HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 49 Jatuh Berdua


__ADS_3

Tok.... tok.... tok....


"Masuk......!" Ucap Willy sambil mengalihkan pandangannya ke pintu yang terbuka.


Perawat yang sebelumnya datang kembali. Ia masuk membawa beberapa paper bag ditangannya.


"Ini pesanan tuan muda....." Ucap perawat itu sambil membungkuk hormat.


"Berikan pada nona Hanaria...." Perintah Willy.


"Apa itu suster??" Tanya Hanaria saat sang perawat memberikan paper bag - paper bag itu padanya.


"Saya tidak tahu nona, saya hanya disuruh memberikan semua ini pada nona...." Sahut perawat itu.


"Itu pakaian gantimu nona Hana......" Ucap Willy saat mendengar pembicaraan perawat dan Hanaria.


"Tapi saya tidak memesannya tuan muda....." Sahut Hanaria lagi.


Willy langsung memutar bola matanya. "Aku yang memesannya. Atau kau masih tetap mau menggunakan baju kotor dan baumu itu, yang sudah tertimpa pecahan - pecahan beton di lokasi proyek tadi, hmmm??" Sahut Willy.


"Terima kasih tuan muda....." Hanaria akhirnya menerima semua paper bag itu.


"Nah.... begitu saja kok harus pake drama panjang amat. Sekarang aku pulang dulu." Pamit Willy bergegas meninggalkan kamar rawat inap itu.


"Suster..... boleh tahu siapa namamu?" Tanya Hanaria pada sang perawat yang masih berdiri didekatnya, setelah Willy pergi dari ruangan itu.


"Saya suster Nana nona Hana......" Sahut perawat itu sambil tersenyum.


"Terima kasih ya suster sudah membawakan semua paper bag ini kemari." Ucap Hanaria sambil melihat isi semua paper bag itu.

__ADS_1


"Sama - sama nona Hana, itu memang tugas saya." Sahutnya dengan senyum ringan.


"Dua baju tidur, dua dress, dan dua paket lengkap pakaian dalam wanita..... suster Nana yang berbelanja ini semua?" Hanaria membentangkan semua isi dari paper bag itu diatas sofa tamu ruang rawat inapnya.


"Bukan saya nona, itu semua sudah ada diruang informasi saat saya mengambilnya. Tuan yang memesannya." Jelas suster Nana. Hanaria sempat berpikir sejenak. Ah, pasti tuannya itu menyuruh bawahannya yang membelikan itu semua untuknya, pikirnya lagi.


"Suster Nana.... bisa tolong antarkan saya kekamar mandi untuk membersihkan diri, sekalian berganti pakaian." Pinta Hanaria.


"Tentu saja nona Hana.... Saya disini memang untuk membantu anda....." Ucap suster Nana sambil mendekati Hanaria dan mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi yang ada didalam kamar pasien.


Suster Nana membantu Hanaria melepaskan pakaiannya, lalu menunggu Hanaria diluar kamar mandi hingga selesai mandi dan berpakakan.


"Suster Nana, pakaian tidur ini hingga pakaian dalaman sizenya pas ditubuhku." Ucap Hanaria keheranan saat baru keluar dari Kamar mandi dengan kursi rodanya.


"Syukurlah nona Hana kalau begitu, mungkin saja tuan muda meminta orang yang sangat mengenal anda untuk membelikan semua pakaian itu." Sahut suster Nana sambil tersenyum dan kembali mendorong kursi roda Hanaria menuju ruang tidurnya.


Hanaria berdiri dari kursi rodanya, ia berusaha untuk naik keranjang pasien. Namun karena sendi engsel pada lututnya masih agak sulit saat digerakkan disebabkan luka lecet, ia sedikit kesulitan untuk naik keranjangnya itu.


Tok.... tok....tok.....


"Sebentar Nona Hana, saya buka pintu dulu." Suster Nana bergegas menuju pintu lalu membukakannya.


"Selamat sore suster Nana...." Sapa Willy didepan pintu.


"Selamat sore tuan muda.....Silahkan masuk tuan......" Ucap suster Nana sambil membungkuk hormat.


"Saya diluar saja suster. Ini tas ransel nona Hana tolong berikan padanya." Willy memberikan tas ransel milik Hanaria pada suster Nana yang tertinggal dimobilnya.


"Baik tuan muda....." Suster Nana menerima ransel Hanaria, tiba - tiba dirinya teringat sesuatu saat Willy sudah pergi menjauh.

__ADS_1


"Tuan muda......!!! Tuan muda..... tolong berhenti...!!!" Panggil suster Nana sambil berlari mengejar Willy dengan tas ransel Hanaria masih dijinjingnya.


"Ada apa suster Nana?" Tanya Willy datar saat suster Nana sudah ada didekatnya.


"Maafkan saya tuan muda..... Tadi saya berusaha membantu nona Hana untuk naik keranjang pasien, tapi saya kesulitan untuk membantunya tuan." Ucap suster Nana sedikit menundukkan kepalanya dengan napas memburu karena mengejar Willy.


Willy berpikir sejenak." Ayo, aku akan membantunya." Ucapnya, lalu berbalik arah menuju ruang rawat inap Hanaria dengan langkah cepat. Suster Nana berlari - lari kecil dibelakangnya untuk mengimbangi langkah kaki panjang Willy


Hanaria masih berdiri disisi tempat tidur pasien dan berusaha naik dengan caranya sendiri. Sepasang tangan langsung mengangkat tubuhnya hingga melayang diudara membuat Hanaria yang kaget langsung meronta membuat keduanya terjatuh ditempat tidur pasien.


Hanaria bertambah kaget saat melihat wajah laki - laki yang menindih tubuhnya adalah Willy. Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendorong tubuh Willy yang memiliki bobot tubuh lebih berat darinya.


"Jangan tuan muda.....!! tuan muda bisa menghamiliku.....!!" Teriak Hanaria histeris.


Dokter Mozes dan suster Nana yang baru saja tiba dikamar rawat inap itu, melihat apa yang tengah terjadi dan mendengar perkataan yang diteriakkan oleh Hanaria. Keduanya berdiri mematung karena bingung sambil menatap kearah dua orang yang ada diatas tempat tidur pasien.


"Apa yang kau katakan.....!! Pikiranmu buruk sekali nona Hana.....! Aku tidak mungkin melakukan itu pada pegawaiku sendiri.....!" Wajah Willy terlihat marah. Ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Hanaria yang tidak sengaja ditindihnya.


Setelah berhasil berdiri tegak, Willy semakin kaget saat melihat dokter Mozes dan suster Nana sedang menatapnya dengan wajah penuh tanya.


"Ini..... ini tidak seperti yang kalian lihat dokter Mozes.... suster Nana." Ucap Willy sedikit gugup menatap kearah dua tenaga medis itu.


"Tadi, aku berusaha membantunya untuk naik keranjang pasien itu, karena suster Nana yang memintaku untuk membantunya. Sepertinya nona Hana salah paham sehingga berteriak seperti tadi....." Willy berusaha menjelaskan.


"Seharusnya tuan muda berbicara dulu, jangan langsung mengangkatku seperti itu..... itu membuatku terkejut......"Sahut Hanaria yang sedang terbaring diranjang pasiennya, sambil mengusap luka jahitan di lengannya yang mengeluarkan darah akibat benturan mengenai dinding saat keduanya terjatuh diatas tempat tidur.


"Kau selalu menciftakan drama panjangmu, itu sebabnya aku tidak memberi tahumu terlebih dahulu dan langsung mengangkatmu ke ranjang pasien itu." Willy mengatakan alasannya dengan wajah yang masih menyisakan kekesalan pada pegawainya itu.


"Maafkan saya nona Hana, memang saya yang meminta tuan muda Willy untukbmembantu anda saat tuan mengantarkan tas ransel anda ini nona Hana. Saya berada diluar sebentar karena dokter Mozes baru saja tiba dan menanyakan kondisi anda nona Hana." Jelas suster Hana.

__ADS_1


Hana berusaha duduk dari berbaringnya, dan menatap kearah Willy. "Maafkan saya tuan muda.... saya tidak tahu....terus terang, tadi saya memang sangat kaget, karena tanpa aba - aba, tuan muda mengangkat tubuh saya. Sekali lagi, maafkan saya tuan muda. Terima kasih, karena sudah menolong saya...." Ucap Hanaria melihat kearah Willy yang masih menunjukan wajah kesalnya.


"Baiklah aku maafkan..... Asal kau tahu saja, walaupun kurus, tubuhmu itu berat sekali, itu sebabnya suster Nana tidak bisa membantumu naik ke ranjang pasienmu itu." Hanaria memutar bola matanya mendengar ucapan Willy tentang fisiknya.


__ADS_2