HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
140. Pulang Kekota


__ADS_3

Willy dan ayah mertuanya baru saja pulang dari salah satu cabang bank yang berada dikecamatan, memasukan semua rupiah dari dalam puluhan koper yang diantar oleh Willy dan keluarganya sebelum pernikahan kedalam rekening pak Muri.


Sampai saat ini, pak Muri dan keluarganya tidak mengetahui bila semua rupiah yang ada didalam koper- koper itu adalah ulah putrinya yang memintanya.


Siang itu Hanaria dan Willy sudah harus kembali kekota, karena dalam empat hari kemudian, keluarga Agatsa kembali akan mengadakan resepsi pesta pernikahan untuk Hanaria dan putra mereka.


"Apakah ayah dan ibu tidak ingin ikut kami sekarang saja?" tanya Willy pada kedua mertuanya itu.


"Dua hari lagi kami baru bisa menyusul nak Willy. Walau semuanya sudah beres kemarin saat kita gotong-royong, tapi tetap saja kami harus ada disini dulu, siapa tahu masih ada barang-barang milik warga dalam acara pernikahan kalian kemarin, ada yang belum sempat dikembalikan pada pemiliknya," sahut pak Muri sambil mengantar Hanaria dan Willy kedepan rumahnya.


"Nak Willy?!" panggil pak kepala dusun, saat dilihatnya Willy sudah memasukan kopernya dan koper Hanaria dibagasi belakang mobilnya.


"Iya pak Kadus," sahut Willy sambil membalikan tubuhnya menghadap pak kepala dusun yang berdiri didekatnya.


"Ini, tanah yang nak Willy beli sudah jadi sertifikatnya," kata pak kepala dusun sambil menyodorkannya pada Willy.


Willy mengambutnya, lalu membuka setiap lembarannya satu-persatu hingga halaman terakhir.


"Terima kasih banyak pak kepala dusun atas bantuannya," ucap Willy sambil mengembangkan senyum ramahnya, setelah selesai memeriksanya.


"Sama- sama nak Willy. Apa hari ini jadi pulang kekota?" Tanya pak kepala dusun sambil memperhatikan bagasi mobil yang sudah dipenuhi barang-barang dua pengantin baru itu.


"Iya pak Kadus," Sahut Willy.


"Hati- hati dijalan nak Willy dan nak Hana, ingat jangan menunda momongan ya, kami semua warga dusun disini menunggu kabar baik selanjutnya," ucap pak kepala dusun kembali tersenyum.


"Terima kasih pak kadus, semoga kami segera bisa memberikan kabar baik seperti yang pak Kadus maksud." Sahut Willy sambil menyunggingkan senyumnya. Ia lalu melihat sekelilingnya, ada banyak warga yang mengantarkan keberangkatannya dan Hanaria dihalaman rumah mertuanya itu.

__ADS_1


"Ayah, aku minta tolong untuk menititipkan sertifikat ini pada ayah," ucap Willy menghampiri ayah mertuanya.


"Tapi nak Willy, ayah takut hilang," ucap pak Muri berusaha menolak.


"Aku percaya pada ayah. Dua minggu lagi, diatas tanah yang ada sertifikatnya ini akan mulai ada kegiatan pembangunan. Bila mereka membutuhkannya mereka cukup ku arahkan menemui ayah, tidak perlu mencariku kekota," ucap Willy memberi alasan.


Pak Muri berfikir sebentar, ia menoleh kearah isterinya yang berdiri disampingnya. Ibu Muri hanya menganggukan kepalanya supaya suaminya itu membantu Willy menantu mereka.


"Baiklah," sahut pak Muri akhirnya. Ia lalu menerima buku sertifikat yang disodorkan oleh Willy padanya.


"Terima kasih ayah, kalau begitu kami pamit dulu," ucap Willy sambil mencium punggung tangan ayah mertuanya itu, kemudian berlanjut pada ibu mertuanya.


Willy kemudian sedikit ragu saat akan meraih punggung tangan Jonly kakak iparnya yang berdiri disebelah isterinya, bukan karena dendam, tapi ia belum sempat berbaikan sebelumnya.


"Terima kasih Willy, sudah membantu mengasuh dua bayiku," ucap Jonly berusaha mencairkan suasana lebih dulu.


"S-sama-sama kak," suara Willy terdengar sedikit tergagap, ia tidak menyangka kakak iparnya itu akhirnya bisa bersikap ramah padanya.


"Bagaimana kalau kita bertanding, siapa yang paling banyak punya anak?" tantang Jonly pada adik iparnya itu.


Willy menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal sambil melirik kearah Hanaria. Ia bisa saja langsung menyanggupi tantangan Jonly, tapi bagaimana dengan induk ayamnya yang masih 'takut' itu.


Hanaria yang mendengar tantangan sang kakak pura-pura tidak mendengar.


"Mas, tidak perlu mengajak Willy tanding, baru calon tiga saja, kita berdua sudah kalang-kabut meminta bantuan ayah dan ibu, juga Hana dan Willy kemarin," protes Elina pada suaminya.


"Tapi dek-" Jonly berusaha memberi penjelasan pada isterinya.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi-an lagi, sudah cukup anak tiga saja, titik," tegas Elina membuat sebagian warga yang ada disekitar mereka menahan senyum dan tawa diwajah mereka.


"Ucapan kak Elina benar kak Jonly. Lihat diri kakak, baru calon tiga anak , tapi sudah sangat tidak terawat," cibir Hanaria sambil tertawa kecil.


"Sudahlah Hana, Jonly, lain kali kalian bisa lanjutkan lagi perdebatanya, hari sudah mau beranjak sore, kasian Hana dan nak Willy, nanti mereka kemalaman dijalan, perjalanan mereka sangat jauh," ujar ibu Muri menengahi.


Willy ikut tersenyum tipis, ia merasa lega karena bisa terlepas dari obrolan yang panjang lebar dari kakak iparnya itu.


"Kami jalan dulu ayah, ibu, kak Jonly, kak Elina...." Willy menyebut semua nama yang ia lewati satu persatu hingga bermeter-meter panjangnya pada para warga yang berdiri berderet, ingin bersalaman dengan sepasang pengantin baru yang akan kembali kekota.


Willy menyembunyikan klaksonnya hinga dua kali, lalu ia dan Hanaria melambaikan tangan pada semua warga yang mengantarkan keduanya siang itu.


Mobil yang dikemudikan Willy merayap lambat melewati jalan dusun yang mendadak ramai oleh para warga yang menonton sekalian melepaskan kepulangan Hanaria dan suaminya dari depan rumah mereka masing- masing.


Ya, dusun Rimba, yang masih sangat alami, yang masih mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan dimalam hari, dan masih sulit jaringan sinyal, akan kembali sepi dan senyap setelah keramaian pesta pernikahan Hanaria dan Willy.


Mereka akan kembali pada kesibukan dan rutinitas mereka sehari- hari, berternak, berkebun, bersawah, dan berladang berpindah-pindah.


Hampir setengah jam, Willy baru berhasil keluar dari dusun Rimba, ia tidak tega melajukan mobilnya saat melihat semua warga memadati pinggir jalan hanya untuk meluangkan waktu melihat sambil melambaikan tangan mereka tanda perpisahan.


Walau tangan Willy dan Hanaria terasa cukup pegel sambil menyunggingkan senyum diwajah mereka, namun hati mereka sangat tersentuh atas penerimaan warga pada kehadiran Willy didusun itu.


"Apakah kau ingin aku menggantikanmu untuk menyetir? Mungkin saja kau lelah melambaikan tangan dengan satu tanganmu dan menyetir dengan satu tanganmu yang lain" tanya Hanaria menawarkan diri.


"Aku masih bisa melakukannya, kau istirahat saja, nanti aku akan membangunkanmu bila aku sudah tidak sanggup lagi menyetir," kata Willy. Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saat sudah berada diluar kawasan dusun.


Terkadang ia harus melambatkan laju mobilnya saat berada dibeberapa titik jalan yang rusak.

__ADS_1


Hanaria dan Willy tidak saling berbincang dan sedikit masih ada rasa canggung satu sama lain. Lagu bernuansa akustik, itulah yang menjadi pilihan Willy, yang ia perdengarkan melalui recorder mobilnya untuk menemani mereka disepanjang perjalanan menuju kota.


*


__ADS_2