HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
253. Kehadiran Keluarga Besar


__ADS_3

Sejak melahirkan bayi kembarnya sore kemarin, Hanaria tidak memiliki waktu istirahat yang cukup, karena kedua bayi laki-lakinya itu terus saja menempel didadanya secara bergantian tanpa henti sepanjang malam untuk menyusui ibunya.


Padahal Willy sudah menawarkan padanya memberikan susu formula untuk kedua bayi merah itu, namun dengan tegas Hanaria menolaknya. Dirinya tidak ingin kedua putranya itu mengkonsumsi susu yang bukan ASInya.


Apalagi menurut himbauan dokter, semakin sering menyusui, maka produksi ASI akan semakin lancar, dan bayi yang tidak mengkonsumsi ASI ibunya akan rentan dengan penyakit, dan Hanaria tidak mau hal itu terjadi pada kedua buah hatinya dan Willy. Dan ia bertekad untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.


Alhasil, pagi ini Hanaria akhirnya tumbang, ia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, kepalanya terasa sangat berat karena kurang tidur semalaman.


Walau turut terjaga bersama Hanaria sepanjang malam namun Willy masih terlihat fit. Ia sudah bertekad menjadi suami dan daddy yang siaga buat isteri dan bayi kembarnya.


Terbukti, dirinya yang membantu memindahkan bayi-bayinya secara bergantian setiap dua jam sekali agar kedua bayi merah itu mendapat cukup asupan ASI ibunya.


Hanaria memperhatikan Willy yang mengganti popok bayi-bayinya dari tempat ia berbaring. Terlihat canggung memang, karena itu pengalaman pertama buat suaminya itu.


"Terima kasih Daddy bayi kembarku," lirih Hanaria.


Willy menoleh, memberi senyuman hangat pada isterinya itu, lalu mengecup kening Hanaria untuk beberapa saat lamanya. "Tidurlah, aku yang akan mengurus bayi-bayi kita sebelum para perawat itu datang," ucapnya.


Hanaria balas tersenyum, perlahan mata lelahnya mulai terpejam dan tidak ingat apa-apa lagi.


Tok! Tok! Tok!


Willy melirik kearah pintu, ia memindahkan bayi-bayinya itu ke atas ranjang mereka masing-masing terlebih dahulu sebelum membuka pintu.


Ceklek.


"Selamat menjadi Daddy!!!" suara kompak mengagetkan Willy hingga membuatnya mundur satu langkah kebelakang.

__ADS_1


Willy terperangah bercampur haru, tidak menyangka semua keluarga besarnya hadir sepagi itu termasuk kedua mertuanya dari dusun.


"Selamat nak Willy. Kau sudah menjadi seorang ayah. Dan cucu kami kini bertambah menjadi lima orang," ucap ibu Muri sembari memberikan pelukan hangatnya pada sang menantunya.


"Terima kasih Bu," Willy turut memeluk erat ibu mertuanya. "Kapan datang Bu?" tanyanya begitu melepas pelukan mereka.


"Subuh tadi, begitu mendengar Hanaria akan melahirkan, Ibu dan Ayah buru-buru kemari," terang ibu Muri.


"Terima kasih Bu, Ayah," Willy menyalami ayah mertunya dan mencium punggung tangan pria tua itu dengan hormat.


"Selamat ya kak Willy," Edward mendekat dan memeluk Willy.


"Terima kasih Edward, sudah jauh-jauh datang kemari," Willy menepuk punggung adik sepupunya itu.


"Selamat ya kak, ternyata kakak bisa buat anak kembar juga," celoteh Adrine sembari memeluk kakak sepupunya itu membuat semua keluarga yang ada disana tertawa mendengarnya.


"Hush! Anak kecil gak boleh bicara seperti itu, masih belum cukup umur," sahut Willy pada adik sepupupunya itu, ia pun ikut terkekeh mendengarnya.


"Kami disini Kak?" sahut keduanya bersamaan. Willy berbalik, melihat kedua adiknya itu masing-masing sedang mendorong dua ranjang bayinya keluar dari ruang rawat inap Hanaria, entah dari mana mereka bisa masuk tiba-tiba saja sudah ada didalam dan membawa bayi-bayi itu. Mungkin saat dirinya sedang asik berbicara pada kedua metuanya dan Edward, batinnya.


"Apa yang kalian lakukan? Mereka baru saja terlelap!" Willy terlihat kaget atas ulah kedua adiknya itu dan segera mendekati mereka untuk memberi hukuman.


"Willy, biarkan saja adik-adikmu membawa bayi-bayimu itu keluar. Mereka perlu berjemur dibawah matahari pagi untuk menghangatkan tubuh mereka."


Willy mengurungkan niatnya, begitu mendengat suara bibinya, dokter Margareth adik dari ayahnya.


"Sinar mata hari pagi dapat mengurangi dan mencegah bayi kuning akibat bilirubin yang berlebihan. Juga dapat meningkatkan vitamin D, melatih bayi berinteraksi dengan dunia luar, dan membantu bayi-bayimu agar dapat tidur dengan nyenyak." terang Margaret lagi, ia menyentuh dua bayi kembar itu secara bergantian begitu Marina dan Malizha mendekatkannya padanya.

__ADS_1


"Mereka lucu-lucu ya Sayang," Harry, suami dokter Margareth memandangi dua bayi merah itu dengan perasaan gemas.


"Heum, kau benar Sayang," sahut dokter Margareth memandang lekat pada dua bayi yang tengah tertidur itu.


"Tuh dengar Kak apa kata Bibi." setelah berkata demikian Marina kembali mendorong ranjang bayi menuju taman mini didepan ruang rawat inap Hanaria diikuti oleh Malizha dan Edrine yang mendorong ranjang bayi satunya lagi.


Willy tidak menjawab lagi, ia sangat bersyukur semua keluarga besarnya memberi penyambutan hangat atas kelahiran kedua bayinya yang menjadi anggota baru dalam keluarga besarnya.


Willy segera menyalami Margareth dan Harry dan mencium punggung tangan mereka satu persatu. "Terima kasih Paman, Bibi, sudah meluangkan waktu datang kemari, ungkapnya haru.


"Iya Willy, semoga kau menjadi Daddy yang baik buat anak-anakmu," Harry menepuk-nepuk punggung keponakannya itu lembut, turut bersyukur mengingat kebandelan Willy saat tinggal bersama mereka di Singapura dan kini sudah menjadi seorang ayah.


"Terima kasih Paman," sahut Willy sembari tersenyum tipis, ia sangat mengerti apa maksud ucapan pamanya yang berkata demikian.


"Buyut dan Oma juga juga datang?" Willy kembali mengembangkan senyum bahagia, dan segera beralih memeluk dua orang sesepuh dalam keluarga besarnya itu.


"Buyut memang harus datang Willy. Buyut patut bersyukur, setua ini masih sempat melihat keturunanmu lahir," sahut nyonya Naomi memeluk tubuh tinggi cucu buyutnya itu. Rambut putihnya yang terlihat bagaikan salju, ditambah tubuhnya yang semakin membungkuk, menandakan bila usianya memang sudah sangat tua.


"Dan Oma juga penasaran untuk melihat bagimana rupa bayi kembarmu yang ngidam saham semahal itu," celetuk nyonya Agatsa yang berdiri disamping nyonya Naomi.


Seketika wajah Willy merona mendengar celetukan sang Oma kesayangannya itu.


"Heum, apa semua keluarga dipalak sama Willy?" Moranno menatap putranya tanpa berkedip.


"Daddy jangan bicara seperti itu, mau ditaruh dimana wajah dan harga diriku ini? Disini ada kedua mertuaku, Dad," omel Willy bergumam pada Morranno yang berdiri dekat omanya sembari melirik pak Muri dan isterinya dengan ekor matanya. Dirinya memang benar-benar malu bila ketahuan kedua mertuanya itu.


Semua yang ada disana hanya bisa tertawa geli mendengar ujaran Willy, kecuali pak Muri dan isterinya.

__ADS_1


Putra kedua dari pasangan Moranno-Yurina itu ternyata masih sama seperti yang dulu, tanpa ragu dan malu-malu akan selalu melibatkan keluarga besarnya bila dirinya menghadapi masalah yang tidak sanggup ia tangani sendiri, dan itu bukan rahasia lagi buat mereka.


Bersambung....👉


__ADS_2