
"Tekstur dagingnya juga sama lembutnya seperti yang tadi, matangnya pas, tidak terlalu pedes dimulut. Ini enak, enak banget!" Hanaria sampai memejamkan matanya.
"Gaya-mu seperti para juri ditelevisi itu saja," ucap Willy tertawa kecil mendengar perkataan Hanaria dan gayanya menikmati masakannya.
"Ini semua kan karena dirimu sendiri yang memintaku memberi penilaian pada masakanmu," sahut Hanaria masih mengunyah daging yang belum habis didalam mulutnya.
"Iya kau benar," Willy berusaha menghentikan tawanya.
"Nah ini, coba kau cicipi fuyunghai-nya lagi," Willy kembali menyodorkan hasil masakannya yang kesekian kali pada Hanaria, isterinya itu tetap setia membuka mulutnya, menerima suapan dari Willy, dan mulai mengunyah sambil menikmati.
"Bagaimana?" Willy kembali penasaran akan penilaian isterinya itu. Hanaria masih mengunyah pelan, lalu menelan habis fuyunghai yang ada dalam mulutnya dengan sekali telan.
"Katanya ini percobaan kau memasak. Tapi kenapa masakanmu seperti orang yang sudah profesional saja dalam memasak? Rasanya enak," puji Hanaria dengan jujur, setelah menelan habis makanan dalam mulutnya.
"Aku sebenarnya tidak terlalu suka makan daging, tapi steak-mu ini membuatku menyukainya," imbuh Hanaria lagi, tanpa permisi ia menarik piring saji steak daging asam manis dari hadapan suaminya.
Willy kembali tersenyum melihat apa yang dilakukan Hanaria.
"Ini baru percobaan memasak, dan kau mengatakan aku seperti seseorang yang sudah profesional dalam memasak," ujar Willy dengan senyumnya yang mengembang.
"Nanti aku akan buktikan kemampuanku dalam hal yang lainnya seperti seorang yang profesional juga, walau itu juga masih percobaan" sahut Willy sambil mengerlingkan matanya memandang kearah Hanaria dihadapannya.
Uhuk! Uhuk! Uhukk!
Perkataan Willy membuat Hanaria tersedak hingga terbatuk-batuk, ia sudah tahu arah pembicaraan suaminya itu.
"Ini, cepat minumlah," Willy segera memberikan segelas air putih pada isterinya. Hanaria segera meraih dan meneguk air putih dari gelas yang diberikan Willy padanya.
"Apakah perkataanku membuatmu tersedak?" tanya Willy mengoda dengan senyum penuh arti.
"T-tidak, aku hanya tidak hati-hati saja saat makan," sahut Hanaria asal.
"Lain Kali, kau harus lebih hati-hati Hana," ucap Willy dengan nada khawatir, ia mengambil beberapa tissue dan mengusap wajah Hanaria yang terkena noda makanannya sendiri.
"Terima kasih," ucap Hanaria lirih, mendapat perlakuan Willy yang manis padanya.
"Sama-sama," sahut Willy tidak kalah lirih, sambil tersenyum tipis melihat wajah Hanaria yang bersemu merah.
"Kedepannya, kau harus lebih menyiapkan dirimu Hana. Sepertinya aku akan lebih sering membuatmu tersedak seperti ini," goda Willy lagi. Ia sengaja menatap lekat wajah isterinya, membuat Hanaria memalingkan wajahnya, tidak mau membalas tatapan Willy padanya.
Hanaria melahap makanan dihadapannya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
__ADS_1
"Oh Willy kenapa tatapanmu membuat jantungku berpacu tidak beraturan seperti ini," keluh Hanaria didalam hatinya.
"Tadi-, saat dikamar mandi, apakah kau suka dengan mawar-mawar itu? Untuk menemanimu mandi?" tanya Willy disela-sela makan malam mereka.
"Suka-," sahut Hanaria singkat, suaranya terasa sangkut ditenggorokan.
Willy kembali menatap Hanaria, memperhatikan istèrinya yang tidak banyak bicara karena sibuk melahap makanannya dengan mulut penuhnya.
"Apakah karena masakanku terlalu enak, atau kau memang sedang mempersiapkan energimu dengan baik untuk kita berdua malam ini?" Willy kembali mengusili isterinya itu lagi dengan ucapannya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Untuk kedua kalinya, Hanaria kembali tersedak hingga terbatuk-batuk. Kali ini makanan dari dalam mulutnya tersembur mengenai wajah Willy yang duduk dihadapannya. Ia segera meraih gelasnya, meneguk sisa air putih untuk meredakan tenggorokannya.
"M-maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Hanaria panik, ia segera meraih tissue diatas meja dan membersihkan wajah Willy yang kotor akibat ulahnya.
Willy hanya bisa terpana memandang kearah Hanaria, pasalnya wajahnya sudah penuh dengan hasil kunyahan dari mulut isterinya itu.
"M-maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ulang Hanaria lagi, ia merasa tidak enak pada suaminya itu, yang ia kenal sebagai pria yang sangat menjaga kebersihannya.
"Eum, tidak masalah, aku juga salah, sudah menyebabkanmu tersedak," ucap Willy mengakui kekonyolan yang telah ia lakukan pada isterinya itu.
"Bagaimana ini, makanannya kotor," ucap Hanaria sambil memperhatikan makanan diatas meja makan mereka yang kotor.
"Tidak, kau saja yang makan, aku sudah lumayan kenyang," tolak Willy.
"Lagi pula aku tidak pandai memilah-milah duri-durinya, nanti bisa bersarang ditenggorokanku, aku tidak mau," ucapnya lagi merasa ngeri sambil menyentuh lehernya dengan jarinya.
"Aku yang akan memilahnya," Hanaria kembali menarik piring saji ikan bakar dari hadapan Willy. Ia mulai menekan-nekan dengan sendok makan ditangan kirinya dan mencuil tulang-tulangnya dengan bantuan garpu ditangan kanannya.
"Buka mulutmu," pinta Hanaria sambil menyodorkan sendok yang diisi ikan didalamnya.
"Kau yakin duri-durinya sudah bersih sepenuhnya?" tanya Willy dengan nada ragu. Ia trauma makan ikan karena sering duri-duri halus dari tulang ikan itu nyangkut ditenggorokannya.
"Iya, ini sudah bersih, percayalah padaku," sahut Hanaria meyakinkan.
Willy membuka mulutnya, menerima suapan ikan yang diberikan Hanaria padanya. Dengan sangat hati-hati, ia mulai mengunyah, setelah merasa yakin dalam mulutnya tidak terasa duri yang ia takutkan, Willy langsung menelan makanannya.
"Bagaimana? Bersihkan?" ucap Hanaria menatap wajah Willy yang yang terlihat santai setelah menelan makanannya.
"Heum, aku mau lagi," sahut Willy meminta.
__ADS_1
Hanaria hanya mengulas senyumnya, ia kembali membersihkan ikan yang akan ia suap kembali pada suaminya itu.
"Buka lagi mulutmu," perintah Hanaria sambil mengarahkan sendok kemulut Willy lagi.
Willy menurut, menerima suapan demi suapan dari wanita yamg sudah sukses mendebarkan hatinya itu, ia memperhatikan wajah Hanaria yang serius melayaninya makan malam itu, tidak sia-sia ia berkorban menerima hasil kotoran muncratan kunyahan Hanaria, bila sekarang ia bisa makan langsung dari suapan isterinya itu.
"Bagaimana? Ikan itu enak kan?" ucap Hanaria, setelah piring saji dihadapannya hanya tersisa tulang belulang ikan kakap.
"Heum, iya enak," sahut Willy sambil menganggukan kepalanya.
"Apalagi kalau kau yang menyuapiku, rasanya berbeda, tidak seperti makan ikan, aku rasanya ingin mengunyahmu juga," sambung Willy didalam hati sambil tersenyum sendiri dengan hayalannya.
"Aku akan membersihkan piring-piring kotor ini dulu," ucap Hanaria seraya bangkit dari duduknya.
"Aku akan membantumu,"
"Tidak, kau duduk saja disini. Sekarang giliranku. Bukankah tadi kau yang sudah memasak untuk kita?"ujar Hanaria menahan suaminya itu supaya tetap duduk dikursinya.
"Tidak masalah, kita lakukan bersama, supaya cepat selesai, supaya kita segera kembali kekamar untuk beristirahat," ucap Willy turut membawa semua peralatan kotor yang telah mereka gunakan dari atas meja.
"Terserah kau saja," sahut Hanaria tidak mau berdebat.
Keduanya lalu mulai membersihkan peralatan dapur bersama, merapikan meja dan menyusun peralatan itu pada tempatnya. Tidak memakan waktu lama, pekerjaan yang dilakukan bersama itupun akhirnya kelar juga.
"Kalau kau masih menyukai mawar-mawar itu, besok aku akan menyediakan lagi kelopak-kelopak mawarnya untukmu di bak mandimu," ucap Willy, saat mereka menginjakan anak tangga terakhir menuju kamar.
"Kau serius?" tanya Hanaria menatap wajah Willy yang berjalan disampingnya.
"Iya, aku serius," sahut Willy seraya menganggukan kepalanya.
"Mawar sebanyak tadi?" tanya Hanaria memastikan.
"Iya sebanyak tadi, bisa aku sediakan besok untukmu," sahut Willy meyakinkan.
Bagaimana kau bisa mendapatkan mawar sebanyak itu ditempat seperti ini?" Hanaria menghentikan langkahnya didepan pintu kamar mereka, saat mendengar perkataan Willy yang meyakinkannya.
"Besok akan kutunjukan padamu Hana, bagaimana aku bisa mendapatkan mawar-mawar itu dengan mudah untukmu," Willy kembali menempelkan lima jarinya pada daun pintu dihadapannya hingga pintunya terbuka otomatis.
"Ayo masuk," Willy mempersilahkan Hanaria melewatinya untuk masuk lebih dulu.
Tanpa bicara, Hanaria langsung masuk, ia merasa bingung saat berada disisi tempat tidur, tidak tega naik keranjang yang berada ditengah-tengah ruangan itu, takut merusak hiasan yang ada diatasnya.
__ADS_1
Hanaria mundur selangkah bersiap berbalik, berniat mengatakan sesuatu pada suaminya itu mengenai ranjang tidur untuk mereka beristirahat malam ini.
"Apakah kau sengaja menggodaku? Dengan berpakaian seperti ini?" ucap Willy yang sudah memeluk erat pinggang Hanaria dari belakang sebelum isterinya itu berhasil membalikkan tubuhnya.