HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
229. Butuh Dukungan


__ADS_3

"Hana, bangun, sudah pagi," panggil Willy sambil menggerak-gerakan tubuh isterinya.


"Eugghh! Aku masih mengantuk," ucap Hanaria sambil menggeliat didalam selimut. Ia belum sanggup membuka kelopak matanya, masih terasa begitu berat.


"Ayo, buruan bangun," ucap Willy setengah memaksa.


"Tidak bisa, aku baru saja terlelap menjelang pagi," kata Hanaria dengan matanya yang masih terpejam, berharap Willy tidak mengganggunya lagi.


"Aku tahu. Bangunlah sebentar saja, minum susu dan vitaminmu dulu, kasihan bayi kita, setelah itu kau boleh melanjutkan tidurmu lagi. Bagaimana?" bujuk Willy.


"Baiklah," sahut Hanaria malas. "Bantu aku untuk bangun," pinta Hanaria sambil mengulurkan tangannya. Willy dengan sigap membantu isterinya itu untuk bangun, lalu menyodorkan beberapa butir vitamin dan segelas susu.


Hanaria langsung memasukkan beberapa butir vitamin itu hingga dua kali, ia takut akan nyangkut ditenggorokannya bila harus menelannya sekaligus sambil meneguk susunya.


"Masih segelas lagi," sodor Willy lagi saat Hanaria kembali berniat membaringkan tubuhnya.


Hanaria menatap wajah Willy, lalu berpindah pada tangan suaminya yang sedang memegang segelas susu lagi.


"Biasanya satu, kenapa pagi ini sampai dua gelas?" tanya Hanaria dengan wajah bingungnya.


"Satu gelas untukmu, dan satu gelasnya lagi untuk dua bayi kita," sahut Willy gamblang.


"Dua bayi??" Hanaria tertawa kecil, Willy memang suka aneh dan berlebihan menurutnya. Sudah dua kali dirinya memeriksakan kandungan kedokter, namun dokter Rosalia tidak mengatakan apa-apa, baik pada dirinya maupun pada Willy. Ia lalu menerima gelas susunya dari tangan suaminya dan segera meneguknya hingga habis.


"Mau kemana?" tanya Hanaria, saat dilihatnya Willy mengangkat nampan berisi dua gelas susu kosongnya dari atas nakas.


"Kedapur, lalu berolah raga," sahut Willy.


"Bisakah kau menemaniku sampai aku terridur kembali?"


Willy menatap mata panda isterinya, akibat kurang tidur semalam.


"Baiklah, dengan senang hati," Willy kembali meletakan nampan yang sudah diangkatnya kembali keatas nakas. Ia naik ketempat tidur lalu membantu Hanaria untuk berbaring kembali.

__ADS_1


"Berikan aku pelukan hangat," pinta Hanaria yang sedang memunggungi suaminya.


Tanpa banyak berucap seperti biasanya, Willy melakukan apa yang diminta Hanaria. Ia turut masuk kedalam selimut, dan mulai mendekap tubuh Hanaria yang sudah semakin berisi, tidak tipis seperti dulu.


"Willy," panggil Hanaria lirih.


"Heum?" gumam Willy ditelinga isterinya.


"Dekap aku lebih erat lagi," pinta Hanaria lagi masih dengan suara lirihnya. Willy kembali mengikuti apa mau isterinya yang tiba-tiba berulah manja pagi itu, tidak seperti biasanya.


"Aku merasa nyaman seperti ini," tangannya lalu memeluk tangan kanan Willy yang sedang mendekapnya erat.


"Berada disisimu, menjadi isterimu, senyaman saat berada dalam dekapanmu Willy. Aku berharap kau tidak pernah bosan padaku hingga kita menua bersama," Hanaria kembali berucap dengan suara menggumam hampir tidak terdengar.


"Apa yang terjadi? Tidak biasanya kau seperti ini Hana?" tanya Willy, ia mencium lembut pucuk rambut isterinya dengan sayang.


"Aku hanya merasa lelah dengan semua yang sedang aku fikirkan," ucap Hanaria lirih.


"Kau tidak perlu memikirkan apapun Hana? Kau cukup memikirkan diriku, anak-anak yang ada dalam kandunganmu, yang akan kau lahirkan kelak. Bukankah itu menyenangkan?" ujar Willy menyentuh perut isterinya yang sudah mulai membesar.


"Tapi aku, aku tidak bisa memikirkan sampai disitu saja Willy. Sepanjang malam aku sudah berusaha tidak memikirkan selain kita, tapi aku tidak bisa," keluh Hanaria. Willy tidak berkata apapun, ia memberikan kesempatan pada isterinya, menyampaikan semua yang sedang dikandung hatinya.


"Aku merasa, bukan suatu kebetulan bila aku dilahirkan kedunia ini," sambung Hanaria lagi.


"Aku juga merasa, bukan hal yang kebetulan bila aku bisa bertemu dan kenal dengan mendiang Firlita, hingga ia melahirkan putranya Elvano, dan juga bertemu dengan Lania,"


"Aku merasa memiliki perasaan yang sangat kuat untuk membantu mereka, melibatkan diriku dalam pusaran kehidupan mereka yang rumit itu,"


"Aku berusaha tidak perduli, tapi aku tidak bisa, aku seolah merasa semakin terpanggil untuk masuk dalam kehidupan mereka. Dan mereka bertiga, mereka semua sama-sama ada hubungannya dengan nyonya Mingguana," ujar Hanaria menekankan pada kalimat terakhirnya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Willy ingin tahu langkah yang akan diambil oleh isterinya itu.


"Aku belum tahu," ucap Hanaria. Willy melonggarkan dekapannya, saat dirasanya tubuh isterinya itu bergerak, berbalik untuk berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Aku butuh dukunganmu Willy," Hanaria menggengam tangan suaminya lalu menciumnya lembut.


"Bagiku, menerima persyaratan nyonya Mingguana ataupun tidak jadi mengadopsi bayi Elvano, dua-duanya sama pilihan yang sangat sulit," ucap Hanaria menatap lekat wajah suaminya.


"Aku tahu. Sekarang, tidurlah kau butuh istirahat yang cukup. Mendekat dan merapatlah padaku," Willy menggapai tubuh Hanaria yang merapat padanya lalu kembali mendekapnya, membelai isterinya dengan lembut dan kembali memciumi pucuk rambutnya berkali-kali.


Selama menjadi suami Hanaria, dirinya memang tidak pernah mengekang isterinya itu dalam segala aturan rumah tangga yang kaku, ia hanya ingin Hanaria hidup aman dan nyaman bersamanya, dan bebas mengekspresikan dirinya, yang penting masih dalam jalurnya.


Namun apa yang akan isterinya itu putuskan, membuat dirinya harus memaksa otaknya ikut berfikir keras, mungkin saja Hanaria akan memilih keputusan yang sulit, batin Willy. Dan mungkinkah dirinya mampu memberi dukungan seperti yang isterinya itu minta? Sekalipun ia tidak mau memikirkannya, tapi situasi dihadapannya kelak memaksanya harus memikirkannya dari sekarang.


Willy menatap wajah Hanaria yang sudah tertidur, napasnya terdengar beraturan. Sebelum meninggalkan isterinya, Willy mencium kening isterinya itu cukup lama, setelahnya ia bangkit perlahan, supaya gerakannya tidak membangunkan Hanaria.


Willy meraih lembaran kertas diatas meja, membaca tulisan tangan Hanaria disana, ia tersenyum sambil melirik Hanaria yang tertidur pulas diranjang mereka lalu kembali beralih pada kertas ditangannya.


"Hana, kau mengingatkanku pada sepuluh point permintaan tidak masuk akalmu itu saat kita akan menikah," Willy kembali tersenyum lucu.


"Aku tidak yakin nyonya Mingguana mau menerimanya," gumam Willy lagi. Ia lalu melangkah menuju pintu, setelah keluar ia kembali menutup pintu kamar itu dengan rapat.


...***...


"Sayang, kau tidak sarapan dulu?" tanya Yurina, saat melihat Willy hanya meletakan nampan diatas meja makan.


"Nanti saja Mom, aku mau olah raga dulu," sahut Willy melihat kearah ibunya yang berjalan menuju kearahnya.


"Hana belum bangun?" tanya Yurina lagi.


"Sudah, aku menyuruhnya tidur lagi setelah dirinya meminum vitamin dan susunya," jawab Willy. "Daddy masih tidur?" tanyanya kemudian, saat belum melihat keberadaan ayahnya.


"Iya, Mommy juga menyuruh Daddy-mu meneruskan tidurnya, sakit pinggangnya kembali kambuh," ujar Yurina seraya mendudukan dirinya dikursi meja makan.


Bukannya merasa prihatin dan bersalah, Willy malah langsung terkekeh mendengar perkataan ibunya tentang ayahnya.


"Itu semua gara-gara dirimu Willy," Yurina mendelikkan matanya menatap putranya yang seolah senang mendengar kondisi ayahnya.

__ADS_1


"Salah Daddy sendiri, siapa suruh tidak sadar kalau dirinya sudah tua," ucap Willy masih terkekeh sambil berlalu pergi.


Bersambung...👉


__ADS_2