
Giliran Rosalia yang tertegun dan termenung, setelah mendengar semua kisah yang dituturkan Willy padanya. Ia turut merasakan kegalauan yang dirasakan Willy, bagaimana tidak, pengakuan Willy pada penyidik, bisa membuat pria yang menjadi penerus kerajaan bisnis kelurga Agatsa itu ditahan, sekaligus mempertaruhkan nama baik keluarga besarnya.
Sekalipun Willy suka ceroboh, dan bergaya selengean, tapi Rosalia sangat mengenalnya sebagai laki - laki yang baik. Willy bahkan lebih dewasa dibandingkan dirinya yang sering bersikap manja pada kedua orang tuanya, walau berusia lebih tua dari pria itu, mungkin karena dirinya anak tunggal.
"Rosa, ayo ikut pulang dengànku saja, temani aku tidur diapartemen. Aku butuh teman bicara...... sepertinya aku bakalan tidak bisa tidur nyenyak malam ini." Ucap Willy yang lebih mirip dengan keluhan. Rosalia langsung memukul punggung Willy menggunakan plastik tissue yang masih bersisa setengah dari isi awalnya.
"Kau itu memang sembrono Willy.....! Keadaan lagi rumit seperti ini, kau malah memintaku tidur diapartemenmu......you are crazy......!!" Ucap Rosalia dengan nada kesal.
"Aku 'kan tidak memintamu tidur sekamar denganku Rosa, kau bisa menggunakan kamar satunya lagi...." Kilah Willy polos.
"Sama saja Willy.....! Apakah kau sudah lupa bila beberapa bulan yang lalu, kita berdua pernah disidang orang tua kita dan oma, gara - gara tidur bersama diapartemenmu. Hampir saja kita berdua dinikahkan secara paksa.....! Aku tidak mau.....! Karena daddy kembar dan papah sudah memperingatkan kita. Kalau kita berdua sampai kedapatan tidur berdua lagi, maka sudah TIDAK ada AMPUN lagi..... Hiiiiiii ngeriiiiiii.......!!!" Ucap Rosalia sambil bergidik ngeri.
Willy tak mengatakan apapun, ia pun memang masih mengingat kejadian itu, bagaimana ayahnya dan omanya yang begitu bersemangat memaksa menikahkan dirinya dengan Rosalia saat itu.
"Apakah kau memang bercita - cita mau menikahi dua orang wanita sekaligus, disaat yang bersamaan......!. heumm.....?!." Tambah Rosalia kemudian. Willy mendadak terkekeh mendengar ucapan Rosalia yang asal dan tidak masuk akal itu.
"Rosa..... Kau itu seperti Hanaria, pegawai perempuanku itu, yang suka asal kalau berbicara padaku. Mana mungkin aku melakukan itu Rosa, menikahi dua wanita sekaligus diwaktu yang bersamaan. Itu namanya KONYOL, cari penyakit.......!" Ujar Willy masih terkekeh sambil terus menyetir, mengantarkan Rosalia pulang kerumahnya.
"Itu memang konyol Willy, benar katamu itu. Itu sebabnya aku tidak mau sama konyolnya dengan dirimu, kita akan benar - benar dinikahkan kali ini, kalau sampai malam ini aku menyetujui ajakanmu untuk menginap diapartemenmu malam ini." Sahut Rosalia membenarkan.
"Iya kau benar Rosa. Aku juga..... memang belum mau menikah..... Yah.... untuk saat ini, aku sepertinya tidak siap.....!" Ujar Willy disela - sela sisa tawanya.
"Tidak siap menikah katamu?? Lalu mengapa kau mencium gadis itu begitu membabi buta, dan menggigitnya hingga membengkak seperti sengatan serangga......?! Siapa yang percaya.....?! Jadi saranku, kau harus mengikuti kata mommy kembar, menikahi gadis itu secepatnya, supaya tindakan gilamu yang kau atas namakan 'HUKUMAN' itu bisa tersalurkan dengan aman."
"Kalau sudah menikah, tidak ada yang keberatan dengan tindakanmu itu. Aku curiga, kau pasti sudah menyukai gadis itu diam - diam. Atau mungkin...... Kau bahkan sudah mencintainya, tapi kau tidak menyadarinya Willy." Tebak Rosalia.
"Stop Rosa! Itu tidak mungkin! Mana mungkin aku menyukai Hanaria, apalagi sampai mencintainya! Kau jangan mengada - ada. Hampir setiap kali bertemu, kami selalu bertengkar. Bagaimana tidak, dia sering tidak hormat bicara padaku kadang tidak sopan, berbeda dengan pegawai lainnya, yang lemah lembut, bersikap manis saat berbicara denganku." Sela Willy, ia begitu menggebu - gebu meluapkan uneg - uneg hatinya selama ini.
"Aku juga sering tidak sopan saat berbicara padamu...." Sanggah Rosalia melirik wajah Willy sekilas.
"Kau berbeda Rosa..... Kau sahabatku, kita sudah berteman sejak bayi...... Jadi bagiku itu biasa saja." Ungkap Willy lagi dengan gaya santainya. Ponsel Willy tiba - tiba berderit. Rosalia meraih ponsel Willy yang diletakan diatas dashboard mobil dan menatap layarnya yang menyala.
"Willy...... mommy kembar yang menelpon." Ujar Rosalia, setelah melihat nama yang tertera dilayar ponsel Willy.
__ADS_1
"Tolong diangkat Rosa.... aktifkan loudspeakernya..." Pinta Willy pada Rosalia, sambil terus fokus pada jalan didepannya.
"Hallo mommy......." Ucap Willy sambil menyetir. Sementara Rosalia yang memegang ponselnya.
"Willy....... Kau dimana sayang?" Tanya Yurina diujung telepon.
"Masih dijalan mommy..... Ada apa ya mom?" Sahut Willy, dan balik bertanya.
"Malam ini kau menginap dirumah saja ya Willy. Mommy dan daddy ingin mendengar, apa hasil pemanggilanmu di kantor polisi hari ini. Tidak ada alasan untuk tidak datang. Kau mengerti sayang?" Tegas Yurina dari seberang sambungan telepon.
"Mengerti mom..... Willy akan pulang kerumah sekarang." Sahut Willy dengan wajah terpaksa.
"Anak pintar...... Jangan lama - lama, mommy dan daddy sudah menunggumu sayang...... Hati - hati dijalan ya, jangan kebut - kebutan lagi ya nak......." Pesan Yurina pada putranya itu.
"Iya momm........" Sahut Willy. Rosalia kembali meletakkan ponsel Willy keatas dashboard mobil setelah telepon ibu dan putranya itu terputus.
Willy membunyikan klaksonnya, saat telah berada didepan pagar kokoh rumah milik orang tua Rosalia. Seorang security jaga berlari - lari kecil menuju pagar dan membukanya.
"Kau tidak mampir?" Tanya Rosalia sambil membuka sabuk pengaman yang meliliti tubuhnya. Saat Willy sudah menghentikan mobilnya didepan teras rumahnya.
"Tidak...... Kau dengarkan? Mommy dan daddy sudah menungguku, bahkan memberi peringatan, tidak ada alasan untuk menolak." Ujar Willy dari belakang kemudinya.
"Baiklah...... Aku juga senang kalau kau tidak mampir, jadi aku bisa langsung tidur memeluk guling kesayanganku." Gurau Rosalia sambil tersenyum tipis.
"Oh..... berarti itu tadi hanya basa - basi saja, kau tidak benar - benar menawarkan untuk mampir." Sungut Willy, namun dirinya tetap tersenyum.
"Iya......!" Sahut Rosalia sambil tetawa. Ia turun dari mobil Willy lalu menutup pintu mobil itu kembali.
"Cepatlah pulang, kasian mommy dan daddy kembar, nanti mereka lama menunggumu Willy." Ucap Rosalia lagi.
"Baiklah..... Salam buat papah Hartawan dan mamah Rosalie ya....." Ucap Willy sambil memutar kemudinya untuk berbalik arah.
"Tunggu.....!? Rosalia menghentikan Willy. Lalu kembali mendekati mobil Willy.
__ADS_1
"Ada apa lagi ibu dokter??" Tanya Willy yang kembali menghentikan mobilnya.
"Nanti..... Kalau mommy, dan daddy kembar memintamu menikahi nona Hanaria lagi, kau terima saja. Aku rasa kau sebenarnya menyukai gadis itu, namun kau gengsi saja mengakuinya. Bahkan aku yakin kau sudah mencintainya." Ucap Rosalia merasa yakin.
"Heuumm....... Kau berkata seperti itu, seolah pernah jatuh cinta saja...... Sudahlah......! Kau jangan menjerumuskanku!" Sela Willy tidak mau mendengarkan perkataan Rosalia.
"Bukan pernah lagi.... Tapi sedang jatuh cinta......" Sahut dòkter cantik itu sambil senyam - senyum.
"Pada siapa??" Tanya Willy penasaran.
"Billy..... Kakakmu......" Sahut Rosalia jujur.
"Kak Billy......??" Willy mengulangi ucapan Rosalia untuk memastikan pendengarannya, bahwa dirinya tidak salah mendengar.
"Iya Billy...... kakakmu......" Tawa Willy langsung meledak mendengar ucapan Rosalia yang penuh percaya diri memastikan ucapannya.
"Kenapa?? Ada yang lucu??" Tanya Rosalia dengan wajah tersinggung tingkat tinggi, saat melihat Willy teetawa seperti sedang digelitik.
"Tidak......! Hanya Kaget.......! Dan heran.......! Bagaimana kau bisa mencintai kak Billy yang super cuek itu......" Willy berusaha meredakan tawanya.
"Entahlah...... Aku juga tidak tahu...... Tapi...... saat mengingat dirinya, aku BAHAGIA, dan tidak pernah bosan membayangkan dirinya. Billy..... dia pria yang cool, manis, berkarisma, terlihat perkasa, tampan, mempesona....... tidak seperti dirimu, sembrono, dan selengean.....!" Ucap Rosalia.
Willy bisa melihat sorot mata Rosalia yang begitu berbinar saat memuji kakaknya itu sambil mengulas senyumnya, membuat Willy ikut tersenyum, ia turut merasa senang dengan sahabatnya yang mencintai kakaknya. Namun kalimat terakhir Rosalia membuat Willy menghentikan senyumannya.
"Kalimat terakhirmu menghempaskanku Rosa. Aku pulang sekarang." Willy bersiap menjalankan mobilnya yang sejak tadi belum ia matikan mesinnya.
"Baiklah..... Hati - hati dijalan. Ingat kataku tadi..... Terima saja bila mommy dan daddy kembar memintamu untuk menikahi nona Hanaria. Jangan sampai gadis itu pergi, dan kau akan menyesal karena baru menyadari perasaanmu." Ucap Rosalia lagi.
"Tidak......! Justru nasihatmu yang menjerumuskanku itu akan membuatku menyesal.....! Aku kan sudah katakan, kalau aku belum mau menikah!" Ungkap Willy masih bertahan pada pendiriannya.
"Terserah kau saja Willy.....! Jangan bilang kalau aku tidak pernah memperingatkanmu akan hal ini.....! Teriak Rosalia menatap mobil sport merah Willy yang meninggalkannya begitu saja.
...***...
__ADS_1