
📞"Hallo, selamat siang, rumah sakit Pemerintah di sini. Ada yang bisa kami bantu?" terdengar suara lembut dari ujung sambungan telepon.
📞"Selamat siang Sus, saya Hanaria. Hari ini saya ada jadwal bertemu dokter Rosalia pukul 5 sore ini, untuk suntik penunda kehamilan. Saya menelpon untuk memastikan saja."
📞"Maaf Nyonya Hanaria. Dokter Rosalia sedang sakit dan dalam perawatan. Nyonya bisa tetap datang karena ada dokter Gina dan dokter Faraz yang bisa menggantikan."
📞"Sakit? Dokter Rosalia sakit apa Sus?"
📞"Diagnosa sementara, dokter Rosalia sakit asam lambung Nyonya."
📞"Ooh--, kalau begitu saya minta di rujuk ke dokter Gina saja ya Sus."
📞"Baik Nyonya,"
Setelah telepon terputus. Hanaria terdiam sejenak, memikirkan informasi yang baru ia peroleh dari sang suster rumah sakit Pemerintah, tempat Rosalia mengabdikan diri.
Sesaat kemudian, Hanaria nampak tengah mengetik sesuatu dilayar ponselnya, setelah selesai langsung mengirimnya pada seseorang.
...***...
"Rosa sayang, ayo dimakan bubur supnya," bujuk Rosalie. Wanita itu mendekatkan sesendok bubur dari mangkuk ditangannya, putrinya itu baru saja sadar dari pengaruh obat tidurnya.
Rosalia menggeleng pelan, ia memandang kebalik jendela yang ada disebelah ranjang pesakitannya dengan tatapan kosong, wajah gadis itu terlihat memucat.
Rosalie memungut beberapa kepingan obat yang sempat terjatuh ke lantai karena pergerakan Rosalia. Beberapa menit yang lalu putrinya itu baru saja menelan beberapa butir obat sakit lambungnya sebelum harus mengisi lambungnya lagi dengan makanan lunak.
"Mah, kemarin siang aku melihat Billy dan calon isterinya makan siang di restoran dimana aku juga sedang makan." terdengar gumaman. Rosalie kembali memandang putrinya, ada genangan bening dipelupuk matanya.
"Apa kau melihat ada tuan Moranno bersama mereka, Sayang?" tanya Rosalie dengan perasaan sedikit tegang. Rosalia mengangguk memberi jawaban.
"Kalau begitu--, itu bukan Billy Sayang, tapi Willy. Bukankah Billy sedang bertugas dibagian timur negeri ini?" terangnya singkat sambil tersenyum menghibur. Sebagai ibu sambung yang merawat Rosalia sejak kecil, Rosalie tentu sangat tahu apa yang dirasakan putrinya itu saat ini.
"Aku tahu Mah, karena mereka kembar, sosok yang sangat mirip, aku jadi membayangkan bila itu adalah Billy," ucap Rosalia sendu menatap ibunya.
__ADS_1
"Apa karena itu kau tidak mau makan dan ambruk tadi pagi?"
Rosalia tidak langsung menjawab perkataan ibunya, untuk beberapa saat suasana menjadi hening.
"Bagaimana bila Billy benar-benar menikahi gadis itu Mah?" Rosalia menatap ibu sambungnya itu, ada gurat kegelisahan diwajahnya, rasa.takut kehilangan itu semakin besar saja.
"Sayang, apa kau benar-benar menyukai Billy?" walau sudah tahu jawabannya, Rosalie tetap ingin menanyakannya.
"Sangat," sahut Rosalia sendu.
Tok. Tok. Tok.
Rosalia dan Rosalie sama-sama menoleh ke pintu, lalu saling berpandangan sesaat.
"Masuk! Pintu tidak dikunci!" ucap Rosalie setengah berteriak kembali menatap ke arah pintu.
Ceklek.
Pintu didorong dari luar dengan pelan hingga terbuka lebar, menyuguhkan senyum cerah diwajah dokter Faraz dengan membawa sebuket mawar merah segar dan box medis ditangan kirinya.
"Selamat Sore dokter Rosalie dan dokter Rosalia?" sapanya ramah dengan senyum ceria yang terus mengembang. Dengan langkah ringan ia mendekat. Hanya Rosalia yang menjawab salamnya, sedangkan Rosalie masih sibuk dengan segala praduganya.
"Bagaimana keadaan dokter Rosalia sore ini, apa sudah lebih baik?" tanya dokter Faraz lembut.
"Buruk," sahut Rosalia datar.
Menanggapi ucapan pasiennya, dokter Faraz hanya menampilkan senyum tipisnya. Ia meletakan sebuket bunga yang ia bawa diatas nakas bersama kotak medisnya disana, lalu mengambil alat stetoskop dari dalamnya.
"Apa saya harus berbaring Dok?" tanya Rosalia, ketika melihat dokter Faraz sudah memasang stetoskop pada kedua telinganya.
"Dokter Rosalia boleh duduk saja seperti itu, senyamannya saja," sahut dokter Faraz berdiri ditempatnya sementara Rosalie sejak tadi hanya memperhatikan interaksi keduanya.
Ia masih pokus pada bunga mawar segar yang ada diatas nakas, sedari tadi ia merasa terganggu dengan keberadaan bunga yang dibawa oleh dokter Faraz itu.
__ADS_1
"Permisi," ucap dokter Faraz sopan, sebelum memegang pergelangan tangan Rosalia. Sejenak ia menempelkan ujung benda itu disana, mendiamkannya sesaat sambil mendengarkan ujung lainnya yang menempel pada sepasang telinganya.
Tidak lama setelahnya ia beralih pada bagian dada. Dan seperti sebelumnya, ia meminta izin dulu sebelum melakukannya, hingga akhirnya berpindah ke area lambung dan menurun ke perut bagian bawah.
"Bagaimana Dok?" Rosalie menatap dokter Faraz yang baru saja menyelesaikan pemeriksaannya.
"Sejauh ini kondisi dokter Rosalia baik dokter Rosalie, hanya lambungnya saja yang bermasalah. Harus lebih sering makan selama masa penyembuhan." ungkapnya sambil memasukan kembali stetoskopnya kedalam kotak medis.
"Kau dengar Sayang?" Rosalie kembali mengambil mangkuk bubur sup yang ia letakan diatas meja saat menunggu pemeriksaan Rosalia yang dilakukan oleh dokter Faraz, sekaligus kepala rumah sakit itu.
Rosalia tidak merespon, ia hanya membisu ditempatnya dengan raut sendu seperti sebelumnya.
"Apa dokter Rosalia belum juga menghabiskan bubur supnya itu?" dokter Faraz melirik mangkuk yang ada ditangan Rosalie yang belum tersentuh sama sekali.
"Iya Dok," sahut Rosalie seraya mengangguk.
"Maaf--, permisi Dokter Rosalie, izinkan saya yang menyuapinya," pinta dokter Faraz sambil mengambil alih mangkuk. Rosalie terperangah akan apa yang dilakukan pria itu dengan cepat.
"J-jangan Dok. S-saya bisa sendiri," Rosalia mendadak gugup. Merasa aneh kenapa pimpinan rumah sakit tempatnya berkerja tiba-tiba sangat perhatian begini.
"Dokter Rosalia tidak akan cepat sembuh bila mengabaikan anjuran dokter. Ayo, buka mulutnya sekarang Dok."
Suara penuh tekanan dokter Faraz seakan memaksa Rosalia membuka mulutnya, perempuan itu akhirnya terpaksa menerima suapan yang diberikan padanya, mengunyahnya dengan malas dan rasa mual itu kembali terasa saat lidahnya merasakan cita rasa makanan dalam mulutnya.
"Dok, saya mual, mau muntah rasanya." ujar Rosalia dengan wajah memerah dengan air mata yang hampir keluar.
Dokter Faraz yang ingin menyuapkan sesendok lagi terpaksa menghentikan gerakannya.
"Dokter Rosa mau makan apa? Nanti saya carikan?" tanya dokter Faraz kembali melembut tanpa tekanan seperti sebelumnya.
"Saya sedang tidak ingin makan Dok, lambung saya seakan menolak semua makanan yang akan masuk." jawab Rosalia dengan raut memelas, berharap dirinya tidak dipaksa makan untuk saat ini.
Dokter Faraz memandang kearah Rosalie sejenak. "Kalau begitu, terpaksa kita harus memberi infus lagi untuk menambahkan nutrisi makanan didalamnya."
__ADS_1
Bersambung...👉