
Tok! Tok! Tok!
"Iya sebentar!" Hanaria sengaja mengeraskan suaranya, supaya kedua sejoli yang lagi berduaan didalam sana bersiap-siap karena ada tamu yang datang. Hanaria gegas berdiri untuk membuka pintu.
"Selamat malam. Waktunya saya memeriksa keadaan dokter Rosalia," sapa.dokter Faraz tersenyum tipis.
"Selamat malam juga Dok. Mari, silahkan masuk," balas Hanaria sambil tersenyum ramah, ia bergeser posisi, berdiri menepi, memberi ruang pada sang dokter yang hendak masuk.
"Dokter Rosalia belum tidur?" tanya dokter Faraz basa-basi dengan senyum tipisnya yang masih mengembang sambil berlalu masuk.
"Belum Dok. Masih makan," sahut Hanaria sopan lalu menutup kembali pintu dibelakangnya.
"Masih makan?" Dokter Faraz menoleh pada Hanaria sekilas lalu mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat arlojinya.
"Bukannya dokter Rosalia harus sudah makan 2 jam yang lalu?" ucapnya lagi dengan kening sedikit mengkerut. Langkah dokter Faraz seketika terhenti didepan kamar dokter Rosalie, menyaksikan adegan suap-suapan sepasang manusia beda gender didalam sana. Raut kaku kontras sekali terlihat pada wajah bersahajanya.
"Apa nona Hanaria tidak cemburu menyaksikan suami Nona saling suap-suapan dengan wanita lain seperti itu?" dokter Faras tidak sepenuhnya membalikan tubuhnya, namun Hanaria dapat melihat mimik datar yang ditunjukan sang dokter itu.
"Mereka sahabat mulai bayi Dok," sahut Hanaria santai dibelakang dokter Faraz.
"Saya salut, Nona sangat percaya pada pasangan Nona," ucap dokter Faraz kembali tersenyum, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Rosalia dan Billy yang tidak menyadari kehadiran dokter Faraz dan Hanaria.
"Apa mungkin dokter Faraz menyukai dokter Rosalia," duga Hanaria, kala melihat dokter bersahaja itu terkesan memaksakan senyumannya.
"Selamat malam," sapa dokter Faraz, memperlihatkan senyum terbaiknya. Billy dan Rosalia seketika menghentikan aktifitas suap menyuap mereka dan sama-sama menoleh kearah sumber suara, keduanya lalu kompak tersenyum memandang dokter Faraz yang datang mendekat.
"Selamat malam juga Dok," Rosalia balas menyapa, sementara Billy hanya menampilkan senyumnya saja sedari tadi.
"Mengejutkan, dokter Rosalia sudah terlihat sehat." ucap dokter Faraz masih tersenyum. Ia meletakan box medis yang dibawanya di tepi ranjang pasien.
"Apa ini karena kehadiran tuan Billy?" imbuhnya masih tersenyum, sekilas ia melirik Billy lalu beralih pada Rosalia. Sekilas pandang ia dapat melihat, baik Billy maupun Rosalia, keduanya sama-sama menunjukan raut keterkejutan mereka masing-masing walau tidak terlalu kentara terlihat.
Ia memang sering melihat Billy beberapa kali menyambangi Rosalia beberapa waktu lalu, dan mengenalinya sebagai saudara kembar Willy dari keluarga Agatsa. Namun ia belum bisa membedakan kedua saudara kembar itu.
__ADS_1
Mengetahuinya, dokter Faraz tersenyum didalam hati. Ia meyakini, dugaannya pasti tidak meleset.
"Bercanda, serius sekali menanggapinya," dokter Faraz tertawa kecil. Hanaria yang ikut menegang akhirnya terkekeh bersama Rosalia.
Tapi tidak dengan Billy. Naluri inteligen laki-laki itu menyadari bila ucapan dokter Faraz bukanlah candaan semata, bagaimana bisa ia menyebut nama dirinya begitu tepat.
Dengan seksama, Billy memperhatikan saat doker Faraz yang tengah memeriksa kondisi kesehatan Rosalia, sedikitpun ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya.
Dokter Faraz, laki-laki itupun tahu kalau Billy sedang memperhatikannya, membuatnya semakin yakin dan mengambil kesimpulannya sendiri.
"Yang terpenting, rajin makan walau sedikit, jangan stes atau banyak fikiran, dan minum obat sesuai resep." ucap dokter Faraz setelah menyelesaikan pemeriksaannya, ia mengemasi peralatan medisnya dan memasukannya kembali ke dalam box.
"Oh ya, bunga mawarnya apa sudah dokter Rosalia terima? Tadi siang saya memberikannya lewat dokter Rosalie." tanyanya kemudian sambil berdiri dari duduknya.
"Oh, itu dari dokter Faraz?" tunjuk Rosalia pada sebuket mawar segar diatas meja.
"Iya, itu dari saya." dokter Faraz memalingkan wajahnya mengikuti arah yang ditunjuk Rosalia, ia kembali mengembangkan senyumnya saat melihat bunga pemberiannya diletakan secara baik disana.
"Terima kasih Dokter," ucap Rosalia tersenyum sopan.
"Tuan Willy, terima kasih banyak. Ternyata kehadiran dan perhatian Anda sangat besar pengaruhnya pada kesembuhan dokter Rosalia." Mendengarnya, Billy hanya menampilkan senyum tipis dalam menanggapinya.
Nalurinya semakin memaksanya mencurigai sang dokter paruh baya itu menyimpan perasaan terlarang pada kekasih hatinya, saat melihat mawar segar pemberiannya. Ditambah lagi sang dokter seolah sengaja mengatakannya dihadapannya.
"Saya salut, ternyata isteri tuan Willy adalah wanita yang luar biasa, tidak gampang cemburu seperti para isteri pada umumnya," sambungnya lagi masih tersenyum.
"Tentu saja tidak. Kami keluarga," sahut Hanaria cepat. "Baik, saya akan mengantar dokter sampai pintu depan. Maaf, bukan maksud saya mengusir," kekeh Hanaria. Pembahasan dokter Faraz membuat suasana sedikit tidak nyaman menurutnya, dan ia merasa dokter Faraz tidak menyukai kehadiran kakak iparnya itu.
"Baiklah," dokter Faraz lagi-lagi tersenyum, memandang ke arah Billy dan Rosalia lalu beranjak bersama Hanaria meninggalkan kamar.
"Nona Hanaria," dokter Faraz menghentikan langkahnya tepat didepan pintu keluar yang ada dituang tamu. Ia menatap Hanaria sesaat sebelum melanjutkan perkataannya.
"Iya Dok."
__ADS_1
"Saya pernah di posisi seperti nona Hana. Sangat mempercayai pasangan, membiarkan pasangan saya terlalu dekat dengan pria lain. Suatu ketika, pasangan saya mencurangi saya, dia pergi dengan pria lain. Itulah kenapa saya sekarang duda," ungkapnya pelan.
"Semoga apa yang pernah menimpa saya, tidak menimpa nona Hanaria."
Hanaria sedikit tercengang mendengarnya, dan tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ia masih bergeming ditempat berdirinya, saat dokter Faraz meraih gagang pintu, membukanya lebar, lalu keluar dan menutupnya dibelakangnya.
Didalam kamar, Billy kembali menyuapkan suapan terakhir yang tersisa didalam mangkuk.
"Tambah lagi?" ucapnya memberi penawaran.
"Cukup, udah kenyang. Kau saja yang tambah," balas Rosalia.
"Kalau kau sudah kenyang, aku juga sudah kenyang," sahut Billy sambil menyodorkan segellas air putih pada Rosalia, lalu membantunya untuk minum.
Laki-laki itu beranjak dari duduknya, membawa gelas dan mangkuk kosong ditangannya menuju kearah meja. Setelah meletakannya diatas meja, Billy meraih buket bunga mawar segar yang sempat menjadi pembahasan oleh sang pemberinya.
"Sepertinya dokter Faraz menyukaimu?" ucap Willy setengah bergumam, memandangi mawar berwarna merah hati itu.
"Apa kau berfikir seperti itu?" Rosalia menatap Billy yang masih pokus pada mawar yang dipegangnya. Pembicaraan kedua orang tuannya beberapa jam yang lalu kembali melintas dalam benaknya, tapi ia tidak mau mengatakannya pada Billy, tidak ingin hal itu mengganggu hubungan mereka.
Billy tidak langsung menjawab, ia meletakan kembali buket bunga yang dipegangnya ke tempatnya semula, lalu mendekati Rosalia yang duduk ditepi pembaringan ranjang pasiennya.
"Sebaiknya kau resign dari rumah sakit ini. Kau bisa berkerja ikut Mamah-mu, menjadi dokter di Agatsa Hospital. Dengan begitu, aku tidak khawatir. Nanti aku akan bicara dengan nenek," Billy meraih tangan Rosalia, dengan lembut diusapnya punggung tangan perempuan itu yang terasa dingin.
"Apa rasa khawatirmu ini hanya untukku?" Rosalia menatap Billy yang sedikit menunduk memandangi punggung tangannya.
"Tentu saja," Billy mengangkat wajahnya, pandangan keduanya kini saling bertemu.
"Lalu bagaimana dengan Stefhany? Bukankah gadis itu juga berkerja di perusahaan keluarga kalian. Apakah itu juga bentuk rasa perduli dan khawatir keluarga kalian pada gadis itu?"
"Untuk saat ini, aku sedang tidak mau membahas orang lain. Aku hanya ingin membahas tentang kita, aku masih memegang kesepakatan terakhir kita saat diruang kerjamu ketika itu."
Debaran halus itu kembali merambat, membawa rasa hangat didalam hati Rosalia. Ia ingat benar, saat itu Billy memintanya untuk menikah dengannya dan ia telah memberi persetujuan kala itu.
__ADS_1
"Kalau begitu, temuilah Papah secepatnya," tantang Rosalia akhirnya. Ia tahu itu tidaklah mudah untuk dilakukan, mengingat sikap arogan ayahnya selama ini pada laki-laki dihadapannya ini.
Bersambung...👉