HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 27 Mencari Firlita


__ADS_3

Hari sudah beranjak senja, saat Hanaria tiba dirumah sederhananya dikota. Driver membantu Hanaria menurunkan semua barang - barangnya.


"Mba Hana, barang - barang sudah saya turunkan semua." Kata Driver pada Hanaria.


"Terima kasih banyak ya mas atas bantuannya." Hanaria segera membayar ongkos sesuai tarif yang telah dikatakan sang driver.


"Sama - sama mba Hana. Saya juga terima kasih untuk oleh - oleh buah - buahannya. Saya pamit dulu." Ucap driver itu lalu masuk kemobilnya kembali.


"Oh, ya... jangan lupa tiga minggu lagi jemput orang tua saya dikampung ya mas....." Ucap Hanaria mengingatkan.


"Siap mba Hana......" Sang driver lalu menjalankan mobilnya perlahan dan meninggalkan halaman rumah Hanaria.


Suasana rumah nampak sepi. Hanaria langsung masuk kedalam rumah, menutup pintu dengan rapat dan menguncinya dari dalam.


Hanaria masuk kekamar mandi, segera membersihkan tubuhnya disana.


Selesai mandi, Hanaria melihat jarum jam dinding dikamarnya menunjukan jam 19.20, ia mengambil satu sisir pisang yang sudah matang, dua buah pepaya matang dan buah labu lalu memasukannya dalam plastik.


Dengan menaiki mobilnya, Hanaria menuju rumah pak RT Firman.


Beberapa kali Hanaria mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat itu dengan sabar. Setelah menunggu beberapa detik, terdengar suara seseorang memutar anak kunci untuk membukakan pintu.


"Selamat malam bu......" Sapa Hanaria melemparkan senyumnya saat seorang wanita muncul dari pintu yang terbuka.


"Ehh.... nak Hana..... selamat malam juga..... Kapan kembali dari kampung nak Hana?" Ucap bu RT yang terkejut melihat Hanaria yang datang sambil mengulas senyum ramahnya.


"Baru saja tiba bu....." Sahut Hanaria.


"Pak, nak Hana sudah pulang dari kampung....." Panggil bu RT pada suaminya. Tak lama pria separuh baya, seusia ayah Hanaria datang menghampiri mereka didepan pintu rumah itu.


"Apa kabar nak Hana....... bagaimana keadaan ibumu, apakah sudah sehat?" Tanya pak RT Firman sambil tersenyum ramah.


"Kabar baik pak RT.... ibu saya juga sudah sembuh dan sehat. Tiga minggu lagi kedua orang tua saya akan datang kemari untuk menghadiri wisuda saya pak RT." Jawab Hanaria dengan sikap sopannya.


"Syukurlah kalau begitu, bapak senang mendengarnya, dan semoga juga wisudamu nanti berjalan dengan lancar ya nak Hana. Oya, masuk dulu, kok kita ngobrolnya diluar seperti ini." Pak RT menepikan tubuhnya kedinding memberi ruang pada Hanaria untuk masuk kedalam rumahnya.


"Tidak usah pak RT, saya sebentar saja untuk mengantarkan ini, oleh - oleh dari kampung, buah - buahan lokal saja pak RT dan bu RT." Hanaria menyerahkan apa yang dibawanya pada bu RT.


"Ini banyak sekali nak Hana.....Terima kasih banyak sudah rela berbagi." Wajah ibu RT nampak senang menerima pemberian dari Hanaria.


"Sama - sama bu.... Saya permisi dulu, mau segera istirahat, karena besok harus kembali berkerja."


"Baik nak Hana..... sekali lagi terima kasih banyak untuk semua oleh - olehnya ini." Ucap pak RT Firman.


"Iya, sama - sama pak RT dan ibu RT." Hanaria segera kembali kemobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, Hanaria membunyikan klakson terlebih dahulu dan dibalas lambaian tangan oleh pak RT Firman dan isterinya.

__ADS_1


Hanaria mengemudikan mobilnya dengan lambat menuju rumahnya.


Sambil membaringkan tubuhnya yang terasa begitu penat, Hanaria mengambil ponselnya. Ia mencari nama didaftar kontaknya, setelah menemukannya, Hanaria segera menyambungkannya.


"Hallo nak....." Terdengar suara lembut seorang wanita diseberang sana. Hanaria segera duduk di tempat tidurnya.


"Hallo juga bu.....Syukurlah ibu sudah bisa mengangkat teleponnya. Hana baru saja sampai dirumah dengan selamat. Bagaimana keadaan ibu dan ayah disana.....?" Ucap Hanaria yang merindukan suara ibunya.


"Syukurlah nak, kalau kau sudah sampai dengan selamat dirumahmu, ibu merasa lega. ibu dan juga ayahmu disini baik - baik saja, kami sehat. Hanya saja.... rumah ini terasa sangat sepi saat kau kembali kekota nak......" Suara ibu Muri terdengar bergetar diakhir kalimat menahan rasa sedihnya.


"Bu..... Ibu jangan sedih.... tiga minggu lagi kita akan bertemu lagi, ibu jaga kesehatan ya, jangan terlalu banyak pikiran, Hana baik - baik saja disini bu. Oya, Hana mau bicara dengan ayah juga...." Ucap Hana berusaha menghibur ibunya, walau sebenarnya hatinya juga sedih berpisah jauh dari ayah dan ibunya.


"Hallo nak....." Sapa pak Muri.


"Hallo ayah, Hana sudah tiba dengan selamat dirumah." Ucap Hanaria, ia berusaha memperdengarkan suara bahagianya.


"Syukurlah nak.... ayah lega dan senang bisa mendengar suaramu lagi...." Ucap pak Muri yang juga berusaha memperdengarkan suara bahagianya.


"Iya ayah.... nanti ayah dan ibu boleh sering - sering menelpon Hana. Telepon dari ayah dan ibu, pasti akan Hana angkat."


"Bila keseringan, nanti kami akan mengganggumu yang sibuk berkerja nak....." Ucap pak Muri.


"Bila sedang sibuk, nanti kita akan lanjut diwaktu yang lain, jadi ayah dan ibu tidak perlu sungkan untuk menelpon Hana."


"Iya ayah. Jaga kesehatan ayah ya, juga ibu. Hana tutup dulu, mau istirahat dulu. Besok kita sambung lagi ya ayah.


"Iya nak..... Jaga dirimu juga supaya baik - baik disana....."


"Terima kasih ayah...." Hanaria lalu menutup teleponnya. Buliran bening dari sudut matanya mengalir membasahi pipinya. Rasanya berat berpisah dari kedua orang tuanya, namun Hanaria berusaha kuat dan tegar, ini semua demi dirinya sendiri, dan juga orang tuanya, ia bertekad menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tuanya kelak.


Hanaria segera menghapus air matanya, ia segera mencari nama seseorang lagi dikontak ponselnya.


Segera ia menyambungkannya saat sudah menemukannya.


"Hallo kak Hana......." Suara Firlita terdengar begitu girang.


"Kau dimana Fir?" Tanya Hanaria saat mendengar suara Firlita.


"Aku masih berkerja kak, jam 22.00 malam aku pulang. Kak Hana sudah pulang dari kampung?"


"Iya Fir, kakak sudah pulang, baru saja tiba. Kakak mau istirahat dulu, tubuh kakak penat sekali, kau bawa kunci rumah kan?"


"Iya kak, aku bawa kunci rumah. kakak tidur saja duluan."


"Baiklah.... kau hati - hati dijalan ya Fir....."

__ADS_1


"Iya kak....."


Sambungan telepon terputus. Hanaria kembali membaringkan tubunya yang terasa begitu penat. Tak lama ia segera terlelap karena kelelahan.


Rasa ingin buang air kecil membuat Hanaria memaksakan dirinya untuk bangun ketoilet didalam kamarnya. Matanya masih sangat mengantuk.


Selesai buang air kecil Hanaria keluar kamar untuk mengambil air minum didapur. Ia segera meneguk segelas air putih untuk menghilangkan dahaganya.


Hanaria mengetuk pintu kamar Firlita. Tidak ada sahutan. Ia melihat jam didinding diruang makan sekaligus dapur itu sudah menunjukan pukul 23.00 malam.


Kembali Hanaria mengetuk pintu kamar Firlita, masih belum ada sahutan. Ia memegang kenop pintu dan mendorongnya. Ternyata tidak terkunci. Tidak ada siapa - siapa didalam kamar Firlita. Sprei ranjang tidur Firlita masih rapi.


Hanaria menuju pintu depan diruang tamunya, ia mengintip keluar lewat gorden jendela kacanya. Tidak ada motor matic merahnya disana. Itu arrinya Firlita belum pulang.


Hanaria bergegas masuk kekamarnya dan meraih ponsel dimeja belajarnya.


Ia segera menyambungkan teleponnya pada Firlita. Telepon tersambung, namun tidak diangkat.


Hanaria kembali menyambungkan telepon untuk kedua kalinya, dan masih tidak diangkat.


Hanaria nampak khawatir, jam dinding kamarnya sudah menunjukan jam 23.30, ia takut terjadi hal buruk pada Firlita, apalagi gadis itu sedang mengandung.


Hanaria melacak keberadaan motor maticnya yang telah dipasang alat GPS lewat ponsel pintarnya. Wajahnya terkejut saat melihat lokasi motornya berada disuatu cafe yang jauh dari rumahnya juga dari tempat kerja Firlita.


Ia segera menelpon ulang Firlita untuk ketiga kalinya. Telepon tersambung, namun masih tidak diangkat oleh Firlita.


Hanaria kembali menelpon ulang untuk keempat kalinya. Telepon tersambung. Tapi tiba - tiba terdengar berada diluar area.


Rasa kantuk Yurina langsung menghilang, rasa khawatirnya, membawa Yurina meraih kunci mobil dan segera keluar rumah.


Hanaria langsung mengemudikan mobilnya keluar komplek perumahan tempat tinggalnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepagan tinggi memecah kesunyian malam. Lalu lintas nampak lengang, jalan sudah sepi karena sudah larut malam.


Bermodalkan panduan GPS pada ponsel pintarnya, dalam waktu 35 menit, Hanaria sudah tiba ditempat tujuannya. Ia memarkirkan mobilnya disalah satu tempat parkir yang kosong.


Hanaria berjalan dijejeran parkiran motor. Ia langsung mengenali plat motor matic merahnya yang terparkir diantara banyaknya motor.


Hanaria menghampiri seorang juru parkir yang tengah memperhatikan dirinya.


"Pak..... apakah anda melihat gadis ini? dia adik saya, dia kemari menggunakan motor matick merah itu." Tanya Hanaria memperlihatkan foto Firlita diponselnya, lalu menunjuk kearah motor matic merah terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Kalau wajahnya, saya tidak ingat nona, tapi kalau bajunya, saya melihat seorang wanita mengenakan baju seragam SPG seperti ini. Dia datang sekitar 2 jam yang lalu. Dan sekarang masih berada didalam.


"Baik, terima kasih pak....." Hanaria segera memasukkan ponselnya kedalam sakunya dan menuju pintu masuk.


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁🙏♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2