
Firlita berdiri ditempatnya sambil menatap berkeliling dengan pandangan penuh kekaguman. Ini kali pertama ia menginjakan kakinya dirumah Mahendra Alhandra Liem, laki - laki yang terpaksa menikahinya secara catatan sipil karena terlanjur menghamilinya.
Selain itu, laki - laki itu terpaksa harus tinggal satu rumah dengan Firlita karena dipaksa oleh ibunya, yang notabenenya sebagai seorang pembisnis, yang memiliki kepentingan tertentu dalam pernikahan putranya itu.
"Pak tua.........!!!" Teriak Mahendra memanggil, saat ia baru turun dari mobilnya
Seorang laki - laki tua beruban tergopoh - gopoh muncul dari pekarangan samping rumah menghampiri Mahendra dengan rasa takut sambil membungkuk hormat.
"Bawa semua barang - barang yang ada dibagasi belakang mobilku kekamar yang sudah disiapkan untuk perempuan itu!" Perintah Mahendra.
"Baik tuan......" Sahut pria tua itu. Ia bergegas menuju bagasi belakang mobil Mahendra, lalu menurunkan semua barang - barang Firlita.
Hanaria menatap pria tua beruban itu, ia ingat, pria itulah yang menjadi salah satu saksi yang bertanda tangan disurat catatan sipil Firlita. Ternyata nyonya Mingguna menyuruh pelayannya sendiri yang menjadi saksi untuk putranya, batin Hanaria.
Mobil fortuner putih, memasuki halaman rumah dan langsung berhenti disebelah mobil milik Mahendra. Wanita paruh baya, dengan gaya elegannya turun perlahan dari mobilnya, ia menghampiri Hanaria yang tengah menatapnya datar.
"Aku senang kalian sudah datang nona Hana dan kau Firlita" Ujar nyonya Mingguana berusaha tersenyum ramah. Hanaria membalas senyuman itu, walau ia tahu, wanita terhormat dihadapannya itu melakukannya dengan kepalsuan.
"Mari kita masuk........" Ajak nyonya Mingguana dan berjalan lebih dulu bersama putranya. Hanaria dan Firlita mengikuti mereka dari belakang.
Firlita berjalan masuk sambil menempel pada tubuh Hanaria. Sekalipun ia mengagumi rumah mewah nan megah milik keluarga ibu mertuanya itu, namun dirinya merasa takut dan asing berada dirumah itu.
"Tenanglah Firlita, semua akan baik - baik saja....." Bisik Hanaria yang merasakan ada perasaan takut dari Firlita yang terus menempel padanya sambil memegang erat lengannya.
"Silahkan duduk nona Hana...... Firlita....... Mau minum apa?" Tawar nyonya Mingguana terus berusaha bersikap ramah, mempersilahkan kedua wanita muda itu duduk di sofa tamu.
__ADS_1
"Tidak....... Terima kasih atas tawaran anda nyonya Mingguana. Saya juga buru - buru akan pulang. Bagaimana kalau kita langsung kekamar Firlita, saya ingin melihatnya." Ujar Hanaria tanpa basa - basi.
" Kenapa harus buru - buru nona Hana, kau baru tiba dan kita belum mengobrol banyak bukan?" Nyonya Mingguana berusaha menahan Hanaria lebih lama, karena ada sesuatu yang membuatnya ingin melakukan tawar - menawar lagi.
"Saya rasa sudah banyak yang telah kita obrolkan nyonya, selain itu, waktu juga sudah menunjukan pukul 9 malam. Saya harus segera kembali." Sahut Hanaria, sambil tetap berdiri diruang tamu mewah itu.
"Baiklah...... Baiklah....... Ternyata nona Hana tidak suka membuang - buang waktunya dengan percuma." Ledek nyonya Mingguana sambil kembali berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar baru Firlita.
Sesampainya dikamar Firlita yang sedang terbuka, nyonya Mingguana langsung masuk diikuti oleh Hanaria, Firlita, dan Mahendara.
"Ini kamar Firlita....... Saya sengaja memilih kamar ini ini, karena terletak dilantai satu, supaya Firlita tidak merasa kesulitan saat ingin berjemur ditaman, tidak perlu naik - turun tangga." Ucap nyonya Mingguana sambil memperlihatkan kamar yang akan ditempati oleh Firlita nantinya.
Hanaria memperhatikan dengan seksama seisi kamar itu, ruangannya cukup besar, rapi, teratur, dan nyaman. Nampak pak tua yang di tugaskan mengangkat barang - barang Firlita menyusunnya disudut ruangan dekat lemari pakaian. Hanaria menuju toilet dan memperhatikan satu persatu semua fasilitas yang ada didalamnya, demi keamanan Firlita yang akan menempati kamar itu.
"Bagaimana nona Hanaria? Apakah semuanya sudah sesuai dengan keinginanmu?" Tanya nyonya Mingguana, setelah Hanaria keluar dari toilet kamar Firlita.
"Lalu bagaimana dengan nona Hana, apakah bisa dipercepat waktunya untuk bergabung dengan perusahaan kami?" Tanya nyonya Mingguana penuh harap.
"Maafkan saya nyonya Mingguana, mari kita melakukan semuanya sesuai kesepakatan. Saya pun sudah acap kali memberitahu asisten pribadi anda akan hal ini, termasuk pada anda nyonya." Sahut Hanaria kembali menegaskan.
" Baiklah...... Ternyata anda terlalu kaku nona Hana, tidak bisa diajak benegosiasi." Ucap nyonya Mingguana dengan wajah kecewa sambil melemparkan pandangannya kearah lain.
"Sekali lagi maafkan saya nyonya Mingguana. Semua alasan sudah saya kemukakan pada anda dihadapan polisi yang memediasi kita dulu, dan bukankah anda juga sudah menyetujuinya? Saya tidak mungkin begitu saja meninggalkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya nyonya, itu alasan utama saya. Saya mohon anda mengerti." Walaupun Hanaria sudah pernah menjelaskannya berulang - ulang pada wanita itu, namun ia tetap berusaha sabar menjelaskannya kembali.
"Baiklah...... Saya mengerti......" Sahut Nyonya Mingguana akhirnya, raut kecewa diwajahnya memang tidak dapat disembunyikan. Hanaria tidak terlalu mau merespon, ia tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Nyonya Mingguana....... Saya titip adik saya Firlita dirumah anda. Saya mohon, perlakukanlah dia dengan baik dirumah ini. Saya tidak akan pernah rela bila ia disakiti secara fisik dan mentalnya. Ia akan tetap berkerja setiap harinya seperti biasa disalon tanpa memberatkan hidupnya pada anda dan keluarga anda." Ucap Hanaria menatap nyonya Mingguana yang kini beralih turut menatapnya datar.
"Dan anda tuan Mahendra, kembali saya ingatkan..... Saya tidak akan pernah segan - segan menjebloskan anda kepenjara bila anda kembali melakukan kekerasan pada Firlita, ingat itu baik.- baik.....!" Ucap Hanaria penuh penekanan. Mahendra hanya membalas tatapan Hanaria datar, tanpa menjawab perkataan Hanaria padanya.
Sementara nyonya Mingguana yang mendengar perkataan Hanaria pada putranya tidak bereaksi apa - apa, ia hanya bisa menatap nyalang pada punggung Hanaria yang membelakanginya.
"Firlita...... Bila ada yang membuatmu merasa tidak nyaman tinggal dirumah ini, katakan saja pada kak Hana, jangan takut. Kakak akan segera menjemputmu pulang." Ucap Hanaria pada Firlita. Ia sengaja mengatakan itu, supaya nyonya Mingguana dan putranya mendengar perkataannya.
"Iya kak......" Sahut Hanaria lirih.
"Saya pamit dulu nyonya Mingguana......" Hanaria beralih menatap nyonya Mingguana, seraya keluar dari kamar Hanaria. Nyonya Mingguana, Mahendra, dan Firlita mengikutinya dari belakang.
"Apa anda masih ingat pintu keluarnya nona Hana?" Tanya nyonya Mingguana kembali memaksa senyum tipisnya yang hampir tidak terlihat.
" Tenang saja nyonya, saya tidak akan tersesat dirumah anda yang besar ini. Saya adalah seorang arsitek, serumit apapun denah rumah yang anda atur bak labirin, saya pasti akan menemukan pintu keluarnya." Sahut Hanaria balas tersenyum, walau ia tahu maksud sang tuan rumah adalah mengusirnya secara halus dari rumah megahnya itu.
Nyonya Mingguana tidak berkometar lagi, ia hanya menatap punggung Hanaria yang berjalan menjauhi kamar Firlita. Sementara Firlita langsung pamit dan masuk kekamar barunya.
"Ma....... Kenapa mama harus menampung gadis hamil itu dirumah kita? Aku tidak akan leluasa tinggal dirumah ini. Ia pasti akan mengawasiku terus." Ucap Mahendra merasa kesal pada ibunya. Mereka masih berdiri didepan pintu kamar Firlita.
" Bukankah mama sudah pernah menjelaskan alasan padamu kenapa kita harus menerima wanita hamil itu. Hanya itu caranya, supaya mama bisa memanfaatkan nona Hanaria untuk berkerja keras membangun kembali perusahaan otomotif yang mama beli itu. Mama sudah menghabiskan banyak uang disana. Jadi kau ingat, jangan berlaku yang tidak - tidak, sebelum semua rencana mama berhasil. Mengerti!!!" Ucap nyonya Mingguana menatap tajam wajah putranya. Ia lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat.
Mahendra yang mendapat hardikan ibunya hanya bisa terdiam, sambil mengepalkan tangannya dan meninju daun pintu kamar Firlita dibelakangnya setelah ibunya itu menjauh.
Sementara Firlita yang bersandar dibelakang pintu kamarnya sangat terkejut, lalu menggigil ketakutan merasakan getaran pukulan tangan Mahendra didaun pintu kamarnya sambil menggigit ibu jari tangannya.
__ADS_1
Belum sampai satu jam ia berada dirumah itu, dirinya sudah menerima shock therapy awal. Apakah ia sanggup bertahan? Batinnya sambil meneteskan air mata. Ia mendengar semua perkataan ibu dan anak itu, bila keberadaannya ditempat itu hanya sebagai umpan untuk keluarga suaminya mendapatkan Hanaria sebagai pegawai mereka.