HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
190. Meeting Penting (Visual Willy & Hanaria)


__ADS_3


Willy Moranno Agatsa



...Hanaria...



Willy Moranno Agatsa


Ceklek!


Willy menatap kearah pintu yang tiba-tiba terbuka lebar tanpa diketuk. Ia terperangah ketika melihat Hanaria yang muncul didepan pintu lalu menutupnya dengan rapat dan menguncinya.


"Hana?!" Jakun Willy naik turun melihat rok isterinya yang terlalu tinggi dari biasanya.


"Ini belum waktunya makan siang Hana," kata Willy saat melihat isterinya menuju kearahnya sambil menenteng paper bag ditangannya.


"Dan kenapa itu terlalu pendek seperti itu," protes Willy menunjuk kaki mulus isterinya.


"Aku tahu, aku kemari bukan untuk mengantarkan makan siang, tapi mau membuat bayi bersama suamiku," Hanaria lalu menghempaskan tubuhnya dalam pangkuan Willy. Paper bag ditangannya ia lemparkan begitu saja keatas meja kerja suaminya itu.


"Hana apa yang kau lakukan?" Willy kembali terperangah saat tangan nakal Hanaria sudah menelusup masuk kedalam resleting celana kainnya setelah menggeser sedikit posisi tubuhnya dipangkuan suaminya itu.


"Ayo, kita buat bayi suamiku," tantang Hanaria sambil memijit apa yang sedang digenggamnya didalam sana, terasa lembut, kenyal, dan sedikit lembek karena masih tertidur.😄


"Jangan sekarang Hana, aku sedang berkerja. Ada meeting penting hari ini sebentar lagi," Kata Willy berusaha tetap tenang. Wajahnya sedikit menegang, menahan rasa tidak karuan akibat pijatan tangan Hanaria yang semakin intens.


"Aku sudah perintahkan sekretaris Morin untuk menunda meeting-nya satu jam lagi, jadi kau tenang saja suamiku," sahut Hanaria tanpa beban.


"Apa?!" Kepala Willy langsung berdenyut mendengar perkataan Hanaria barusan. Ia saja sebagai salah satu anggota pemilik dari Perusahaan tidak seberani itu menunda meeting yang sudah terjadwal, apalagi dalam tempo kurang dari lima menit meeting akan dimulai.


Dirinya pasti akan mendapat teguran keras dari berbagai pihak tentunya, karena dianggap tidak professional dalam berkerja, dan sesuka hati membuat keputusan sepihak sebagai seorang CEO.

__ADS_1


"Iya, dan sekretaris Morin sudah menyanggupinya," imbuh Hanaria lagi, sementara tangan nakalnya masih tetap melakukan aksi beraninya yang entah dari mana ia mendapatkan tutorialnya.


Willy masih kefikiran akan penundaan meeting, tapi ia tidak biaa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah apa yang akan terjadi nantinya, akibat tindakan ceroboh isterinya itu.


"Willy-, ayo, kenapa kau masih duduk disini, kita masuk kekamarmu itu," tunjuk Hanaria dengan tidak tahu malunya, hish.


"Bagaimana aku bisa beranjak Hana, kau masih duduk dipangkuanku, tubuh beratmu itu membuatku susah bergerak," timpalnya.


"Aku tidak mau tahu, sebagai seorang suami kau harus sanggup menggendong-," Hanaria tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia buru -buru menarik tangannya, wajahnya yang semula tersenyum menggoda pada suaminya mendadak menegang, karena sesuatu yang ia genggam sudah menunjukan otot kerasnya dan seakan ingin menjulur keluar dari wadahnya yang penuh sesak.


"Kenapa wajahmu menegang, hm? Apakah kau takut? Ayo, lanjutkan pijatanmu yang aku rasa sangat lihai itu, isteriku," kini Willy yang balas menggoda.


"Apakah harus disini? Kenapa kita tidak pindah tempat saja supaya rikeks?" ucap Hanaria beralasan, sebenarnya ia berusaha menunda waktu karena rasa takut itu tiba-tiba datang menyerangnya.


"Kita bisa melakukannya dimana saja bukan termasuk dikursi ini,hm?" Willy langsung merangkul erat tubuh Hanaria yang masih duduk dalam pangkuannya. Tentu saja dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini, Hanaria yang biasannya menolaknya berkali-kali, kini secara tidak terduga malah datang menyerangnya dan mengajaknya bercinta di jam-jam kerja yang sangat beresiko.


Willy sudah mengesampingkan segala kekhawatirannya mengenai penundaan meeting penting-nya, itu akan ia urus kemudian setelah urusan meeting pentingnya dengan Hanaria selesai.


Hanaria hanya bisa pasrah, saat bibir pink milik Willy mendarat dan menempel pada bibirnya. Untuk beberapa detik Willy tidak melakukan gerakan apapun, sampai akhirnya ia merasakan bibir Hanaria merespon, lebih dulu menyesap bibir bawahnya dengan lembut.


"Willy, kenapa tanganmu langsung menyelinap kesana?" Protes Hanaria, ia langsung memegang tangan nakal Willy yang sudah berada diarea pembungkus segitiganya, seraya melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku hanya melakukan sesuai tutorialmu saja Hana. Bukankah kau sudah memberiku contoh caranya membuat bayi? Jadi aku hanya menirumu saja," kilah Willy sambil terus melakukan aksinya.


"Tapi Willy-," Hanaria berusaha protes.


"Sudahlah Hana, kita hanya punya waktu kurang dari satu jam untuk menyelesaikannya, kalau tidak, aku akan menghilang lagi seperti kemarin," ujar Willy membujuk setengah mengancam.


"Kau mengancamku?" Hanaria menatap wajah Willy dengan pandangan sedih.


"Maafkan aku, Lupakan semua itu, saat ini aku hanya ingin dirimu. Aku ingin kita membuat bayi yang lucu dan menggemaskan," ucap Willy cepat, ia takut isterinya itu berubah fikiran.


Kali ini, dirinyalah yang langsung beraksi, ******* bibir isterinya dengan penuh gairah. Sementara tangan kanannya kembali melanjutkan aksinya, meremas gundukan bukit yang masih terbungkus rapi dengan kain segitiga hingga menimbulkan suara ******* dari pemiliknya.


Sementara itu diluar ruang kerja Willy, sekretaris Morin sedikit gemetar berdiri dibelakang meja, saat melihat Moranno, melangkah mendekati dirinya.

__ADS_1


"Sekretaris Morin, kenapa kau berani sekali melakukan penundaan meeting penting hari ini?" tanya Moranno dengan wajah memerah. Bagaimana tidak, ia sudah berada diruang meeting bersama semua anggota dewan direksi dan para pemegang saham, tiba-tiba saja ada pemberitahuan dari sekretaris Morin lewat audio ruangan sercara mendadak menunda hingga satu jam kemudian.


"M-Maafkan saya tuan," Morin menundukkan kepalanya dengan dalam.


"Apa tuan Willy yang memèrintahkanmu melakukan perintah konyol itu?" lanjut Moranno berusaha menahan diri pada sekretaris pribadi putranya itu.


"Bukan tuan," sahut sekretaris Morin masih menundukan kepalanya takut. Moranno mengernyitkan keningnya, ia merasa bingung siapa yang memberi perintah bila bukan putranya Willy.


"Bila bukan tuan Willy yang memberimu perintah lalu siapa? Lalu dimana Willy sekarang, kenapa dia dan dirimu tidak datang keruang meeting?" cecar Moranno menatap sekretaris Morin.


"Nona H-Hanaria tuan. Dan mereka sekarang ada didalam ruang kerja tuan Willy Tuan," sahut sekretaris Morin gugup.


"Nona Hanaria?" Moranno menyebut nama menantunya dan kembali mengernyitkan keningnya, merasa janggal bagaimana mungkin menantunya melakukan hal yang bukan wewenangnya.


"Iya Tuan, nona Hanaria yang memberi perintah," sekretaris Morin menegaskan, berharap tuannya itu akan memarahi menantunya yang tidak tahu diri itu.


Tanpa berucap, Moranno bergegas menuju pintu ruangan kerja Willy. Sekretaris Morin yang melihatnya serta merta menyusulnya setengah berlari dengan sepatu highheels-nya.


"Berhenti Tuan! M-Maafkan saya. Saya diperintahkan nona Hanaria, tidak seorangpun yang boleh masuk ke ruang kerja tuan Willy selama satu jam kedepan," kata sekretaris Morin menghadang didepan pintu.


Moranno yang melihat tindakan sekretaris Morin yang sangat patuh pada perintah Hanaria menantunya merasa ada yang janggal.


"Menyingkir dari sana sekretatis Morin," perintah Moranno.


"Tidak Tuan, m-maafkan saya," sekretaris Morin tidak mau beranjak, ia tetap menghadang didepan pintu. Moranno semakin heran, sekretaris Morin tidak pernah seberani itu padanya.


"Kau berani membantah perintahku, apakah tidak takut dipecat?" Moranno mulai naik pitam, baginya sekretaris Morin sudah bertindak melampaui batasnya.


"Mohon maafkan saya Tuan, saya hanya menjalankan perintah, saya takut nona Hana mempolisikan saya lagi," ungkap sekretaris Morin menundukan kepalanya.


Moranno menatap sekretaris Morin, ia tidak habis fikir bagaimana mungkin sekretaris pribadi putranya itu lebih takut pada menantunya dibandingkan pada dirinya, ini sungguh aneh menurutnya.


"Agghh!"


Suara erangan itu terdengar menggema dan sangat jelas didalam ruangan kerja Willy, membuat Moranno dan sekretaris Morin seketika saling berpandangan satu sama lain dengan ekspresinya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2