
"Kenapa kau tidak langsung masuk saja kesana?" tanya Willy, memandang wajah Hanaria yang terlihat sedih.
"Aku tidak ingin ada orang-orang nyonya Mingguana melihatku. Aku tidak ingin nenek bayi Elvano itu tahu kalau aku sungguh-sungguh mencemaskan cucunya itu," ujar Hanaria berusaha menahan agar air matanya yang sudah membendung dipelupuk matanya tidak jatuh bebas dipipinya.
"Kalau begitu, kita minta tolong dokter Rosalia saja yang memberi kabar tentang kondisi bayi Elvano saat ini dari sana," kata Willy sambil meraih ponsel dari dalam sakunya dan menelpon sahabatnya itu.
Hanaria hanya mengangguk lemah, menyetujui ide suaminya. Ia masih menatap kearah rumah sakit Pemerintah itu, saat Willy memerintahkan sopir pribadi ayahnya itu kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka. Dalam fkirannya, ia membayangkan bagaimana bayi malang itu tengah berjuang untuk hidup dengan kondisi fisiknya yang lemah.
"Jangan khawatir, bayi pintar itu sudah dirawat dengan baik oleh para tenaga medis disana," ucap Willy, setelah dirinya selesai menelpon dokter Rosalia.
Sementara Moranno yang duduk disebelah sopirnya hanya diam mendengar apa yang tengah diperbincangkan oleh putra dan menantunya sambil meraih ponselnya yang tiba-tiba berderit.
"Hallo tuan Onde," sapa Moranno, setelah ia menempelkan ponsel miliknya pada daun telinganya.
"......." terdengar suara khas pengacara keluarga Agatsa itu sedang berbicara dari seberang sambungan telepon.
Willy menatap wajah ayahnya yang terlihat kaget dari pantulan kaca didalam mobil, ia berusaha menahan diri untuk bertanya, menunggu ayahnya hingga selesai menerima teleponnya.
Sementara Hanaria yang duduk disebelahnya, menatap keluar lewat kaca jendela mobil disebelahnya, ia masih sibuk dengan fikirannya, tentu saja masih kefikiran bayi Elvano yang dirawat dirumah sakit, yang belum bisa ia temui beberapa hari belakangan ini.
"Ada apa tuan Onde menelpon Daddy?" tanya Willy penasaran, begitu dilihat sang ayah sudah selesai dengan teleponnya.
"Tuan Margolius Onde mengatakan kalau nyonya Mingguana siap memenuhi permintaan Hanaria," sahut Moranno tenang.
"Apa?!" Willy nampak shock. Sementara Hanaria yang tidak menyimak perbincangan antara suami dan ayah mertuanya begitu kaget mendengar suara kencang Willy yang mengejutkannya. Lamunannya langsung buyar seketika.
__ADS_1
"Willy kau mengagetkanku," ucap Hanaria sedikit kesal memegang dadanya sambil menoleh kearah Willy yang duduk disebelahnya.
"Tidak mungkin semudah itu," lanjut Willy masih dalam mode kagetnya saat merespon ucapan ayahnya, dan mengabaikan isterinya yang masih belum memahami alur pembicaraan dirinya dan sang ayah.
"Kenyataannya seperti itu," sahut Moranno masih dengan mode tenangnya.
Willy terdiam, ia menoleh pada Hanaria yang tengah memandangnya. Perlahan diraihnya tangan isterinya, mencium punggung tangan Hanaria begitu lama dengan penuh perasaan.
"Apa yang terjadi?" tanya Hanaria bingung, melihat kecemasan diwajah suaminya, dan membiarkan Willy terus menggenggam tangannya setelah menciumnya.
Willy tidak cepat menjawab, terus terang, dirinya masih shock mendengar berita yang disampaikan oleh pengacara keluarga mereka barusan pada ayahnya.
"Nyonya Mingguana, mantan bos-mu itu, dia menyetujui persyaratan yang kau ajukan," ucap Willy akhirnya.
"Apa??" Hanaria tercengang, ia benar-benar tidak menduga permintaan mustahilnya bisa diterima begitu saja dengan mudah oleh sang mantan bos-nya itu.
"I-Iya Dad," sahut Hanaria tergagap, ia nampak gugup, rasa terkejutnya masih menguasai dirinya.
"Apa kau yakin akan terus melangkah dengan keputusanmu? Aku yakin, perempuan licik itu pasti punya alasannya sendiri bila menyetujui permintaanmu," kata Moranno pada menantunya.
Wajah Hanaria mendadak pucat pasi, ia tahu siapa mantan bos-nya itu. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan.
"Aku yakin Dad," sahut Hanaria mantap.
"Baiklah, besok selepas makan siang, kita akan bertemu tuan Margolius Onde membicarakan hal ini. Beliaulah yang akan mengurus semuanya pada Notaris yang menangani Perusahaan milik nyonya Mingguana ," ucap Moranno.
__ADS_1
Hanaria kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu mengeluarkannya sedikit demi sedikit, berusaha membuang rasa khawatir dan bersiap menyongsong beban beratnya dikemudian hari setelah keputusannya ini.
"Seperti yang pernah aku katakan sore lalu, jika diriku bukan isteri Willy dan menantu Daddy, aku tidak berani mengambil langkah ini. Jadi, aku mohon dukungan dan bantuan Daddy dalam hal ini, juga padamu Willy," ucap Hanaria dengan bersikap tenang, berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Hana, kau perlu ingat, Daddy tidak bisa masuk lebih dalam. Sebagai seorang pengusaha, kita tidak diperkenankan mengetahui rahasia anggaran dasar rumah tangga perusahaan lain, dan itu etika dalam berbisnis." jelas Moranno mengingatkan tentang posisinya pada sang menantu.
"Tapi bila sebatas ilmu, nasihat, ataupun masukan, Daddy siap membantumu," tambah Moranno lagi tanpa memberi banyak harapan.
"Iya Dad, aku mengerti." sahut Hanaria tetap bersikap tenang.
Sementara Willy yang duduk disebelah Hanaria, setia membungkam mulutnya. Suasana tegang pasca Hanaria memutuskan langkahnya beberapa hari lalu hingga kini semakin terasa auranya.
...***...
Dengan senyum penuh kebahagiaan, Hanaria memeluk erat bayi Elvano yang kurus, ia mencium bayi itu berulang-ulang demi melepas rasa rindunya setelah lebih dari dua minggu ia tidak bertemu dengannya.
Sementara bayi Elvano memeluk erat lehar Hanaria dan menyandarkan kepala kecilnya pada pundak ibu adopsinya. Ya, setelah persetujuan nyonya Mingguana lewat asisten David, pengadilan akhirnya mengetuk palu, dan mengesahkan Willy dan Hanaria menjadi orang tua adopsi dari bayi Elvano.
Setelah memasukan semua barang-barang bayi Elvano dibagasi belakang, bibi Narsih dan pak Aji melambaikan tangannya, ketika mobil yang dikemudikan oleh Willy meninggalkan kediaman nyonya besar mereka dengan membawa majikan kecil mereka pergi.
Sambil pokus pada jalan didepannya, sesekali Willy melirik bayi Elvano yang tengah bergelayut manja dileher isterinya. Ia terkesiap saat mendapatkan tatapan nyalang bayi itu padanya.
Willy menelan salivanya, lalu kembali pokus pada jalan didepannya supaya tidak menabrak ataupun ditabrak oleh pengemudi lainnya.
Setelah dirasanya cukup aman, Willy kembali melirik kearah Hanaria, untuk memeriksa apakah bayi kurus itu masih melihatnya. Dan ternyata, bayi Elvano masih menatapnya dengan tatapan seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Dasar bandit kecil, walau kau sudah kurus dan jelek, masih saja membuatku pusing." sungut Willy didalam hati.
Bersambung...👉