HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 84 Pertanyaan Pak RT


__ADS_3

°Saya sangat bersyukur bisa bertemu langsung dengan tuan Moranno, saya hanya sering melihat tuan melalui pemberitaan televisi. Seperti yang saya ketahui lewat televisi itu, ternyata tuan Moranno memang pengusaha yang baik dan rendah hati. Kalau tidak, mana mungkin mau menjenguk pegawainya." Puji pak Firman, dalam perbincangan diruang tamu bersama Moranno dan Willy diruang tamu, sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter Herman. Sementara isteri pak Firman ikut masuk kedalam kamar Hanaria bersama Yurina.


"Pak Firman terlalu memuji......" Ucap Moranno dengan senyumnya. Dirinya memang sudah biasa mendapat pujian dari berbagai kalanganan, namjn tidak membuatnya merasa pongah


"Diminum dulu tehnya pak RT, tuan Moranno, dan tuan muda." Ujar Firlita sambil berjongkok, dan meletakan beberapa cangkir teh ke atas meja yang baru ia seduh didapur.


"Terima kasih nak Firlita......" Ucap pak Firman, sambil mengulas senyumnya.


"Terima kasih nona Firlita." Ucap Moranno ikut bersuara. Sementara Willy hanya mengulas senyum tipis dibibirnya.


"Sama - sama pak RT, tuan Moranno......" Firlita bangkit, lalu beranjak pergi membawa nampan ditangannya, membiarkan ketiga pria itu melanjutkan perbincangan mereka.

__ADS_1


"Tuan Moranno, saya mohon ijin bertanya, dan maafkan saya bila pertanyaan saya ini nantinya terdengar lancang, dan tidak berkenan dihati tuan Moranno dan mas Willy....." Ucap pak Firman hati - hati, sambil melihat kearah dua pria yang berpenampilan berbeda dari dirinya.


"Silahkan pak Firman, katakan saja apa yang pak RT ingin tanyakan, kami siap mendengar, dan menjawab sesuai yang kami bisa." Sahut Moranno dengan suara rendah, sambil menatap kearah pak Firman, demikian pula dengan Willy yang duduk disebelahnya.


"Sebagai ketua RT di komplek ini, saya selalu berusaha menjaga ketenangan dan ketentraman semua warga yang ada dalam lingkup kewenangan saya. Beberapa warga sempat datang kepada saya, menanyakan tentang pemberitaan yang mereka tonton di pemberitaan beberapa televisi swasta, kebetulan saya juga sempat menonton beritanya beberapa kali bersama isteri saya, karena sering ditayangkan ulang." Tutur pak Firman menjedah ucapannya, ia menatap tenang kearah kedua pria dihadapannya yang juga berusaha bersikap tenang, menunggu kelanjutan kalimatnya.


"Nak Hanaria, sudah saya dan isteri anggap seperti anak kami sendiri tuan. Dia gadis yang sangat baik. Terbukti, selama tinggal dilingkungan komplek perumahan ini, baik saya sebagai ketua RT, maupun warga lainnya, tidak pernah memergoki nak Hanaria melakukan suatu pelanggaran, ia sangat beretika, dan suka mengulurkan tangan untuk memberi pertolongan bagi warga yang membutuhkan. Orang tuanya sangat berhasil mendidiknya, bahkan ia menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya, dengan berhasil mengukir prestasi diuniversitas. Bukan nak Hana atau orang tuanya yang meberitahu kami, tapi kami mengetahuinya langsung dari salah satu dosennya yang juga menjadi warga komplek kami ini, dan juga lewat pemberitaan ditelevisi yang tayang langsung saat nak Hana diwisuda." Pak Firman kembali menjedah perkataannya, mengambil nafas dalam, menghelanya perlahan, dan mulai melanjutkan lagi penuturannya. Sementara Moranno Agatsa, dan juga Willy putranya tetap berusaha bersikap tenang, sambil menyimak setiap penuturan yang disampaikan oleh pak Firman.


"Tapi kenapa, pemberitaan ditelevisi dua hari ini, begitu bertolak belakang dengan berita baik tentang nak Hanaria. Saat melihat mas Willy dihalaman depan tadi, saya langsung mengenali wajahnya, karena sama persis dengan wajah pŕia divideo yang sekarang tengah viral diberitakan ditelevisi itu selama dua hari ini." Ucap pak Firman sambil menatap kearah Willy dan Moranno bergantian.


"Saya berniat bertanya langsung pada nak Hana, namun nak Firlita mengatakan nak Hana sedang sakit. Kebetulan hari ini, saya bisa bertemu langaung dengan tuan Moranno, dan mas Willy..... Saya ingin bertanya langsung, supaya tidak terjadi kesalah - fahaman diantara warga kami dikompleks ini, karena saya berkewajiban memberikan penjelasan yang benar dari sumbernya, yaitu mas Willy." Tambah pak Firman lagi.

__ADS_1


"Saya juga tidak rela, gadis sebaik nak Hana mendapat celaan, dan cibiran, bahkan hinaan atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Tolong berikan saya penjelasan yang benar dan jujur atas berita yang sedang mencuat itu mas Willy......" Pinta pak Firman menatap penuh harap pada Willy yang masih menatap kearahnya dengan pandangan yang rumit.


Sementara Moranno yang duduk berdampingan dengan putranya, tetap bersikap tenang dan memberikan kesempatan pada putranya itu untuk menjawab pertanyaan sang ketua RT.


Willy memperbaiki posisi duduknya, dirinya berfikir sejenak, berusaha mencari kata - kata yang cocok dalam jawaban yang akan ia sampaikan. Bagaimanapun juga, pemberitaan tentang dirinya dan Hanaria sudah menjadi konsumsi publik, mau tidak mau, ia bertanggung jawab untuk meluruskannya. Sementara pak Firman masih duduk menunggu dengan sabar apa yang dikatakan pemuda yang berwajah tampan itu.


"Pak Firman..... Nona Hanaria, adalah salah satu pegawai kami yang berkerja sebagai seorang arsitek. Beberapa hari yang lalu, sehari setelah nona Hanaria diwisuda, perusahaan kami mengangkat nona Hanaria, dari seorang tenaga arsitek biasa menjadi Wakil Kepala Divisi Arsitektur. Mungkin karena terburu - buru dipagi itu, nona Hanaria tersandung saat masuk kedalam lift, dan terjatuh didalamnya hingga cidera. Karena didalam lift hanya ada saya saja bersama nona Hanaria, jadi saya menggendongnya untuk membantunya, seperti apa yang pak Firman lihat divideo berdurasi hanya 6 detik itu." Jelas Willy dengan sangat tenang sambil sesekali melirik ayahnya yang menyimak setiap kalimat yang ia ungkapkan.


"Nona Hanaria diangkat sebagai Wakil Kepala Divisi Arsitecture juga bukan karena saya pak Firman, tapi melalui penyaringan pegawai berprestasi yang diurus oleh team khusus yang sudah ditugaskan. Bukankah begitu dad.....??" Lanjut Willy, sambil menoleh kearah Moranno Agatsa, ayahnya yang masih mendengarkan dengan baik obrolan mereka.


"Itu benar pak Firman. Perusahaan kami, selalu bertindak sesuai prestasi, bukan karena hubungan pribadi. Bila ada pegawai yang dilihat layak menempati suatu jabatan dalam perusahaan, maka pegawai tersebut akan dimasukkan kedalam daftar promosi. Saat ada jabatan kosong yang perlu diisi, maka pegawai yang mendapat promosi tersebut, setelah melewati berbagai tahap penyeleksian, dan dianggap layak, barulah dapat diangkat, tanpa pegawai itu sendiri ketahui. Contohnya, pengangkatan yang perusahaan lakukan pada nona Hanaria beberapa hari lalu." Jelas Moranno, turut menambahkan penjelasan dari putranya itu.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari kedua pria dihadapannya itu, pak Firman akhirnya dapat tersenyum lega.


"Saya merasa sangat lega tuan Moranno, dan mas Willy. Saya memang berkeyakinan, bahwa apa yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang diberitakan ditelevisi itu. Video yang berdurasi 6 detik itu saja hanya memperlihatkan mas Willy menggendong nak Hanaria menuju suatu tempat, tidak lebih, hanya caption itu saja yang berkata bila nak Hana naik jabatan karena dekat dengan bosnya." Ucap pak Firman dengan senyum sumringahnya, itu artinya dirinya selama ini tidak pernah salah menilai tentang Hanaria.


__ADS_2