyumnya yang terlihat sedikit dipaksakan.


Biar bagaimanapun juga, Hanaria dapat merasakan, Reymon yang menyimpan rasa kekecewaan dibalik tawanya bersama kedua orang tua mereka. Namun pemuda itu sangat pandai menyimpan perasaanya. Hanaria sangat mengenalnya. Laki - laki itu terlalu lembut untuk disakiti, sehingga membuat Hanaria tidak mau memberinya harapan.


"Jadi Hana..... kau tidak perlu merasa tidak enak, ataupun merasa bersalah....." Kata ibu Arta melanjutkan ucapannya sebelumnya.


"Iya bibi......" Sahut Hanaria terdengar gugup.

__ADS_1


"Bila kita bertemu, tetap saja bersikap seperti biasanya. Tapi, bila suatu hari nanti kau memang berjodoh dengan putra bibi Reymon, bibi tentu senang sekali, dan itulah yang menjadi harapan kami Hana....." Lanjut ibu Arta masih dengan senyum hangatnya.


"Iya, terima kasih banyak bibi, atas pengertiannya." Ucap Hanaria masih terdengar gugup.


"Sepertinya malam sudah semakin larut, kami mohon diri dulu pak Muri, ibu Muri dan nak Hana...." Ucap pak Arta sambil berdiri dari duduknya, dikuti Reymon dan isterinya.


"Baiklah..... Terima kasih banyak karena telah bertamu kemari, kami juga mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan pada pertemuan kita malam ini." Sahut pak Muri ikut berdiri bersama Hanaria dan ibunya. mereka saling berjabat tangan sebelum berpisah.


"Kami lah yang berterima kasih pak Muri, karena sudah diterima dengan baik dirumah ini. Saya rasa tidak ada yang perlu dimaafkan, kita ini sudah seperti keluarga." Kata pak Arta lagi.


Hanaria mencium punggung tangan pak Arta dan juga isterinya, begitu pula dengan Reymon, ia turut mencium punggung tangan pak Muri dan ibu Muri sebelum berpamitan.


Pak Muri dan isterinya berjalan beriringan menuju teras depan untuk mengantarkan pak Arta dan ibu Arta yang sudah lebih dulu keluar.


Sementara Reymon berada dibelakang mereka bersama Hanaria.


"Mas akan tetap setia menunggumu mengatakan setuju untuk menjadi isteri mas... Hana..." Ucap Reymon lirih.


"Jangan menungguku mas Rey, aku tidak mau mas kecewa. Lebih baik mas mencari perempuan lain yang sudah siap menjadi calon isteri mas Rey." Ungkap Hanaria setengah menunduk sambil berjalan keteras disisi Reymon.


"Hanya kau yang mas inginkan, bukan perempuan lain." Tangan Reymon tiba - tiba menggenggam erat tangannya, membuat Hanaria menatap mata Reymon yang masih memancarkan ketenangan.


Walau terdengar lirih, ucapan Reymon membuat darah Hanaria berdesir. Perkataan Reymon begitu meyakinkan, membuat Hanaria tidak mampu memberi bantahan lagi, ia hanya bisa terdiam.


"Selamat malam......" Reymon mencium punggung tangan Hanaria yang digenggamnya dengan cepat. Perlakuan Reymon itu sungguh tidak terduga oleh Hanaria, membuat dirinya berdiri kaku ditempatnya. Hanaria tak bisa membalas ucapan Reymon yang langsung melepaskan tangannya dari tangan Hanaria.


Hanaria menatap kepergian Reymon dan kedua orang tuanya menggunakan lampu senter sebagai penerang jalan.


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁🙏♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2