
"Diamlah, jangan memberontak terus Hana," ujar Willy seraya mengunci pelukannya dengan erat hingga isterinya itu tidak bisa bergerak lagi.
"Aku merindukanmu Hana," Gumam Willy ditelinga isterinya. "Sepanjang siang, hingga malam, aku tidak melihatmu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan bila sampai aku tidak menemukanmu," lanjut Willy sambil mengingat kepanikan dalam dirinya saat mencari Hanaria setelah dirinya pulang dari kantor sore tadi.
"Gombal lagi, kau pasti bohong. Lalu kenapa kemarin malam kau meninggalkanku dan membiarkanku menunggumu sampai ketiduran dimeja makan?" ungkit Hanaria dengan nada tidak percaya.
"Kau menghilang tanpa kabar, lalu kau datang dengan semua tagihan fantastis-mu itu?" tambah Hanaria menggebu-gebu.
"Itu-, itu-," Willy menggaruk kepalanya yang memang gatal.
"Itu apa?" kejar Hanaria.
"Aku ingin tahu, apakah kau khawatir padaku atau tidak?" gumam Willy pelan nyaris tidak terdengar, hatinya terasa berdebar saat mengucapkan perkataannya itu.
"Dan tagihan yang kau katakan fantastis itu, itu sudah budget diriku setiap bulannya untuk perawatan," jelas Willy tetap pelan dan hati-hati.
"Apa? Sebanyak itu? Dan setiap bulan?" Hanaria nampak kaget pada apa yang ia dengar. Dirinya tahu bila keluarga Agatsa tidak mungkin kekurangan rupiah, tapi ia tidak menyangka ada seorang pria perawatannya sampai semahal itu, dan dirinya harus mengeluarkan rupiah setiap bulannya sebanyak itu walaupun itu rupiah milik suaminya sendiri.
Willy melonggarkan dekapannya saat Hanaria membalikan tubuhnya menghadap padanya. Hanaria memperhatikan wajah suaminya dengan bantuan lampu tidur yang tidak terlalu terang.
Wajah itu memang terlihat bersih, glowing, karena terawat, tidak seperti pria kebanyakan yang pernah ia lihat. Bahkan saudara kembarnya yang seharusnya terlihat sangat mirip bisa dengan mudah dibedakan hanya dari kebersihan kulitnya.
Bahkan perawatan tubuh suaminya itu melebihi perawatan dirinya sebagai seorang wanita.
"Kau tidak perlu kaget Hana, memang untuk pria yang tampan sepertiku ini biayanya mahal, harus merogoh kantong cukup dalam," ujar Willy terkesan santai tanpa beban, sangat jauh berbeda dengan pemikiran Hanaria yang serba harus berhemat semenjak kecil melalui didikan orang tuanya.
"Tapi bagaimana dengan tagihan-tagihan atas namamu itu, bukankah kita juga harus membayarnya setiap bulannya sampai dua tahun kedepan?" tanya Hanaria pada suaminya itu.
__ADS_1
"Bila dana direkeningku yang kau kelola kurang, aku sebagai suamimu akan berkerja lebih keras lagi supaya dirimu tidak perlu merasa khawatir akan kekurangannya saat harus membayar semua tagihan setiap bulannya Hana. Ini janji seorang suami sejati," ucap Willy dengan mimik serius menatap Hanaria yang masih memandanginya.
"Kenapa terus menatapku? Kau pasti kagum pada wajahku kan?" Ucap Willy penuh percaya diri dengan senyum mengembang membuat Hanaria yang semula memperhatikan wajah suaminya dalam diam terpaksa tidak bisa menahan tawanya.
"Kau pasti merasa beruntung kan memiliki suami setampan aku? Bahkan kak Billy, kembaranku bisa terlihat dekil saat berada disisiku," ucap Willy semakin percaya diri.
Hanaria semakin tertawa geli mendengar perkataan Willy suaminya yang terkesan mengagumi dirinya sendiri, dan tanpa sadar mencela kakak kembarnya.
"Aku-" Hanaria berusaha menghentikan tawanya dengan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat mentertawai perkataan Willy.
Willy yang ditertawai hanya ikut tertawa kecil melihat isterinya, sebenarnya ia tidak pernah memuji dirinya didepan siapapun, selain dihadapan Hanaria malam ini. Ini dilakukannya untuk mengalihkan perhatian Hanaria supaya tidak mengomelinya yang telah sengaja meninggalkan isterinya itu pada malam sebelumnya dan atas guyonan dirinya dikantor siang tadi. Dan sepertinya berhasil, dan sesuai harapannya.
"Aku rasa wajah tampanmu itu karena pengaruh perawatan mahalmu itu, mungkin saja kau tidak setampan ini bila tidak rajin perawatan," timpal Hanaria setelah berhasil menghentikan tawanya.
Bukannya tersinggung, Willy tambah menjadi-jadi.
"Menurutku, perawatan yang aku lakukan ini, adalah bentuk rasa syukurku kepada Tuhan karena telah diberikan wajah yang tampan, jadi harus dirawat dengan baik bukan?" sahut Willy sejadi-jadinya, senyumnya tetap mengembang diwajahnya.
"Tidak sempat," sahut Hanaria memandangi wajah suaminya.
"Tidak sempat bagaimana? Kau kan bisa menelponku," protes Willy turut memandangi Hanaria.
"Bagaimana bisa menelponmu, teleponmu saja tidak kau angkat," sahut Hanaria lagi.
"Kapan? Tidak ada telepon tidak terjawab mulai kau pergi setelah makan siang hingga malam ini diponselku," kata Willy mengernyitkan keningnya.
"Bukan hari ini, tapi kemarin malam, saat kau menghilang. Aku menelpon Mommy dengan tujuan menanyakanmu, namun keburu Mommy memintaku membawamu mengunjungi mereka akhir pekan ini, yaitu malam ini."
__ADS_1
"Lalu pagi harinya, kau ngambek tidak mau buat adik bayi. Dan siang tadi kau malah membuatku malu dihadapan Daddy, itu sebabnya aku pergi sendiri kemari," tutur Hanaria singkat dengan wajah kembali merengut.
Willy merasa salah bertanya, tujuan mengalihkan pembicaraan malah membawanya pada masalah yang telah dirinya hindari sebelumnya.
"Maafkan aku Hana, aku benar-benar tidak berniat membuatmu malu, kesal, apalagi marah. Itu semua murni guyonan belaka," ucap Willy tulus, ia berusaha membuat isterinya itu mau memaafkannya.
"Baiklah, kali ini aku memaafkanmu SUAMI-ku, tapi tidak untuk lain kali," sahut Hanaria, ia lalu memunggungi Willy dan berniat untuk segera tidur.
"Apa itu artinya kita bisa melanjutkan membuat adik bayi lagi malam ini?" kata Willy bersemangat sambil mendekap tubuh Hanaria dari belakang, ketika mendengar Hanaria menyebut dirinya dengan kata suami.
"Tidak, bukankah kita sudah membuatnya tadi siang?" tolak Hanaria sambil memejamkan matanya karena sudah mengantuk.
"Hana, kita harus sering-sering melakukannya, supaya adik bayinya cepat jadi didalam sana," bujuk Willy, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh isterinya yang masih terasa tipis itu.
"Justru kita akan merusak hasilnya Willy, bila melakukannya sering-sering," sahut Hanaria asal karena pengaruh kelopak matanya yang semakin memberat.
"Kalau begitu kapan kita akan melakukannya lagi?" buru Willy, ia merapatkan bibirnya pada tengkuk isterinya itu, untuk memberi pemanasan awal.
"Satu bulan lagi setelah ini, bila aku ternyata belum mengandung," lirih Hanaria yang sudah berada diawang-awang antara sadar dan tidak karena kantuk semakin gencar menyerangnya.
"Apa?! Satu bulan lagi?! pekik Willy kaget mendengar pernyataan Hanaria. Isterinya yang mulai terlelap ikut kaget hingga membuat kantuknya seketika menghilang.
"Willy, ini sudah larut malam, kenapa suaramu sekencang itu, nanti penghuni rumah ini bisa mendengarmu," tegur Hanaria seraya berbalik dan membekap mulut suaminya itu dengan gemes supaya tidak bersuara dan banyak tingkah lagi.
Mendapat perlakuan Hanaria, bukannya langsung patuh, Willy malah merengkuh tubuh isterinya dan membawanya bergulat dalam selimut tebal mereka.
Pergulatan mereka siang tadi dikantor membuat Willy masih penasaran pada sepak terjang isterinya itu. Hanaria yang sebenarnya sudah mengantuk akhirnya meladeni apa yang diinginkan sang suami tampannya itu, sentuhan Willy membuatnya tidak sanggup untuk menolaknya, bahkan kini ia menginginkan yang lebih.
__ADS_1
Suara-suara berisik yang keluar dari mulut sepasang suami isteri itu mulai terdengar bising didalam kamar panas bersuhu dingin itu, saling memburu, berlomba untuk mencapai puncaknya masing-masing, hingga akhirnya keduanya sama-sama terhempas lemas dipembaringan empuk itu.
...***...