HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
257. Karena Satu Alasan


__ADS_3

Dua ibu jari Willy seketika berhenti berselancar diatas layar ponselnya. Wajah tampannya menyentuh kening Hanaria yang masih menyandarkan kepalanya dengan manja pada pundaknya.


"Jangan bilang kalau kau cemburu pada dokter Rosalia," Willy mengacak lembut pucuk rambut Hanaria, ia seketika gemes pada isterinya yang baru kali ini menunjukan rasa cemburunya selama mereka menikah, sesuatu yang mustahil menurutnya.


Hanaria langsung terkekeh, merasa geli sendiri pada kesalah-fahaman Willy suaminya, "Percaya diri sekali. Aku tidak cemburu Dad-dy nya El dan Jo!" Hanaria menegakkan tubuhnya, lalu memukul punggung suaminya itu menggunakan bantal sofa.


"Lalu? Apa maksud ucapanmu tadi? Kalau Papah Rosalia lebih menyukaiku dibandingkan kak Billy menjadi menantunya," terang Willy sembari menangkis pukulan Hanaria.


"Aku kenal dokter Rosalia, dan aku juga kenal kau Willy, kalau kalian sama-sama suka, aku rasa kalian sudah lama menikah sebelum kau bertemu denganku," ungkap Hanaria berusaha merangkai kata untuk memberi penjelasan.


"Aku merasa--,"Hanaria terlihat berfikir, berusaha mengeluarkan apa yang ada dikepalanya, namun serasa sulit untuk dirinya jelaskan.


"--Ada sesuatu alasan yang menjadi pertimbangan pak Hartawan itu, tapi aku tidak tahu itu apa. Aku hanya merasa dia begitu ramah padamu, tapi pada kak Billy tidak." ungkapnya hati -hati.


Hanya itu yang berani Hanaria ungkapkan, ia tidak terlalu berani berasumsi lebih pada seorang Hartawan yang ia kenal bukan orang biasa. Kesimpulan pemikiran itu dirinya ambil karena melihat pria berkharisma itu mampu mengambil sikap tegasnya pada Billy.


Padahal pria itu sangat mengenali dan dekat dengan keluarga mertuanya, batinnya, yang menjadi sahabat dari isterinya, dokter Rosalie. Keluarga yang memiliki nama besar, yang namanya diperhitungkan dalam dunia bisnis dan pemerintahan, karena banyak memberi sumbangsih pada negeri ini dalam membuka lapangan pekerjaan untuk anak-anak bangsa.

__ADS_1


"Sebelum menikah denganmu, aku dan Rosalia pernah tidur bersama dikamar apartemenku," ucap Willy mengingat peristiwa lebih dari satu tahun yang lalu.


Hanaria memandang Willy, berharap mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari suaminya itu.


Seakan mengerti, Willy melanjutkan kalimatnya. "Tapi kau jangan khawatir, kami tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dan Rosalia juga sedang kedatangan tamu bulananya juga waktu itu."


Willy kembali menggulir ponselnya, teringat bila dirinya belum menentukan pesanan makan malam untuk Hanaria.


"Kau mau ini?" tanya Willy, memperlihatkan menu pesanan dilayar ponselnya. Hanaria memperhatikan sejenak lalu mengangguk. Willy segera mengklik tombol pemesanan double.


"Yang ini?" Willy kembali menunjuk dua menu yang ada dilayar ponselnya pada Hanaria lagi, dan isterinya itu kembali memperhatikan apa yang diperlihatkan Willy sesaat, lalu mengangguk setuju.


"Kami hanya tidur karena kelelahan dan kemalaman dari acara reuni. Dan pagi-pagi buta, oma Agatsa datang ke apartermen dan memergoki kami tidur bersama."


"Walau kami sudah memberi penjelasan, bahkan Rosa memperlihatkan pada Oma kalau dirinya sedang kedatangan tamu bulanan, Oma tetap saja memberitahukan pada Daddy dan Mommy juga pada papah Hartawan dan Mamah Rosalie untuk menikahkan kami karena sudah tidur bersama walau tidak melakukan hal yang tidak senonoh."


"Oma melakukan itu karena takut keluarga kami dianggap mempermainkan anak gadis orang."

__ADS_1


"Daddy dan Mommy bagaimana?" tanya Hanaria yang pokus menyimak cerita suaminya.


"Daddy dan Mommy setuju, mamah Rosalie juga, tapi papah Hartawan menolak. Aku dan Rosalia lega, kami berdua 'kan baru saja menyelesaikan pendidikan, mana baru mau mulai berkerja."


"Disitulah aku benar-benar tahu, kalau papahnya Rosalia itu mau putrinya jadi perawan tua saja," duga Willy. "Dan selama kami berdua sekolah di luar negeri dulu, papahnya Rosalia selalu saja menyingkirkan laki-laki yang berusaha dekat dengan Rosalia."


"Menyingkirkan? Menyingkirkan bagaimana maksudmu Willy?" Hanaria berharap ayah dari dokter Rosalia itu tidak melakukan kesewenang-wenangan seperti yang ada dalam pikirannya.


"Menyingkirkan dalam batas yang wajar, tidak sampai menghilangkan nyawa." jelas Willy


Hanaria merasa lega, lalu menanggapi lagi ucapan suaminya sebelumnya. "Itu "kan hanya dugaanmu saja, belum tentu papahnya dokter Rosalia mau anaknya jadi perawan tua."


"Yah, semoga saja begitu Hana. Aku ingat saat kami masih TK. Aku dan kak Billy di TK A sedangkan Rosalia sudah di TK B, Rosalia memang lebih tua satu tahun dari kami berdua."


"Ketika kami saling berpamitan pulang dijemput orang tua masing-masing, papah Hartawan langsung memarahi kak Billy yang memeluk dan mencium Rosalia lalu menarik kak Billy dengan paksa supaya melepaskan pelukannya. Padahal yang meluk itu si Rosalia," Willy terkekeh mengingat masa kecilnya bersama kakak kembarnya itu dan juga Rosalia.


Mendengar penuturan Willy, Hanaria ikut terkekeh dan semakin yakin bila ada satu alasan kuat yang membuat Hartawan melakukan itu, bukan hanya pada Billy, tapi semua laki-laki yang berusaha mendekati dokter Rosalia yang lebih dari sekedar teman.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2