HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 77 Pertengkaran didepan Lift


__ADS_3

Hanaria dan Shasie baru saja turun dari mobilnya, lalu menuju lobby samping hendak naik kelantai 6 menggunakan lift pegawai.


Didepan Lift sudah berdiri Willy menunggu lift pribadinya terbuka. Dari pantulan kaca lift, dirinya dapat melihat kedua pegawai perempuannya itu, berjalan hati - hati dibelakangnya, supaya tidak ketahuan olehnya.


"Jam berapa ini??" Ucap Willy, sambil membalikkan tubuhnya kearah kedua pegawai perempuannya itu. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Hanaria dan Shasie langsung membungkuk hormat.


"Pukul 13.15 tuan muda........" Jawab Hanaria berusaha tenang, Shasie yang berdiri dibelakangnya nampak tegang, ini kali pertama ia melihat CEO idolanya itu bersikap begitu dingin. Biasanya, wajahnya terlihat tenang, walau tanpa senyuman.


"Kalian terlambat berapa menit??" Tanya Willy lagi, kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya.


"Lima belas menit tuan muda........ Maafkan kami......" Sahut Hanaria, ia masih menundukkan kepalanya seperti biasa. Demikian kebiasaan dikantor itu, saat berbicara pada pemilik perusahaan, dan anggota keluarganya.


"Apa kau terlalu asik berkencan dengan pacarmu sehingga lupa waktumu untuk berkerja??" Ucap Wily, ia sengaja membuat pegawainya itu tersinggung untuk melihatnya bereaksi.


Hanaria mengepalkan kedua tangannya, ia mengatupkan kedua rahangnya kuat, ingin rasanya ia melepaskan bogem mentahnya kewajah pria dihadapannya itu, yang berpredikat sebagai CEOnya.


Hanaria mengangkat wajahnya, menatap nyalang senyum jahat sang CEO muda yang menjadi idola para kaum hawa di kantor itu.


"Saya jadi penasaran tuan muda YANG TERHORMAT...... Apa reaksi pria itu, saat wanita yang akan menjadi pacarnya itu, telah dilecehkan berkali - kali, oleh pria yang ia anggap keluarganya. Apakah pria yang telah melecehkan wanita pujaannya itu, akan sanggup menegakkan kepala dihadapannya......" Ucap Hanaria datar, bernada sarkas. Hanaria langsung meraih tangan Shasie yang berdiri dibelakangnya, dan menarik sahabatnya itu masuk kedalam lift pegawai yang sudah terbuka.


Senyum jahat Willy langsung memudar, ia tidak menyangka wanita itu bisa menggunakan hubungan keluarganya dengan keluarga Reymon menjadi suatu ancaman dalam melawan dirinya.


Willy mengatupkan rahangnya kuat - kuat, setelah Hanaria sudah menghilang bersama Shasie didalam lift pegawai. Hatinya begitu gusar, perkataan Hanaria barusan membuat dirinya risau, sambil mengarahkan kepalan tangannya kepintu lift pribadinya, hendak memukul pintu lift dengan keras.

__ADS_1


Satu tangan langsung menangkap tangan Willy dengan cepat dari dalam lift yang tiba - tiba terbuka, dan dengan gerakan yang sangat cepat memberi pukulan keras pada tangan Willy yang berencana memukul pintu lift.


"Akkkhhhh" Willy mengerang kesakitan, tangannya langsung membiru terkena pukulan ayahnya.


"Anak sembrono........!" Bentak ayahnya yang baru keluar dari dalam lift pribadi khusus keluarga pemilik perusahaan.


"Apa yang kau lakukan Willy, ini kantor, kelakuanmu itu tidak sesuai dengan jabatanmu sebagai CEO di perusahaan ini. " Lanjut Moranno Agatsa memarahi putranya itu.


"Maafkan Willy, dad......." Ucap Willy sambil memegangi tangannya yang membiru.


"Apa yang membuatmu bertingkah sembrono seperti ini? Apa semuanya itu masih ada hubungannya dengan nona Hanaria? Hmm??!" Ucap Moranno Agatsa dengan suara meninggi. Willy hanya terdiam, ia tidak berani menjawab ayahnya, bisa - bisa ayahnya itu akan semakin marah pada.


"Sepulang kerja sore nanti, kau harus langsung pulang kerumah, mommy mu ingin bicara padamu."Ucap Moranno Agatsa lagi.


"Daddy tahu kau hanya beralasan saja. Kau 'kan bisa mengatakan pulang terlambat pada Reymon, karena ada urusan dirumah." Ujar Moranno Agatsa dengan wajah masamnya.


"Iya..... iya..... baiklah dad..... Willy akan kerumah, selepas pulang kerja sore nanti." Setelah mendengar ucapan putranya, Moranno Agatsa bergegas meninggalkan tempat itu. Wiily pun segera masuk kedalam lift menuju ruang kerjanya dilantai tujuh.


...***...


"Shasie, ini untukmu......" Hanaria menyodorkan satu kotak roti dan satu botol soft drink yang ia beli dipinggir jalan tadi.


"Untukku??" Tanya Shasie sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya, untukmu Shasie..... bukankah kau tadi memuntahkan semua makananmu ditoilet, aku tidak mau kau kelaparan, dan akhirnya sakit." Ujar Hanaria lagi, sambil keduanya menunggu lift sampai kelantai enam.


"Terima kasih Hana sayang...... Kau memang sahabatku yang baik, dan sangat perhatian. " Ucap Shasie, ia memeluk Hanaria dengan erat.


"Sama - sama Shasie...... Ayo, cepat dimakan, sebelum kita sampai keruangan kerja kita." Shasie yang memang lapar, langsung membuka kotak roti itu, lalu mengambil salah satunya dan segera memakannya dengan lahap.


"Hana....... aku tidak menyangka, kalau tuan muda yang ganteng dan tampan itu, sejutek itu padamu. Aku baru melihatnya tadi. Apakah kalian berdua punya masalah yang tidak kami ketahui. Setahuku, walaupun dia tidak menunjukan sikap ramahnya pada semua pegawai dikantor ini, tapi aku belum pernah melihatnya bersikap seperti itu pada salah satu pegawai disini, selain dirimu." Tutur Shasie sambil memakan roti dari dalam kotak pemberian Hanaria.


"Kami tidak punya masalah. Aku juga tidak mengerti, kenapa tuan muda sepertinya tidak menyukaiku, padahal aku tidak pernah mengganggunya. Memang dari awal kami bertemu, kesannya sudah tidak baik, bermula dari kebut - kebutan dijalan raya itu dulu......" Ujar Hanaria sambil mendesah.


"Oh..... Ya...... Tadi kau sempat mengatakan tentang..... calon pacar yang dilecehkan berkali - kali oleh seorang pria yang lain....... apa maksudnya itu? Aku tidak mengerti pembahasanmu dengan tuan muda Willy saat dilobby tadi?" Hanaria langsung menelan salivanya dengan susah payah, saat mendengar pertanyaan Shasie yang sulit ia jelaskan itu.


"Ting.......tong......." Lift terbuka. Hanaria bernafas lega, karena mereka sudah tiba dilantai enam, itu artinya dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan Shasie yang membuatnya hampir sesak nafas.


"Habiskan roti dan minumanmu sekarang Shasie, lalu masukan kedalam tempat sampah itu." Ujar Hanaria. Shasie segera menghabiskan makanan dan minumannya yang tinggal sedikit lagi, lalu membuang kotak dan botolnya di tong sampah yang ada dekat pintu masuk keruang kerja mereka.


Beberapa pasang mata dengan sorot mata tidak biasa menatap kearah Hanaria dan Shasie yang baru memasuki ruang kerja setelah istirahat makan siang.


"Kenapa mereka semua??" Shasie menyenggol lengan Hanaria menggunakan sikunya. Hanaria hanya mengangkat kedua pundaknya tanda tidak mengerti. Ia langsung berlalu dengan acuh seperti biasa, menuju meja kerjanya yang masih berada disudut ruangan.


Hanaria membuka laptopnya dan mulai berkerja kembali. Shasie, Laras, dan Norsa tiba - tiba muncul dibelakangnya dengan gaya mengendap. Hampir saja Hanaria memekik karena kaget, kalau saja mulutnya tidak disumpal dengan tangan Laras.


"Ada apaan sih, ngagetin aja, ini jam kerja..... 'ntar kita ditegur oleh pak Harison dan tuan Doffy, kalau mereka memergoki kita berkerumun disini." Sungut Hanaria.

__ADS_1


"Udah..... diam dulu Hana...... coba liat ini" Norsa menunjukan video berdurasi 6 detik yang ada diponselnya. Hanaria begitu kaget, seperti tersengat listrik, kepalanya langsung terasa begitu pening, keringat dingin tiba - tiba mengucur deras dari tubuhnya.


__ADS_2