HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 31 OMG


__ADS_3

"Hana......tuan Muda Willy ingin menambahkan benerapa item pada proyek mansion dan villa milik tuan Moranno yang akan kau design." Ucap tuan Doffy mengampiri Hana dimejanya bersama Willy.


"Baik tuan Doffy, ini berkasnya yang tuan berikan padaku tadi." Hanaria menyodorkan berkas yang sudah dikemas menjadi buku itu.


"Tuan muda Willy, silahkan anda menjelaskan pada nona Hana, apa saja yang diminta tuan Moranno untuk ditambahkan." Ucap tuan Doffy pada Willy dan memberi ruang pada majikannya itu untuk berdiri didekat Hanaria yang sedang duduk dimeja kerjanya.


Willy langsung meraih berkas yang berupa buku itu lalu membuka lembaran - lembaran yang ada satu demi satu.


Setelah menemukannya, ia meletakan berkas yang telah ia buka itu dan memperlihatkannya pada Hanaria.


"Nona Hanaria..... disini, bila anda nanti melihat hasil drone - nya, anda akan melihat ada telaga disana, buatkan wahana permainan air disana, untuk anak - anak juga untuk orang dewasa." Jelasnya sambil menunjuk rencana site plan yang masih berbentuk skets.


"Lalu disini, didalam taman ini nantinya dibuat pula wahana bermain anak - anak."


"Juga kolam renangnya, dibuat berdampingan dengan pusat kebugaran." Jelas Willy.


Hanaria yang memperhatikan setiap gerakan tangan Willy yang sedang menjelaskan padanya, tanpa sengaja memperhatikan tangan Willy yang berkulit putih bersih, kulit khas asia, sehingga bulu - bulu lebat yang tumbuh pada permukaan kulit pria itu sangat jelas terlihat.


Hanaria menelan salivanya. Sebagai wanita normal, tidak bisa ia pungkiri, pria itu memang terlihat menarik walau hanya dari tangannya saja, pantas saja Linda membuang jauh - jauh rasa malu dan harga dirinya hanya demi mendekap pria yang nyaris sempurna didepannya itu. Walaupun sebenarnya itu tidak layak untuk alasan apapun, apalagi hanya untuk seorang pria yang kita kagumi.


Semalam, walaupun wajahnya masih terlihat tampan tapi kulitnya tidak seputih pagi ini, pikir Hanaria yang mengingat insiden dirinya menabrak majikannya itu sampai dua kali saat dicafe.


Dan mungkin begitulah sikap orang kaya, pikir Hanaria lagi, saat melihat majikannya itu seolah - olah tidak bertemu dengan dirinya semalam.


Ah, lupakan, siapa dirinya sehingga orang yang terhormat dan bermartabat seperti tuan mudanya itu harus repot - repot mengingat kalau pernah bertemu dengan dirinya. Pikir Hanaria.


"Nona Hana.....?? Apa anda mendengarku?" Tanya Willy yang melihat Hanaria tertegun setelah penjelasannya.


"Iya, saya mendengarkan anda tuan muda. Apakah masih ada yang perlu ditambahkan lagi tuan?" Tanya Hanaria yang akhirnya cepat tersadar.

__ADS_1


"Saya pikir anda sedang melamunkan sesuatu yang bukan pekerjaan. Saya harap anda mengerti apa yang sudah saya jelaskan, supaya saya tidak membuang - buang waktu menjelaskan pada orang yang sepertinya tidak memperhatikan." Ucap Willy datar seolah menuduh.


Hanaria yang duduk dikursinya tidak menjawab apa yang dikatakan tuannya dengan nada kasar. Ia hanya menatap diam pada berkas yang masih terbuka, dan melihat beberapa goresan - goresan ringan Willy saat ia menjelaskan.


"Nona Hanaria pasti sanggup membuat design seperti yang tuan Moranno inginkan tuan Muda." Tuan Doffy segera angkat bicara untuk meyakinkan Willy.


"Saya harap juga begitu tuan Doffy, semoga saja arsitek yang terkenal handal di Agatsa Properti Group bisa membuat design terbaiknya untuk owner tempat ia berkerja." Ucapan Willy terdengar sinis. Mungkin saja pria itu tidak bisa melupakan kejadian antara dirinya dan tuan mudanya itu, yang pernah terjadi selisih paham saat pertemuan mereka yang diawali dengan balapan dijalan raya pikir Hanaria masih berdiam diri dikursinya tanpa bergerak dari tempat duduknya.


"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang tuan Doffy?" Ucap Willy menatap sekilas Hanaria yang masih duduk mematung dan hanya mendengarkan ucapannya dan beralih pada tuan Doffy.


"Saya siap tuan......" Sahut tuan Doffy dengan sikap tegasnya. Willy langsung beranjak dari tempat ia berdiri dan mendahului tuan Doffy berjalan didepan.


"Hana, saya pergi dulu." Ucap tuan Doffy seraya menepuk bahu bawahannya itu lembut dan bergegas menyusul Willy dari belakang.


Hanaria berdiri, mencari beberapa berkas yang ia perlukan pada lemari besi disamping mejanya.


Saat berbalik kembali kemejanya, ia melihat Linda masih duduk terpana memandang ke arah mejanya dengan mendongakkan wajahnya.


Linda tak bergeming, wajahnya masih terlihat terpana memandang kearah meja Hanaria dengan bertopang dagu pada kedua tangannya sambil senyum - senyum seorang diri.


"Linda.....!" Linda masih tak bergeming, dan masih pada posisinya yang semula.


"Linda!!!!" Gadis itu terlonjak dari tempat duduknya hingga terperosok disela - sela meja dan kursinya.


"Apaan sih pake teriak - teriak.....telingaku gak budek tau'.... sebel deh....!." Linda memanyunkan wajahnya, ia mengibas - ngibaskan pakaian kerjanya dari debu yang sempat menempe,l sambil bangkit dan duduk dikursinya kembali. Hatinya sangat kesal pada ke tiga sahabatnya yang baru datang dan membuatnya kaget hingga terjatuh kelantai.


"Apanya yang gak budek.....! berkali - kali dipanggil Hana kau tidak mendengar, asiiiiiiiikkkk saja ngelamun. Makanya kami bertiga memberi bantuan, kalau perlu, kita pake pengeras suara. Apaan sih yang dilamunin?" Ucàp Norsa menatap Linda yang yang sudah kembali duduk dikursi kerjanya.


"CEO ganteng......" Ucap Linda sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Memangnya tuan muda Willy tadi dari sini, soalnya tadi aku dan Shasie berpapasan dengan si tampan itu bersama tuan Doffy didepan ruang di divisi kita." Ucap Laras bersandar dimeja Linda.


"Iya, memang dari sini, aku bahkan sempat memeluknya erat. Sudah tampan, kulitnya bersih, wangiiiiii......tubuhnya berotot juga.....makanya aku mendekapnya supaya dapat menyentuh tubuhnya yang membuatku penasaran selama ini." Ucap Linda tersenyum penuh kebanggaan.


Shasie, Norsa, dan Laras ternganga tak percaya saat mendengar penuturan Linda. Bagi mereka, apa yang dikatakan Linda, pastilah hayalan yang ia anggap nyata.


"Bangun Linda...... Sudah cukup bermimpinya, sekarang sudah pagi, waktunya untuk berkerja." Ucap Laras lagi sambil menepuk punggung Linda keras agar berhenti membual.


"Iiiihhh Laras.... sakit tau'..... aku tidak sedang bermimpi.... kalau tidak percaya, tuh.... tanya Hana yang menjadi saksi hidup......" Ucap Hana sambil mengusap punggungnya yang terasa panas setelah ditepuk Laras.


Dua pasang mata Laras, Norsa, dan Shasie, mengikuti arah telunjuk Linda yang menunjuk pada Hana yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, mempelajari berkas yang diberikan tuan Doffy beberapa menit yang lalu.


"Hana..... apa benar yang dikatakan Linda??" Tanya Laras yang masih tidak percaya, tapi terlihat sangat kepo.


"Iya..... bener......" Jawab Hanaria datar apa adanya. Walau sedang sibuk berkerja telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dipercakapkan oleh ke-4 temannya itu


" OMG........!!!!" Pekik Laras, Shasie, dan Norsa bersamaan dengan mimik hampir pingsan sambil memegang kedua pipi mereka masing - masing.


Para pegawai yang baru saja tiba diruangan khusus divisi bidang arsitekture lantai enam pagi itu, menatap kearah mereka kaget. Tidak terkecuali Hanaria dan Linda.


Laras, Shasie, Norsa segera membekap mulutnya masing - masing dengan kedua tangannya. Sementara Linda yang menjadi penyebab kerusuhan itu langsung menundukkan kepalanya menempel dimeja kerjanya.


"Hei...... jangan terlalu berisikkkkk..... " Tegur salah seorang ibu paruh baya yang menjadi senior mereka.


"Iya bu Morhani......" Sahut ketiga gadis itu bersamaan, mereka lalu mencubit Linda dengan cara keroyokan.


"Aduh..... sakit nahhh..... kalian iri ya..... iya, kalian pasti iri padaku....." Ucap Linda sambil mengejek kesal.


...•••...

__ADS_1


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡


__ADS_2