HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
179. Pura-Pura Tidak Tahu


__ADS_3

"Bayi kita? Bayi aku dan kau?" ulang Hanaria, darahnya tiba-tiba berdesir mendengar perkataa Willy.yang begitu tiba-tiba.


"Hmm, bayi kita berdua, bukan bayi orang lain," ungkap Willy kembali menegaskan. Ia mendekatkan wajahnya kewajah Hanaria hingga puncak hidung keduanya saling bertemu.


"Kapan kau mau membuatnya bersamaku Hana?" tagih Willy, mata tajamnya terus menatap wajah isterinya itu dari sela-sela puncak hidung yang saling bersentuhan.


"M-membuat?" Hanaria tergagap, ia mau memundurkan tubuhnya namun Willy sudah berinisiatif menahan tengkuknya, ia sudah menduga isterinya akan selalu menghindar seperti biasanya.


"Jangan pura-pura tidak tahu, kau wanita dewasa, dan aku pria dewasa, dan kita sudah menikah. Aku sudah terlalu sabar menunggumu," ucap Willy setengah berbisik namun terdengar jelas ditelinga Hanaria.


"A-Aku," Hanaria semakin tergagap, suaranya terdengar bergetar menahan kegugupannya.


"Jangan khawatir, kita tidak akan melakukannya didalam mobil ini. Lagi pula, sekarang waktunya kau berkerja, dan akupun akan berangkat kekantor untuk berkerja juga. Kita akan melakukannya setelah berada dirumah nanti malam," setelah berkata demikian, Willy melepaskan tangannya dari tengkuk isterinya.


Hanaria bernafas lega, setelah Willy menjauhkan puncak hidungnya dari puncak hidung miliknya. Debaran jantungnya masih tidak berirama, keberadaan Willy yang sering berdekatan dengannya saja selalu menimbulkan debaran-debaran aneh didadanya, apalagi sampai bersentuhan puncak hidung seperti tadi.


"Ah Willy, kau membuatku bisa-bisa tidak berkonsentrasi berkerja hari ini kalau begini caranya, dan hanya memikirkanmu saja," desah Hanaria didalam hatinya, sebenarnya ia menginginkan Willy lebih berani tanpa persetujuannya sekalipun. Ia menatap Willy yang sudah duduk tenang dibelakang kemudinya.


"Kapan kau turun?" tanya Willy tanpa menoleh pada isterinya itu.


"O, a-aku lupa," kata Hanaria salah tingkah sendiri. Berharap Willy membukakan pintu untuknya, tapi suaminya itu tidak beranjak sama sekali dari duduknya.


"Aku turun, hati-hati dijalan," ucap Hanaria sambil mendorong pintu mobil Willy.


"Hm," sahut Willy bergumam. Ia menoleh kearah Hanaria yang sedang keluar dari mobilnya, tidak biasanya isterinya itu berkata demikian banyak disertai pesan tidak penting.


Hanaria menatap mobil Willy yang merayap dan menjauhi lobi dimana dirinya masih berdiri, hingga akhirnya mobil sport merah menyala itu menghilang di balik pagar kokoh dekat pos jaga.


Dengan langkah gontai, Hanaria memasuki lobi menuju lift. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya melempar senyum ringan sambil berlalu menuju ruangan masing-masing.

__ADS_1


"Nona Hanaria," panggil seseorang, saat Hanaria baru menginjakkan kakinya didalam lift.


"Asisten David, ada apa?" tanya Hanaria, sesaat setelah asisten pribadi nyonya Mingguana itu berdiri disisinya didalam lift pegawai.


"Sepuluh menit lagi, nona Hana diminta menghadap nyonya Mingguana," sahut asisten David menyampaikan pesan dari majikannya.


"Apakah nyonya Mingguana sudah berada diruangannya?" tanya Hanaria melirik sekilas pada asisten David yang menatap pada pintu lift yang tertutup.


"Belum Nona, beliau masih dalam perjalanan kemari," sahut asisten David.


Ting! Tong!


Pintu lift terbuka dilantai empat.


"Baiklah, sepuluh menit lagi saya akan keruangan nyonya Mingguana," kata Hanaria, ia keluar lift lebih dulu meninggalkan asisten David yang masih berdiri didalam lift menuju beberapa lantai diatasnya lagi.


Hanaria menyusuri lorong yang hanya beberapa meter saja dari pintu lift. Suasana pagi itu sudah cukup ramai. Sudah hampir seminggu dirinya bergabung di perusahaan Mega Otomotif khusus di team marketing. Namun belum ada satu karyawan-pun yang akrab dengannya, semua terkesan cuek.


Tidak ada layar komputer diatas mejanya, apalagi laptop, hanya ada satu buku tulis dan sebuah pulpen biasa, beberapa brosur product dan fricelist harga. Iya, sesederhana itulah tempat kerjanya yang baru, tidak ada yang terlihat istimewa.


Hanaria meletakan tas gendong yang mirip ransel disisi kiri mejanya yang menempel pada dinding ruangan, didalam tasnya terdapat laptop pribadinya yang selalu ia bawa setiap berangkat berkerja. Ia sengaja tidak mengeluarkannya karena aturan perusahaan yang melarang membawa fasilitas pribadi untuk berkerja.


Beberapa menit kemudian, Hanaria mulai sibuk menulis pada buku tulisnya. Seorang pria berumur yang akan melintas didepan meja Hanaria, melirik bawahannya itu yang sedang sibuk dengan kegiatan tulis menulisnya.


"Apa yang sedang kau kerjakan nona Hana," tanya pria itu, ia berhenti tepat didepan meja Hanaria.


Hanaria serta merta menghentikan kegiatannya, ia mendongakkan wajahnya lalu segera berdiri saat melihat siapa yang bertanya padanya.


"Selamat pagi manager Antonio, saya sedang membuat rencana desain marketing," sahut Hanaria bersikap hormat sambil sedikit membungkuk pada sang atasannya.

__ADS_1


"Kau marketing biasa, tugasmu hanya menjual product perusahaan kita Nona, bukan desain atau semacamnya." ungkapnya datar pada Hanaria.


"Iya, saya mengerti tugas pekerjaan saya manager Antonio, tapi apa salahnya bila kita bisa berkerja lebih untuk perusahaan. Bukankah kita seharusnya punya rasa mencintai dan memiliki perusahaan ini demi mengembangkannya supaya bisa lebih maju," ungkap Hanaria mengemukakan pendapatnya.


"Hhhh!" Manager Antonio meletakkan tas kerjanya diatas meja Hanaria lalu melipat kedua tangannya didepan dada sambil tersenyum sinis.


"Kau belum genap satu minggu berkerja di perusahaan ini Nona, dan berani berkata seperti itu padaku yang sudah belasan tahun menjadi seorang manager marketing. Tentu aku lebih tau bagaimana caranya mencintai pekerjaanku dan bagaimana memiliki perusahaan ini dibanding dirimu,"


"Atau kau merasa bangga menjadi karyawaan bawaan nyonya Mingguana, atau mungkin suamimu yang super kaya itu, pemilik bisnis Agatsa Group. Lalu kenapa kau berada disini? Dan hanya menjadi seorang marketing biasa yang tidak penting?" ucapan manager Antonio mengalir begitu saja tanpa menimbang perasaan Hanaria, terlihat sekali ia sengaja mengeluarkan semua kata-kata yang menyinggung bawahannya itu.


Hanaria mengatur nafasnya, perkataan manager Antonio jelas-jelas membuatnya tidak nyaman, namun dirinya berusaha menahan diri karena yang tengah ia hadapai sekarang ini adalah atasannya, manager dari team marketingnya.


Hanaria melirik arlojinya yang mengeluarkan bunyi halus sebagai alarm. Ia bersyukur, janji bertemu nyonya Mingguana bisa menjadi alasan baginya untuk tidak memberi jawaban pedas pada atasannya itu.


"Maafkan saya manager Antonio, saya harus segera pergi sekarang, Nyonya memanggil saya. Saya permisi dulu," ucap Hanaria sambil mengemasi buku dan pulpennya dari atas meja dan memasukannya ke dalam tas gendongnya.


"Kau mau kemana Nona? Saya belum selesai bicara denganmu," sergah manager Antonio kesal, ia merasa tidak dihargai oleh bawahannya itu.


"Terserah manager Antonio saja. Saya tidak masalah bila Anda menyuruh saya tetap disini untuk mendengarkan Anda. Jangan salahkan saya bila nyonya Mingguana murka bila saya tidak datang memenuhi panggilannya," ucap Hanaria datar, ia mulai muak pada sikap atasannya yang mulai sok menunjukan kekuasaannya sebagai seorang pimpinan. Mulai hari pertama ia masuk berkerja, Managernya itu sudah menunjukan sikap tidak ramahnya.


"Apakah kau mengancamku? Menunjukan kedekatanmu pada Nyonya besar?" ucapnya garang.


"Tidak Manager Antonio. Saya tidak merasa dekat, dan juga tidak berusaha mendekati nyonya Mingguana, saya hanya melakukan tugas sebagai seorang karyawan, hanya itu," sahut Hanaria.


"Saya permisi," Hanaria bergeser dari belakang meja kerjanya, lalu melangkah keluar menuju pintu keluar yang hanya beberapa langkah saja dari mejanya.


Manager Antonio mengepalkan tinjunya dengan perasaan geram setelah kepergian Hanaria, ia lalu berbalik, hendak melangkah menuju ruang kerjanya. Namun matanya menangkap seluruh bawahannya dalam ruangan marketing itu sedang menatap kearahnya sambil memasang telinganya.


"Apa yang kalian lakukan?! Kalian menguping?! Cepat, kembali berkerja!" ucapnya marah, sambil bergegas menuju ruangan kerjanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2