HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
201. Memenuhi Panggilan Pemeriksaan


__ADS_3

Willy duduk bersebelahan dengan Hanaria diruang tunggu kantor Kepolisian Negara, ini kali kedua isterinya itu berurusan dengan hukum, dan kali ini pun berkaitan dengan sekretatis Morin, sekretaris pribadinya itu lagi.


"Kak Billy!" seru Willy, ia buru-buru berdiri menghampiri kakaknya yang tengah melintas tidak jauh dari dirinya dan Hanaria yang tengah duduk menunggu diruang tunggu.


Billy menghentikan langkahnya dan memandang kearah Willy dan Hanaria yang melangkah buru-buru kearahnya. "Kalian sudah tiba?" tanya Billy, setelah adik dan adik iparnya berada didekatnya.


"Kami sudah ada disini sejak dua puluh menit yang lalu," jelas Willy.


"Kalau begitu kiita tinggal menunggu tuan Margolius Ondes, lawyer yang akan mendampingi adik ipar menghadap penyidik saat diperiksa," terang Billy.


"Nah itu tuan Margolius Ondes baru tiba," kata Billy memandang kearah seorang pria paruh baya dengan tubuhnya yang masih terlihat tegap sambil menenteng tas kerjanya dan berjalan mendekat.


"Selamat pagi tuan Billy, tuan Willy, dan nona Hanaria," sapa sang pria itu.


"Selamat pagi tuan Margolius," Billy, Willy, dan Hanaria balas menyapa hampir bersamaan.


"Maafkan saya, karena membiarkan Tuan-Tuan dan Nona terlalu lama menunggu." kata sang Lawyer dengan senyum tipisnya setelah selesai berjabat tangan dengan Billy, Willy dan Hanaria.


"Tidak masalah Tuan, lagi pula kita pun belum terlambat," sahut Billy turut mengulas senyum tipisnya.


"Bagaimana, apakah kau sudah siap adik ipar?" tanya Billy pada Hanaria.


"Iya, sudah siap kakak ipar," sahut Hanaria.


"Apakah perlu aku temani?" kata Willy menawarkan diri.


"Tidak perlu Willy, kau tunggu diluar saja, nanti kau mengganggu jalannya pemeriksaan," ujar Billy mencegah adiknya itu.


"Aku tidak akan mengganggu, kehadiranku bahkan akan membantu isteriku kak Billy. Bukankah seorang suami harus selalu berada disisi isterinya, apa lagi disaat-saat sulit seperti ini?" sahut Willy berusaha memberi seribu alasan supaya bisa ikut masuk menemani isterinya itu.

__ADS_1


Billy mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, "tuan Margolius Ondes, apakah semua pria beristeri akan seperti adikku ini?" tanya Billy dengan nada meledek.


"Pasangan muda umumnya seperti itu tuan Billy, tapi kalau sudah berusia senja seperti saya tidak lagi, yang ada hanya ingin dekat dengan para cucu," sahut sang lawyer jujur sambil ikut tertawa ringan.


"Tunggu ya kak Billy, aku akan membalasmu saat kau menikah nanti," ancam Willy memandang kakaknya itu sambil tertawa masam.


Sementara Hanaria pura-pura tidak mendengar obrolan antara suaminya, kakak ipar dan lawyer-nya.


"Jadi bagaimana? Apakah aku bisa ikut masuk?" tanya Willy lagi memandang sang lawyer isterinya itu dengan penuh harap.


"Tidak perlu Willly, kau diluar saja. Kalau perlu kau pulang saja, urus saja pekerjaanmu, bukankah kau sangat sibuk?" potong Billy segera mengambil alih obrolan yang ditujukan pada sang lawyer.


"Lagi pula sudah ada tuan Margolius Ondes sebagai lawyer adik ipar, ia akan mendampingi dan membantu sesuai kapasitasnya sebagai kuasa hukum. Kau tidak perlu khawatir, adik ipar tahu apa yang harus dirinya lakukan," ucap Billy lagi.


Willy terdiam sebentar, ia menatap wajah isterinya itu sekilas, " baiklah, aku menurut saja, dikantor ini kan kak Billy yang lebih tahu." ucap Willy dengan nada terpaksa.


"Aku titip isteriku pada Anda tuan Margolius Ondes, tapi jangan mepet-mepet dengan isteriku didalam sana ya," ucap Willy tanpa sungkan pada lawyer isterinya itu.


"Ini sudah waktunya, adik ipar dan tuan Margolius Ondes silahkan masuk keruangan," potong Billy seolah tidak mendengar ucapan sang adik, ia tahu bahwa Willy tidak akan kehabisan bahan untuk berdebat.


"Baik kakak ipar," sahut Hanaria.


"Tunggu Hana, apa kau lupa kebiasaan keluarga Agatsa, mencium suamimu dulu sebelum pergi," ucap Willy seraya mencekal pergelangan tangan Hanaria untuk menahan isterinya itu berlalu begitu saja.


Lagi-lagi Billy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adik kembarnya itu. "Willy ini tempat umum, apakah kau tidak kasihan pada tuan Margolius Ondes, kau bisa membuatnya merindukan rumahnya," ucap Billy merasa gemas.


"Inilah nikmatnya punya isteri yang selalu berdekatan," sahut Willy tidak perduli, sementara tuan Margolius Ondes hanya tersenyum geli melihat suami kliennya itu.


"Ayo isteriku, cium aku dulu," desak Willy sambil mendekatkan pipi kanannya pada wajah Hanaria. Tanpa banyak bicara, Hanaria langsung meluluskan permintaan suaminya itu, bila ditolak ia sangat tahu, bahwa akan sangat panjang buntutnya nanti, karena dalam beberapa bulan mereka menikah, Hanaria sudah cukup mengenal karakter suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih isteriku, aku semakin mencintaimu," ucap Willy dengan senyum lebarnya. Ia lalu membiarkan isterinya itu masuk bersama tuan Margolius Ondes keruang penyidik.


"Willy, aku akan kembali berkerja. Apakah kau masih tetap mau menunggu disini saja?" tanya Billy kemudian setelah Hanaria dan kuasa hukumnya sudah tidak terlihat lagi.


"Aku mau cari tempat yang nyaman untuk menunggu, tapi di area perkantoran ini juga sambil melakukan pekerjaanku. Apakah kak Billy bisa menunjukan tempat seperti itu untukku?" ucap Willy balik bertanya.


Billy berfikir sejenak, lalu mengatakan apa yang terlintas dikepalanya," kantin, ya kantin, tempat itu lumayan santai untuk kau menununggu adik ipar. Biasanya pemeriksaannya bisa memakan waktu dua sampai tiga jam," ucap Billy menambahkan.


"Lama juga ya," gumam Willy sambil berfikir. "Tapi dulunya juga begitu saat aku dan Hanaria diperiksa," kata Willy seraya mengingat pengalamannya dikantor polisi itu juga beberapa bulan yang lalu.


"Apa sebaiknya kau kembali saja kekantor, jadi pas makan siang kau bisa kembali kemari. Aku yakin pemeriksaan adik ipar sudah selesai saat itu," ungkap Billy.


"Aku menunggu disini saja kak, supaya tidak buang-buang waktu dijalan." kata Willy bersikeras.


"Baiklah, terserah kau saja Willy. Tapi maaf, aku tidak bisa menemanimu ya, setelah ini aku harus kesuatu tempat, aku telah diperintahkan segera meluncur sekarang," ucap Billy nampak terburu-buru.


"Iya aku mengerti kak Billy, tunjukan saja arahnya, aku akan pergi sendiri ke kantin kantor ini," ujar Willy yang sangat tahu kesibukan sang kakak


Setelah diberi petunjuk, Willy langsung menuju arah yang ditunjukan Billy padanya, sementara kakaknya sudah lebih dulu menghilang setelah nemberi petunjuk.


Willy memesan beberapa jus pada pemilik kantin untuk menemaninya menunggu Hanaria. Sebelum ia memulai pekerjaannya yang ada pada laptopnya yang telah menyala diatas meja, Willy terlebih dahulu berkirim pesan pada Hanaria isterinya.


"Bila kau sudah selesai, temui aku dikantin kantor ini, aku menunggumu dengan sabar disini, isteriku." Setelah menulis dan mengirim pesannya, Willy mengulas senyumnya menatap layar ponselnya.


Tidak menunggu lama, terdengar nada notifikasi, Willy buru-buru membukanya dengan senyum yang mengembang. Hanya sepersekian detik, senyum mengembang itu perlahan memudar tatkala melihat balasan yang dinantinya sungguh tidak sesuai ekspektasinya.


"Baiklah," singkat, padat, dan jelas. Hanya itu yang menjadi jawaban Hanaria.


"Aku harus mengajarimu menjadi isteri yang romantis, kau membuatku ingin melahap apa saja yang ada disini," gerutu Willy seorang diri, ia meraih gelas jusnya dan menyedotnya hingga habis tanpa sisa, lalu mengambil gelas jus selanjutnya dan kembali menyedotnya hingga habis. Demikian ia lakukan hingga beberapa kali.

__ADS_1


...***...


__ADS_2