HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
212. Penjelasan Hanaria


__ADS_3

"Sepertinya pak Paris sangat takut diketahui bila nona Morin ketahuan adalah sepupu Anda, kenapa?" Hanaria merasa tertarik ingin tahu, ia penasaran kenapa raut wajah pria itu langsung berubah.


"Maafkan saya nona Hana, saya tidak bisa cerita. Ini privacy saya dan Morin. Sekali lagi maafkan saya," kata pak Paris berusaha merubah raut wajahnya kembali biasa seperti semula.


Hanaria tidak berniat memaksa, karena itu bukanlah dirinya, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kembali pokus untuk memberi sedikit penjelasan pada pria yang dipanggil ayah oleh Lania, gadis kecil yang telah menjadi sahabat kecilnya itu.


"Awalnya saya fikir Lania adalah hasil hubungan gelap antara pak Paris dengan nona Morin," ucap Hanaria menatap pintu ruang tindakan yang masih tertutup rapat.


"Setelah melihat, tuan Mahendra sedang menyergap nona Morin di salah satu mall beberapa waktu lalu, saya merasa bila keduanya sepertinya-, pernah memiliki satu hubungan dimasa lalu," kata Hanaria kembali memandang kearah pak Paris.


"Apakah tuan Mahendra putra dari nyonya Mingguana Alhandra Liem, pemilik perusahaan tambang yang terkenal itu?" potong pak Paris memastikan.


"Iya, dia orangnya," sahut Hanaria sambil mengangguk.


"Bajingan itu! Pantas saja Morin tidak pernah mau mengatakan siapa ayah dari Lania. Tapi-," pak Paris nampak berfikir sejenak, ada sesuatu yang aneh menurutnya. Ia sangat kenal Morin sepupunya, wanita yang sejak gadisnya itu suka akan kemewahan dan hidup dengan berfoya-foya. Tapi kenapa tidak menggunakan kehamilannya untuk memeras si Mahendra yang ibunya kaya raya itu.


"Tapi kenapa pak Paris?" tanya Hanaria yang melihat pak Paris seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ah-, tidak apa-apa Nona, silahkan dilanjut perkataan Nona Hana tadi," kata pak Paris yang nampak enggan meneruskan kata-katanya, ia berusaha membuang hal-hal mengerikan yang tiba-tiba timbul dikepalanya.


"Saya meminta seorang detektif menyelidiki ada hubungan apa antara nona Morin dengan tuan Mahendra. Itu saya lakukan karena tuan Mahendra adalah suami dari adik saya yang bernama Firlita," jelas Hanaria yang mendadak merasakan sedih teramat sangat saat menyebut nama adik angkatnya itu.


Kepahitan hidup yang dialami Firlita yang sempat ia saksikan membuat perih didadanya kembali terasa, rasanya ingin sekali ia meremukan kepala suami dari adik angkatnya itu.


"Adik Nona yang baru meninggal beberapa hari yang lalu?" pak Paris mengingat bila dirinya sempat melihat beritanya ditelevisi selama tiga hari belakangan ini. Ia sempat bergidik ngeri membayangkan bila sepupunya Morin diposisi Firlita saat itu. Bayangan-bayangan kengerian yang sempat melintas dibenaknya sebelumnya tentang Mahendra kembali merasuki pikirannya hingga ia harus menggelengkan kepalanya keras-keras.

__ADS_1


"Apakah Anda baik-baik saja pak Paris?" Hanaria yang sempat memperhatikan perubahan raut wajah pak Paris merasa ada sesuatu yang aneh pada pria yang sedang berbicara dengannya itu.


"T-tidak, saya baik-baik saja nona Hana," sahut pak Paris terbata-bata.


Hanaria hanya memperhatikan wajah pak Paris tanpa mau memaksa pria itu untuk bicara. Ia kemudian melanjutkan pembicaraannya sebelumnya yang sempat terputus.


"Dari hasil penyelidikannya, detektif itu memberikan saya keterangan, bila nona Morin benar pernah mengandung anak dari tuan Mahendra. Hal itu terjadi disaat mereka sedang merayakan kelulusan sekolah. Beberapa bulan setelah kehamilannya diketahui oleh tuan Mahendra, nona Morin menghilang entah kemana," kata Hanaria menatap wajah pak Paris.


Didalam hati, pak Paris sempat merutuk kebodohannya, yang ingin menikahi sepupunya sendiri saat itu, supaya anak dalam kandungan Morin bisa lahir tanpa mendapat celaan dari para tetangga.


"Untuk membuktikannya, saya meminta bantuan Firlita mengambil sampel rambut dan sikat gigi milik tuan Mahendra. Dan hal itulah yang menjadi penyebab meninggalnya Firlita," kata Hanaria dengan raut sedih.


"Lalu apa hubungannya Morin ikut terseret?" tanya pak Paris tidak mengerti.


"Iya saya ingat Nona," sahutnya cepat.


"Pendonor itu adalah nona Morin. Dan ia melakukannya karena bayaran, bukan karena keikhlasan hatinya untuk putrinya sendiri,"


"Dan entah kenapa, nona Morin malah melaporkan saya memaksanya untuk menjadi seorang pendonor," lanjut Hanaria.


Pak Paris menatap wajah Hanaria, pertanyaan yang mengganjal didadanya kini terjawab sudah. Selama ini dirinya sudah pernah meminta Morin menjadi pendonor Lania, putri Morin yang ia adopsi lewat panti asuhan, namun sepupunya itu selalu menolaknya dengan ketus.


Sekitar dua minggu yang lalu ia sempat terkaget-kaget melihat Morin memeriksakan kecocokan sumsum tulang belakangnya untuk mendonorkannya pada Lania. Kembali pak Paris merutuk dirinya sendiri didalam hati, yang terlalu percaya atas setiap ucapan bohong Morin sepupunya itu. Ternyata seperti yang diceritakan Hanaria itulah yang terjadi.


"Ternyata, apa yang dilakukan nona Morin berbalik menyerangnya pak Paris. Saya punya bukti transfer bank, dan pihak rumah sakit punya perjanjian atas kesiapan nona Morin menjadi seorang pendonor, dan semua bukti itu sudah ada ditangan polisi. Selain itu, nona Morin juga tersangkut pidana karena telah menelantarkan Lania, putri kandungnya," jelas Hanaria secara gamblang.

__ADS_1


Pak Paris masih terdiam sambil merenungkan apa yang ia dengar dari Hanaria. Sepertinya sepupunya itu harus menanggung dan menuai akibat perbuatannya selama ini pada putrinya yang tidak berdosa itu.


Lania, gadis kecil malang itu hampir saja tidak terlahir ke dunia, karena ibunya berusaha untuk membunuhnya saat masih ada didalam kandungan. Segala macam obat-obatan sudah ia telan untuk meracuni kandungannya supaya anaknya itu mati didalam sana.


Untung saja Lania tidak lahir cacat akibat ulah ibunya, namun kehendak Yang Kuasa, gadis kecil itu harus mengidap penyakit kanker yang hampir membunuhnya, kita tidak tahu, ternyata takdir membawa ibunya harus bertanggung jawab atas segala perbuatan jahat sang ibu kejam lewat penyakit kanker Lania. Itu masih didunia ini, belum diakhirat nanti, batin pak Paris.


"Suster!" Hanaria segera menghampiri perawat yang sedang membawa Lania diatas kereta pasiennya keluar dari ruang tindakan operasi.


"Bagaimana keadaan Lania Suster?" tanya Hanaria, setelah ia berada disisi kereta Lania.


"Pasien Lania baik saja, sekarang dirinya perlu banyak istirahat Nona," kata salah satu perawat itu.


"Boleh saya melihatnya sebentar saja?" pinta Hanaria.


"Silahkan Nona," kata perawat itu lagi.


Hanaria lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Lania yang terlihat pucat. Operasi yang berjalan hampir sepuluh jam itu tentu saja membuat gadis kecil itu lelah walau dalam pengaruh bius total.


Kehilangan Firlita membuat Hanaria trauma, ia begitu khawatir kalau Lania juga meninggalkannya.


"Semua akan baik-baik saja Lania. Kau pasti bisa sekolah lagi," gumam Hanaria lembut seraya mengusap anak-anak rambut Lania yang bertebaran didahi kecilnya.


Pak Paris yang berdiri dibelakang, hanya memperhatikan apa yang tengah dilakukan Hanaria bak seorang ibu pada putrinya. Lania memang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, baik Morin ibu kandungnya, maupun isteri pak Paris.


Setelah dirasa cukup, Hanaria membiarkan para perawat itu membawa Lania pergi beristirahat keruangan yang telah dipersiapkan.

__ADS_1


__ADS_2