
Reymon memperhatikan Willy yang baru pulang dari kebun bersama ayahnya. Pria itu termangu, melihat Willy yang terlihat sangat kotor oleh lumpur yang menempel dibaju dan celana pendeknya.
Jangan ditanya sepatu cat putihnya, sudah berubah warna menjadi cokelat kehitaman. Kulit wajah, kaki dan tangannya juga sudah berwarna kemerah - merahan akibat sengatan terik matahari hari ini.
Ada perasaan kurang nyaman dihatinya, bagaimana tidak? Wanita yang selama ini ia kejar dengan sepenuh hatinya, akan direbut pria lain, dan pria itu adalah Willy, orang yang pernah berjanji menjaga Hanaria sebagai calon kakak iparnya.
Reymon masih belum bisa terima, saat kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu, mengatakan tujuan kedatangan Willy adalah untuk mendekati kedua orang tua Hanaria supaya bisa mendapatkan hati putrinya, wanita yang diimpikannya menjadi isterinya.
Beberapa hari ini, fikirannya sangat terganggu akan hal itu, ia berusaha menyibukkan dirinya dan berusaha menghindari Willy.
Willy langsung menuju pekarangan samping untuk mengangkut air dari sumur buatan menggunakan timba air, lalu membawanya masuk kekamar mandi dibelakang rumah dinas guru pak Arta. Kegiatan itu ia lakukan berulang - ulang untuk mengisi gentong air dikamar mandi. Ia tidak menyadari kegiatannya itu diperhatikan oleh Reymon sejak tadi, dari jendela kamarnya.
Setelah sekian lama membersihkan dirinya dikamar mandi, akhirnya Willy selesai juga. Ia masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian, dan melihat Reymon sedang sibuk dimejanya, berkutat dengan lembaran - lembaran dihadapannya.
Selama beberapa hari dirumah pak Arta, Willy tidur sekamar dengan Reymon. Dirumah dinas guru itu hanya ada tiga kamar saja. Kamar utama, kamar anak, dan kamar untuk tamu. Selebihnya, hanya ruang tamu, dapur, dan kamar mandi yang menjadi satu dengan WC.
"Sedang mengerjakan apa mas?" Tanya Willy sambil mendekati meja Reymon.
"Memeriksa hasil ujian siswaku hari ini tuan muda." Sahut Reymon, ia menghentikan kegiatannya, meletakan pulpen ditangannya dan menghadapkan tubuhnya kearah Willy.
"Jangan panggil aku seperti itu disini mas. Panggil Willy saja. Seperti orang - orang disini." Ucap Willy kembali mengingatkan pria dihadapannya itu.
"Tapi saya merasa cangung kalau memanggil hanya nama saja tuan muda." Sahut Reymon. Willy memang sudah beberapa kali memperingatkannya akan hal itu, sejak ia tiba didusun itu, namun Reymon tetap saja merasa sungkan.
"Nanti juga terbiasa mas Rey......" Ucap Willy sambil tersenyum tipis. Reymon memandang tubuh atletis milik Willy, yang hanya berbalut handuk mulai pinggang hingga diatas lututnya.
__ADS_1
Pada bagian dada, perut dan yang tertutup lainnya, kulit Willy masih terlihat putih bersih, berbeda dengan kulit didaerah tangan, kaki, leher, dan wajah yang tidak tertututup pakaian, semuanya tetap terlihat memerah, karena terbakar terik matahari, walau sudah dibersihkan dikamar mandi.
"Apa yang tuan muda lakukan bersama ayah dikebun? Setahu saya, lahan kebun ayah tidak ada rawa - rawa, yang ada dataran dan perbukitan. Tapi tadi saya melihat tuan muda sepertinya masuk kedalam lumpur." Ucap Reymon masih menatap wajah Willy yang langsung tersenyum mendengar pertanyaannya.
"Tadi aku...... belajar menanam padi disawah mas, ikut orang tuanya nona Hana." Ucap Willy sambil berbalik, senyumnya menghiasi wajah kemerahannya, sambil mengambil baju kaos didalam kopernya dan langsung mengenakannya.
Air muka Reymon langsung berubah, namun Willy tidak melihatnya, karena sibuk mengenakan pakaiannya sambil membelakangi Reymon.
"Besok...... Aku akan ikut lagi menanam padi. Ya, sampai mereka menyelesaikan menanam semaian benih - benih padi itu mas." Ucap Willy lagi sambil berbalik karena sudah selesai mengenakan semua pakaiannya.
"Apakah tuan muda, benar - benar serius untuk mendapatkan Hanaria dengan cara ini?" Tanya Reymon, menatap wajah Willy yang kini tengah duduk ditepi pembaringannya.
"Aku..... hanya menjalankan misi yang mommy dan daddy perintahkan padaku mas Rey......" Ucap Willy sedikit ragu. Ia sangat tahu perasaan Reymon pada Hanaria.
"Saya mungkin akan merelakannya, walau sangat sulit. Tapi bila tuan muda mendapatkan Hanaria hanya berdalih karena suatu misi dari tuan dan nyonya, saya minta untuk menghentikannya sekarang juga. Saya tidak bisa melihat wanita yang saya cintai diperistri laki - laki yang tidak sungguh - sungguh mencintainya."
"Terlepas, dari apa yang tuan muda pernah lakukan padanya, saya tidak mempermasalahkannya. Tapi bila tuan muda masih tetap pada pendirian tuan muda yang semula, hanya karena misi..... itu ambisi semata tuan. Saya sangat tidak rela. Hanaria layak dicintai, dan dia berhak bahagia."
"Saya bahkan rela menerima wanita itu sekalipun...... tuan muda pernah menyentuhnya." Reymon sengaja membuat penekanan pada nada bicaranya, wajahnya menatap Willy dihadapannya dengan tatapan dingin.
Willy masih terpaku ditempatnya, ia tahu, Reymon berusaha menahan amarahnya pada dirinya, karena telah sangat berani menyentuh wanita yang ia jaga kehormatannya selama ini.
Bahkan sekalipun Reymon memukulnya seperti yang telah dilakukan Jonly, kakak kandung Hanaria, dia bertekad tidak akan membalasnya. Ia menganggap bahwa itu hukuman yang pantas dirinya terima.
"Sayangnya...... Dia tidak mencintaiku...... Kami sudah bersama sejak kecil, sudah saling mengenal satu sama lain. Dan dia, hanya menganggapku seperti kakaknya." Reymon tersenyum getir, menatap lurus kearah jendela yang sudah mulai terlihat gelap diluar sana.
__ADS_1
Willy tetap mendengarkan, tidak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya, sehingga ia dapat melihat wajah kesedihan diwajah Reymon saat mengatakan semuanya itu.
"Mas Rey...... Jadi pindah kekota?" Tanya Willy hati - hati. Reymon kembali mengarahkan pandanganya pada Willy.
"Sepertinya tidak jadi. Dari dinas sudah menyiapkanku menjadi kepala sekolah didusun ini, setelah kepala sekolah yang baru, yang akan menggantikan ayah menyelesaikan tugasnya disini selama satu periode." Jelas Reymon.
"Apa yang sedang kalian berdua diskusikan? Serius sekali......" Ibu Arta tiba - tiba mendorong pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ibu......."
"Bibi......."
Reymon dan Willy sama - sama menoleh kepintu yang terbuka. Ibu Arta memamerkan senyum bersahajanya pada kedua pemuda yang terpaut beberapa tahun beda usianya itu.
"Untung saja Reymon sedang bersama tuan muda bu, coba kalau pas bersama isterinya Reymon gimana? Bisa bahaya kalau ibu masuk kekamar Reymon tanpa mengetuk pintu." Reymon terkekeh, ia berusaha bercanda, berharap ibunya tidak mendengarkan isi pembahasannya dengan Willy.
"Justru ibu tahu kau sedang bersama nak Willy, makanya ibu berani membuka pintu tanpa mengetuk." Ibu Arta ikut terkekeh, sementara Willy hanya ikut tersenyum mendengar percakapan antara ibu dan anak itu.
Ia membayangkan bila isteri yang dimaksud Reymon itu adalah Hanaria. Hatinya tiba - tiba berdesir. Sekalipun hanya dalam bayangan, kenapa ia merasa tidak nyaman memikirkan hal itu, padahal belum tentu perkataan Reymon itu mengarah pada Hanaria.
"Ayo kita makan malam dulu, ibu sudah masak banyak, nanti keburu dingin." Ajak ibu Arta pada Reymon dan Willy sambil berlalu.
"Iya bu....."
"Iya bi....."
__ADS_1
Reymon dan Willy segera berdiri dari duduk mereka masing - masing, mengekor ibu Arta yang lebih dulu keluar dari kamar dan menuju kedapur.
...***...